
Hari ini, tepat setelah satu bulan petualangan ku dimulai, akhirnya aku kembali melangkah ke stasiun Gambir, siap menuju kembali ke Bogor. Sesampainya di stasiun, aku segera menghubungi Bintang untuk menjemput ku di stasiun Bogor, dan Bintang dengan antusias menyetujuinya dengan satu syarat: aku harus membelikannya oleh-oleh. Tanpa ragu, aku menyetujuinya. Setelah perjalanan yang cukup panjang, akhirnya aku tiba di stasiun Bogor dan kulihat Bintang yang sudah menunggu dengan mobil yang dia pinjam dari orangtuanya. Aku mendekatinya dengan senyum lebar.
“Oi, ngelamun mulu lu.”
Bintang yang kaget dengan diriku pun memastikan kalau itu aku. “Ini beneran lu?”
“Bangsat, baru juga satu bulan kita nggak ketemu, lu udah lupa lagi aja sama gua.”
Bintang hanya tertawa melihatku yang baru saja kembali. "Hahaha. Lu sebulan liburan aja udah iteman, gimana kalau setahun? Gua yakin, gua nggak akan mengenali lu sama sekali. Hahaha."
Kami berdua naik ke mobil dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumahku untuk beristirahat. Di perjalanan Bintang menanyakan oleh-oleh yang aku bawakan.
"Oleh-oleh buat gua mana ege?" Tanya Bintang.
“Ambil aja di belakang, terserah lu mau pilih yang mana juga.”
“Gimana, lu udah nemuin senja yang lebih indah daripada Dila?”
Sambil menghela nafas dan memakan cemilan yang aku beli di stasiun. “Gua malah makin nggak bisa lepas dari Dila, apa lagi setiap senja yang gua liat itu selalu ngingetin gua sama Dila.”
“Gua juga udah nebak lu bakal ngomong kayak gitu, sekarang tujuan lu mau kemana?”
“Tujuan gua sekarang, mau ciptain novel buat dia.”
“Jadi maksud lu, ada hal yang belum selesai itu, novel?”
Aku tersenyum. “Iya.”
“Yaudah, biar lu ada kerjaan, gua tawarin kerjaan buat lu agar bisa ngasih space waktu buat lu nyiptain novel untuk Dila.”
“Kerjaan apa, jangan bilang gua harus jadi begal? Kagak-kagak, gua kagak mau.” Aku menolak pekerjaan Bintang padahal Bintang sendiri belum menjelaskan pekerjaannya.
“Oi nge, gua belum selesai ngomong bangsat.”
“Kerjaan apa emangnya?”
“Lu mau nggak jadi barista di coffe shop? Kebetulan saudara gua punya coffe shop, kalau lu mau lu bisa langsung kerja minggu depan tanpa interview, gimana mau nggak?”
Aku pun bergumam memikirkan tawaran Bintang. “Lokasinya di mana?”
“Yar gua kasih tau.”
“Yaudah iya, gua terima tawaran lu.”
“Oke-oke tar gua kasih kabar buat lu. Eh gimana si Dila ngabarin lu, atau basa basi nggak dia sama lu?”
__ADS_1
“Kagak, dia nggak ngabarin apa pun dan chat terakhir gua aja masih yang enam bulan lalu.”
Bintang hanya tertawa mendengar perkataanku kalau Dila tidak memberi kabarnya padaku. “Hahaha. Coba lu chat aja sekali dia tanyain gimana kabarnya, nggak ada yang salahkan kalau lu yang chat duluan.”
“Maunya si gitu, tapi entar dulu aja tunggu dia baikan dari kondisinya saat ini.”
Satu minggu berlalu setelah aku kembali ke Bogor, aku pun memulai kerja di coffe shop yang Bintang bicarakan, di sana seperti kata Bintang aku pun langsung masuk dan melakukan training seperti membuat minuman powder, late art, dan manual brew. Sambil bekerja dan mendapatkan waktu luang aku pun duduk disebuah kursi yang langsung menghadap ke arah tebing yang membuat pemandangannya sangat segar sambil meminum kopi yang aku buat dan membuka laptopku untuk membuat sebuah Novel untuk Dila.
Aku yang sudah menemukan judul novel yang akan aku tulis, langsung menuliskannya di laptopku, ku tulis setiap kata yang ada dalam isi kepalaku sambil mengingat cerita saat aku bersama Dila, mulai dari awal pertemuanku bersamanya, perkenalanku, kedekatanku, dan hingga kehilangan sosok Dila dalam diriku.
Aku yang sedang asik menulis pun di hampiri oleh Bintang yang memang sengaja menjenguk ku, dia duduk di sampingku dan langsung meminum kopi yang aku buat.
“Oi nge... Ini kopi lu yang buat?”
“Iya itu gua yang buat.”
Sambil menyeruput kopi yang ku buat, Bintang pun memberikan penilaiannya tentang kopiku. “Lu pake biji Gayo ya?”
“Iya gua pake biji itu.”
“Pantes aromanya agak pekat, suhu berapa ini?”
“85° Celcius.”
“Lu mau ngapain kesini?”
“Gua cuma mau memastiin lu betah nggak kerja di sini?”
“Lumayan lah buat ngisi waktu luang.”
Bintang yang melihat aku yang sedang fokus pada laptopku pun langsung memperhatikanku yang sedang mengetik. “Lu lagi ngapain?”
“Gua lagi mulai bikin novel untuk Dila.”
