
Hari berganti begitu cepat Ujian Nasional pun telah selesai dan waktuku di SMA hanya tersisa satu bulan saja. Kelasku mengadakan rapat untuk acara kelulusan nanti.
“Sebelum lulus kita mau ke mana nih?” Ucap Zahid bertanya kepada anak-anak kelas yang kebetulan semua-nya berada di kelas.
“Ke pantai aja nggak si?” Robi mengusulkan idenya kepada kita semua yang berada di kelas.
“Pas kelas 10 kita udah kan ke pantai, masa nanti sebelum lulus kita juga mau ke pantai lagi? Emangnya nggak bosen apa?” Jawab Felia mengenai perkataan Robi tersebut.
“Ya kan gua cuma mengusulkan aja, kalau kalian semua nggak mau juga kan nggak papa.” Ucap Robi menjawabnya dengan wajah cuek.
“Rencananya kita bakal nginep atau nggak nih? Kalau misalkan kita nginep lebih baik kita sewa Villa aja.” Ucap Hendrik bertanya kepada anak-anak kelas.
“Kalau gua sih lebih baik nginep aja ya, soalnya tang-gung aja, habisin waktu nggak sampai sehari apalagi kan itu hari terakhir kita untuk bersama-sama.” Jawab Felia mengenai perkataan Hendrik.
Zahid meminta kepastian. “Ya udah, udah fixs nih kita bakal menginap aja di Villa?”
“Tapi Villanya di mana?” Tanya Bintang kepada anak-anak yang lainnya.
“Jangan yang jauh-jauh sih menurut gua, mending di puncak aja toh lebih dekat juga kan?” Ucap Rifki sambil memberikan solusi terbaik.
“Nah di sana aja gimana? Setuju nggak?” Ucap Zahid bertanya mengenai ide Rifki kepada yang lainnya.
“Ya udah di sana aja.” Ucap yang lain sambil menyetujui ide Rifki.
Semua anak-anak kelas menyetujui ide dari Rifki tersebut, tepatnya seminggu dari sekarang kami akan pergi ke puncak untuk menghabiskan waktu bersama kami di sana.
Satu minggu berlalu tepat hari ini aku dengan teman-teman kelasku akan pergi ke puncak untuk menghabiskan hari terakhir masa SMA ku ini, sebelum berangkat ke puncak kami berkumpul terlebih dahulu di sekolah, dan ya sekolah yang sudah tiga tahun terakhir ini, sekolah yang telah mempertemukan ku dengan Dila dan yang telah mengukir kisah indah yang takkan pernah bisa ku lupakan.
“Anak ceweknya pada di mana?” Ucap Bintang bertanya kepada Zahid.
“Mereka udah pada duluan ke sana.”
“Sekarang kita nunggu apa lagi?” Ucapku bertanya kepada mereka yang sedang berkumpul di parkiran sekolah.
“Ya kita nunggu lu ege!” Ucap Hendrik kepadaku yang baru saja datang.
Aku tertawa kecil sambil menaiki motor Hendrik. “Oh lu semua nungguin gua, berarti gua orang penting ya.”
“Si anjing malah ketawa.” Ucap Bintang kepadaku.
“Lu mau ngapain naik motor gua?” Hendrik bertanya kepadaku yang menaiki motornya.
“Emang lu kagak lihat tadi gua jalan kaki ke sini?”
“Mana gua tau, gua kagak liat lu.” Kata Hendrik menimpali perkataanku.
“Ya udah kalau udah kumpul kayak gini mending kita berangkat aja, takutnya nanti pas di sana keburu sore.” Ucap Zahid memimpin kita untuk pergi menuju Villa yang ada di puncak.
Selama perjalanan aku yang menaiki motor bersama Hendrik aku hanya fokus kepada ponsel ku saja sambil scroll-scroll Instagram, aku lihat postingan-postingan orang yang aku ikuti tetapi aku tak sengaja melihat foto Dila yang sedang bersama pacar barunya muncul di beranda instagramku. Karena aku yang penasaran aku mengecek profil Instagram dari pacarnya Dila dan ternyata aku melihat beberapa foto Dila bersama pacarnya yang sedang hiking ke suatu gunung, aku juga melihat teman yang ada di sampingnya ternyata itu adalah Felia dan Hilma yang kebetulan hiking bersama mereka.
Aku yang melihat postingan itu sangat kesal perasaan-ku seperti tercambuk oleh kenyataan yang memaksaku untuk melepas Dila, tetapi harusnya semesta tahu, bagaimana aku bisa melepaskannya, sedangkan memiliki-nya saja aku tak mampu.
