
Dua minggu setelah aku lulus SMA aku yang selalu berada dikamar hanya memainkan komputer untuk mengisi waktu luang ku, dan juga karena sekarang sudah masuk awal bulan puasa jadi tak ada salahnya untuk main game sambil ngabuburit menunggu adzan magrib. Tak terasa adzan magrib berkumandang aku yang keluar dari kamarku berjalan menuju meja makan dan makan bersama keluargaku saat itu, setelah selesai makan dan menyelesaikan kegiatanku yang lain tepatnya jam setengah 9 malam aku kembali ke kamar ku untuk tidur.
Aku yang sedang tiduran dikamar ku yang sangat nyaman itu, mendengar notifikasi pesan di ponselku dan tanpa pikir panjang aku langsung membuka ponselku. Dan aku sedikit terkejut ternyata orang yang mengirimkan pesan itu adalah Dila, dan entah kenapa saat itu muncul lengkungan kecil di bibirku yang membuatku tersenyum .
“Deni.”
“Iya Dila ada apa?”
“Dila punya sesuatu nih, buat Deni.”
“Apa tuh? Jadi penasaran. Hehehe.”
“Hehehe, nanti Deni ke rumah Dila aja.”
“Ya udah besok Deni ke rumah Dila ya.”
“Oke, Dila tunggu ya.”
“Iya Dila.” Balasku sambil mengakhiri pesan itu.
Walau pun hanya pesan yang ringan tetapi itu sudah cukup untuk mengobati rinduku padamu saat itu, yang membuatku bisa tertidur dengan pikiran yang lebih tenang. Keesokan harinya aku yang sedang bersiap untuk pergi ke-rumah Dila dihampiri oleh umi.
“Kamu mau kemana?”
Aku hanya tersenyum kecil kepada umi. “Deni mau ke-temu orang.”
“Jangan di culik ya anak orang, kasian entar orang tua-nya nyariin.”
“Emang muka Deni kaya penculik? Sampe di bilang mau menculik anak orang dong, sama umi sendiri.”
“Hehehe, umi cuma bercanda kok.”
“Hati-hati di jalannya.” Ucap umi kepadaku yang memarkirkan motorku.
“Siap umi.” Ucapku sambil memberi hormat.
Aku yang membawa motor merasa penasaran me-ngapa Dila memintaku datang ke rumahnya dan apa yang dimaksud dengan “sesuatu” yang dia katakan. Setibanya di depan gerbang rumahnya, aku memanggil Dila dengan berpura-pura menjadi kurir.
“Paket... Mbak, paketnya mbak.” Panggilku dengan suara teredam.
Dila melangkah menuju gerbang untuk membukanya. “Iya, tunggu sebentar.”
Setelah Dila membuka gerbang, matanya memandang ke arahku yang berdiri di depannya. “Ih, kirain beneran paket. Pantesan Dila kaget gitu saat denger suara kurir, padahal Dila nggak pesan paket. Ternyata Deni. Udah datang?”
“Belum.” Jawabku sambil bergerak menjauh dari Dila.
“Ih, bercanda, Deni.” Dila menarik tanganku dan mengajakku masuk ke dalam rumahnya. Dila membuka pintu rumahnya, memberiku kesempatan untuk langsung masuk.
“Ayo, masuk dulu.”
“Kok sepi banget rumahnya?” Tanyaku.
“Iya, karena nggak ada siapa-siapa di rumah.” Jawab Dila dengan nada misterius.
Aku melihat kandang kucing yang terletak di depan rumah Dila, dan dengan rasa penasaran, aku mendekatinya. Berjongkok di depan kandang, aku menatap kucing yang ada di dalamnya.
“Hai, namanya siapa?” Tanyaku sambil memperhatikan kucing tersebut.
Dila menghampiriku, mewakili suara kucingnya dengan ceria. “Nama aku Ciko, kamu siapa?”
