
"Iya"
"Tidak"
"Iya"
"Tidak"
Aku menghela nafas panjang.Bunga yang sudah rontok kelopaknya kubuang asal.Aku masih bingung dengan perasaanku,harus kuterima tau tidak?
Boleh aku jujur? aku sempat suka kepada Arga yang menyenangkan,seharusnya aku senang Arga menyatakan perasaannya yang artinya perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan.Tapi kenapa perasaanku menjadia biasa? kemana debaran itu pergi? kenapa yang tersisa hanya sunyi?
Kata kata Kak Rakha mendadak muncul menyapa ingatanku.Jika ragu untuk menolak,tawarkan dia sebuah hubungan lain supaya hatinya tidak sakit.Yang benar saja selama ini aku menganggapnya kakak sendiri? Arga?
"Din" sapa Arga duduk disebelahku.Pucuk dicinta ulam pun tiba.
"Bagaimana dengan yang kemarin?" tanya Arga.
"Ah itu,Arga apapun jawabanku kumohon agar kau tidak berkecil hati" ucapku sendu.Arga mengrenyit.Mungkin dia sudah mencium aroma penolakan dariku.
"Aku tidak bisa membalas perasaanmu kepadaku.Aku minta maaf,kau selama ini baik kepadaku dan aku hanya menganggapmu kakak sendiri Arga" jawabku dengan mantap.
Arga mengusap wajahnya kasar lalu menekan keningnya.Dia tampak berpikir keras sampai dahinya bergelombang.Setelah lama berdiam akhirnya dia mengangkat kepalanya.
"Hei tapi kita masih berteman bukan?" tanya Arga dengan tawanya padahal matanya terlihat sendu.
"Ten..tentu saja,aku sahabatmu mulai saat ini" aku merangkul bahunya.
"Aku bersyukur kejujuranku tidak merubah apapun" guman Arga.
Bel berbunyi,aku segera memasuki kelas.Hari ini jadwalnya Mrs.Catherine.Aku dan teman temanku menuju kelas memasak dan kami semua memakai pakaian seperti koki.Aku tidak menyangka kelompok yang pada waktu itu merupakan kelompok permanen.Aku menatap horor ke arah Rio yang dengan santainya ber oh ria.Dia tidak pernah melakukan apapun.
"Hari ini kalian memasak kue,meskipun berkelompok kalian harus membuat kuenya sendiri sendiri.Setiap kelompok harus sama varian rasanya.Jika kelompok A memakai rasa coklat maka satu kelompok harus memakai rasa coklat tidak boleh rasa yang lain mengerti?" tanya Mrs.Jane.Kami semua mengangguk dan mulai membuat adonan dengan alat yang sudah disediakan di meja kami.
"Rasa apa kira kira?" tanyaku kepada mereka bertiga.
"Coklat?" usul Errin.
"Jangan itu terlalu pasaran.Bagaimana strawberry?" tawar Aiko.
"Strawberry? Pink? yang lain saja.Bagaimana kalau rasa keju?" tanya Rio.
"Ah keju juga tidak buruk" ujar Aiko dan Errin.
"Baiklah! keju"
Aku segera membuat adonan.Errin menyiapkan mixer dan selanjutnya ditangani oleh Aiko.Rio hanya duduk mengamati cetakan roti kacang yang berbentuk macam macam.
"Kamu menbuat creamnya,buat warna yang senada" perintahku kepada Rio.Dia tampak terkejut.
"Jangan mempasrahkan semua ini kepadaku.Kau tau sendirikan aku tidak pernah menyentuh yang seperti ini?" protesnya.
__ADS_1
"Aku bisa membuat tapi kau harus membantuku" ujar Errin.Bagus,urusan cream sudah beres.
Aku memotong buah strawberry dan coklat vanilla sebagai toppingnya.Aku sudah mengambil beberapa wafer roll dan itu membutuhkan usaha keras.Semua anak berebut kulkas demi topping untuk karya mereka.Untung saja aku berhasil mengambil satu meskipun tanganku terinjak injak.
"Aiko,selesai?" tanyaku.
"Beres sekitar 3 menit lagi jadi" jawab Aiko.Aku mengangguk.Kini aku berjalan kearah Rio dan Errin.
Astaga! pemandangan pertama yang kulihat adalah sebuah medan peperangan.Errin dan Rio berperang mengoleskan cream satu sama lain.Kau menggebrak meja dan semua orang menatapku sebentar lalu kembali ke aktivitasnya masing masing.Errin dan Rio terkekeh.
"Berhentilah main main" aku mengerang frustasi.
"Mana creamnya?" tanyaku galak.
Rio menunjuk sebuah wadah berwarna bening yang sudah terisi cream berwarna putih kekuningan.Aku mengambil sendok dan mencicipinya.Pas!! untung mereka tidak terlalu mengecewakan.Aku segera mengemasnya dan menggulungnya hingga berbentuk cone.Aiko mengeluarkan kue nya dan memotong menjadi 4 bagian.Kami mulai berkreasi dengan ide masing masing.
