
Satu tahun berlalu akhirnya aku berada dikelas 12 banyak siswa baru yang sekolah di sekolahku ini, karena tidak ada kegiatan belajar mengajar saat ini aku pun hanya duduk di kursi depan toilet yang mengarah langsung kelapangan dan melihat siswa baru tersebut. Tak lama ada seorang wanita yang menghampiriku dan duduk di sebelah-ku, aku yang melihat wanita itu duduk di sebelahku langsung menengok ke arahnya.
“Kak Deni lagi sendiri?”
“Nggak kok banyakan, liat aja tuh sekitar kamu.” kataku sambil menjawab wanita itu dan wanita itu adalah Ayu yang sekarang naik jadi kelas 11.
“Oh iya kak, hari minggu kakak sibuk nggak? Kalau nggak sibuk bisa temenin aku ke toko buku nggak?” kata-nya dengan terang-terangan memintaku untuk mengantar-nya ke toko buku.
“Kenapa nggak sama teman kamu aja?”
Ayu cemberut. “Ah kakak mah gitu, dari dulu bilang mau ngajak aku jalan kalau kakak lagi nggak sibuk.”
Aku menyangkal perkataan ayu. “Eh kakak nggak pernah ngejanjiin seperti itu juga.”
“Lagian barusan aku cuma ngarang biar kakak mau temenin aku.” Kata Ayu menggodaku dan memegang tanganku.
“Maaf ya, lain kali aja.” kataku sambil melepaskan tangannya yang memegang tanganku dan beranjak pergi dari tempat itu.
Sesampai di kelas aku pun langsung berjalan menuju tempat Bintang yang sedang duduk berdua dengan Windi dan menceritakan tentang Ayu kepadanya.
“Oi ege, tutor dong biar nggak terus-terusan di kejar cewek terus?” Tanyaku kepada Bintang yang sedang ber-sama dengan Windi.
“Emangnya lu dikejar sama siapa?” Kata Bintang bertanya kepadaku.
“Gua dikejar terus sama si Ayu ege, adek kelas kitas pas SMP.”
“Lu udah ngebuntingin si Ayu ya?” kata Bintang dengan mulut ceplas ceplosnya.
“MULUT... Mana ada gua ngebuntingin anak orang.” kataku sambil melemparnya dengan sampah bekas dia dan Windi makan di situ.
“Ya terus buat apa si Ayu ngejar-ngejar lu kalau bukan buat minta tanggung jawab?”
“Lama-lama gua pasung lu nge.” Kataku dengan nada kesal dan duduk di atas meja mereka.
Windi memukulku dan Bintang yang berisik dari tadi. “Kalian bisa nggak si, nggak berisik.”
Aku menunjuk Bintang. “Dia yang mulai.”
“Diam, kalau mau berisik sana di luar.” Kata Windi sambil memukul kita berdua dan melempar kami berdua keluar kelas.
__ADS_1
“Oi ege, lu laper ngga?” Tanya Bintang kepadaku sambil berjalan melewati kelas.
“Lu barusan udah makan kan sama Windi?”
“Lu kira makan cemilan doang bakal buat gua kenyang, kagak lah, gua butuh asupan karbohidrat.”
“Lu banyak makan tinggi kagak, makin lebar iya.”
“Si anying, gini-gini juga gua laku nggak kayak lu yang masih aja ngarepin orang yang nggak pasti.”
“Bangsat kenapa bawa-bawa Dila.” kataku sambil memegang kepalanya dan Bintang pun memegang kepalaku.
Kami berdua pun bertengkar sampai kekantin, tetapi sebelum kami sampai di kantin kami melihat kantin saat itu sedang ramai karena sedang ada penerimaan siswa baru yang membuat kegiatan belajar mengajar selama seminggu di tiadakan, jadi semua orang menumpuk di kantin.
“Oi nge, serius kita mau kekantin?” Tanyaku kepada Bintang.
“Gila bet nih ngantrinya, udah kayak ngantri sembako.” Ucapku yang melihat antrian dari kejauhan. “Terobos ajalah daripada kita mati kelaparan di sini.” Kataku kepada Bintang sambil berjalan mendekati kantin.
“Oi ******, lu emangnya mau di gebukin sama orang-orang karena menerobos antrian?” Ucap Bintang sambil melemparkan botol bekas yang tergeletak disekitarnya.