“Aku Deni, teman Dila. Wah, nama kamu mirip dengan temanku yang bernama Ciko.” Jawabku sambil tersenyum.
Dila mengeluarkan Ciko dari kandangnya, menawarkannya untuk aku gendong.
“Nih, mau gendong Ciko nggak, Den?” Ajak Dila.
Aku ragu dan sedikit mundur dari Dila yang sudah menggendong Ciko. “Enggak deh, dulu aku pernah dicakar sama kucing, jadi agak takut. Hehehe.”
Dila tetap memaksa dengan senyumannya yang manis. “Enggak kok, Ciko nggak galak.”
“Iya deh.” Kataku akhirnya memberanikan diri untuk menggendong kucingnya. Dila memberikan Ciko kepadaku dengan penuh kepercayaan. “Nah kan, nggak mencakar.”
Melihat senyuman Dila yang tulus setelah dua minggu tak bertemu dengannya, hatiku merasa damai.
“Iya nih, si Ciko nya baik.”
Dila memberi tahu dengan penuh harap, “Coba kamu elus-elus bulunya, biar makin dekat.”
__ADS_1
Aku mengikuti saran Dila dan mulai mengelus lembut bulu Ciko. Awalnya, Ciko tampak nyaman saat aku mengelus bulunya, tetapi karena aku terlarut dalam lamunan sambil memperhatikan senyuman Dila yang ditujukan padaku, tanpa sadar tanganku bergeser dan mengelus kepalanya. Tiba-tiba, Ciko melompat dan mencakar tangan-ku dengan cakarnya yang tajam, membuat darah mulai mengalir.
“Aduh!” Seraya melepaskan gendonganku, aku me-narik tanganku yang terluka akibat cakaran Ciko.
Dila panik melihat tanganku yang berdarah, segera meraih tanganku. “Kamu nggak apa-apa, Den?”
Aku mencoba meredakan kekhawatiran Dila. “Nggak apa-apa kok, Dila, cuma luka kecil.”
“Bentar, aku ambil betadine dan alkohol.” Ucap Dila sambil bergegas masuk ke dalam rumahnya.
Tak lama kemudian, Dila kembali membawa betadine dan alkohol, meminta tanganku yang terluka. “Mana tangannya, Den?”
Aku tersenyum dan mencoba menyembunyikan luka tersebut. “Udah, Dila, nggak apa-apa.”
Dila mengancam sambil memegang Ciko dan mengarahkannya ke arah wajahku. “Cepat sini, atau aku suruh Ciko mencakar wajahmu?”
“Eh... “
Dila memaksa. “Cepet sini.”
Dila menaruh si ciko di pangkuannya dan aku pun memberikan tanganku yang terluka kepada Dila untuk diobati. “Iya iya.”
Dila mengambil memegang tanganku dan mem-bersihkan lukaku dengan alkohol yang tadi dia bawa. “Bentar aku bersihin dulu dengan alkohol, nggak perih kok.”
“Nah kalau ini pasti agak perih sih, tahan ya.” Ucap Dila sambil tersenyum dan memberikan betadine ke lukaku yang telah tadi Dila bersihkan.
“Aduh... Sakit.”
“Sebentar lagi beres, tahan dulu aja.” Dila menempelkan plaster di lukaku. “Nah udah beres.”
“Makasih ya.” Aku tersenyum ke arah Dila, dan Dila hanya tersenyum ke arahku sambil memegang ciko di pelukannya.
Dila mengambil si ciko dan memarah-marahinya terus memeluknya. “Kamu jangan galak-galak ke orang tuh, kalau galak lagi nanti aku sembelih loh.”
“Kasihan dong kalau di sembelih, nanti Dila nggak punya kucing lagi.” Sambil mencoba memegang ciko tetapi dia berusaha kembali untuk mencakar ku lagi.
Dila memasukan Ciko ke dalam kandangnya kembali. “Nggak papa, Dila masih punya si Alice.”
“Terus si Alice sekarang di mana?”