Setelah sampai di Villa, kami masuk ke dalam dan ber-istirahat di kamar-kamar yang telah disediakan. Beberapa menit kemudian, aku memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi Villa sambil menikmati pemandangan sekitar. Akhirnya, aku menemukan kursi taman yang terletak agak jauh dari Villa dan memutuskan untuk duduk di sana.
Dari kejauhan, pandanganku tertuju pada Dila yang berada di lantai dua Villa, sedang sibuk berbicara di telepon dengan pacarnya. Wajahnya yang begitu mempesona, senyumnya yang begitu indah, dan tawanya yang selalu terngiang dalam ingatanku, aku ingin memiliki semuanya tentang Dila.
“Oi lu ngapain sendiri di sini? sambil senyum-senyum sendiri lagi?” Ucap Yomi yang menghampiriku bersama dengan Zaman yang membawa gitar.
“Gua lagi nyari angin segar aja.”
Sambil duduk bersamaku Zaman memainkan gitar dan menyanyikan lagu melepas mu dari Drive.
“Tak mungkin menyalahkan waktu... Tak mungkin menyalahkan keadaan... Kau datang di saat ku membutuhkanmu... Dari masalah hidupku bersamanya... Semakin ku menyayangimu... Semakin ku harus, melepas mu dari hidupku... Tak ingin lukai hatimu, lebih dari ini... Kita tak mungkin terus bersama... Maafkan aku, yang biarkan mu... Masuk ke dalam hidupku ini... Maafkan aku, yang harus melepas mu... Walau ku tak ingin... Semakin ku menyayangi-mu... Semakin ku harus, melepas mu dari hidupku... Tak ingin lukai hatimu, lebih dari ini... Kita tak mungkin trus bersama... Semakin terasa cintamu... Semakin ku harus melepas mu dari hidupku... Tak ingin lukai hatimu lebih dari ini... Kita tak mungkin trus bersama... Ow i'll let you go... I'll let you go... I'll let you go.”
Takdir sepertinya mempertemukan lagu ini dengan keadaanku saat ini. Lirik-liriknya begitu pas menggambar-kan perasaanku saat ini, ketika aku berada di persimpangan antara harus melepaskan Dila atau terus berjuang untuk mendapatkannya, meskipun itu berarti harus menunggu lebih lama. Aku tak bisa mengerti mengapa aku begitu terpikat padanya, tetapi aku menyadari bahwa perasaanku padanya bukan hanya sekadar suka biasa, melainkan aku sungguh membutuhkannya.
Dulu aku berpikir bahwa kebahagiaan sekolahku terletak padamu, Dila. Namun, setelah lulus dari sekolah, aku menyadari bahwa kamu bukan hanya menjadi alasan kebahagiaanku, tetapi kamu adalah seseorang yang benar-benar aku butuhkan dalam hidupku.
Dari jauh aku melihat Hendrik, Azis, Bintang, Yaksa, Alpin, Robi dan Zahid menghampiriku sambil membawa bola untuk dimainkan di lapangan yang berada tepat sebelah tempat dudukku.
“Oi, ayo main bola dulu, kebetulan gua barusan beli bola di warung depan gerbang.” Ucap Bintang sambil mem-bawa bola itu ke lapangan.
“Ya udah ayo gas.” Yomi dan Zaman berdiri dari tempat duduknya untuk menuju lapangan dan bermain bola.
“Lu juga ikut ege, jangan diam mulu.” Bintang mengajak ku untuk bermain bola bersama dengan mereka.
Aku juga berdiri dan berjalan menuju lapangan. “Iya iya gua ikut main.”
Aku dan yang lainnya pun bermain bola di lapangan itu kami membagi menjadi dua tim yang beranggotakan 5 orang dari setiap tim, timku terdiri dari Zahid, Hendrik, Bintang dan Yaksa, sedangkan tim lawan beranggotakan Yomi, Zaman, Robi, Aziz dan Alpin.
Kami bermain bola kurang lebih selama 30 menit setelah kami selesai bermain bola kami pun berjalan menuju Villa yang kami sewa, aku melihat anak-anak ceweknya sedang berenang di kolam berenang yang ada di Villa itu tanpa pikir panjang Hendrik dan teman-temanku langsung melompat ke kolam itu untuk ikutan berenang bersama mereka.
“Woi lu ngapain lompat-lompat?” Ucap Elis dengan nada ngegas kepada Hendrik yang tiba-tiba melompat.
