Sebuah Puisi Untuk Dila

Sebuah Puisi Untuk Dila
Tanpa kehadiran Dila


__ADS_3

"Dila tunggu—” Ucapku dengan suara yang tercekat di tenggorokan, namun sepertinya kata-kataku terbawa angin malam. Dila terus melangkah menjauh, seolah tak mendengar seruan terakhirku.


Hari ini, aku merasakan kehilangan yang begitu mendalam. Aku berjuang sekuat tenaga untuk menahanmu agar tidak pergi, Dila. Kamu harus tahu betapa beratnya hatiku saat harus merelakanmu pergi, tetapi semesta telah mengatur takdirnya sendiri, memilih untuk membawamu menjauh dari kehidupanku.


Enam bulan telah berlalu sejak aku terpisah dari dirimu. Namun, aku masih terjebak dalam gelapnya lubang kehilangan yang mendalam. Rasa sakit itu merayap ke dalam jiwaku, menghantui setiap langkahku. Setiap hari, aku merasakan depresi yang begitu berat, tak mampu menerima kenyataan bahwa kamu telah pergi dari kehidupanku. Aku tak bisa memaafkanmu atas kepergianmu, sekaligus tak bisa pula melupakanmu.


Di sinilah perubahan terjadi, di dalam kegelapan yang kian menghimpitku. Aku mulai menutup diri dari Deni, yang dulu suka nyeleneh dan penuh keunikan. Kini, aku menjadi sosok yang terisolasi, tak ingin berbagi cerita atau bersosialisasi dengan siapapun. Kamar gelapku menjadi sahabat setia, dan asap rokok mengisi udara yang kini terasa kental.


Kamu tahu mengapa aku berubah sedemikian rupa? Bisa aku pastikan apapun yang aku lakukan sekarang itu adalah cara terakhir ku untuk menghibur diri. Sekosong itu memang kehidupan ku yang sekarang, segala hal yang aku lakukan itu cuma bener-bener supaya aku lepas dari rasa kesepian.


Rokok telah menjadi penawarku, walaupun hanya sementara. Asap yang kuhisap masuk ke dalam paru-paruku, membawa sedikit kenyamanan dalam kepedihan yang kurasakan. Dalam setiap hembusan napas, aku berharap dapat menghilangkan rasa kehilangan yang menyesakkan. Tetapi aku tahu, itu hanyalah ilusi semu yang tak mampu mengisi kekosongan dalam jiwaku.


Keadaan hidupku kini begitu rapuh dan hampa. Aku mencari kesenangan palsu untuk mengisi kekosongan yang kamu tinggalkan. Namun, semakin dalam aku terbenam, semakin jauh aku terpisah dari siapa diriku yang sebenarnya. Aku merasa terjebak dalam lingkaran kegelapan, dan tak tahu bagaimana keluar dari sana.


Namun, hari ini adalah hari di mana aku memutuskan untuk mengambil kendali atas hidupku sendiri. Seperti yang aku katakan padamu dulu, aku akan pergi berpetualang, melihat apa yang belum pernah kulihat sebelumnya. Meski petualanganku takkan seindah Biru, tapi aku akan menjadi nahkoda dari kapalku sendiri, mengikuti arah angin yang tak terduga, hingga titik akhir perjalananku akan menjadi pertemuan kembali dengan dirimu.


Berpetualanglah, Dila, dalam duniamu yang baru. Aku percaya bahwa takdir akan mempertemukan kita kembali suatu hari nanti, di tempat yang tak terduga. Sampai saat itu tiba, aku akan menjalani kehidupan ini dengan penuh semangat dan menciptakan kisah yang takkan pernah kubayangkan sebelumnya. Percayalah, di dalam hatiku, cinta untukmu masih bersemayam, meski dalam perpisahan yang tak terhindarkan.


