
Hari ini adalah hari di mana aku dan yang lainnya akan pergi ke taman bermain. Tepat pada jam 09:50 semuanya telah berkumpul kecuali Dila. semuanya nampak gelisah apakah Dila akan ikut atau tidak sedangkan Kereta akan berangkat pada jam 10:00 dan aku menyuruh mereka berempat untuk naik kereta duluan dan biarkan aku di sini yang menunggu Dila.
“Den bener lu mau nunggu, gimana kalau Dila nggak diizinin sama ayahnya?”
Aku tersenyum. “Tenang aja gua yakin Dila pasti datang, kalau pun gua ketinggalan kereta paling gua sama Dila bakal menyusul di kereta berikutnya.”
Desi menghapiriku yang sedang berdiri di depan pintu gerbong kereta. “Den gua sebenarnya nggak mau ngomong ini sama lu tapi gua minta sama lu, tolong jaga Dila apa pun yang terjadi lu sama Dila harus menyusul kita.” Ucap Desi dengan wajah yang serius.
Aku tersenyum. “Tentu tanpa lu suruh gua bakal jaga dia apa pun yang terjadi.”
Desi, Bintang, Ian, dan Windi memasuki kereta dan duduk di gerbong paling depan. Aku berjalan melintasi pintu gerbang stasiun Timur, mencari Dila dengan mata yang gelisah. Sesaat kemudian, tepat jam sepuluh, Dila muncul di stasiun, berlari-lari mencari kami. Hatiku ber-debar kencang saat melihatnya dari kejauhan, dan tanpa ragu, aku berlari mendekatinya.
“Dila...”
Dila berhenti, napasnya terengah-engah saat mencoba mengatur pernapasannya. “Maaf, aku telat.” ucapnya dengan suara lirih.
Tanpa ragu, aku menggenggam tangan Dila dan mengajaknya berlari menuju kereta. Pintu gerbong terakhir masih terbuka, dan aku berusaha keras agar Dila dapat masuk ke dalamnya. Kami berlari secepat tenaga, namun tiba-tiba petugas stasiun yang melihat kami berdua berlari untuk menaiki kereta itu, mulai mengejar kami.
“Woi, berhenti! Jangan naik ke kereta yang sudah ber-jalan, itu berbahaya!” teriak para petugas sambil meniup peluit mereka.
“Dila kamu harus naik ke gerbong itu, ambil tiket ini dan tunggu aku di stasiun bersama yang lainnya, aku akan menyusul kamu di kereta selanjutnya.” Aku pun sambil mencoba mendorong Dila naik ke dalam gerbong itu.
Akhirnya, Dila berhasil masuk melalui pintu gerbong terakhir. Namun, sial bagiku, aku ditangkap oleh petugas keamanan karena dituduh naik kereta tanpa tiket. Dila yang melihat aku ditahan hanya bisa berteriak memanggil nama-ku, tangannya terulur berharap aku bisa meraihnya dan naik ke dalam kereta bersamanya.
“Deni...”
Aku yang sudah dipegang oleh dua petugas, mereka mengunci tubuhku sedangkan tangan-tanganku diborgol. Aku dibawa ke pos keamanan stasiun untuk diinterogasi. Sesampai di sana, aku segera menunjukkan bukti tiket keretaku kepada petugas keamanan. Setelah melihat tiket keretaku, petugas tersebut melepaskanku dengan cepat, meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi.
Aku yang sudah dilepaskan oleh petugas keamanan pun langsung kembali ke stasiun untuk mencari kereta yang akan berangkat ketempat tujuanku tetapi pemberangkatan kereta kedua ini berangkat jam sebelas dan berarti aku harus menunggu kurang lebih setengah jam dari sekarang.
Dan tepat pukul sebelas kereta pun membawaku ketempat tujuan yang memang tujuanku adalah Dila. Sesampai di stasiun tempat tujuan aku pun keluar dari kereta dan di sana sudah ada Bintang, Ian, Desi, Windi dan tentu saja Dila yang sedang menungguku di sana.
