
Satu minggu setelah orientasi kelas 10 kegiatan belajar mengajar kembali dilaksanakan kembali seperti biasa sebelum aku berangkat sekolah aku dan teman-temanku berkumpul di parkiran depan Mushola sambil menunggu yang lainnya datang juga dan tentu saja aku juga sambil menunggu Dila yang barang kali dia akan datang bersama Ridwan atau dia datang sendiri, tak lama aku melihat Robi membonceng Dila di motor barunya untuk berangkat sekolah.
“Anjay... motor baru.” Ucap Hendrik sambil melihat motor Robi yang melintas dihadapannya.
“Lu habis ngebegal di mana Rob tuh motornya, tumben lu bawa motor baru?” kata Yomi bertanya kepada Robi yang baru turun dari motornya bersama Dila.
Zahid langsung menimpali perkataan Yomi. “Gimana orang yang lu begalnya mati nggak?”
“Mata lu, ngabegal.” Ucap Robi menyangkal perkataan Yomi dan Zahid.
“Tampang kayak si Robi mana mungkin ngebegal ege.” Kataku menyangkal kata-kata dari mereka semua.
“Nah betul Den” Ucap Robi dengan wajah ceria karena ada yang membelanya.
“Lu habis ngerampok di mana itu motor?” Tanyaku dengan muka serius.
“Bangsat kau”
“Dahlah ayo kekelas aja, udah pada kumpul semua-kan?” Ucap Hendrik berdiri dari tempat duduknya dan ber-jalan menuju kelas.
Saat anak-anak yang lain berjalan menuju kelas aku yang melihat Dila yang sedang berdiam menunggu sese-orang di depan ruangan lab komputer, aku langsung menghampirinya.
“Kamu belum masuk?”
Dila tersenyum. “Deni...”
Aku tersenyum juga membalas senyuman Dila. “Kamu lagi ngapain di sini? nggak kekelas?”
“Aku lagi nunggu si Jey sama si Windi, kamu sendiri kenapa nggak kekelas padahal kan barusan yang lain udah pada kekelas?”
Aku hanya tertawa kecil. “Aku mau nemenin kamu.”
Dila yang mendengar perkataanku langsung memalingkan wajahnya yang memerah.
“Eh tumben sekarang berangkat pagi, biasanya juga suka berangkat siang mulu?” Dila bertanya padaku sambil memiringkan kepalanya.
Aku tertawa kecil. “Kebetulan aja tadi Deni bangun kepagian”
“Emangnya bangun jam berapa?”
“Emang sekarang jam berapa?”
Dila melihat ke arah jam tangan yang ia kenakan di tangan kirinya. “Jam 06:30, emangnya kenapa?”
Aku tersenyum. “Nah Deni bangun jam 06:15.”
“Itu kesiangan Deni.” Dila memelototi dan aku hanya tertawa kecil.
“Mending nunggunya dikelas aja, mungkin mereka udah di kelas.” Ajak aku kepada Dila untuk pergi kekelas.
“Iya deh mending kekelas aja.” Dila menerima tawaran ku untuk pergi kekelas bersama
__ADS_1
Aku dan Dila berjalan menyusuri lorong sekolah untuk pergi kekelas selama perjalanan aku mengingat kejadian pertama aku melihat Dila yaitu di lorong ini, kejadian yang menjadikan sebab akibat kenapa aku dan Dila saling mengenal dan saling dekat seperti ini.
“Kamu tadi kenapa bisa berangkat bareng sama si Robi?”
“Oh itu, katanya setelah dia punya motor dia bakal antar jemput Dila asalkan Dila mau jadi temen curhatnya.”
“Oh gitu.” Aku menghela nafas sambil memasuki kelas dan pergi ketempat dudukku yang kebetulan tempat dudukku di barisan paling belakangan bersebelahan dengan tempat duduk Dila.
Bel masuk berbunyi semua Siswa-siswi di sekolahku pergi kelapangan untuk melaksanakan Upacara, aku ber-sama teman-temanku pun berjalan keluar kelas untuk pergi kelapangan dan sebelum memasuki lapangan terdapat pemeriksaan kerapihan terlebih dahulu oleh guru BK aku yang tak membawa topi pun kebingungan bagaimana mengikuti upacara tersebut tanpa ketahuan, atau aku pura-pura sakit saja biar bisa mendapatkan teh manis dan tanpa harus mengikuti upacara, tiba-tiba Dila datang kepadaku dan memberikan topinya kepadaku.
“Aku dengar dari Bintang kamu cuma bawa dasi doang dan nggak suka pake topi?”
