Sebuah Puisi Untuk Dila

Sebuah Puisi Untuk Dila
Ujian Nasional


__ADS_3

Hari ini adalah hari di mana sekolahku menjalankan Ujian Nasional, bukan hanya sekolahku saja tetapi hampir di seluruh SMA yang ada di kotaku menjalankan Ujian Nasional, dapat dipastikan semua murid kelas 12 sudah mempersiapkan diri untuk Ujian Nasional ini.


Aku yang keluar dari kamar menuju pintu rumah untuk bersiap pergi ke sekolah sambil menggendong tas hitam milikku. Sesampai di sekolah aku pun bertemu dengan Bintang yang kebetulan dia sedang menunggu yang lainnya di tempat parkir.


“Tumben lu berangkat pagi-pagi buta gini?” Ucapku sambil tos kepada Bintang yang sedang duduk di motornya.


“Iya lah anjing sekarang kan UN, lu emang mau telat?”


“Ya kagak juga lah ege.” Kataku sambil menyangkal perkataan Bintang.


“Bocah pada lama bet, gua dari jam 6:15 nunggu mereka pada belum dateng juga.” Bintang melihat jam tangan miliknya.


“Ya itu elu yang kepagian ege, UN dimulai jam 8 lu malah berangkat jam 6.” Ucapku dengan nada ngegas kepada Bintang.


“Ya antisipasi aja, takutnya nanti ban motor gua ilang, atau pohon tumbang di jalan.”


“Ya elu jangan berdoa kayak gitu kocak.” Ucapku sambil duduk di motor siswa lain yang ada di sana.


Setelah setengah jam berlalu anak-anak akhirnya berkumpul semua, dan kami bergegas pergi menuju ruang Ujian yang tak jauh dari parkiran. Saat berjalan menuju ruang ujian aku melihat Dila dan Windi yang sedang berjalan juga menuju ruang ujian tersebut, dan aku pun menghentikan langkahku untuk bisa berjalan menuju ruang ujian tersebut bersama Dila.


“Lu ngapain diam? Menghalangi jalan aja.” Tiba-tiba ter-dengar suara tajam dari belakangku, Windi sedang mengomel kepadaku.


“Mana gua tau, gua kagak liat lu ada di belakang gua.” Jawabku sambil memalingkan wajahku ke arah Windi.

__ADS_1


Tanpa ampun, Windi langsung menendang kakiku dengan keras. Rasa sakit melanda tubuhku. “Sialan lu.” Ucapku dengan kesal, sambil memegang kakiku yang terkena tendangan Windi.


Dila, yang berada di sampingku, tersenyum lembut sambil berdiri di sampingku. “Kamu nggak kapok ya buat kesel Windi.” Ucapnya dengan nada lembut.


Aku mengangguk sambil tersenyum dan berkata, “Dila, gamau bantuin Deni berdiri nih?” Aku memandang Dila dengan harap di matanya.


Dila tersenyum hangat dan dengan ramah menjulurkan tangannya kepadaku untuk membantu aku berdiri.


Aku meraih tangan Dila dan berusaha bangkit dari rasa sakit yang masih melanda tubuhku. Sementara kami berdua saling memandang, senyum hangat terukir di wajah kami, menciptakan momen yang indah di pagi hari ini.


Aku dan Dila berjalan menuju ruang ujian untuk mengikuti ujian yang akan diadakan pagi ini, mata pelajaran yang akan diujikan hari ini adalah matematika, aku dan anak-anak yang menunggu petugas datang pun memasuki ruang ujian dan duduk di tempat yang telah disediakan sesuai absen, tempat dudukku dan Dila tak berbeda jauh hanya berbeda tiga bangku saja.


Setelah pengawas ujian datang kami pun bersiap untuk memulai ujian akhir. “Oke anak-anak, sebelumnya selamat pagi, untuk kegiatan Ujian Nasional hari ini alangkah baik-nya kita mengawalinya dengan membaca do'a terlebih dahulu.”


“Berdoa menurut kepercayaan masing-masing di mulai.” Kata pengawas itu memimpin acara hari ini.