Dan dengan langkah yang mantap, aku memasuki babak baru ini dengan harapan dan keberanian yang baru. Aku tak tahu apa yang akan kudapati di perjalanan ini, tetapi aku siap untuk menemukan diriku yang sejati, merangkai kembali potongan-potongan hati yang hancur, dan menemukan arti dari kehidupan yang baru. Percayalah, Dila, aku takkan melupakanmu, namun aku harus melangkah maju demi diriku sendiri.


Kita memiliki alasan masing-masing untuk memulai petualangan. Ada yang memulai karena patah hati, ada yang ingin menemukan jati diri, ada yang kangen cari rezeki, dan ada juga yang kangen melihat keindahan ibu pertiwi. Apa pun itu jadikan keinginanmu berpetualang alasan untuk bergerak.


Jangan sampai tidak bergerak karena banyak alasan.

__ADS_1


Petualangan tidak membutuhkan kerumitan.


Cukup dirimu, niatan serta uang yang cukup.


Saat ini aku berdiri di bandara internasional Soekarno-Hatta, sebuah tempat yang penuh dengan keramaian dan hiruk-pikuk. Suara-suara ribut penumpang, koper yang digeser, dan antrian yang panjang memenuhi ruang udara. Di tengah kekacauan ini, aku merasakan kehampaan yang begitu dalam. Dan seperti kata Binta, Bandara adalah tempat paling menyedihkan yang pernah dibangun di bumi, bayangkan betapa indahnya bumi tanpa adanya bandara? Tidak akan ada namanya perpisahan.


Aku berjalan dengan langkah lesu menuju gerbang keberangkatan. Setelah menunggu beberapa saat yang terasa seperti abad, akhirnya pintu pesawat terbuka dan aku melangkah masuk. Di dalam pesawat, aku memandangi awan-awan putih yang berlapis-lapis di langit, saling bertumpuk seperti gunung-gemunung. Dari kaca jendela yang tak terlalu besar, aku merasakan betapa dekatnya langit dengan hatiku yang hancur ini. Setiap awan terasa seperti potongan kenangan yang terbawa angin, mengingatkanku pada perpisahan yang tak terelakkan.


Saat pesawat mendarat di Bandar Udara Internasional Lombok, aku merasakan getaran yang menghentak tubuhku. Aku turun dari pesawat dengan langkah berat, menggendong ransel yang berisi segala harapan dan penantianku. Melangkah perlahan menuju mobil Jeep yang sudah kusewa lewat aplikasi online. Hembusan angin Lombok yang hangat menyapu wajahku, mencoba mengusir sedikit kesedihan yang masih tersisa di hati.


Aku berjalan dengan langkah mantap menuju mobil Jeep yang terparkir di seberang jalan bandara. Mas Toni, agen rental mobil yang telah kukontak melalui aplikasi Traveloka, sedang menunggu di samping mobil dengan senyuman ramah di wajahnya.


"Ini dengan mas Toni yang ada di Traveloka ya?" tanyaku sambil mendekatinya.


Aku menyerahkan SIM dan KTPku kepada mas Toni dengan penuh kepercayaan. "Ini SIM sama KTPnya mas, boleh di cek dulu."


Mas Toni pun mengambil SIM dan KTPku untuk mengecek apakah ini asli atau palsu. "Sebentar ya mas, saya cek dulu," ucap mas Toni sambil berfokus pada tugasnya.


“Iya silahkan.”


Mas Toni dengan cermat mengambil SIM dan KTPku, memeriksa setiap detailnya dengan teliti. Sementara dia sibuk memeriksa keaslian dokumen, aku menunggu dengan sabar.


Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, mas Toni selesai memeriksa SIM dan KTPku. Dia mengembalikan dokumen-dokumen itu sambil memberikan senyuman tulus. "Semuanya terlihat baik, mas Deni. Ini kunci mobilnya. Untuk syarat-syarat lainny, seperti yang tertulis di aplikasi ya."

__ADS_1


Aku menerima kunci mobil dengan senang hati, merasakan kelegaan karena semuanya berjalan lancar. "Terima kasih."