Ian melihat aku keluar dari kereta dan menyapaku. “Kirain lu nggak bakal datang kesini, soalnya tadi kita denger cerita dari Dila kalau lu ditangkap petugas keamanan?”
“Padahal gua udah berharap lu dimasukin kepenjara aja.” Ucap Bintang sambil bicara dengan santainya dan tak peduli kalau aku datang atau enggak.
“Bangsat lu.”
Dila yang sedang duduk menungguku bersama dengan Windi dan Desi pun langsung menghampiriku yang baru saja keluar dari kereta berharap aku baik-baik saja dan tidak kenapa-napa. “Aku minta maaf, karena gara-gara aku kamu jadi ketangkep sama petugas itu.”
Aku tersenyum dan memegang tangan Dila. “Aku nggak papa ko Dila, buktinya sekarang aku ada di sini di hadapan kamu.”
“Memangnya apa yang terjadi, kenapa petugas itu tiba-tiba nangkap kamu?” Ucap Dila sambil menggenggam erat tanganku.
Aku berbisik kepada Dila sambil senyum cengengesan. “Katanya aku membawa kabur seorang putri senja yang indah yang membuat senja sekarang kurang indah.”
“Deni ih. Serius?” Ucap Dila kepadaku dengan nada kesel dengan muka yang mau ngambek.
Aku tesenyum melihat Dila yang merajuk. “Tadi itu aku ditangkap sama petugas karena aku dituduh nerobos masuk tanpa tiket kereta, padahal Deni udah beli tiket keretanya sekalian sama tiket, Dila.”
Dila tersenyum. “Syukurlah, kalau Deni nggak kenapa-napa.”
“Yuk mending kita langsung pergi ketempatnya keburu Mataharinya terik!” kata Windi mengajak kita semua untuk pergi ke tempat hiburannya.
Kita pun akhirnya pergi ketaman bermain yang memang tidak terlalu jauh dari stasiun dan selama per-jalanan kami juga tak lupa untuk menikmati makanan yang ada di sana.
Ku lihat penjual ice cream yang sedang berjualan di sebrang jalan dan aku pun pergi untuk membelikan mereka semua ice cream.
“Bentar yah gua kesana dulu.” kataku sambil me-ninggalkan mereka berlima dan sepertinya tidak ada yang mendengarkan ku kecuali Dila seorang.
__ADS_1
Bintang yang melihat rumah kaca dari kejauhan langsung mengajak Windi untuk pergi kesana. “Win kesana yuk?”
Windi hanya mengangguk yang berarti dia setuju dengan ajakan dari Bintang. Mereka pergi meninggalakan Dila, Desi dan Ian, untuk menuju rumah kaca. Ian yang me-lihat Bintang pergi dengan Windi, kemudian dia berinisiatif untuk mengajak Desi pergi juga.
“Des ayo ikut kerumah hantu?”
“Ngapain ngajak-ngajak bisakan sendiri?” kata Desi dengan muka jutek menjawab perkataan Ian dan memalingkan mukanya dari ian.
Ian tanpa persetujuan Desi langsung menggenggam tangan Desi dan membawanya secara paksa bersamanya untuk memasuki rumah hantu.
“Eh... eh, mau dibawa kemana nih?”
Dila hanya tertawa kecil melihat Desi yang dibawa oleh Ian, tak lama aku pun datang menghampiri Dila sambil membawa enam ice cream untuk mereka semua, tetapi sesampainya di sana ternyata hanya ada Dila seorang yang sedang menungguku di kursi taman dekat pohon.
“Yang lain pada kemana?”
“Windi sama Bintang ke rumah kaca, Desi sama Ian ke rumah hantu.” kata Dila yang sedang duduk di kursi taman di bawah pohon.