“Kalian bisa langsung masuk aja ke dalam website yang telah disediakan, dan masukan aja nomor peserta ujian dan nama kalian.”


“Baik pak.”


“Ujian dimulai.”


Kulihat soal demi soal yang ada di hadapanku dan menjawab dengan teliti, rasanya tidak terlalu sulit untuk lima soal pertama, tanpa menghitungnya aku sudah bisa menyimpulkan setiap jawaban dari pertanyaan tersebut. Tetapi setelah lima soal ke atas pertanyaan mulai menjadi semakin rumit seperti perasaanku pada Dila, aku hanya bisa mengandalkan skill melihatku untuk mendapatkan jawaban terbaik, ya tentu saja skills melihatku adalah melihat jawaban orang lain. Tetapi untuk mencontek juga bukan hal yang mudah karena aku harus memperhatikan mata dari pengawas ujian yang sangat teliti.

__ADS_1


Setelah kurang lebih dua jam aku mengerjakan soal-soal UN dengan setengah jawaban hasil dari teman-teman ku aku akhirnya bisa menyelesaikan soal terakhir dengan lancar, tak lama bel tanda berakhirnya ujian pun berbunyi aku dan anak-anak kelas bergegas mengakhiri ujian.


“Akhirnya selesai juga.” Ucapku sambil meregangkan tubuhku yang kaku selama dua jam menghadap ke arah monitor.


“Oke anak-anak, karena ujiannya telah selesai kalian boleh meninggalkan ruangan ujian ini.”


“Baik pak.” Kami semua berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan ujian.


“Oi ege, gimana barusan ujiannya? Bisa nggak otak lu mencerna soal-soal itu?” Tanyaku kepada Hendrik yang berjalan di depanku.


“Otak gua kagak kepake sama sekali, barusan aja pas ujian gua ngegacha jawaban.”


“Sakit lu.” Ucapku kepada Hendrik.


Setelah kami meninggalkan ruangan, kami pun pergi menuju kelas kami untuk istirahat sebentar sebelum kami semua pulang karena Ujian Nasional ini satu hari satu mata pelajaran saja. Aku yang sedang duduk di kursi depan kelas ku pun dihampiri oleh Bintang dan Hendrik untuk mengajak ku ke kantin.


“Oi Den, lu mau ke kantin kagak?”


“Anjing gua baru juga sampai di sini, lu kalau mau ke kantin bukannya dari tadi kek sekarang gua lagi males.” Ucapku sambil menolak ajakan Bintang.


“Ya udah kalau lu kagak mau ikut, gua sama Hendri ke kantin.” Bintang berjalan meninggalkanku bersama Hendrik menuju untuk menuju kantin.


Dari kejauhan aku melihat Dila yang sedang menelepon seseorang terlihat dia seperti sangat bahagia karena sedang teleponan dengan orang itu, aku berpikir bahwa yang ditelepon oleh Dila itu adalah orang tuanya atau pun temannya yang ada di Tangerang tetapi setelah aku men-dengar cerita dari Julita yang merupakan teman sekelas ku bahwa orang yang saat itu sedang teleponan dengan Dila adalah pacarnya, aku yang mendengar kata-kata dari Julita pun langsung terdiam dan berpikir apakah pacar Dila itu adalah Ridwan.

__ADS_1


Setelah aku melihat ke dalam kelas ternyata bukan Ridwan yang sedang teleponan dengan Dila melainkan orang lain, dan orang lain itu adalah adik dari guru bahasa Sunda ku dulu pada saat kelas 10, aku juga tidak mengenal siapa pacarnya saat itu tetapi dari raut wajahnya terlihat dia sangat ceria bahkan aku pun sepertinya tidak akan bisa membuat Dila seceria itu. Hari ini hatiku benar-benar patah, aku kira sainganku hanyalah Ridwan saja, tetapi sainganku adalah orang yang kamu suka, tapi entah kenapa aku masih saja berusaha untuk mendapatkan mu saat itu juga.


...****************...


__ADS_2