
Sesampai di gedung, pandangan mataku tertuju pada seluruh siswa angkatanku yang sudah berkumpul di sana. Hatiku berdesir dengan haru melihat wajah-wajah akrab yang telah bersama selama bertahun-tahun. Aku bergegas bersama anak-anak lainnya, berkumpul di parkiran gedung tersebut sambil menunggu kedatangan semua teman-temanku.
Namun, pandanganku seketika terfokus pada Dila yang tiba. Hatiku berdegup kencang, ingin segera menghampiri-nya dan berbagi momen spesial ini bersamanya. Namun, Hendrik dengan cepat menahan langkahku, menghentikan-ku di tengah jalan.
“Lu mau kemana ege?”
“Gua mau kesana dulu.” Jawabku sambil melepaskan tangan Hendrik.
“Bentarlah kita juga mau kesana, barengan aja.”
Aku menuruti perkataan Hendrik untuk tidak pergi. “Iya iya.”
Setelah menunggu selama lima belas menit yang penuh antusiasme, akhirnya kami memutuskan untuk memasuki gedung karena acara akan segera dimulai. Aku mencari tempat duduk sesuai dengan nomor absenku dan menemukan kursiku di sebelah Dicky. Namun, Dila harus duduk agak jauh dariku karena tempat duduk kami terpisah oleh Elis dan Dicky.
Ketika aku sudah duduk di tempatku, pandanganku tak bisa lepas dari Dila yang duduk di dekat Elis. Sebuah kekecewaan yang tak terbendung menyelimuti hatiku karena jarak yang memisahkan kami. Namun, Dila dengan lembut menyapa aku dengan mengulurkan tangannya.
Aku merasa hatiku berdebar saat itu. Tanpa ragu, aku berdiri dan melangkah menuju tempat duduk Dila. Aku ingin dekat dengannya, mendekatkan diri dalam momen perpisahan ini. Aku mengucapkan kata-kata pujian untuk-nya, sambil memuji kecantikannya dalam balutan kebaya. “Kamu cantik banget Dil pake kebaya.”
Dila tersenyum dan tertawa kecil. “Makasih, kamu juga kalau pake jas keliatan mirip kayak orang.”
Tak lama setelah kami memasuki gedung, suasana pun semakin memanas dengan dimulainya acara. Aku kembali duduk di tempatku yang berdekatan dengan Dicky, hatiku di penuhi oleh perasaan campur aduk yang sulit di ungkapkan.
Pembawa acara dengan penuh semangat memulai acara dengan pidato pembuka. Satu persatu siswa angkatan kami dipanggil maju ke depan untuk memberikan salam perpisahan kepada guru-guru yang telah men-dampingi kami selama ini. Akhirnya, giliranku tiba. Hatiku berdebar kencang saat aku maju ke depan, memberikan salam dengan penuh haru dan rasa terima kasih yang men-dalam kepada para guru. Mereka adalah sosok-sosok yang tak akan pernah terlupakan dalam perjalanan hidupku.
Setelah selesai memberikan salam perpisahan, acara dilanjutkan dengan penampilan band yang mengiringi suasana dengan musik yang menghentak. Ekskul lainnya pun turut memeriahkan acara, menciptakan momen yang penuh kenangan untuk kita semua. Akhirnya, Windy mem-bacakan puisi yang indah, menggambarkan perasaan yang terpendam dan melukiskan perpisahan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Setelah acara formal berakhir, suasana di gedung men-jadi riuh dengan kegembiraan dan keharuan. Beberapa anak-anak sibuk berpose bersama untuk mengabadikan momen terakhir kami sebagai angkatan yang kompak, sementara yang lain terdiam dalam keheningan, mungkin sedang merenungkan kenangan yang telah tercipta.
Aku yang ingin menemui Dila, mulai mencari keberadaannya di antara kerumunan anak-anak. Aku menjelajahi setiap sudut gedung, berharap bisa menemukannya. Namun, meskipun telah mencari ke sana kemari, aku tak berhasil menemukannya. Akhirnya, aku memutuskan untuk bertanya kepada Windi dan Jey yang sedang berbincang-bincang di sebelah.
“Win lu lihat Dila nggak?”
“Kagak gua, kagak lihat dia.”
“Kalau lu Jey?”
Jey mengejekku. “Cie... Mau ngapain lu nyari si Dila?”
