
Saat aku sedang berjalan pulang, dari belakang Hendrik menghampiriku, sepertinya dari tadi memperhatikanku dan melihat Dila pulang bersama Ridwan.
“Bang ojek bang.” Ucap Hendrik sambil member-hentikan motornya di dekatku.
Aku menengok ke arah Hendrik. “Si anying, lu belum balik?”
“Ini gua mau balik.”
“Lu mau gua antar nggak? Tapi nggak gratis.”
Aku menolak penawaran Hendrik dengan mentah-mentah. “Nggak makasih.”
Hendrik kembali menghampiriku. “Bercanda gua, ayo naik mumpung gua masih baik ni.”
Aku langsung menaiki motor Hendrik. “Nah gitu dong, lu baru teman gua.”
“Lu tumben balik sendiri biasanya juga bareng Bintang.” Ucap Hendrik sambil menancap gas full motornya.
“Eh anying jangan ngebut-ngebut gua masih pengen hidup, gua belum nikah sama Dila.” Ucapku dengan nada histeris karena Hendrik kebut-kebutan dijalan sambil mengantarkan ku pulang.
Hendrik menurunkan kecepatan motornya. “Bangsat, lu terang-terangan pengen nikahin Dila, tadi aja si Dila di bawa si Ridwan lu malah diem aja.”
“Lu liat barusan Dila dibawa si Ridwan?”
Hendrik tersenyum. “Gua dari belakang ngeliatin kalian.”
Aku langsung memukul helm yang Hendrik kenakan. “Lu nggak ada kerjaan ngeliatin orang.”
“Bacot lu.” Ucap Hendrik kembali tancap gas dan kebut-kebutan lagi sampai depan Rumahku.
Aku turun dari motor Hendrik sambil berjalan sempoyongan. “Bangsat lu, gua nggak bakal mau lagi dianter pulang sama lu.”
“Gua balik ya.” Hendrik sambil kembali tancap gas dan meninggalkanku.
“Gila itu orang.”
Sesampai dirumah aku pun langsung masuk melihat lampu rumah yang tidak menyala aku pun berasumsi kalau dirumah tidak ada orang, dan benar saja dirumah tidak ada siapa-siap, yang ada hanya sebuah surat yang di tempel di pintu kulkas.
“Umi, sama kakak-kakakmu lagi berkunjung kerumah kakekmu, paling lusa umi pulang. Makanan udah umi siapin di meja makan. Jangan ngerusak rumah apalagi membakar rumah.” Aku yang membaca surat dari umi pun langsung menghubungi teman-temanku untuk menyuruh mereka ber-party di rumahku.
Aku langsung menelepon Hendrik. “Oi nge sini nginep di rumah gua kita party, mumpung orang tua gua lagi nggak ada dirumah.”
“Gas lah, ya kali nggak di gas si, nanti gua otw bareng anak-anak.”
“Lu jangan bawa aneh-aneh kerumah gua, terakhir kali lu kerumah gua, lu bawa spirtus yang bikin rumah gua kebakaran.”
“Tenang gua—” Aku langsung menutup teleponnya sebelum Hendrik melanjutkan kata-katanya.
Dua jam berlalu setelah aku menelepon Hendrik untuk mengajak anak-anak menginap di rumahku, akhirnya Hendrik datang bersama Robi, Zahid, Rifki, Yomi, Yaksa, Muladi, Azis, Alpin Ravhy dan Bintang. Sambil membawa sebuah ayam yang kayaknya habis mereka curi.
Aku langsung menghampiri Hendrik yang sedang memegang ayam yang entah dari mana. “Oi nge, itu ayam lu nyuri di mana?”
“Barusan gua nemu di belakang rumah lu, sayang aja dari pada berkeliaran mending gua tangkap aja, kali aja bisa kita masak.”
“Itu ayam punya gua ege.” Aku langsung mengambil ayam yang Hendrik tangkap dan melepaskannya.
“Elu berdua ngapain oi?” Ucapku bertanya kepada Zahid dan Robi yang sedang mengoprek motornya.
“Den lu bisa tambal motor gua nggak?” Ucap Zahid bertanya kepadaku.
“Rumah gua bukan bengkel ege.”
“Den gua bawa ps sama Tv nya ayo gas kita kita main pes.” kata Rifki dan Yomi yang sedang memegang ps itu.