Aku langsung duduk di dekat Dila. “Yaudah gimana kalau kita buat rumah tangga?”Ajak ku kepada Dila sambil tersenyum.
Dila tertawa kecil. “Nanti kalau kamu udah punya KTP baru mau. Hehehe.”
“Tahun depan aku punya KTP berarti sebentar lagi dong kita buat rumah tangganya, nanti tinggal buat foto latar birunya.”
Dila tersenyum mendengarkan perkataanku barusan sambil melihat ke arahku.
“Eh iya, ini aku beli Ice cream nih kebetulan karena ada diskon 90% jadi aku beli enam sekalian buat yang lain juga, tapi pas kesini cuma ada kamu aja.” kataku sambil mem-berikan Ice cream nya kepada Dila.
Dila mengambil ice cream yang aku berikan.
“Makasih.”
“Aku boleh minta ice cream nya satu lagi nggak?” kata-nya sambil meminta ice cream nya lagi.
Aku pun mengambil satu ice cream lagi yang berada pada kantung keresek dan memberikannya kepada Dila, setelah Dila mengambil ice cream yang aku berikan itu, dia langsung menghampiri seorang anak kecil yang menangis yang nggak terlalu jauh dari tempat aku duduk. Sepertinya anak kecil itu terpisah dengan orang tuanya, aku yang me-lihat dari kejauhan Dila menghibur anak kecil itu yang sedang menangis dengan memberikan Ice cream yang baru saja aku berikan.
Aku tak tahu kenapa aku jatuh cinta padanya tetapi setiap apa pun yang dia lakukan itu sangat luar biasa dan aku sangat mengaguminya.
Setelah anak itu berhenti menangis Dila langsung membawa anak itu menghampiriku. “Den ini kasihan dia terpisah sama ibu dan kakaknya, gimana kalau kita lapor ke pos security?”
Aku langsung berjongkok dan tersenyum keanak itu. “Kenapa kamu bisa terpisah sama ibu dan kakak kamu?”
“Aku tadi kesini bareng ibu sama kakak, tetapi karena aku melihat badut di sana ibu sama kakak aku nggak ada.” Ucap anak itu sambil menunjuk badut yang tak terlalu jauh dari tempatku berada.
Aku tersenyum sambil berdiri dan berjalan bersama Dila dan anak itu untuk menuju pos security terdekat. “Yaudah ayo kita ke pos security terdekat.”
“Kakak, kata kak cewek kalau aku nggak nangis aku bakal bisa keren kayak kakak?” Ucap anak itu sambil ter-senyum ke arahku.
“Emangnya tadi kak cewek bilang apa sama kamu?”
“Kak cewek bilang kalau laki-laki itu nggak boleh nangis, harus kuat biar bisa kayak kakak, dan sebagai hadiah karena aku berhenti nangis aku dikasih Ice cream sama kak cewek.” Ucap anak itu sambil tersenyum dan memakan Ice cream itu.
“Kamu jangan panggil dia kak cewek terus, panggil aja dia kak Dila.”
“Oh nama kakak itu kak Dila, kalau nama kak cowok siapa?” Ucap anak itu merujuk padaku.
Dila langsung tersenyum dan memberi tahu namaku. “Namanya kak Deni”
“Bererti nama kakak-kakak ini kak Dila dan kak Deni.” Ucap anak itu sambil tersenyum.
__ADS_1
Setelah sampai di pos security aku melaporkan kalau ada anak yang terpisah dari keluarganya, tak lama security mengumumkan tentang informasi itu. Dan setelah menunggu kurang lebih 10 menit keluarga anak itu datang untuk menjemput anak itu.
“Permisi pak apa tadi ada anak yang diumumin barusan masih ada?.” Ucap wanita yang aku lihat dari penampilannya sepertinya wanita itu orang tua dari anak itu.
Aku langsung mengarahkan wanita itu menuju kursi tunggu di belakang pos security itu, dan aku lihat Dila sedang bermain dengan anak itu dan anak itu pun melihat wanita yang bersamaku kemudian ia langsung berlari menghampirinya.
