Sebuah Puisi Untuk Dila

Sebuah Puisi Untuk Dila
Ibu kantin


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu sejak acara di puncak berakhir, dan suasana di sekolah terasa hampa tanpa kegiatan. Kami, para siswa, merasa bahwa kunjungan ke sekolah tidak lagi diperlukan, kecuali untuk acara perpisahan yang akan diadakan dua minggu mendatang, tepatnya tanggal 25 Mey. Pada hari itu, kami akan berpisah dengan angkatan kami.


Kehidupan sehari-hari tanpa kegiatan sekolah mem-buatku merasa bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Di dalam kelas yang sunyi, aku melangkah perlahan sambil berjalan-jalan di sekelilingnya. Bangku-bangku yang kosong dan papan tulis yang terabaikan menjadi saksi bisu dari sedikitnya orang yang datang ke sekolah ini. Setiap sudut ruangan mengingatkan aku pada kenangan-kenangan yang telah terukir selama tiga tahun perjalananku di sekolah ini.


Tiba-tiba, langkah kaki seseorang terdengar dari kejauhan, memecah keheningan kelas yang hanya dihuni oleh diriku sendiri. Orang itu memanggilku.


“Deni...” Ucapnya dengan nada lembut.


Aku yang sudah tidak asing lagi dengan nada suaranya langsung membalikan tubuhku menghadap kearahnya kemudian tersenyum. “Dila!”


Sosok yang begitu indah itu berdiri di hadapan pintu menatapku dengan tatapan yang tak pernah bisa ku lupa-kan. “Kamu sendirian aja?”


Aku menghampiri Dila yang berada di dekat pintu kelas. “Iya, aku sendirian di sini tetapi sekarang ada kamu, jadi berdua.”


Dila tersenyum. “Kamu masih aja ya.”


Aku tertawa kecil sambil mengajak Dila untuk meninggalkan kelas. “Mau ikut?”


“Kemana?” Tanyanya penasaran.


Aku menjawab sambil memandang Dila dengan penuh misteri. “Ke tempat yang setelah ini, kita tak akan pernah mengunjunginya lagi.”


Dila yang mendengar perkataanku hanya tersenyum kecil, mengikuti langkahku yang tak begitu cepat. Sepanjang perjalanan, kami melihat sekolah yang sebentar lagi akan kami tinggalkan. Masih banyak adik-adik kelas yang sibuk dengan kegiatan sekolah mereka, tetapi bagi kami yang berada di kelas 3, semuanya sudah berakhir. Tidak ada lagi yang harus ditinggalkan kecuali kenangan yang tidak bisa diulang.


Sesampai di tempat yang aku tuju, aku dan Dila berjalan menemui seseorang di sana. Dan ya, tempat itu adalah kantin sekolah, tempat di mana aku selalu menghabiskan waktu istirahatku bersama Dila. Ibu kantin terlihat sibuk melayani siswa-siswa yang memesan makanan, tampaknya dia belum memperhatikan kehadiran kami. Namun, begitu aku dan Dila berdiri di hadapan ibu kantin, dia langsung meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri kami. Kemudian, dengan tiba-tiba, ibu kantin memeluk kami berdua.


Dalam pelukannya yang hangat, aku merasakan getaran emosi yang menyelimuti diriku. Rasanya seperti menghadapi momen yang tak terduga, sebuah kejutan yang mengharukan. Ibu kantin, yang selalu menjadi sosok penyambung kasih sayang di kantin sekolah, melingkarkan tangannya di sekitar tubuhku dan Dila dengan penuh kehangatan.


“Deni, neng geulis.” Ucap ibu kantin dengan suara serak, mencoba menahan air matanya yang tergenang. “Ibu nggak nyangka kalian udah mau lulus aja, padahal kemarin kalian masih pada kelas satu aja.”