“Dia kucing Dila yang ada di tangerang.” Ucap Dila sambil berdiri dari duduknya.
Aku dan Dila berjalan masuk ke dalam rumah Dila. “Deni, kamu duduk dulu di sofa, nanti Dila bawain minum.” Ucap Dila sambil berjalan menuju dapur.
“Dila, kan sekarang puasa.” ingat ku sambil mem-peringatkan Dila.
“Eh iya, maaf-maaf, Dila lupa.” Kata Dila sambil menghentikan langkahnya.
Kami berdua duduk di sofa, atmosfer rumah Dila terasa hening dan misterius. Aku penasaran dengan alasan Dila memanggilku ke rumahnya.
“Eh ngomong-ngomong Dila mau apa meminta Deni untuk datang ke rumah?”
“Sebentar.” Dila berjalan menuju kamarnya.
Tak lama kemudian, Dila kembali dengan langkah pelan, membawa sebuah novel berjudul “KATA dari rintik sedu”. Ketika Dila memberikannya padaku, rasa penasaran semakin menggebu-gebu di dalam diriku.
Aku menatap novel tersebut dengan penuh rasa ingin tahu. “Novel apa ini, Dil?”
Dila tersenyum misterius. “Nanti saja, baca sendiri, Deni. Ada sesuatu yang membuat tokoh Biru dalam novel ini begitu mirip dengan dirimu.”
“Tentang senja yang kehilangan langitnya.” Ucapku sambil membaca kata-kata yang berada di cover novel tersebut, dan membuka halaman pertama dari novel tersebut.
Untuk yang terjebak di masa lalu, untuk yang sedang melangkah ragu, buku ini akan membantumu beranjak dari kata yang lalu, ke kata yang baru. Entah mengapa, aku mengerti maksud dari Dila yang memberikan buku ini padaku, dia secara tidak langsung menyuruhku untuk melupakannya dan mencari seseorang yang baru. Tetapi Dila aku tak pernah berniat untuk melupakanmu apa pun itu, mungkin berat bagiku tetapi, setiap senja yang aku lihat di langit sore aku selalu mengingat dirimu dan merindukanmu selalu.
Aku tersenyum. “Makasih ya.”
“Eh iya dua minggu lagi anak-anak kayaknya bakal ngadain buka bersama di Villa si Hilma, kamu ikut?” Tanya Dila kepadaku yang meletakan buku itu.
“Iya aku ikut, kalau kamu sendiri gimana?”
“Aku juga bakal ikut kok, kan belum tentu juga setelah itu kita punya kesempatan lagi untuk kumpul bersama.”
Aku tertawa kecil. “Ya udah, Deni pulang dulu ya.”
“Ya udah iya deh, jangan lupa di baca Novelnya.” Ucap Dila sambil mengantarku keluar dari rumahnya.
“Iya pastinya.”
__ADS_1
“Dah.”
“Dah.” Ucap Dila sambil melambaikan tangannya sesaat setelah aku pergi.
Aku yang pulang dari rumah Dila langsung menuju rumahku, untuk bersiap berbuka puasa karena sebentar lagi adzan magrib akan berbunyi. Sesampai di rumah aku memasukan motorku dan pergi menuju kamarku untuk beristirahat.
“Kamu udah pulang Den?” Tanya umi kepadaku yang baru saja datang.
“Engga kok umi, mau berangkat lag.i” Kataku yang baru saja masuk langsung mau keluar lagi.
“Eh mau kemana lagi?”
“Ya atuh baru pulang umi, masa berangkat lagi.” Ucap-ku sambil mencium tangan umi dan memasuki kamarku.
“Jangan tidur bentar lagi buka, kalau tidur nggak akan umi bangunin.”
Aku yang tiba di kamarku dengan hati yang meluap-luap kegembiraan, melompat ke atas tempat tidur sambil memeluk erat guling yang menemani setiap malamku. Seolah-olah guling itu menjadi simbol kehadiran Dila dalam hidupku. Bahagia ini begitu memenuhi ruang hatiku, ter-utama saat kami bertemu dan berbicara berdua.