__ADS_1
“Gua gerah Lis habis main bola tadi, jadi gua ikutan berenang bareng kalian “
“Ya lu berenang-berenang aja nggak usah lompat-lompat.”
Hendrik tertawa dan melanjutkan berenangnya. “Iya iya maaf.”
“Awas Drik gua loncat nih.” Ucap Bintang sambil melompat ke arah Hendrik dan menabraknya.
“Si anying malah lompat ke gua.”
“Kata gua juga awas barusan, lu masih aja diam di sana.” Ucap Bintang sambil berdiri di kolam berenang itu.
“Lu malah lompat-lompat, udah tau banyak orang” Windi yang melihat Bintang loncat di kolam berenang langsung memukulnya.
Aku yang sedang duduk sendirian di kursi dekat kolam renang, hatiku berdebar ketika melihat Dila keluar dari dalam Villa. Langkahnya yang lembut dan senyumnya yang memikat membuatku terpesona. Dia menghampiriku dengan langkah perlahan, memperlihatkan keceriaan yang tak tertahankan.
“Oi Den, lu ngapain duduk aja di sana? Ayo sini ikut berenang sama kita.” Hendrik mengajakku untuk berenang. “Lu takut air ya? Atau lu nggak bisa berenang? sini kakak gendong.” Ucap Hendrik sambil mengejek ku yang sedang duduk karena tidak ikut berenang bersama mereka.
Aku tersenyum. “Sialan lu.”
Dila melihatku duduk sendirian di kursi dekat kolam renang, dan langkahnya yang lembut mendekatiku. Wajahnya yang memancarkan keceriaan membuatku terpesona, dan tangannya yang terulur mengajakku untuk berenang.
“Ayo, berenang?” Ucap Dila dengan suara lembut, sambil mengulurkan tangannya kepadaku. Aku tak bisa menahan senyuman saat melihatnya.
“Atau jangan-jangan kamu takut air atau nggak bisa berenang seperti yang dikatakan Hendrik tadi?” Ujarnya sambil menggodaku dengan senyum manis. Ajakannya membuat hatiku berdebar-debar.
Aku berdiri dari tempat dudukku. “Jangan nyesel ya.”
“Nyesel kena... Pa?” Ucap Dila tetapi aku langsung berjalan menuju Dila dan memegang tubuhnya dan me-lompat bersamanya menuju kolam renang itu.
“Ih kaget tau.” Ucap Dila sambil memukul tubuhku.
Aku tertawa kecil ke arah Dila. “Kan kata aku juga jangan nyesel, ngeyel sih dibilangnya.”
“Mau balapan nggak sampai ujung? Kalau menang nanti aku kasih snacks gimana?” Tanyaku kepada Dila sambil mengajak Dila untuk balapan.
“Bener ya?” Ucap Dila kepadaku.
“1... 2... 3...” Ucapku dan Dila memulai aba-aba untuk balap berenang dengan Dila.
Aku dan Dila berlomba untuk mencapai ujung kolam renang itu, tetapi saat aku lagi asik-asiknya berenang ber-sama Dila tiba-tiba Yomi meloncat dari kolam berenang itu dan menabrak ku yang sedang berenang.
“Awas Den gua lompat.”
Yomi tertawa. “Yakan gua barusan ngomong gua loncat.”
“Mana gua tau, gua kan lagi berenang.” Ucapku sambil berenang ke pinggir kolam dan keluar dari kolam renang.
Aku yang berdiri di samping kolam karena tertimpa oleh Yomi melihat Dila yang masih berenang untuk memenangkan perlombaan bersamaku.
“Aku menang.” Ucap Dila sambil memegang tembok dari ujung kolam renang dan berbalik untuk melihatku. Aku yang melihat Dila melihat ke arahku hanya tersenyum dan melambaikan tangan dan menghampirinya.
“Ihh, katanya mau lomba? Kenapa kamu malah keluar kolam renang?” Ucap Dila dengan nada marah dan cemberut sambil keluar kolam berenang dan duduk di pinggirnya.
Aku tersenyum dan mengusap kepala Dila dengan tangan kananku. “Kayaknya mau seberapa kali pun aku balapan sama kamu, kamu bakal tetep menang kok.”
Dila menaiki kolam berenang itu. “Kalau berusaha kan belum tau siapa yang menangnya.” Dila memainkan kaki-nya yang menyentuh air kolam renang itu.
Aku tersenyum kecil ke arahnya. ”Aku bisa bersaing dengan siapa pun yang menyukaimu tetapi aku takan bisa bersaing dengan orang yang kamu sukai.”