Aku menarik nafas legas. “Akhirnya ada juga teman gua yang bener.”
Aku berjalan memasuki rumah dan menghampiri Bintang yang sedang duduk di sofa sambil menonton TV. “Si Ridwan di mana? Dia nggak kesini?”
“Tumben lu nanyain dia? Bukannya lu lebih seneng kalau dia nggak ada ya?”
“Nggak gitu juga gua ege.” Ucapku sambil melempar-kan sepotong jeruk yang aku pegang ke kepala Bintang.
Setelah mereka datang aku membiarkan mereka melakukan apa yang mereka suka di rumahku dan aku hanya menyiapkan makanan ringan saja yang aku punya dan memberikan kepada mereka.
“Oi nge lu pada laper nggak?” Aku bertanya kepada mereka semua.
“Ya lapar lah, lu masih aja nanya.” Ucap Robi kepadaku sambil mengusap perutnya yang besar.
Aku mengeluarkan uang dari sakuku dan melemparkannya keatas lantai. “Nih ceban pertama.” Dan yang lain pun mengeluarkan uang mereka untuk saling patungan.
“Lu mau makanan langsung jadi atau harus di masak dulu?” Tanya Zahid kepada mereka semua yang berada di rumahku.
“Mending yang dimasak dulu aja biar higenis.” Hendrik menimpali perkataan Zahid sambil mengupas jeruk yang ada aku sediakan.
Aku menolak perkataan Hendrik. “Kagak-kagak mending yang langsung jadi aja, tahun lalu lu semua masak di rumah gua, malah kebakaran dapur gua.”
“Kan dulu lu yang nyuruh gua masak di rumah lu, karena kompornya nggak nyala-nyala yaudah gua siram pake spirtus aja biar nyala.” kata Hendrik membuat alasan.
“Itu bukan nyala ege, itu kebakaran.”
“Yaudah beli langsung jadi aja. Zis ikut gua beli makanan.”
Zahid dan Azis pun berangkat membeli makan untuk kami dan aku pun duduk di balkon sendirian sambil me-nunggu Zahid dan Azis kembali, tak lama Hendrik dan Bintang menghampiriku.
“Oi lu ngelamun aja!” Ucap Hendrik yang langsung duduk di sampingku dan menghisap rokok yang baru saja dia nyalakan.
__ADS_1
“Nih ngerokok aja biar pikiran lu sedikit tenang.” Hendrik memberikanku sebatang rokok yang dia miliki.
Aku menolak rokok yang Hendrik berikan. “Kagak-kagak, gua kagak demen sama rokok.”
“Lu dulu pas SMP ngerokok sekarang kenapa lu malah anti rokok?” Tanya Bintang sambil menghisap rokok yang dia pegang.
Aku tersenyum. “Mungkin karena Dila.”
Hendrik menepuk punggungku. “Lu masih aja mikirin kejadian tadi.”
“Ya lu kalau memang suka sama si Dila ngomong bukan malah diem, giliran si Dila diambil sama si Ridwan lu galau.” kata Bintang sambil meledekku.
“Gua juga dulu sama kayak lu, tapi setelah gua membulatkan tekad untuk mengungkapkan perasaan gua ke Windi dan terlepas dari jawabannya gua nggak peduli. Akhirnya gua bisa lega dan bahkan gua mendapatkan bonus dari hasil gua mengungkapkan perasaan gua itu, yaitu gua bisa jadian sama Windi.” Sambil kembali menghisap rokoknya.
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan Bintang, tak lama Zahid dan Azis kembali sambil membawa makanan dan minuman. Sebelum dia memasuki rumahku dia membiarkanku sebotol kaleng soda.
“Nih buat lu.”
Aku menangkap minuman yang Zahid lempar kepadaku dan langsung meneguknya. “Makasih.”
“Lu jangan kebanyakan minum soda, lu suka mabok juga kalau kebanyakan minum soda.” Bintang memperingatkan ku.
“Berisik lu.” Ucapku sambil menghabiskan minuman soda itu dengan muka yang agak memerah.
“Baru gua bilangin, lu udah mabuk aja bakal ribet ni kalau lu udah mabuk.”
“Gua suka sama Dila tetapi setiap gua deket sama dia, gua malah nggak bisa ngomong kalau gua itu suka sama dia, gua malah kayak orang bego yang ngomong-ngomong. Tetapi setiap Dila dideketin orang lain hati gua malah sakit. Anjing.”
