
Aku berjalan menuju ke arah gerbang sekolah baruku.Hari ini adalah hari pertama aku memasuki SMA sebagai siswi.Aku telah berhasil melewati 6 hari MOS yang diselenggarakan di sekolah ini.Seragam abu abu putih melekat sempurna ditubuhku.Walau seragam ini sangat cocok ditubuhku,aku tetap saja menjadi yang terbawah disini.Aku hanya memakai sepatu lusuh biasa dan tas ransel besar berwarna cokelat yang sudah kupakai dari kelas 1 SMP.
Tiiiiin
Suara klakson terdengar nyaring di seluruh halaman sekolah.Aku menoleh kebelakang dan segera menyingkir sepertinyang dilakukan siswa siswi lainnya.Mobil mobil bagus berjalan dengan mulus dari gerbang sekolah menuju sekolahan yang letaknya cukup jauh dari gerbangnya.Masing masing orang turun dari kursi penumpang dan berjalan menuju pintu utama sekolahan.
"Wah mereka anak anak orang kaya ya diantar mobil pribadi" bisik orang disebelahku.
"Mereka anak anak pejabat,pengusaha dan anak dari anggota komite sekolah" sahut temannya.
"Kamu tau mobil Lamborghini merah tua itu? Dia adalah Tuan Muda Elvarett.Dia kelas 10 tahun ini"
"Benarkah? aku belum pernah lihat langsung orangnya.Tapi aku tidak pernah melihat dia di hari hari sebelumnya"
"Dia tidak mengikuti MOS"
"Apa boleh yang seperti itu?"
"Kenapa tidak? dia yang punya sekolah ini"
"Ah betul juga"
Kedua siswi itu berjalan melewatiku.Setelah menguping pembicaraan mereka,aku berjalan menuju pintu utama.Aku terpana dengan sekolahan ini.Ini tidak terlihat seperti sekolahan,ini terlihat seperti mansion.Sekolahan pada umumnya memiliki tembok yang membosankan,koridor koridor yang biasa dan juga tampilan yang monoton.Tapi di Na Elvarett berbeda,tembok tembok disini memiliki corak corak yang sangat indah,terdapat lampu gantung besar berwarna putih kecoklatan di sepanjang koridor.Keramiknya berwarna abu abu bersih dan mengkilap.
Waktu mos kami tidak diizinkan masuk ke sekolahan.Kami melakukan pembelajaran diluar ruangan.Di bawah pohon pohon besar yang ada dihalaman sekolah dimana ada ratusan kursi dan meja.Aku berjalan menuju tangga dan sekali lagi aku terpana untuk kesekian kalinya.Tangga ini memiliki pinggiran yang unik dan di bagian paling bawah dan paling atas terdapat patung kuda terbang yang merupakan lambang dari sekolah ini.Aku melihat desakan desakan dari wajah wajah yang tidak asing bagiku.Ya,mereka adalah siswa siswi seangkatanku.Aku berjalan ke arah mereka dan melihat apa yang mereka ributkan.Ternyata mereka meributkan soal pembagian kelas.Mereka mengeluh ditempatkan di kelas biasa dan bersorak gembira bagi yang ditempatkan di kelas unggulan.
Dari banyak nama nama yang tertera,namaku berada di bagian paling bawah yang artinya aku ditempatkan di kelas yang biasa dan juga paling akhir.Aku tidak mempermasalahkan hal itu.Aku berjalan mencari kelas itu.Sekolah ini berbeda dari sekolah lainnya,disini tidak ada penggolongan kelas seperti IPA,IPS dan MIPA.Disini hanya ada X-01 sampai X-20 begitupun kelas 11 dan 12.Aku tidak tau cara sisitem pengajaran disini tapi aku mendengar beebrapa pembicaraan mengenai sekolah ini.Di sekolah ini melakukan sistem pembelajaran berbeda dimana setiap siswa diajarkan berbagai hal baik dari negara sendiri atau negara lain.