“Maksudnya?” Ucap Dila bertanya mengenai perkataanku barusan.
“Ayo berenang lagi” Ucapku mengajak Dila untuk be-renang dan menarik tangannya ke dalam air.
“Eh, eh, tunggu dulu.”
“Ayo, kamu kan yang ngajak aku untuk berenang? Jadi jangan protes kalau aku tarik kamu untuk berenang juga.” Ucapku sambil menggenggam tangan Dila dan membawa-nya berenang.
Dila tersenyum. “Iya iya deh”
“Tang lu lagi ngapain?” Ucapku bertanya kepada Bintang yang sedang menggendong Windi.
“Lu nggak lihat apa, gua lagi apa?” Ucap Bintang kepadaku yang sedang menggendong Windi.
“Itu anak orang kasihan Win itu.” Ucapku yang mengata-ngatai Windi yang sedang di gendong oleh Bintang.
“Berisik lu Den.” Ucap Windi dengan nada ngegas.
Aku tersenyum kepada mereka berdua. “Santai dong, tar gua sleding si Bintang jatoh juga kalian berdua.”
“Udah jangan ganggu orang lain, cepet berenang lagi.” Ucap Dila sambil mencubit perutku untuk tidak mengganggu Bintang dan Windi.
“Aduh sakit sakit Dila.” Ucapku sambil memegang tangan Dila yang sedang mencubit ku.
__ADS_1
Aku dan Dila berenang bersama-sama dan tak terasa waktu berlalu begitu cepat, aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dan mengganti pakaianku. Setelah aku mengganti pakaianku aku kembali keluar Villa dan melihat ternyata masih banyak orang yang sedang berenang juga salah satunya adalah Dila.
Aku menghampiri Dila yang masih berenang. “Udah cepet naik nanti sakit, sana mandi terus ganti baju.” Ucapku menyuruh Dila untuk naik dari kolam renang dan mem-bersihkan tubuhnya setelah itu mengganti baju.
“Iya iya aku ganti baju ini.” Dila tertawa kecil ke arahku dan menjulurkan tangannya untuk meminta bantuanku agar dia bisa keluar dari kolam renang itu.
“Nah gitu dong nurut.” Ucapku sambil menarik tubuh Dila keluar dari kolam renang itu dan Dila pergi menuju kamar mandi.
Setelah Dila pergi ke kamar mandi aku berjalan menuju tempat duduk yang tadi aku, Yomi dan zaman duduk, dari kejauhan aku melihat ada seorang wanita yang menghampiriku yang sedang duduk sendiri dan wanita itu adalah Julita.
“Lu sendiri aja Den?” Ucapnya bertanya kepadaku yang sedang duduk sendiri di kursi itu.
“Enggak, gua berdua sama lu.”
“Taik lu.” Ucap Julita sambil duduk di tempat duduk yang kosong di meja yang sama denganku.
“Mau ngapain lu ke sini?” Tanyaku kepada Julita yang baru saja duduk di kursi itu.
“Lu tahu kan kalau si Ravhy punya perasaan kegua?” Tanya Julita kepadaku dengan tatapan khawatir, yang sedang membicarakan Ravhy yang merupakan teman sebangkuku dulu pas kelas 10.
“Iya gua tau.” Jawabku dengan penuh keraguan. “Tapi lu kan udah punya pacar?”
Julita menggeleng perlahan, matanya penuh dengan keragu-raguan. “Iya gua udah punya pacar, tapi gua cuma mau pastiin aja perasaan si Ravhy ke gua itu kayak gimana?”
“Nih gua nanya sama lu.” Kataku sambil mencoba mencari kata-kata yang tepat. “Misalkan si Ravhy mempunyai perasaan sama lu dan dia mengungkapkannya sekarang sama lu, apa lu bakal terima dia?” Aku menatap mata Julita yang masih dalam keraguan. “Nggak kan? Apa lagi di satu sisi lu udah punya pacar, apa nggak sia-sia perasaannya? Yang ada malah makin sakit hati.”
Julita menggigit bibirnya, mencoba merangkai jawaban yang rumit. “Iya gua juga paham Den.” Ucap Julita dengan suara yang lemah. “Tapi, gua cuma takut aja si Ravhy nyesel karena dia harus memendam perasaannya dan harus terikat sama gua.”
Kesedihan menghampiri hatiku saat mendengar keraguan dan kekhawatiran Julita. Aku tahu persis bagaimana perasaan itu, karena aku sendiri tengah terperangkap di dalamnya.