“Ya elu emangnya mau mati kelaparan?” kataku dengan nada ngegas sambil menarik kerah baju Bintang.
Tiba-tiba Dila dan Ridwan yang baru saja pulang dari kantin menghampiriku dan Bintang yang sedang bertengkar karena masalah orang yang sedang mengantri di kantin.
“Si Deni habis ngebuntingin adek kelas dan nggak mau tanggung jawab.” kata Bintang dengan mulut asal jeplaknya itu.
“Oi bangsat, mulut sampah lu di jaga ya.”
Windi yang melihat aku dan Bintang yang sedang bertengkar dari kejauhan langsung menghampiriku dan Bintang dan langsung memukul kami berdua sampai babak belur. “Lu berdua bisa nggak si nggak ribut sehari aja.”
“Si Bintang yang mulai duluan Win.”
“Elu nge yang duluan.”
“Elu...”
“Elu...”
“Elu...”
__ADS_1
Aku dan Bintang saling menyalahkan dan tanpa mau siapa mengalah Windi yang sudah kesal dengan kita berdua langsung menampar kami berdua dengan keras hingga hidung kami berdua berdarah.
“Udah diem.”
Kami berdua pun terdiam sambil melap hidung kami berdua yang berdarah menggunakan tisu yang Windi berikan.
Tiba-tiba Dila menempelkan dua kaleng minuman dingin ke pipiku dan Bintang. “Ini buat kalian.”
“Dingin.” Ucapku dengan nada kaget karena Dila tiba-tiba menempelkan minuman kaleng itu ke pipiku dan Dila hanya tersenyum melihat reaksiku.
Aku pun mengambil minuman yang Dila berikan kepadaku dan meneguk minuman itu untuk mendinginkan tubuhku yang sudah terlalu panas karena berantem dengan Bintang.
Aku, Dila, Bintang, Windi dan Ridwan berjalan menuju kelasku, tepat saat kami berjalan melewati lorong sekolah ada seorang wanita yang memanggilku dari depan.
“Kak Deni...”
Aku berbisik kepada Bintang. “Tang, gua punya firasat nggak enak ni sama suara yang manggil gua.”
“Yaudah, lu pura-pura aja jadian sama Dila.” kata Bintang memberikan saran kepadaku.
Aku mencoba menyangkal perkataan Bintang. “Gila lu, mana ada gua ngaku-ngaku kayak gitu di depan orang lain.”
“Lu dulu juga suka ngaku-ngaku pacar Dila, lu mau ter-bebaskan nggak? Biar nggak di gangguin sama si Ayu lagi?”
Aku pun mengikuti saran dari Bintang untuk berpura-pura pacaran dengan Dila dan berbisik kepada Dila untuk meminjam tangannya sebentar dan Dila pun mengiyakan, aku pun langsung memegang tangannya dan berjalan menuju Ayu yang memanggilku barusan, Ridwan yang me-lihat aku menggenggam tangan Dila tampaknya kesal.
“I... Itu siapa kak?” Ucap Ayu sambil menunjuk ke arah Dila.
Aku tersenyum ke arah Dila. “Ini pacar kakak.”
Dila yang kaget karena aku bilang kalau dia adalah pacarnya tiba-tiba memelototi ku dan Ayu yang cemburu langsung berlari meninggalkanku dan Dila.
“Kakak jahat.” kata Ayu sambil berlari dengan kesal sambil ingin menangis, dan aku pun memberikan kode dengan mengangkat ibu jariku kepada Bintang yang me-nyatakan Mission Complete dengan muka penuh tekanan.
“Eh dia kenapa pergi?” Dila bertanya kepadaku tentang Ayu.
“Cewek tadi itu adek kelas, kelas 11 dan dia itu ngejar-ngejar Deni terus jadi barusan gua kasih saran ke Deni buat pura-pura jadian sama lu Dil.” kata Bintang sambil berjalan menghampiriku dan Dila tetapi tiba-tiba Windi datang memukul Bintang.
“Lu kenapa ngasih ide yang aneh-aneh?”
__ADS_1
Aku hanya tertawa melihat Bintang yang di marahi oleh Windi karena memberikan ide-ide yang aneh kepadaku, Bintang hanya tersenyum kepada Windi dan meminta maaf agar Windi tidak marah kepadanya.
...****************...