Selama 30 menit aku berputar putar dan akhirnya aku menemukan kelasku yang sangat jauh.Aku memasuki kelas itu dan langsung mendapat kejutan.Aku pikir semua orang yang ada disini adalah berasal dari keluarga sosialita yang berperilaku beradab tapi ternyata mereka tak jauh dari remaja pada umumnya.Mereka meperebutkan bangku ada juga yang berteriak tidak jelas dan tak sedikit yang mengeluarkan barang barang aneh dari dalam tas nya.Aku kebagian tempat duduk di bagian belakang sendiri didekat jendela.Kelas mendadak sepi ketika ada pria dewasa masuk ke kelas kami.
"Selamat pagi anak anak.Perkenalkan saya adalah Mr.Dion dan saya adalah wali kelas kalian"
Orang yang menunjuk dirinya sebagai wali kelas itu tersenyum di depan kelas.Kami hanya menatapnya dalam diam.
"Ada yang ditanyakan?" tanya Mr.Dion.Semua orang menggeleng.
"Baik.Tempat duduk kalian menurut nomor absen sesuai ketentuan sekolah" ujarnya tegas.
Kami mengeluh karena tidak mendapat tempat sesuai keinginan kami.Aku duduk di bangku nomor 2 dari depan tapi aku bersyukur aku masih bisa duduk di dekat jendela.Setelah selesai menentukan tempat duduk,ada 4 orang berseragam karyawan sekolah membawa bertumpuk tumpuk buku yang sangat tebal.
"Ini buku buku yang harus kalian miliki.Administrasi bisa diselesaikan di kantor Tata Usaha" jelas Mr.Dion.
Setelah membagikan buku,Mr.Dion beserta karyawan karyawan itu pergi meninggalkan kelas.Aku melongo mendapati 6 buku besar yang berjumlah 600 halaman di setiap bukunya bertumpuk didepan mataku.Semuanya berisi pelajaran pelajaran yang harus selesai dalam 1 tahun sebelum kami naik ke tingkat yang lebih tinggi.
"Hei...hei" bisik seorang gadis disampingku.Aku melengokan kepalaku ke arahnya.Tempat duduk kami individu.
"Aku?" tanyaku.
"Ya,namamu siapa?" tanyanya dengan senyum yang menghiasi wajah manisnya.
"Dinda"
"Errin" dia memperkenalkan diri.
"Ah iya salam kenal"
__ADS_1
"Kamu dari keluarga apa?"
"Keluarga?"
"Ya"
"Aku tidak berasal dari keluarga manapun"
"Maksudnya?"
"Ah bukan apa apa.Aku hanya orang biasa yang mendapat beasiswa"
"Ohh"
Seorang wanita paruh baya yang memiliki wajah garang mendominasi rambutnya yang digelung ketat.Kesan pertama yang kudapat adalah jangan membuatnya marah.
"Selamat pagi anak anak saya Mrs.Maria dan saya mengajar bahasa Jepang.Buka buku kalian dan hafalkan beberapa sapaan dasar lalu praktekan didepan kelas.Waktu kalian 15 menit"
Aku mengambil salah satu dari 6 buku itu yang berjudul Bahasa Dunia.Aku segera mencari bab yang menerangkan tentang bahasa Jepang.Aku mendengar keluhan secara terang terangan dari anak laki laki.Mrs.Maria menatap mereka tajam.Aku yakin dia juga mendengarnya.
"Ada masalah?" tanyanya dengan tajam.
"Tidak tidak" jawab mereka serempak.
"Waktu kalian habis.Absen pertama maju"
Anak yang ada didepanku maju kedepan kelas.
"Perkenalkan dirimu dengan Bahasa Jepang" perintah Mrs.Maria.
Tepuk tangan terdengar sampai ke penjuru kelas.Rupanya Aiko ini orang Jepang pantas saja dia mahir bahasa Jepang.Selanjutnya Anna dan seterusnya hingga tibalah saatku maju.
"Kon'nichiwa" hanya itu yang kubisa.
Soal bahasa aku sangat buruk tapi soal pelajaran biasa aku bisa.Mr.Maria menatapku datar.Aku menggerak gerakkan jariku dan menggigit bibir bawahku.Aku susah berfikir macam macam tentang Mrs.Maria seperti :
"*Kamu tidak mengikuti pelajaran saya dengan baik.Lupakan saja,keluar dari kelas" HA?
"Mau jadi apa kamu tidak bisa hal semudah itu?" HA?