Hendrik bertanya-tanya. “Nih orang kenapa?”
“Udah biarin, dia kalau udah mabuk suka ngelantur nggak jelas.” Ucap Bintang menjawab pertanyaan Hendrik yang penasaran kenapa aku yang tiba-tiba mabuk dengan soda aja padahal yang tidak ada alkohol.
“Lu tau nggak Tang, pertama kali gua liat Dila, gua kira dia anak SD yang nyasar kesekolah kita karena tubuhnya yang kecil, tetapi setiap gua semakin lama mengenalnya gua malah makin suka bersamanya, entah ini disebut cinta atau hanya obsesi untuk memilikinya tetapi setiap gua memikirkan wajahnya itu membuat gua makin suka senyum-senyum sendiri.” Ucapku sambil berbaring diatas balkon bersama Bintang dan Hendrik.
“Tapi entah kenapa setelah kehadiran Ridwan di kehidupan Dila gua hanya punya ruang sedikit di hidupnya, perlahan-lahan ruang yang gua isi mulai di gerogoti oleh Ridwan.” Aku langsung tertidur.
Hendrik bertanya-tanya kepada Bintang. “Nih bocah kenapa? barusan dia ngoceh terus sekarang malah turu?”
“Dahlah, bantuin gua pindahin nih bocah ke kamarnya.” Ucap Bintang sambil mengangkat tubuhku dan berjalan menuju kamar.
“Oi itu bocah kenapa? Barusan masih sadar sekarang malah lemes gitu?” Ucap Yomi bertanya kepada Hendrik dan Bintang.
Bintang membawaku ke kamarku. “Biasa mabuk soda.”
“Anying. Lemah bet mabuk sama soda.”
Aku pun dibawa oleh Bintang dan Hendrik ke kamarku setelah Bintang dan Hendrik meletakan ku di tempat tidur, tanpa sadar aku menyuruh Bintang untuk jangan me-nyentuh Foto yang ada di meja belajar. Bintang dan Hendrik yang penasaran karena aku berkata seperti itu langsung menghampiri meja belajarku dan melihat foto yang ada di sana, Bintang dan Hendrik pun hanya ter-senyum saat melihat foto itu. Dan ya Foto itu adalah foto Dila dan aku yang aku simpan saat tanggal 16 Agustus kemarin.
Aku yang sudah tertidur cukup lama pun terbangun tepat jam dua pagi dan berjalan mengecek apakah pintu rumah sudah dikunci atau belum tetapi setelah keluar kamar aku melihat ruangan rumah yang berantakan dan mereka juga yang tertidur sembarangan. Setelah mengecek pintu aku melihat Bintang yang masih belum tidur dan hanya memainkan ps itu sendirian.
Aku menghampiri Bintang yang sedang asik main ps sendiri. “Lu belum tidur?”
“Apa si nge? Ini gua.”
“Ya elu bisa nggak? Nggak usah buat orang kaget.” Bintang kembali mengambil stik ps yang barusan dia lempar.
“Lu mau kopi nggak?”
“Tumben lu baik, lu pasti ada maunya ya?”
“Gua baik, malah di fitnah.” Ucapku sambil mengambil dua botol minuman kaleng kopi yang berada di dalam kulkas dan memberikannya kepada Bintang.
“Soal pagelaran nanti gimana?” Ucap Bintang kepada ku sambil mengambil minuman yang aku berikan dan meneguknya.
Aku duduk di samping Bintang yang sedang main ps. “Gua ngikut aja, udah ada Zahid yang jadi produser dan Rifki yang jadi ketua kelas, jadi gua nggak ada alasan dan hak untuk ikut campur tentang pagelaran.”
Bintang tertawa. “Ya gua juga sama si. Semakin gua nggak ikut dalam peran penting sekalian bebas waktu gua untuk melakukan hal lain, misalnya berduaan dengan Dila.”
“Dila punya gua, lu udah ada Windi juga masih aja mau ngambil punya gua.”
“Ya kalau lu nggak mengungkapkan, berarti Dila masih berhak sama yang lain, contohnya sama si Ridwan gitu?”
“Lu tau pas kita kelas 1 saat ke pantai, dulu gua be-rencana untuk mengungkapan perasaan gua sama dia di sana, tetapi sesaat sebelum gua mengungkapkan perasaan gua, gua tiba-tiba membeku dan suara gua tiba-tiba ilang.” kataku sambil kembali meneguk minumanku.