Namun, tiba-tiba pintu kamarku terbuka dengan kasar, dan pandanganku langsung tertuju pada sosok yang muncul di ambang pintu. Aku mengenali itu adalah umi, ibuku yang tanpa permisi masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Ih umi, kalau mau masuk itu ketuk dulu pintu.” Ucap-ku yang melihat umi masuk tanpa mengetuk pintu.
“Tadi umi denger berisik-berisik di kamar kamu kirain ada maling, padahal umi udah bawa golok ini.” Ucap umi sambil menggenggam golok.
“Ih umi jangan mainin golok bahaya.” Ucapku yang berdiri dan berjalan menuju pintu.
“Tapi bener nggak ada maling?”
“Pokoknya aman nggak ada maling, dan nggak ada siapa-siapa.” Aku menutup kembali pintu kamarku.
Aku yang sudah menutup pintu kamar mengingat kalau tadi Dila memberiku novel, dan aku langsung mengambil novel itu dan membacanya. Tak terasa udah hampir satu jam aku membaca novel itu dan cerita novel itu memang sangat menarik dan bagus novel Kata dari Rintik Sedu bercerita tentang hati Binta yang penuh bimbang. Binta yang terjebak dalam masa lalu yang belum usai, sementara cinta baru yang hangat sudah siap menyambut dirinya untuk melangkah maju.
Aku yang melihat jam dinding ternyata sudah jam 6 kurang 15 menit dan aku pun langsung keluar dari kamarku untuk bersiap berbuka bersama keluargaku. “Udah buka belum?”
“Belum buat lu mah.” Ucap kakak perempuanku sambil meminum air yang ada di gelas.
“Lah itu lu udah minum duluan.”
“Udah kok, udah buka.” Ucap umi sambil menuangkan nasi ke piring kita.
“Lu cuci tangan dulu.”
“Iya iya.” Ucapku sambil minum air untuk membatalkan puasaku dan pergi untuk mencuci tanganku.
Setelah selesai berbuka dan menyelesaikan kegiatanku lainnya aku kembali ke kamarku untuk melanjutkan mem-baca novel tersebut.
Binta, seorang gadis cantik nan menggemaskan. Binta hidup dalam keluarga yang rapuh. Ayah Binta pergi entah ke mana, meninggalkan Binta dengan ibunya. Parahnya lagi, ibu Binta mengidap penyakit kejiwaan, Skizofrenia. Hidup Binta seakan selalu dirundung masalah bertubi. Akibatnya Binta pun tumbuh menjadi orang yang skeptis, Ia selalu merasa bahwa hidupnya selalu berantakan.
Binta kini tengah berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, di kampus Ia dikenal sebagai cewek jutek dan malas bergaul. Kegiatan Binta hanya masuk kelas, selesai kuliah langsung pulang. Binta hanya memiliki satu orang teman, Cahyo.
Cahyo sendiri sudah cukup lama mengenal Binta. Dulu pun Cahyo butuh waktu yang sangat lama untuk bisa dekat dengan Binta. Cahyo tahu betul masalah yang dihadapi oleh Binta. Bahkan Cahyo juga sudah akrab dengan ibunya Binta.
Binta sangat tidak menikmati masa-masa kuliahnya. Binta kerap dikeluarkan dari kelas oleh dosen. Beruntung Binta punya Cahyo yang selalu ada tiap Binta merasa jenuh dan Bosan. Cahyo memang sangat sabar menghadapi Binta yang keras kepala. Satu waktu ada salah satu senior Cahyo yang tertarik dengan Binta.
Ialah Nugraha atau biasa dipanggil Nug, seorang mahasiswa Jurusan Arsitek yang menyandang predikat paling tampan di kampusnya. Sebagai mahasiswa ter-tampan, Nug jelas banyak digandrungi mahasiswi. Namun dari sekian banyak wanita yang mengejarnya, Nug justru malah tertarik dengan Binta, seorang gadis jutek yang kegiatannya hanya “kupu-kupu” – kuliah-pulang.