Ibu kantin melepas pelukannya dengan rasa haru yang terpancar dari matanya. “Khususnya kamu, Deni. Dulu, kamu suka mengusili ibu dan seringkali ngutang pada ibu.” Sambil menahan tawanya, ibu kantin menutup sejenak matanya. Napasnya terdengar berat. “Namun sekarang, setelah kalian berdua lulus, ibu akan merasa begitu kesepian, nggak ada orang yang mengusili dan membantu ibu lagi.”


Aku tersenyum. “Ya udah, sekarang Deni sama Dila bakal bantuin ibu.”


Dila yang melihat kami berdua, mengangguk setuju sambil tersenyum lembut. “Ya, Bu. Mungkin ini akan menjadi momen terakhir kami bisa membantu ibu di kantin ini.”


Senyuman ibu kantin semakin memancar. “Terima kasih, anak-anak. Kalian telah memberikan banyak keceriaan dan bantuan kepada ibu selama ini.”


Dalam detik-detik terakhir di kantin sekolah yang akrab, kami berbagi momen kehangatan dan haru. Kami mengetahui bahwa kehidupan kami akan berlanjut ke babak berikutnya, tapi saat ini, kantin yang memang tempat ternyaman saat istirahat tak akan pernah aku lihat lagi dan tak akan pernah ada pengulangan cerita. Semua kenangan manis dan lucu yang kami bagi bersama di kantin ini men-jadi bagian tak terpisahkan dari masa lalu kami yang indah.


Hari-hari berlalu tanpa adanya kegiatan yang signifikan, dan tanpa terasa dua minggu pun berlalu. Hari ini, tanggal 24 Mey, aku bersiap-siap pergi ke tempat acara untuk melakukan gladi resik sebelum acara utama besok. Ketika aku tiba di sana, aku mencoba mencari Dila, berharap dia juga ada di sana. Namun, setelah aku mencarinya ke segala penjuru, aku tak kunjung menemukannya. Sepertinya dia tidak datang untuk mengikuti gladi resik tersebut.


Aku duduk di kursi yang akan menjadi tempat acara besok, merenung dalam keheningan. Tiba-tiba, seorang wanita mendekatiku dan duduk di sebelahku. Wanita itu adalah Julita.

__ADS_1


“Den, lu udah mengungkapkan perasaan lu sama Dila?” Ucap Julita yang menghampiriku dan duduk di sampingku.


Mendengar pertanyaan dari Julita aku hanya bisa menunduk. “Gua nggak bisa Ju, buat mengungkapkan perasaan gua sama dia.”


“Jadi lu kemarin nggak jadi mengungkapkan perasaan lu sama Dila?”


“Gua takut Ju, gua takut perasaan gua tak terbalas, gua takut kalau gua cuma dianggap teman doang sama dia, dan yang paling gua takuti, gua takut kehilangan dia.”


Julita menepuk pundakku untuk menenangkan ku, yang tak dapat mengungkapkan perasaanku pada Dila. “Gua tahu perasaan lu Den, tapi kalau lu nggak bisa mengungkapkan perasaan lu, lu malah akan kehilangan dia, dan nggak ada jaminan kalau lu masih memendam perasaanmu sama dia, dia bakal tahu juga kecuali satu-satunya yaitu, lu harus mengungkapkan perasaan lu sama dia.”


“Gua nggak punya keberanian Ju, buat ngucapin semua yang lu ngomongin barusan, gua hanya ingin kayak dulu lagi, ingin selalu ada di dekatnya, ingin memilikinya dan ingin tertawa bersamanya lagi.”


Julita meninggalkanku yang sendiri sambil memberikan sedikit semangat padaku. “Lu harus percaya sama diri lu, Den.”


“Makasih Ju.”


Dengan langkah berat, aku meninggalkan gedung itu. Setibanya di rumah, aku bergegas menuju kamarku, merasa kelelahan yang begitu mendalam. Aku terkulai di atas tempat tidur, memandangi langit-langit kamarku yang gelap.