“Lu tau nggak? Posisi si Ravhy sama kayak gua.” Ucapku perlahan, mengungkapkan perasaanku yang terpendam. “Sama-sama suka sama teman sekelas, sama-sama nggak punya keberanian buat mengungkapkan, dan yang terakhir sama-sama orang yang disuka, disayang, bahkan dicinta sudah mempunyai pasangannya yang dia pilih sendiri. Gua yakin si Ravhy mikir kayak gini, bukannya nggak mau berjuang tetapi mau berjuang segimanapun, kalau saingan-nya orang yang dia pilih atau dia suka kita nggak akan menang.” Ucapku sambil melihat ke arah Villa dan melihat Dila yang sedang menelepon pacarnya di lantai 2 Villa.
“Si Dila ya, dulu gua pikir kalian berdua bakal jadian.” Ucap Julita dengan suara gemetar. “Tapi tau nya dia jadian sama orang lain.”
Aku menghela nafas. “Ya namanya juga perasaan orang kan nggak bisa ditebak.”
“Eh, btw lu udah mengungkapkan perasaan lu sama Dila?” Kata Julita bertanya kepadaku dengan muka yang penasaran.
“Gua, belum pernah ngomongin perasaan gua pada-nya.” Ucapku berbicara sambil terus memandangi Dila yang sedang menelepon dari bawah.
“Serius? Lu selama tiga tahun ini belum pernah mengungkapkan perasaan lu sama dia? Padahal lu suka bareng sama dia terus, gua liat kalian kayak orang pacaran gitu, tapi nyatanya nggak gitu. Hehehe.” Ucap Julita dengan raut muka yang kaget karena aku belum mengungkapkan perasaanku pada Dila.
Aku tertawa kecil. “Gua dari dulu juga sempat ingin mengungkapkan perasaan gua sama Dila, tapi setiap gua berusaha mengungkapkan perasaan itu, gua kaya kehilangan percaya diri dan berujung nggak ada keberanian untuk mengungkapkan.”
“Tapi menurut gua lu nggak salah si, semua orang berhak untuk jatuh cinta dengan siapa pun tetapi kalau memang si Dila udah punya pacar, lu coba ungkapin perasaan lu yang sejujurnya sama dia tanpa membohongi hati lu lagi, walau pun lu tau lu bakal tertolak setidaknya hari ini dia milik lu.” Ucap Julita sambil menunjuk ke arah hatiku dengan jari telunjuknya.
Julita tersenyum ke aku. “Gua juga berharap si Ravhy bakal mengungkapkan perasaannya sama gua, walau pun gua tau gua bakal nolak dia setidaknya dia tak ada penyesalan karena memendam perasaan yang terlalu lama.”
Setelah selesai aku mengobrol dengan Julita aku pun berjalan menuju Villa bersama Julita untuk berkumpul ber-sama teman-temanku dan makan bersama.
“Oi Den, lu nggak mau makan apa?” Ucap Bintang kepadaku yang berjalan bersama Julita menuju mereka yang sedang mempersiapkan makanan.
“Iya iya gua kesana.” Ucapku sambil berjalan menghampiri mereka dan berdiri di samping Dila.
“Kamu kemana aja aku nyariin loh.” Ucap Dila yang berdiri di sampingku.
“Aku barusan dari sana.” Sambil menunjuk kursi yang berada dekat dengan lapangan.
“Ayo makan.” Aku mengajak Dila untuk makan di sebelahku.
“Iya.” Dila duduk di sebelahku.
“Oi sabar lah, lu berdua udah duduk-duduk aja.” Ucap Bintang yang sedang memegangi tempat nasinya.
“Tadi lu yang nyuruh gua makan, ****** emang.”
Setelah menyiapkan makanan kami pun langsung makan bersama-sama.
“Makannya pelan-pelan Dila.” Ucapku kepada Dila yang berada di sebelahku.
“Iya iya.” Ucap Dila sambil mengunyah nasi yang ada di mulutnya.
“Drik bagi minuman dua.” Aku meminta tolong kepada Hendrik yang kebetulan duduk dekat dengan dus air.
“Nyuruh mulu lu, kaki gunain napa.” Ucap Hendrik sambil memberikan dua air mineral kepadaku.
“Ya tanggung, lu kan yang paling deket di sana.”
Aku memberikan salah satu air mineral yang Hendrik barusan berikan kepadaku kepada Dila. “Ini minumnya.”
Dila tersenyum. “Makasih.”
Selama itu tentangmu aku akan memberikan semuanya, termasuk duniaku.
__ADS_1
...****************...