Aku menerima topi Dila. “Terus kalau topi ini aku pake, kamu gimana?”
“Tenang aja, aku punya dua kok.” Sambil mengeluarkan topinya yang satu lagi dari dalam tasnya.
“Makasih ya.” Sambil menggunakan topi yang Dila berikan dan berjalan bersama Dila menuju lapangan untuk mengikuti upacara.
Setelah Upacara selesai Pembina upacara menyampai-kan sebuah pengumuman kalau bulan ini bakal ada Event untuk memperingati tanggal 17 agustus tepatnya 4 hari lagi dari sekarang, teman-teman kelasku pun mendiskusikan akan menampilkan apa untuk Event tersebut.
Bel mata pelajaran pertama pun berbunyi guru Sejarah yang harusnya mengajar kelasku pun tidak bisa hadir karena ada acara mendadak dan hanya menyuruh kami untuk merangkum buku saja. Anak laki-lakinya yang tau kalau guru Sejarah tidak hadir bersiap untuk pergi ke ruko agar bisa bolos dengan tenang tanpa harus di suruh-suruh oleh anak-anak ceweknya.
Hendrik yang melihatku sedang duduk diatas tembok parkiran guru mengajakku untuk ke ruko. “Den ayo gas ke ruko, lu mau diem di sekolah aja?”
“Oke-oke, duluan aja entar gua nyusul kalau udah mood.”
Hendrik dan yang lainnya berangkat untuk pergi ke ruko dan yang hanya di sekolah untuk laki-lakinya di kelasku hanya Zahid, Ridwan, Bintang dan aku. Tak lama setelah anak laki-lakinya berangkat ke ruko ada seseorang yang menyapaku dan duduk di sampingku
“Kamu nggak ikutan sama anak-anak ke ruko?”
“Nggak kerasa ya, masa SMA kita tinggal satu tahun lagi.” kata Dila dengan senyumnya yang lembut, matanya terarah padaku. “Setelah lulus SMA, kamu mau kemana?”
Aku terdiam sejenak, berusaha merangkai kata-kata dengan hati yang penuh kebimbangan. “Aku belum berpikir tentang itu sekarang. Bagiku, saat ini yang terpenting adalah menikmati setiap momen di masa SMA ini bersama teman-temanku, termasuk kamu.” Aku menatap Dila. “Kalau kamu sendiri setelah lulus mau kemana?”
“Mungkin aku akan kembali ke Tangerang dan kuliah di sana, bisa di bilang Aku nggak akan kembali ke Bogor lagi.” Ucap Dila sambil memandangi awan-awan yang berada di atas langit sana. Aku yang mendengar kata-kata Dila yang barusan terucap dari bibir indahnya merasa terkejut kalau Dila tidak akan kembali lagi ke bogor.
“Bisa di bilang satu tahun ini adalah masa di mana kamu menghabiskan waktu bersama kita?”
“Makasih yaudah nemenin Dila.” Ucapnya dengan tatapan yang sangat indah. “Selama di SMA ini, walau Dila tahu Deni hanya memandangi Dila dari kejauhan, tetapi Dila juga sering perhatiin Deni dan dapat merasakan tatapan Deni dengan kehangatan, saat Deni menatap Dila dan Dila juga menatap Deni dan saat itu kita saling bertatapan walau pun Deni memalingkan wajahnya terlebih dahulu saat itu, dan saat Deni tak menyapa Dila saat di kelas dan bahkan seperti ngacuhin Dila tetapi kehadiran Deni di kelas membuat Dila nyaman dan sangat membahagiakan.” Dila meneteskan air matanya tetapi juga tersenyum ke arahku.
Tuhan untuk saat ini beri aku keberanian, Untuk aku menghapus air matanya.
“Ingat ya Dila, akan ada hari di mana aku berdiri di depanmu, menatap wajahmu dan berkata Akhirnya kita ketemu.” Aku tersenyum sambil menghapus air mata Dila yang keluar dari mata indahnya itu.
Aku berdiri dari tempat dudukku dan berjalan meninggalkan Dila untuk pergi ke ruko, tetapi tiba-tiba Dila mengejar ku sesaat sebelum aku meninggalkan gerbang sekolah.
“Deni... Tunggu...” Dila berteriak sambil mengejar ku, aku pun berbalik dan melihat kearah Dila yang sedang mengatur nafasnya.
Dila tersenyum. “Terima kasih.” Aku yang mendengar kata-kata itu dari Dila hanya tersenyum dan kembali ber-jalan meninggalkannya
Aku melambaikan tangan dan meninggalkannya. “Sampai jumpa besok.”