Aku hanya tertawa kecil mendengar perkataan Jey. “Liat nggak?”
“Kayaknya dia ke toilet.”
Aku berjalan menuju toilet. “Makasih.”
“Eh... eh... eh... lu mau kemana?” Teriak jey sambil memegang tanganku.
“Mau ke toilet lah.”
“Toiletnya di bawah gedung!” sambil menunjuk ke bawah gedung.
“Lah emangnya ini gua mau kemana?”
“Lu mah itu mau ke depan gedung.”
“Kata siapa?” Ucapku sambil pergi mengelilingi Jey dan Windi dan pergi ke toilet lantai bawah gedung.
“Hadeh ini anak ada-ada aja.” sambil memegang kepalanya.
Sesampainya di toilet aku tak bisa masuk karena di sana adalah toilet cewek kalau aku masuk, yang ada malah aku yang gebukin sama cewek-cewek yang ada di dalem. Dan karena itu aku memutuskan untuk menunggunya di luar, aku menunggunya kurang lebih sudah 15 menit tetapi Dila tidak kunjung keluar juga, dari kejauhan aku melihat Elis yang sepertinya ingin ke toilet juga.
“Lis-lis gua mau—” Kataku tetapi dipotong olehnya.
“Benar-benar gua udah kebelet, eh maksud gua kebelet.” sambil mendorongku dan langsung masuk ke dalam toilet tanpa mendengar kata-kataku.
Aku pun menunggunya keluar selama lima menit dan setelah lama menunggu, aku nunggu akhirnya Elis keluar juga.
“Ngapain lu diam di sini? mau ngintip cewek-cewek di sini ya? alah modus lu ketauan sama gua, gua bilangin sama yang lain ya supaya lu di gebukin sama orang-orang yang ada di sini.” Katanya tanpa di kasih kesempatan sedikit pun untukku bicara.
“Nggak! Gila aja gua mau ngintip cewek-cewek yang ada di sini. Daripada gua ngintip mending gua masuk aja nanggung-nanggung kan?” sambil berjalan ingin memasuki toilet cewek.
“Nggak gitu juga kali.” Elis menarik ku dan memukul tubuhku.
“Ya habisnya gua belum ngomong apa-apa lu udah ngegas duluan kayak motor nggak ada remnya.” Kataku sambil berjalan bersama Elis ke atas gedung.
“Iya-iya maafin gua, oh iya lu mau apa ke toilet cewek?”
__ADS_1
“Gua kesana lagi nunggu Dila, eh lu liat dia nggak?”
“Si Dila? dia lagi sama si Aida juga di luar lagi foto-foto juga.”
Aku berjalan pergi meninggalkan Elis. “Anjir gua dari tadi nungguin dia di depan pintu toilet pantes aja dia nggak keluar-keluar.”
“Eh lu mau kemana?”
“Kemana-mana hatiku senang.” Ucapku sambil berteriak dan berlari ke depan gedung
“Hadeh ini anak.”
Hey Dila, kamu di mana? seruku dalam hati dengan tekad yang bulat untuk mengungkapkan perasaan yang terpendam. Aku merasa tak sabar untuk memberitahunya bagaimana perasaanku saat ini, kemarin, dan esok.
Langkahku bergerak cepat keluar dari gedung, mataku melirik ke kiri dan kanan mencari sosok Dila. Saat aku akhirnya berada di luar, hatiku langsung berdesir melihat-nya. Di sana, dia berdiri dengan anggun, bagaikan maha-karya Tuhan yang hidup dan tersenyum memikat.
Matahari sepertinya turut bermain dalam dramatisasi momen ini, cahayanya yang lembut menyentuh wajah Dila, memberikan keindahan ekstra pada setiap lekuknya. Senyumnya yang mempesona membuat hatiku bergetar dan rasa cintaku semakin dalam.
Langit yang cerah memancarkan sinar emas, seakan memberikan restu pada langkahku yang tegar menuju Dila. Aku mendekatinya dengan perasaan campuran antara gugup dan haru. Ini adalah momen yang ku tunggu-tunggu.
Dalam keheningan dan keindahan alam yang menyaksikan, aku melangkah dengan mantap menuju Dila, si cantik yang sedang bersinar. Detak jantungku semakin kencang, dan detik-detik berharga berlalu perlahan seiring kehadiranku yang semakin mendekat.