“Ya dulu kalau lu mengungkapkan perasaan lu saat itu mungkin lu sekarang udah jadian sama Dila. Dan juga udah miliki Dila tanpa harus takut kehilangan dia, apa lagi diambil oleh Ridwan.” Ucap Bintang sambil terus memainkan ps itu sendiri. “Lu di sini terang-terangan kalau lu suka Dila, tapi pas ada orangnya lu malah cengengesan nggak jelas”
Aku tertawa mendengar perkataan Bintang dan pergi ke kamarku.
“Lu mau kemana lagi?”
“Gua balik tidur dulu, kalau udah pagi bangunin yang lain.” Ucapku sambil kembali ke kamar dan menutup pintu kamarku.
Setelah matahari terbit Bintang membangunkan ku dan anak-anak yang lain karena sudah subuh, aku yang men-dengar kalau Bintang membangunkan ku langsung bangun dari tempat tidurku untuk ke kamar mandi.
“Oi lu nggak bangunin yang lain?” Ucapku kepada Bintang yang kembali memainkan ps itu setelah membangunkan ku.
“Gua udah berapa kali membangunkan mereka, tapi mereka lagi cosplay jadi orang mati.”
“Lu nggak tidur dari semalem?”
“Tanggung bentar lagi tamat.” Ucap Bintang sambil menengok ke arahku dengan mata yang agak merah dan mata pandanya.
“Gua ke kamar mandi dulu.” Ucapku sambil mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi.
Bintang mengingatkanku. “Di kamar mandi ada si Yaksa lagi boker tapi dari tadi.”
__ADS_1
Aku pun menunggu Yaksa keluar dari kamar mandi selama sepuluh menit tetapi dia tak kunjung keluar dan aku pun menghampirinya dan mengetuk pintu kamar mandi.
“Oi nge lu mau sampai kapan dikamar mandi?”
Yaksa tidak menjawab perkataanku dan aku pun mengetuk lebih keras lagi hingga akhirnya Yaksa membalas kata-kataku.
“Oi bentar oi, gua barusan ketiduran ini tanggung belum keluar.”
Aku berjalan meninggalkan kamar mandi yang sedang di pakai Yaksa. “Si anying mana bisa boker sambil tidur, mana belum keluar tuh taik.”
“Teman-teman gua kagak ada yang bener.” Ucapku sambil berjalan menuju Bintang yang tertidur sambil memegang stik PS.
Setelah matahari terbit akhirnya semua teman-teman ku bangun, aku yang melihat rumahku berantakan menyuruh teman-temanku untuk membantuku membereskan rumah tetapi mereka malah pergi pulang.
“Oi nge, lu udah bikin rumah gua berantakan, pasang pulang aja.” Ucapku kepada mereka semua yang sudah menaiki motornya.
“Kita balik dulu ya, takut telat nanti sekolah.” Ucap Hendrik sambil menguap dan pergi keluar dari rumahku.
“Anjing, gua nyesel ngundang mereka buat nginep di rumah gua.”
Aku pun membereskan rumahku sendiri, takutnya nanti pas si Umi pulang malah aku yang diomelin. Setelah tiga puluh menit aku membereskan rumah akhirnya selesai juga dan aku pun langsung bersiap untuk pergi kesekolah, sesaat sebelum aku ingin berangkat sekolah Bintang yang sudah datang pun menungguku di teras rumah.
Aku berjalan menghampiri Bintang. “Lu baru aja balik dari rumah gua, udah balik lagi aja kesini?”
“Gua baik loh, ngajak lu bareng kesekolah.”
Aku langsung menaiki motor Bintang. “Yaudah gas, ayo berangkat.”
Aku dan Bintang berangkat menuju sekolah menggunakan motornya, sesampai disekolah aku yang biasa menunggu yang lain di parkiran langsung berangkat menuju kelas karena teman-temanku tidak ada diparkiran dan setelah aku dan Bintang memasuki kelas aku melihat semua teman-temanku yang sedang tertidur di kursi mereka masing-masing.
“Si bangsat malah pada turu dikelas semua.”
Bintang mendorongku yang sedang berdiri di pintu kelas. “Awas gua mau ketempat duduk gua, gua nggak kuat ngantuk.”