"KAMU SAYA KELUARKAN KEMASI BARANG BARANGMU.SELAMAT TINGGAL" HAAAA*?
"AAAAA" Aku menjerit sambil menutup telinga.
Aku mendengar anak anak yang menahan tawa.Aku membuka mataku dan menoleh ke arah Mrs.Maria yang terlihat geram.Astaga ini memalukan.
"Ada apa denganmu?" tanya Mrs.Maria.
"Saya tidak apa apa"
Bel istirahat berbunyi menyelamatkan nyawaku.Aku duduk ke tempatku dengan wajah merah karena malu.
"Kita lanjutkan minggu depan.Selamat tinggal"
Mrs.Maria keluar dari kelas dan aku langsung mengantukkan kepalaku ke meja.Errin mendekatiku dan dia menertawaiku.
__ADS_1
"Ada apa denganmu?" tanyanya di sisa sisa tawanya.
"Aku tidak bisa bahasa asing" keluhku.
"Ah Aiko lain kali aku akan les kepadamu" lanjutku.
"Kapan saja Dinda" jawabnya lalu dia pergi.
"Sudahlah jangan banyak bicara ayo ke kantin" Errin merangkul pundakku.
"Tunggu,aku tidak membawa uang saku.Kamu duluan saja" tolakku halus.
"Uang saku apanya? Makan siang adalah fasilitas sekolah jadi beasiswa mu juga membayari itu" oceh Errin.Aku hanya ber oh ria lalu mengikuti langkahnya.
Sesampainya di kantin aku dan Errin duduk di tempat yang tersisa.Kami mengobrol banyak hal dan kini kami menjadi teman akrab.Errin berasal dari keluarga kaya,orang tuanya pegawai negeri.Dan yang mengagumkan adalah dia tidak memperdulikan status sosialnya.Di tengah pembicaran kamu,tiba tiba ada kerumunan siswa di pojok kantin.Dengan rasa penasaran yang membuncah,aku dan Errin ikut melihat yang dikerumuni itu.
Seorang laki laki terduduk dilantai dengan kuah kaldu diatas kepalanya.Seorang laki laki tinggi tengah menendang dirinya.
"Kau tidak tau kan harga sepatu ini? Kau taruh dimana matamu?" bentaknya.
Anak itu sudah minta maaf tapi laki laki itu tetap menyerangnya.Keributan ini terjadi hanya karena hal sepele,anak laki laki yang ditindas tidak sengaja menginjak kaki anak laki laki yang menindasnya.Aku tidak suka melihat hal ini.Kenapa tidak ada yang membantunya sama sekali?
"HEI" Teriakku.Mendadak semua orang terdiam dan memusatkan perhatiannya ke arahku.Mereka seolah mengatakan tolong-pura-pura-saja-tidak-tau.
"Dia sudah minta maaf kenapa kamu terus menindasnya?" tanyaku ke arah laki laki itu.
"Apa masalahmu?" tanya laki laki itu.
"Hanya karena menginjak sepatu kau menumpahi kepalanya dengan kaldu lalu menghajarnya? Benar benar menyedihkan"
"APA MASALAHMU?" raungnya.
"Aku hanya tidak suka melihat kekerasan"
"Jangan ikut campur"
"Hei apa kau baik baik saja?" Tanyaku kepada laki laki yang terduduk.
"Aku baik baik saja.Tolong pergilah jangan ikut campur" lirihnya.
Tanganku ditarik kuat kuat sampai aku berdiri.Refleks aku menampar laki laki itu dan semua orang tercengang.Kenapa kalian ini? aku hanya membela anak ini.
"Aku tidak akan melepaskanmu idiot" ancamnya lalu melemparku ke anak lain.
"Ya ya ya terserah apa katamu"
Aku menuju meja makanku lagi dan Errin menatapku intens.Bukan hanya Errin,hampir semua orang menatapku seperti itu.Aku dibuat bingung oleh keadaan.
"Kau tau siapa yang kau tampar tadi?" tanya Errin serius.
"Perundung" jawabku asal.
"Dia putra pemilik sekolah ini"
Sendok ditanganku langsung menimbulkan bunyi yang bergelontangan.
__ADS_1
"Aku pasti sudah gila" Kataku histeris.