Aku menunggu saat ini setelah setelah tiga tahun berlalu, izinkan aku untuk mengungkapkannya seperti yang pernah kamu katakan dulu, “Lebih baik diungkapkan walaupun jawabannya menyakitkan daripada mengendapkannya dan akhirnya menyesal.”
“Di... la—” Aku yang berjalan mendekatinya dan berusaha memanggil namanya tiba-tiba terdiam, terpaku pada pemandangan di depanku. Orang lain mendekatinya dengan membawa bunga ikat dan memberikannya kepada Dila. Dan ya, orang itu adalah pacar Dila yang pernah di ceritakan oleh Julita, yang selalu menelepon Dila saat kami berada di Villa kemarin. Aku melihat mereka berdua dengan hati yang hancur, merasa bahwa tekad yang tadi aku mantapkan telah hancur berkeping-keping, dan seperti-nya tidak ada gunanya lagi untuk mengungkapkan perasaan ini.
Dengan langkah berat, aku berbalik meninggalkan Dila yang berdiri di depan gedung, hatiku penuh dengan kekecewaan dan sakit yang tak terucapkan. Aku memilih pergi ke belakang gedung seorang diri, mencari kesendirian yang bisa membantu meredakan kegelisahan dalam diriku. Di sana, aku melihat Hendrik dan anak-anak yang sedang merokok. Sambil menghampiri mereka, aku mengambil satu batang rokok dari bungkus rokok milik Hendrik.
“Oi ege, lu mau ngapain?” Tanya Hendrik dengan keheranan saat melihatku mengambil satu batang rokok dari bungkus itu. Aku tak membalas perkataannya, hanya tersenyum sambil menatap hampa ke kejauhan.
“Bukannya lu nggak merokok, Den?” Hendrik bertanya lagi, mencoba mencari pemahaman atas tindakanku yang tak biasa ini.
“Anying, gua di cuekin.” Ucap Hendrik dengan nada kesal, yang melihatku pergi meninggalkannya setelah me-ngambil rokoknya.
Aku melanjutkan langkahku dengan hati yang berat, memasuki gedung yang kembali dipenuhi oleh riuhnya keramaian. Kulihat Dila dan pacarnya sedang berfoto ber-sama di dekat pintu gedung, namun aku memilih untuk melihat mereka sebentar saja tanpa menengok ke arahnya. Aku terus berjalan menuju lantai bawah gedung, menuju sebuah ruangan kosong yang terletak dekat toilet.
Di ruangan yang sunyi itu, aku mencari ketenangan dalam kehampaan hatiku. Ku nyalakan rokok yang tadi ku genggam erat, meskipun aku merasa pengap dan tersiksa saat itu. Namun, rokok ini menjadi pelarian sesaat yang memberiku sedikit ketenangan pikiran. Sementara asap rokok mengisi ruangan, aku mencoba melupakan segala perasaan dan pikiran yang menghantui pikiranku, setidak-nya untuk sesaat.
Namun, di balik asap rokok dan kepahitan di bibirku, rasa kekecewaan dan kehilangan tetap menggebu di dalam hatiku. Aku tak bisa benar-benar melupakan Dila, namun aku memilih untuk menguburnya dalam kesendirian dan kesedihan yang kurasakan saat ini.
“Wajar lu sampe kayak gini? Mau ngerokok aja buat hilangin pikiran? Padahal lu bukan perokok!” Bentak Bintang dengan suara yang penuh penegasan.
Sambil mengusap darah yang mengalir dari pipiku, aku menyahut dengan nada dingin, “Pergi lu, gua lagi nggak mau ngomong sama siapapun sekarang.”
Namun, Bintang menarik kerah kemejaku dengan kasar. “Sampai kapan lu mau kayak gini? Lu menyerah buat dapetin Dila? Lu menyerah setelah semua ini? PENGECUT LU?”
“Lepasin tangan lu.” Ucapku dengan nada dingin.
Namun, Bintang tetap bertahan, ia menatapku dengan mata yang penuh amarah. “Dengarkan gua! Kalo lu nggak berani ungkapin perasaan lu ke Dila, lu bakal terus begini!”
“GUA BILANG LEPASIN TANGAN LU, BANGSAT!” seruku dengan penuh kemarahan, rasa frustasi yang membara dalam diriku memenuhi pukulan ku yang mendarat di wajahnya.