“Ibu...” Ucap anak itu sambil memeluk wanita itu.
“Kamu baik-baik ajakan?” Ucap wanita itu kepada anaknya yang terpisah darinya.
“Iya bu, aku nggak papa soalnya aku dijagain sama kak Dila dan kak Deni” Ucap anak ibu sambil menunjuk aku dan Dila.
“Terima kasih ya nak, kalau bukan karena kalian berdua ibu nggak tau cari anak ibu kemana lagi.”
“Iya bu sama-sama.” Ucap Dila sambil tersenyum.
“Kalau begitu saya pamit pergi ya.”
“Kak Dila... kak Deni... Aku pergi dulu ya.” Ucap anak itu kepada aku dan Dila.
“Hati-hati ya jangan sampai terpisah lagi.” Ucap Dila sambil melambaikan tangannya, dan aku hanya melambai-kan tangan dan tersenyum kepada anak itu kemudian memandangi Dila yang masih memperhatikan anak itu.
Aku pun menghampiri Dila dan mengajaknya untuk jalan-jalan kembali. “Dila, kita kasih makan ikan yuk mumpung aku juga tadi beli roti untuk makanan ikan.”
Dila menganggukan kepalanya yang menandakan kalau dia menyetujui tawaranku, dan berjalan bersamaku menuju jembatan yang tak terlalu jauh dari tempat aku dan Dila berada. Sesampai di atas jembatan aku dan Dila memberi makan ikan yang ada di bawah jembatan, dan sambil bertanya-tanya tentang kehidupan sehari-harinya.
“Dila, aku hanya ingin tahu, apa yang menjadi ke-inginanmu?” kataku sambil memberi makan ikan dengan roti yang tadi ku beli.
Dila tersenyum padaku. “Sebenarnya, aku tidak menginginkan apa-apa. Namun, aku ingin mengucapkan terima kasih padamu.”
“Untuk apa?” tanyaku.
“Terima kasih karena kamu sering melakukan hal-hal bodoh.” katanya sambil tersenyum.
“Sadis sekali.” ujarku.
“Tetapi karena kelucuanmu, aku bisa tertawa dan merasa sangat nyaman saat bersamamu.” lanjutnya dengan senyuman yang menyapaiku.
Aku tersenyum sambil menatap bola mata Dila yang berwarna kecoklatan, entah kenapa aku dibuat jatuh cinta terus menerus oleh dirinya yang hanya satu orang di semesta ini.
Setelah selesai memberi makan ikan aku dan Dila menyusuri jembatan itu. “Kamu laper nggak?”
“Sedikit si.”
Aku pun langsung mengajak Dila untuk makan ber-samaku di tempat makan kaki lima yang aku lihat di pinggir jalan tadi, dan sesampainya aku dan Dila di sana, aku langsung memesan makanan untukku dan Dila.
“Maaf yah, saat di kereta aku nggak bisa berada di sisimu.” Ucapku kepada Dila sambil duduk di tempat duduk yang kosong di sana.
Dila tersenyum. “Iya nggak papa. Dengan kamu sampai disini juga aku seneng kok.”
Aku hanya tersenyum sambil menunggu makanan yang aku pesan datang, dan setelah makanan datang kami pun makan bersama, sesaat aku sedang makan Dila berkata. “Makasih untuk hari ini, aku sangat bahagia.”
Karena aku yang terlalu asyik makan sampai tidak mendengar ucapan Dila dengan jelas. “Iya, Dila. kenapa? Kamu bilang apa barusan?”
Dila tersenyum. “Enggak, aku nggak bilang apa-apa.”
Obsesiku terhadap bulan tidak akan berubah sejak aku tau bahwa ia dan dirimu tercipta dari komponen yang sama. Terangnya, Indahnya, begitu juga dengan jauhnya.
.~~~.
__ADS_1