"Selamat berkendara, mas Deni. Jaga keselamatan di perjalanan." ucap mas Toni sopan sebelum berjalan menjauh dan kembali ke tempatnya.


Aku langsung menaiki mobil Jeep itu, memutar kunci di mesin, dan menyentuh pedal gas dengan hati-hati. Matahari yang terik menerpa langit biru, menciptakan bayangan panjang di sepanjang jalan. Perjalanan menuju pantai Malimbu terasa seolah berada di dalam oven raksasa, di mana hembusan angin yang mengenai wajahku hanya sedikit meringankan kepanasan yang menyengat.


Terdapat sejuta cerita yang terpampang di sepanjang perjalanan. Berbagai pemandangan menghiasi sekitar, dari pedesaan dengan rumah-rumah tradisional yang berjajar di tepi jalan, hingga ladang-ladang hijau yang bergoyang dengan lembut oleh hembusan angin. Aku tak bisa menahan rasa kagumku terhadap keindahan alam yang terhampar di hadapanku, meskipun hatiku masih dirundung kesedihan yang tak terobati.


Namun, ketika kerinduan dan kehampaan mulai merasuki pikiranku, aku berhenti sejenak di sebuah minimarket yang terpampang di pinggir jalan. Langkahku terhenti di depan rak-rak berisi minuman dingin dan berbagai jenis rokok. Mengambil sebotol air mineral dan sebungkus rokok menjadi ritual yang mengalihkan perhatianku sejenak dari kesedihan yang melanda.


Dalam keheningan perjalanan berikutnya, aku menyalakan tape di mobil Jeep itu. Suara musik dari grup band Float mengalun dengan lembut dari speaker mobil, menyelami setiap sudut hatiku yang hancur. Lagu "Sementara" mengisi ruang kendaraan, menyampaikan cerita yang terdalam tentang kerinduan dan perpisahan.


Saat melaju di jalanan yang sepi, ku buka jendela mobil itu dan angin siang menggenggam rambutku, mencoba mengusir lara dalam diri. Tangan ku gemetar saat menyalakan rokok, asap berkelebat dan terbawa angin, menyiratkan kerapuhan dan kekosongan yang kurasakan di dalam diriku.


Dalam suasana siang yang menyengat, aku terus mengemudi, membiarkan musik dan asap rokok menjadi pengiring setia di perjalanan menuju pantai Malimbu.


Selama perjalanan menuju pantai Malimbu, hatiku terus terpaut pada bayangan wajah Dila. Setiap kilometer yang kulewati, setiap tikungan yang kutekan, hanya menghidupkan kembali kenangan manis yang terukir dalam ingatanku. Aku seakan terhanyut dalam khayalan, di mana hanya ada Dila, sosok yang melengkapi keindahan hidupku.


Saat akhirnya mobil Jeep itu memasuki gerbang pantai Malimbu, aku segera menghentikan mesin dan turun dari kendaraan. Langkahku terhenti di depan mobil, sementara sinar matahari membelai wajahku dan angin sejuk mengusap lembut rambutku. Dalam keheningan pantai yang tenang, aku memegang botol air mineral dengan gemetar, berusaha menenangkan diri sejenak.


Matahari yang memancarkan kehangatan di tengah kesunyian pantai, tidak sebanding dengan kehangatan yang kurasakan saat berada di dekat Dila. Namun, pemandangan alam yang memukau di depanku mampu membawa sedikit kelegaan dalam hatiku yang pilu. Aku mengamati ombak yang memecah di bibir pantai, pasir putih yang terhampar luas, dan langit biru yang menyapa dengan keindahannya.


Dalam keheningan yang mendalam, aku duduk di depan mobil, menghirup segarnya udara pantai, sembari membiarkan kenangan dan kerinduan mengalir dalam setiap hembusan angin. Dalam hati, aku berharap bisa membawamu kesini Dila.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2