Bintang yang sedang memperhatikanku yang sedang mengetik pun langsung membaca hasil tulisanku. “Sebuah puisi untuk Dila... Untukmu Dilaku. Kau adalah cinta pandangan pertamaku, yang akan menjadi akhir dari semua kisahku.” setelah membaca tulisanku Bintang pun langsung tertawa “Ahahaha. Gua kira lu cuma omong kosong tentang mau buat novel tentang Dila, tapi ternyata lu serius.”
“Semua tentang Dila gua serius ege.”
“Yaudah good luck.” Ucap Bintang sambil berjalan meninggalkanku.
Setelah Bintang pergi aku pun langsung kembali untuk melanjutkan tulisanku. Tak terasa hampir setengah jam sudah berlalu, aku pun menutup laptopku dan kembali menuju Bar untuk bersiap bekerja.
Enam bulan berlalu saat aku sudah mulai bekerja tepatnya saat ini adalah bulan puasa aku yang kebetulan hari ini tidak ada kerjaan hanya memainkan ponselku sambil melihat postingan-postingan yang ada di Instagram dan entah kenapa sudah hampir 3 bulan ini aku tak pernah melihat postingan-postingan dari Dila entah itu di story WhatsApp atau di Instagram, saat itu aku merasa Dila benar-benar hilang. Tanpa pikir panjang aku mencoba untuk melihat akun Instagram miliknya tetapi akunya tidak ada bahkan semua hal tentang dirinya semuanya lenyap.
Aku sempat berpikir bahwa aku saat itu sedang bermimpi dan sosok Dila yang ada saat itu hanyalah implementasi dari mimpiku saja dan entahlah sosok Dila saat itu mulai tidak terlihat nyata. Tak lama ada pesan grup yang muncul di WhatsApp ku yaitu kalau Hendrik mengajak kelas kamu untuk mengadakan buka bersama, ku baca-baca semua pesan WhatsApp yang ada di grup saat itu semua orang sangat antusias dan Hendrik pun memutuskan untuk mengadakan buka bersama itu adalah besok.
__ADS_1
Aku yang melihat keadaan ini mencoba memikirkan kembali apakah dengan topik buka bersama bisa membuatku berkomunikasi kepada Dila. Tanpa pikir panjang aku langsung mencari kontak Dila yang barang kali masih ada di daftar kontak ku saat ini.
“Dila...”
Tak beberapa lama aku menunggu, kulihat Dila langsung membaca pesanku dan langsung membalas pesanku. Eh Deni... Tumben Deni ngechat Dila?
Aku yang membaca balasan pesan dari Dila langsung tersenyum. “Nggak papa kok, Dila gimana kabarnya di sana?”
“Alhamdulilah baik-baik aja, Deni sendiri gimana kabarnya udah lama loh Dila nggak tau kabar dari Deni?”
“Sebenarnya Deni nggak baik-baik aja.”
“Loh kenapa nggak baik-baik aja, Deni lagi sakit?”
“Kalau tubuh Deni baik-baik aja, yang nggak baik itu hati, hati yang telah satu tahun di tinggalkan Dila dan nggak tau kapan kita akan bertemu. Hehehe.”
“Bisa aja yah, ngeselin nya nggak ilang-ilang.”
“Eh iya Deni mau ngasih tau ke Dila kalau anak-anak bakal ngadain buka bersama, Dila bakal ikut nggak?”
“Dila kayaknya si nggak bisa ikut buat buka bersama.”
Dengan ekspektasi sedikit kecewa aku hanya bisa menghela nafas. “Oh yaudah deh nggak papa nanti Deni bakal infokan sama anak-anak.”
“Maaf ya.”
Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih pada Dila dan mengakhiri percakapan kami melalui pesan WhatsApp. Hatiku terasa berat, aku merindukan Dila dan ingin sekali bertemu dengannya lagi, tetapi sepertinya itu tidak akan terjadi.
Besoknya, saat acara buka bersama diadakan, aku berusaha mati-matian untuk tidak memikirkan Dila. Namun, setiap sudut ruangan dipenuhi dengan kenangan tentangnya. Ketika mataku melihat hidangan kesukaannya tersaji dan lagu-lagu yang biasanya mengisi setiap momen kita bersama terdengar, perasaan rindu terhadap Dila kembali menghantui pikiranku. Meskipun berada di tengah keramaian, aku merasa sendiri dan kesepian. Aku merindukan suara Dila dan kehangatan kebersamaan kami.
Dari kejauhan, Bintang melihat keadaanku yang kusut dan langsung menghampiriku dengan ekspresi khawatir. Dia melemparkan sebuah minuman kaleng ke arahku. "Dila nggak datang?"
Aku menangkap minuman yang dilemparkan oleh Bintang, sambil tersenyum getir. “Seperti yang lu lihat sekarang, Dila nggak datang kesini.”
Bintang duduk di sebelahku. “Harusnya lu tanya dong apa dia bisa datang atau nggak?”
“Gua kemarin malam sempat kirim pesan ke dia tentang acara buka bersama ini, dan dia bilang dia nggak bisa dateng.”
“Ya lu positif thinking aja kali aja dia ada kegiatan yang memang nggak bisa dia tinggal.” Ucap Bintang sambil menghembuskan asap rokok yang dia hisap.
“Gua harap ke gitu.”
Namun, meskipun aku berusaha mempertahankan pikiran positif, hatiku tetap terasa berat. Rasa rindu dan kekosongan dalam kehadiran Dila terasa begitu nyata. Aku ingin bisa berbicara dengannya, mendengar suaranya, dan melihat senyumnya lagi. Hati ku terus berharap bahwa suatu hari nanti, aku dan Dila dapat kembali bersama dan menjalin kisah yang belum selesai.
...****************...
__ADS_1