Bintang terhempas ke belakang akibat pukulan ku. Namun, ia tetap tegar dan berdiri lagi. “Pengecut lu, orang kayak lu yang nggak bisa jujur sama perasaannya nggak pantes buat dapetin Dila, lu cuman cowok tolol yang pentingin ego lu sendiri, orang yang hanya banyak omong kayak lu nggak pantes ada di kehidupan Dila.” Bintang berusaha memprovokasi dengan semua hinaannya kepada ku.
Aku pun berlari menuju Bintang dan langsung me-mukul wajahnya kembali dengan keras. “ANJING LU.”
“TAU APA LU TENTANG PERASAAN, BANGSAT? TAU APA LU TENTANG DILA? TAU APA LU? NG****T.” Sambil terus memukul wajah Bintang sampai babak belur, dan Bintang hanya menerima pukulan ku saja tanpa menghindar.
Dengan hawa kemarahan yang membara, aku me-lanjutkan serangan ku tanpa henti. Pukulan demi pukulan ku timpakan dengan kekuatan penuh, memenuhi ruangan dengan suara hantaman yang memekakkan telinga. Wajah Bintang semakin terluka, luka-luka yang membentuk jejak kehancuran yang tak terbantahkan.
Tetapi, saat aku siap memukul Bintang untuk terakhir kalinya, tiba-tiba Bintang menahan pukulan ku dengan tangan kanannya. Wajahnya yang penuh luka dan darah menggambarkan rasa sakit yang tak terbendung, namun matanya tetap menatapku dengan penuh keberanian. “Justru karena gua teman lu, jadi gua tau semuanya.” Katanya dengan suara yang bergetar.
Sesaat, detik-detik itu menjadi hening. Napas kami berdua terdengar berat, menggambarkan kelelahan fisik dan beban emosional yang kami rasakan. Tatapannya dan tangannya yang masih memegang pukulan ku membawa perasaan yang rumit di dalam diriku. Betapa dalamnya pertemanan kami, dan betapa sulitnya aku mengungkapkan perasaanku yang terpendam.
Dalam keheningan itu, aku melepaskan diri dari genggaman Bintang dengan perlahan. Tubuhku bergetar, namun bukan lagi karena amarah. Rasa bersalah mulai menyusup, menggigit hatiku yang berkeluh kesah.
Dengan kepalaku yang masih terasa berat, aku menghela nafas panjang. Hati dan pikiranku terasa kacau, ter-perangkap dalam labirin perasaan yang tak kunjung usai. “Gua udah bingung sama perasaan gua.” Gumamku dengan suara penuh keputusasaan. “Seketika bisa percaya diri kalau Dila bakal gua dapetin, dan seketika itu juga semesta mematahkan kepercayaan diri gua.”
Tiba-tiba, Bintang mendorong tubuhku dengan kasar, membuatku terjatuh di atas lantai yang dingin. Rasa sakit menerpa seluruh tubuhku, namun aku tak bisa bergerak. Kekuatan fisikku terkuras habis oleh gelombang emosi yang melanda.
Dalam keadaan terluka dan terkapar di lantai, Bintang mulai membalas pukulan ku dengan kejam. Tinjunya yang keras menghantam tubuhku berkali-kali, menyisakan jejak-jejak kehancuran di kulitku yang memerah.
“Dengar baik-baik!” seru Bintang dengan suara yang penuh kekecewaan. “Gua tau perasaan lu sebesar apa sama Dila, tapi kesalahan lu cukup fatal menurut gua. Kesalahan lu? Lu nggak berani jujur tentang hati lu selama ini sama Dila. Mungkin aja selama ini Dila juga punya perasaan yang sama kayak lu, tapi bedanya dia cewek. Mana mungkin cewek ngomong duluan sama cowok, bukan? Dulu itu harusnya lu sebagai cowok yang mengurangi rasa egois lu!” Ucap Bintang sambil berhenti memukulku dan berdiri me-nyalakan rokoknya kemudian menghisapnya untuk menenangkan pikirannya.
Dalam keadaan yang penuh rasa sakit dan kehancuran, aku merenungkan kata-kata Bintang yang menusuk hatiku. Regret dan penyesalan mengisi ruang hampa di dalam diriku, membangun kesadaran akan kesalahan yang tak termaafkan. Aku berbaring di atas lantai, merasakan kehampaan yang menghantui dan keputusasaan yang melingkupi jiwa yang terluka.