“Lu juga ikut-ikutan ege.” Ucapku kepada Bintang yang sedang berjalan menuju tempat duduknya.
Jey menghampiriku yang baru saja memasuki kelas. “Eh Den itu anak-anak kenapa pada tidur di kelas semua?”
“Mereka abis nginep dirumah gua, bukannya pada tidur mereka malah main PS sampai subuh, apalagi si Bintang.” Ucapku kepada Jey sambil berjalan di sampingnya.
Windi yang mendengar si Bintang begadang dan main PS sampai subuh langsung menghampirinya dan membangunkannya.
“Lu ya, bukannya tidur malah begadang sampai subuh, udah tau sekarang paginya sekolah.” Windi menjambak rambut Bintang untuk membangunkannya tetapi Bintang yang sudah ngantuk berat pun tetap tidak bangun walau pun sudah di jambak oleh Windi.
Dila menghampiri Windi dan menenangkannya. “Udah-udah Win, nyebut Win nyebut.”
Windi menarik nafas. “Astaghfirullah hal adzim.”
“Lagi Win.”
“Astaghfirullah hal adzim.”
Aku berjalan menuju tempat dudukku dan menaruh tas di sana kemudian berjalan ke arah tempat duduk Bintang untuk mengajaknya sarapan.
“Oi nge lu mau sarapan nggak? tadi pas berangkat kita belum sarapan?” Ajak ku kepada Bintang yang sedang duduk tertidur disebelah Windi.
“Gas ayo.” Bintang langsung bangun dan berdiri untuk pergi sarapan bersamaku.
“Si anying gua dari tadi ngebangunin nggak bangun-bangun, sekarang pas ngomongin makanan malah bangun, nggak habis pikir gua punya cowok.” Ucap Windi sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya karena pusing memikirkan Bintang.
Aku dan Bintang berjalan keluar kelas untuk sarapan tiba-tiba Hendrik langsung merangkul pundakku. “Yu gas sarapan, lu yang traktir ya.”
“Si anying nggak beda jauh sama si Bintang kalau soal makanan gercep.”
Aku, Hendrik dan Bintang pergi keluar sekolah untuk sarapan karena tukang bubur tersebut berada di luar sekolah.
“Kenapa bubur bayi buat bayi, tapi bubur ayam bukan buat ayam?” Ucap Bintang sambil mengunyah bubur yang sedang dia makan.
Aku menimpali perkataan Bintang. “Bubur ayam kan ada daging ayamnya, nah berarti bubur bayi itu...”
Tiba-tiba Bintang dan Hendrik pun menutup mulutnya seperti sedang mual.
Aku tertawa sambil memakan bubur yang sedang aku pegang. “Canda, canda ege.”
“Bercanda woi, kalian nggak menganggap serius kan?” Ucapku kepada Bintang dan Hendrik yang sedang panik.
“Hah? Ya enggaklah.” Jawab Bintang dengan nada panik.
Setelah aku, Hendrik dan Bintang selesai sarapan kami pun kembali kesekolah dari kejauhan aku melihat Dila yang sedang mengobrol dengan Jey dan Windi kemudian setelah itu Dila melihat ke arahku dan menggapaikan tangannya kepadaku, kemudian tersenyum.
Cinta itu rumit.
Kadang aku mempertanyakan perasaanku tentang kamu. Apa aku menyukaimu dengan rasa sayang?
Atau hanya sekedar rasa ingin memiliki, Ingin membuatmu hanya melihatku saja. Satu hal yang pasti. Bisa ada di dekatmu, melihatmu, menghirup aromamu, mencari hal-hal tentang kamu, membuatku senang. Bisa bersamamu seperti ini juga cukup menyenangkan.
“Den? Sorry ganggu, tapi suara hati lu terlalu besar.
Bintang meledekku sambil meneruskan perkataan Hendrik. “Lu kencing aja belum lurus udah mikirin cinta, sekolah dulu yang bener nge.”
Aku membantah perkataan Bintang dengan muka kesal. “Lu udah mengganggu, memfitnah pula.”
Bintang masih meledekku. “Apa nggak terima? Mau berantem? Emang bisa?”
“Baku hantam kita.” Ucapku dengan muka kesal.
__ADS_1
Hendrik melerai aku dan Bintang. “Udah-udah.”
...****************...