__ADS_1
Empat hari berlalu semenjak aku bertemu dengan Dila dan hari ini adalah hari Event sekolah tepatnya tanggal 16 Agustus aku pun pergi kekelas dan ternyata di kelas sedang sibuk-sibuknya anak-anak untuk berpartisipasi mengikuti Event tersebut.
“Lagi pada ngapain ni?” Ucapku bertanya kepada anak-anak kelas dan sambil berjalan ke tempat dudukku.
Jey yang melihat aku berjalan menuju tempat dudukku kemudian menghampiriku. “Kita mau berpartisipasi untuk Event sekarang.”
Aku duduk di kursiku sambil membuka ponselku sambal menganggukkan kepalaku.
“Tetapi kita kekurangan peran cowoknya.”
Aku yang melihat Jey tersenyum kepadaku langsung mempunyai perasaan yang tidak enak. “Jangan bilang gua yang harus mengisi peran itu?”
“Iya Den lu yang ngisi peran itu, soalnya perannya cocok sama lu.”
“Kagak kagak kagak, gua kagak mau ikutan gituan!” Ucapku menolak perkataan Jey dengan nada tegas.
Akhirnya jey pergi meninggalkanku setelah aku me-mutuskan untuk tidak ingin ikut campur dengan Event tersebut, tetapi ia kembali lagi ke hadapanku bersama dengan temannya dan ya temannya itu adalah Dila. Dia memanfaatkan Dila untuk bernegosiasi agar aku mengisi peran yang kosong untuk Event tersebut.
“Eh Den lu yakin nggak mau ngisi peran tersebut? Padahal Dila lo yang minta, atau gua minta si Ridwan aja yang isi peran tersebut.” Ucap Jey memojokkan ku untuk me-ngisi peran tersebut.
“Eh...” Aku terkejut karena Jey memanfaatkan Dila sebagai bahan negosiasi.
Jey mencoba menahan tawanya melihat tingkahku. “Demi Dila lo Den?”
“Ta... tapi.” Ucapku dengan nada terbata-bata.
“Oke deal ya, lu yang ngisi peran tersebut.” Ucap Jey langsung mengiyakan tanpa persetujuan dariku dan memberitahu semua yang ada di kelas. “Guys kita udah ada ni peran cowoknya. Katanya si Deni mau berpartisipasi buat bantuin kita untuk mengikuti Event ini” Teriak jey sambil memberitahu semua anak-anak kelas.
“Dahlah.” ucapku dengan nada rendah hati sambil pergi ke belakang bersama Dila untuk bersiap-siap. Hatiku masih terasa berat dengan keputusan yang terpaksa aku ambil.
Dila merasa tidak enak dengan sikap Jey yang memaksa ku. “Maafin si Jey ya, Den. Dia orangnya suka ngerepotin.”
Aku hanya tersenyum untuk mencoba mencairkan suasana, agar Dila tidak merasa bersalah dengan apa yang telah Jey lakukan.
Sebelum kami berdua berjalan menuju lapangan, Jey menghentikan langkah kami. “Tunggu-tunggu... Gua liat-liat kalian berdua belum pernah berfoto bareng ya?”
Benar juga. Selama ini, sejak aku mengenal Dila, kami belum pernah memiliki foto khusus atau spesial berdua. Hanya ada foto-foto Dila bersama orang lain saat berfoto bersama, bukan berfoto berdua.
“Jey...” ucap Dila dengan wajah yang memerah. Jey adalah teman terdekat Dila dan dia adalah orang yang paling mengenal Dila.
“Udah, jangan banyak ngomong, cepetan, Eventnya mau mulai.” ucap Jey, menyuruhku untuk berfoto dengan Dila.
Jey melihat kami yang canggung dan mencoba menahan tawanya. “Jangan gitu, napa? Kayak yang musuhan aja.”
Aku mulai mendekat ke arah Dila dan menggenggam tangannya. Dila, yang merasakan kehadiran genggaman itu, tiba-tiba melihat ke arahku, dan aku pun membalasnya dengan senyuman.
“Kalian romantis-romantisannya cepetan napa? Gua pegel nih!” ujar Jey, sambil mencoba menenangkan diri agar tidak tertawa.
“1... 2... 3...” ucap Jey sambil mengambil foto kami berdua, menciptakan momen yang terabadikan dalam bingkai kenangan yang indah.
Dila ini adalah foto pertama kita selama 2 tahun kita bersama.
__ADS_1
Aku bersyukur karena saat itu aku bisa berfoto denganmu dan foto itu menjadi bukti nyata kalau aku masih mencintaimu dan kamu takan pernah tergantikan di hidupku.
...****************...