__ADS_1
Dalam keadaan terluka dan terselimuti rasa keputusasaan, aku hanya bisa terbaring di atas lantai yang dingin, membiarkan kata-kata Bintang menyeruak ke dalam diriku. Suaranya yang tajam dan penuh kebijaksanaan merasuk ke dalam hati yang hancur ini. “Sekarang pilihan lu cuma ada dua?” Tanyanya dengan nada serius. “Pertama, lu harus ungkapin perasaan lu sekarang, walau pun peluang lu ditolak itu 100%, tapi setelah itu hati lu bisa lega. Dan yang kedua, lu bisa mendem perasaan lu, kasih waktu untuk Dila agar dia bisa jalani hidup sesuai apa yang dia inginkan, dan sampai menurut lu dia sendiri. Setelah itu, lu bisa ungkapin perasaan lu sama dia karena peluang lu diterima dari 0% bisa menjadi 25%. Kenapa gua nggak bilang jadi setengah-nya atau 50%? Karena ada beberapa faktor yang mem-pengaruhi, seperti lu emang orang lama di kehidupan Dila, tapi suatu saat lu kembali, lu akan menjadi orang baru di kehidupannya.”
Aku merenungkan kata-kata Bintang dengan penuh keteguhan, sementara tangannya tersodorkan, menawar-kan bantuannya untuk membantuku berdiri. Perlahan-lahan, aku meraih tangannya, membiarkan kehangatan itu merasuki tubuh yang remuk ini. Sambil tersenyum kecil, aku menjawab dengan tekad yang tulus. “Kayaknya gua udah punya pilihan gua.”
Bintang menatapku dengan penuh harap dan keingintahuan. “Apa pilihan lu?”
Dengan mantap, aku menjawab, suara hatiku yang hampir rapuh terdengar tegas. “Gua bakal nunggu dia.”
Bintang mengangguk mengerti, menyadari pentingnya keputusan itu bagi diriku. “Pilihan yang nggak buruk juga.” Ucapnya sambil tersenyum penuh pengertian.
Saat aku berdiri dengan bantuan Bintang, langkah-langkahku penuh dengan harapan baru. Aku tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi setidaknya, aku telah menentukan arah yang akan kujalani dengan keyakinan dan kesabaran.
“Kayaknya lu dari dulu nggak akan bisa menang, setiap berantem sama gua.” Ucap Bintang sambil menopangku berjalan menuju atas gedung.
Aku hanya tersenyum sambil mengelap darah yang menetes dengan sapu tanganku. “Iya, gua nggak bakal menang kalau berantem sama lu.”
Aku dan Bintang pergi ke atas gedung di sana seperti-nya memang acara sudah selesai dan aku juga melihat Dila yang masih bersama dengan pacarnya. Tiba-tiba, Windi, yang melihat kondisi kami yang terluka, mendekati kami dengan cepat. Wajahnya penuh kekhawatiran ketika dia memandangi kami yang baru saja sampai di atas gedung.
Lu berdua abis ngapain, habisa berantem ya?” Ucap Windi dengan suara cemas, sambil menggandengku dan Bintang untuk turun ke lantai bawah.
“Eh... Eh... Eh... Kita mau ke atas.” Ucap Bintang kepada Windi.
“Lu mau ke atas dengan keadaan begini? Yang ada malah bikin heboh. Sana ke toilet dulu, nanti gua bawa P3Knya.” Kata Windi dengan nada tegang, meninggalkan kami sejenak untuk mengambil kotak P3K.
Kami pun masuk ke toilet, tempat yang sepi dan tenang. Di sana, kami membersihkan wajah kami yang kotor oleh darah dan luka-luka yang terbentang di kulit kami. Setelah beberapa saat, Windi kembali dengan membawa kotak P3K.
“Lu berdua abis ngapain si, sampe kayak gini?” Tanya Windi dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
“Kita barusan jatuh dari tangga, terus ketiban tangga.” Ucap Bintang sambil berusaha menjelaskan, meski wajah-nya kesakitan akibat obatan Betadine yang diteteskan oleh Windi ke luka yang terbuka di sebelah bibirnya.