Hampir setiap hari Nug selalu mencari keberadaan Binta. Sementara Binta, jelas Ia bersikap dingin dan jutek terhadap Nug. Tetapi bukannya kesal atau pun menjauh, Nug malah semakin senang kalau melihat ekspresi wajah Binta yang jutek.
Makin hari Nug makin giat mendekati Binta. Semakin jutek Binta, semakin tertarik dan merasa spesial Nug. Padahal Binta memang pada dasarnya bersikap jutek pada semua pria di kampusnya. Mungkin memang Nug ini merupakan karakter yang overconfident.
Sementara itu di sisi lain Binta cukup merasa trauma dengan apa yang dilakukan Nug. Binta malah jadi teringat sosok Biru, sang mantan yang dulu juga memperlakukan Binta dengan sangat istimewa. Namun memori indah itu pun berujung kemalangan untuk Binta — Biru malah menghilang, meninggalkan Binta tanpa kejelasan.
Biru adalah pemuda yang sangat senang bertulang. Bersama Biru, Binta mampu merasakan banyak petualang baru yang membuat hidupnya lebih berwarna. Jika diingat kembali, dulu Biru memang sering mengoceh tentang dirinya yang kelak akan menghilang dari Bumi, dan suatu saat akan bertemu kembali dengan Binta.
Hari demi hari, pada akhirnya berbagai usaha Nug membuahkan hasil. Binta sudah mulak terbuka dengannya, bahkan Nug sudah akrab dengan ibu Binta. Binta pun perlahan-lahan mulai melupakan Biru, hatinya mulai terisi oleh kehadiran Nug. Meski begitu dalam benak Binta masih terpendam rasa takut yang sangat dalam. Binta takut kalau pada akhirnya Nug juga akan meninggalkan dirinya –menghilang dari bumi.
Suatu hari secara mengejutkan Cahyo memberikan sebuah hadiah kepada Binta — tiket ke Banda Neira. Ber-hubung Binta sedang merasa bosan, maka pergilah Ia sendiri ke Banda Neira. Dan hal yang lebih mengejutkan lagi sudah menunggu Binta di sana.
Sesampainya di Banda Neira, Biru sudah menunggu – siap menyambut Binta. Binta yang terkejut sampai tidak bisa mengendalikan diri. Binta langsung memeluk Biru, dengan erat.
Rupanya ini semua sudah Biru rencanakan, Ia sengaja menitipkan tiket untuk Binta kepada Cahyo. Dua sejoli ini pun hanyut dalam haru dan bahagia. Hati Binta kembali luluh. Hari demi hari mereka lalui bersama, sampai pada waktunya Binta harus kembali ke Jakarta.
Hati Binta kembali dibuat kalut - remuk. Biru menolak untuk ikut bersama Binta kembali ke Jakarta. Binta pulang dengan berat hati, sesak dan berurai air mata.
Aku mengerti perasaan Binta saat aku membaca novel itu, perasaan yang masih tertinggal di masa lalu dan di paksa untuk bergerak maju. Siapa yang tak ingin sosok seperti Nugraha datang dalam hidupnya? Sedangkan dirinya sendiri memiliki jiwa Biru sepenuhnya.
Sosok seperti Nugraha terlalu sempurna untuk dijadikan kenyataan, dan akan lebih realistis untuk Biru bisa bersama dengan Binta.
__ADS_1
Aku memang bukan Biru, dan kamu juga bukan Binta atau Senjani tetapi aku akan selalu berusaha mengubah sebuah akhir cerita di mana kamu dan aku atau Biru dan Senjani menjadi satu. Mungkin terlalu naif bagiku meng-atakan seperti itu yang mana aku sendiri tidak bisa mengungkapkan perasaanku padamu saat itu.
...****************...