Mataku tertuju pada sebuah foto di meja kecil di samping tempat tidur. Foto itu menampilkan senyum cerah Dila di sisiku, diambil pada tahun lalu. Tanganku gemetar saat aku menggenggam foto itu dengan lembut, menyentuh wajahnya yang terpampang di dalamnya. Kepedihan hatiku dan keinginan untuk mengungkapkan perasaanku pada Dila bergelut dalam benakku.


Dalam kelelahan ku, aku menempelkan foto itu di dada ku, merasakan getaran emosi yang tak terkendali. Lelahku mengantarku ke dalam tidur yang dalam, terhanyut dalam mimpiku yang penuh dengan bayangan Dila. Keputusan berat yang harus aku ambil mengejar dan menghantuiku di setiap hembusan nafasku.


Dalam dunia mimpi, aku berharap menemukan jawaban. Apakah aku akan mengungkapkan perasaanku yang terpendam pada Dila? Ataukah aku akan terus menyimpan-nya, membeku dalam ketidakpastian.


Umi menggoyangkan tubuhku dengan penuh kelembutan, mencoba membangunkan ku dari alam mimpi yang terus memelukku erat. Mataku terbuka setengah, melihat umi yang menghampiriku dengan tatapan lembut. “Den, bangunlah. Hari ini ada acara penting, bukan?”


Aku merespons dengan gerakan malas, membalikkan tubuh dan menutupi diriku dengan selimut. Aku merasa takut, takut akan perpisahan yang menjelang, takut akan perubahan yang akan terjadi setelahnya. “Sebentar, lima menit lagi.” Aku hanya memohon dalam hati agar waktu bisa berjalan lebih lambat.


Umi mengucapkan ancaman lembut. “Kalau nggak bangun umi kunci ya pintunya dari luar.”


Tapi aku tahu umi tidak akan benar-benar melakukan-nya, umi hanya mencoba membangunkan ku dengan cara itu. Aku mendengus kecil dan akhirnya meraih keberanian untuk menghadapi hari yang tak bisa terhindarkan ini.


Aku bangkit dari tempat tidur dengan langkah berat, menyeret diriku ke kamar mandi. Air dingin mengalir di atas tubuhku, mencoba menenangkan keraguan dan kecemasan yang menghantui pikiranku. Setelah selesai mandi dan melaksanakan sholat, aku melangkah keluar dari kamarku dan berjalan menuju meja makan untuk sarapan.


“Pada kemana nih?”


“Abangmu kan kerja, tuh kakak perempuanmu masih tidur.” Jawab umi sambil membawa nasi kemeja makan.


Ketika aku selesai makan, aku bergerak menuju pintu keluar rumah, diikuti oleh sorakan hati yang semakin keras. Umi memanggilku dari belakang. “Kamu mau berangkat sekarang?”


“Iya, umi.” Jawabku dengan sedikit gemetar dalam suara. “Deni, harus pergi sekarang.”


Umi menghampiriku, merangkulku dengan penuh kasih sayang. “Hati-hati ya, sayang. Semoga acaranya berjalan lancar.”

__ADS_1


Aku mencium tangan umi dengan penuh rasa haru. “Iya, umi. Deni berangkat dulu ya. Assalamualaikum.”


Pagi yang cerah itu terasa seperti kepingan kenangan yang indah, dengan langit biru yang terhampar luas dan sinar matahari yang menyinari langkah-langkahku. Suara riang burung-burung yang berkicau mengiringi perjalanan menuju Ruko, tempat kami berkumpul sebelum berangkat bersama. Sesampai di ruko kulihat Bintang, Robi, Ridwan, Hendrik, Zahid, Ravhy, Yaksa, Dicky dan Rifki sudah berada di sana sebelum aku duluan.


“Mau berangkat kapan nih?” Tanyaku kepada anak-anak lainnya.


Hendrik berjalan menuju kamar mandi. “Bentaran gua mandi dulu.”


“Lu dari tadi ngapain aja ege? Orang-orang udah siap lu malah mau mandi.”