Bintang merintih kesakitan saat Windi mengobati lukanya dengan sedikit terburu-buru. “Aduh... Aduh... Pelan-pelan.” Pinta Bintang.
“Lu kayak gini aja sakit.” Ucap Windi sambil bergeser ke sampingku setelah selesai mengobati luka Bintang, kemudian memulai mengobati luka-luka di wajahku.
“Ini pasti biang masalahnya lu ya, Den? Dah nggak aneh, udah pasti elu?” Windi melontarkan pertanyaan dengan nada curiga.
Aku hanya tersenyum tipis, mencoba menutupi rasa sakit yang melanda tubuhku. “Bukan apa-apa kok.” Jawabku dengan lirih, sambil mengatupkan bibirku untuk menahan rasa pedih.
“Lu liat nggak tadi si Dila sama—” Windi hendak melanjutkan perkataannya, namun Bintang dengan cepat menutup mulutnya dengan tangan, memberikan isyarat agar Windi diam.
Aku menghela nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. “Iya, gua liat Dila bersama orang lain.”
Tanpa berkata-kata lagi, aku bergerak meninggalkan Windi dan Bintang. Langkahku terasa berat, namun aku tidak ingin membebaninya dengan kehadiranku. Aku tahu bahwa saat ini, aku tidak bisa melakukan apa-apa.
“Makasih ya.” Ucapku dengan suara lembut, sambil melanjutkan perjalanan sendirian.
Bintang berusaha mengejar ku, tetapi Windi menggenggam tangannya dengan erat. “Lu mau kemana?” Tanya Windi, mencoba menahan Bintang.
“Untuk sekarang, gua nggak bisa ninggalin bocah itu sendirian.” Jawabku dengan tegas, sambil melihat Bintang dengan tatapan tulus.
Windi akhirnya melepaskan genggamannya, mengerti bahwa aku butuh waktu untuk diri sendiri. “Ya udah, iya iya.” Ucap Windi pasrah.
Aku melanjutkan langkahku, keluar dari gedung yang menyimpan begitu banyak kenangan. Bintang menyusul ku, menemani langkahku yang terasa berat. Kami berdua, dalam keheningan yang menyelimuti, melangkah menjauh dari kehidupan yang tak kunjung memberikan jawaban.
Tidak ada kata-kata yang terucap di antara kami. Hanya langkah-langkah yang terdengar, seperti dentingan perpisahan yang menyedihkan. Kini, aku harus mencari kekuatan dalam diri untuk menerima kenyataan dan menemukan jalanku sendiri, terlepas dari segala keraguan dan keputusasaan yang memenuhi hatiku.
Setelah keluar dari gedung, aku dan Bintang langsung dikejar oleh Hendrik dan yang lainnya. Mereka ingin kami berdua ikut foto bersama sebagai kenang-kenangan.
Hendrik melihat wajahku yang penuh luka dan ber-tanya dengan keheranan, “Muka lu berdua kenapa? Jatuh dari gedung?”
Aku tersenyum kecut, mencari alasan untuk menyembunyikan kebenaran yang sebenarnya. “Barusan gua jatuh dari tangga, terus ketiban tangganya.”
Hendrik menggelengkan kepala, tidak terlalu me-pedulikannya. “Gua nggak peduli, sini lu berdua cepet. Nggak lengkap kalau lu berdua nggak ada di foto ini.”
Aku dan Bintang mengikuti mereka, berdiri di antara teman-teman yang riang. Satu per satu suara dihitung, “1... 2... 3...” Dan saat itulah foto diambil, menangkap momen yang mungkin akan terlupakan di masa depan.
Setelah selesai berfoto, Bintang mendekatiku dengan hati-hati. “Lu mau balik sama siapa?”
Aku memandang sekeliling, mencari jawaban yang tak mudah. Hingga akhirnya, dengan suara lemah, aku men-jawab, “Paling sama lu lagi.”
Bintang mengangguk. “Ya udah, ayo balik.” Katanya sambil memarkirkan motornya, menunjukkan kesediaannya untuk mengantarku pulang.
Kami melintasi jalan yang sunyi. Di dalam hatiku, ada perasaan campur aduk antara kehilangan dan harapan. Namun, aku tahu bahwa langkah-langkah ini adalah bagian dari prosesku untuk menemukan diri sendiri dan mencari jawaban yang selama ini kucari.
...****************...
__ADS_1