“Bentar nge gua paling 5 menit beres mandi, tunggu bentar.”


Setelah Hendrik selesai mandi kami berangkat menuju gedung perpisahan untuk mengikuti acara tersebut, aku yang melihat Bintang sendiri, langsung menaiki motor Bintang untuk pergi menuju gedung yang akan menjadi tempat perpisahan sekolahku.


“Tang gua nebeng sama lu.”


“Ya udah ayo.”


Kami berangkat menuju gedung perpisahan selama di jalan aku mengobrol bersama Bintang khususnya mem-bahas tentang perasaanku sama Dila.


“Lu udah mengungkapkan perasaan lu sama Dila?”


“Gua bingung soal perasaan gua juga, Dila udah punya cowok. Iya gua tahu gua suka sama Dila, tapi kalau dia udah punya cowok, berat bagi gua buat ngomongnya dan pilihan-nya juga cuma satu dia nggak mungkin nerima gua, dia udah pasti nolak gua jadi percuma aja kalau gua mengungkapkan sekarang.”


“Lu tahu kan kalau lu nggak mengungkapkan perasaan lu sekarang, lu bakal kecewa dan bakal ada penyesalan? Misalkan kalau lu udah nunggu dia terus jawabannya tetap sama bahwa lu sama dia nggak bisa sama-sama gimana? Kayak emang nggak sia-sia gitu waktu yang lu buang buat nunggu dia?”


“Tapi entah kenapa bagi gua, nggak ada waktu yang sia-sia buat dia, dia mungkin menganggap gua nggak spesial tapi bagi gua, dia satu-satunya wanita yang benar-benar spesial, pengecualian keluarga gua.” Aku menimpali perkataan Bintang.


“Kalau lu menganggap dia spesial? kenapa nggak dari dulu lu ungkapin perasaan lu sama dia? kenapa harus saat kayak gini lu baru bilang dia spesial?”


Sambil menghela nafas dan melihat ke arah langit. “Gua bingung banget sekarang.”


Saat aku menghela nafas dan menatap langit, terdapat kegamangan yang memenuhi pikiranku. Apakah aku seharusnya mengambil risiko dan mengungkapkan perasaanku pada Dila, meskipun dia sudah memiliki pacar? Apakah perasaanku akan sia-sia jika aku tetap berdiam diri dan tidak memberitahunya?


Bintang, melanjutkan pembicaraan, "Lu pikiran ini, Den. Kehidupan ini singkat, dan kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Mungkin sekarang Dila udah punya pacar, tapi bukan berarti dia nggak akan punya waktu sendiri di masa depan? Jangan biarkan penyesalan menghantui diri lu di kemudian hari."


Kata-kata Bintang itu menusuk hatiku. Aku merenung sejenak, mempertimbangkan kata-katanya. Dia benar. Aku tidak ingin merasa menyesal karena tidak pernah mencoba. Mungkin memang saat ini adalah waktu yang tidak tepat, tetapi apa yang bisa aku lakukan selain mencoba?


"Gua mengerti apa yang lu maksud," kataku akhirnya, memecahkan keheningan. "Mungkin memang sekarang bukan waktu yang tepat, tapi gua nggak ingin menyesal di kemudian hari. Gua akan mencoba mengungkapkan perasaan gua saka Dila, nggak peduli apa hasilnya."


Bintang tersenyum menggembirakan. "Itu dia! Lu nggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi jika lu tidak mencobanya. Gua mendukung lu sepenuhnya. Jika memang Dila istimewa bagi lu, beranikan diri lu dan kasihi tahu dia."


Kami tiba di gedung perpisahan dengan harapan dan antusiasme. Meskipun perasaanku masih terombang-ambing, aku tahu bahwa aku telah membuat keputusan yang benar. Mungkin ini adalah awal dari sesuatu yang indah, atau mungkin juga sebuah patah hati tanpa batas. Yang pasti, aku tidak akan pernah tahu kecuali aku mencobanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2