"PERHATIAN!! untuk kuenya nanti kalian berikan kepada orang tercinta seperti teman,keluarga,guru dan bisa juga ke pacaaaar" Mrs.Catherine memperpanjang nadanya membuat kami terkikik.
"Kesannya bagaimana kalian tulis dan tulis juga orangnya serta statusnya dia dikehidupan kalian.Paham?" tanya Mrs.Catherine.
"IYA" teriak anak anak satu kelas.
Aha! aku bisa menghibur hati Arga dengan ini.Aku tidak tau dia suka apa tidak tapi aku akan tetap memberikan ini kepadanya.Setelah menghias kue,kami segera keluar dengan kue ditangan masing masing.Bel istirahat telah berbunyi,kami segera menghampiri seseorang yang spesial yang ada disekolah ini,ada juga yang membawanya ke kelas.Mungkin akan diberikan kepada orang diluar sekolah ini.
Aku memasuki kelas X-01 yang sepenuhnya masih berada dikelas mencatat yang belum selesai.Mereka menatapku penuh rasa ingin tahu.Aku swgera menghampiri Arga yang duduk dibagian paling depan pojok.
"Ini untukmu.Aku dari kelas Mrs.Catherine dan beliau menyuruhku memberi kepada orang spesial dan kau laaaaah sahabat baruku" ujarku dengan menampilakn barisan gigiku.
"Arga? sahabatmu? turunkan halusinasimu" Davina tertawa merendahkanku.
"Terimakasih Din,kau emmang sahabat terbaikku" ujar Arga menekankan pada kata sahabat.Aku tersenyum miring melihat Davina yang mencibir.
"Milikku?" tanya Angkasa mengadahkan tangannya kearahku.
"Aku hanya membuat satu" aku menatapnya bingung.
Angkasa berdiri dan menarikku menuju kelas.Arga mengikuti kami dengan kue yang ada ditangannya.Arga meraih tanganku yang satunya saat kami sampai diatas tangga.Angkasa menatap Arga datar.
"Lepaskan" ujar Angkasa dingin.
"Mau kau bawa kemana dia?" tanya Arga.
"Bukan urusanmu kawan" jawab Angkasa lebih santai.Semua anak tengah mengerumuni kami bahkan ada yang merekam adegan ini.Davina melipat tangannya didepan dada menatapku tajam.
"Hei kalian berdua" ujar suara yang tidak asing bagiku.
Bunda baru saja sampai ditangga terakhir san menatap kami bingung.Angkasa dan Arga juga enggan melepaskan tanganku.Mereka menatap Bunda dengan wajah biasa.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Bunda penasaran.
"*Bukankah itu Nona Besar Elvarett?"
__ADS_1
"Ibu Angkasa?"
"Pemilik sekolah*"
Bisik bisik terdengar disekitar kami.Arga dan Angkasa melepas tanganku dan membenahi baju mereka.Mereka juga berdeham untuk meredam kepanikan yang melanda tiba tiba.
"Kenapa kesini?" tanya Angkasa tidak suka.
"Ini sekolahan milikku juga.Tidak boleh aku berkunjung?" tanya Bunda tak kalah sinisnya.Astaga mereka ini.
"Kalian berdua kenapa menarik narik Dinda?" tanya Bunda kepada Arga dan Angkasa.
"Aku tidak apa apa" Angkasa merapatkan dirinya kepadaku.Arga dan anak lainnya menatap kami bingung.
"Arga yang kau pegang terlihat enak" ujar Bunda yang akhirnya mengalihkan perhatiannya sendiri.
"Oh ini buatan Dinda di kelas memasak tadi dan memberikannya kepadaku" Arga tersenyum.
"Boleh aku mencicipinya?" tanya Bunda dan diangguki Arga.
"Uhhh sayang kau berbakat ini enak sekali" puji Bunda membuat wajahku memanas.Aku tersenyum kikuk.
"Terimakasih Bunda" lirihku.
"*Tunggu dia memanggilnya Bunda?"
"Kenapa Dinda berani sekali memanggil istri direktur sekolah dengan sebutan Bunda?"
"Dasar tidak tau diri*"
Mereka mengolok-olok diriku secara terang terangan.Davina tersenyum manis berjalan mendekati Bunda.
"Nona Elvarett,saya Davina teman perempuan Angkasa" ujar Davina memperkenalkan diri.
"Ah aku tau,kau model muda yang manis itu kan?" tanya Bunda.
"Ah Nona bisa saja" Davina menyelipkan rambutnya kebelakang telinga.
"Kalian kenapa menghina Dinda? wajar saja bukan pacar putraku memanggilku Bunda?" ujar Bunda menegur anak anak yang membicarakanku.
Mereka semua membeku termasuk aku,Angkasa dan Arga.Kenapa Bunda harus membongkar ini semua disini? aku sudah pusing Bunda.
"Eghmmm" Angkasa meredam keterkejutannya dengan dehaman.
"Bunda" lirih Angkasa.
"Kenapa? apa tidak ada yang tau kalian pacaran?" tanya Bunda heran.
"Yes,my girl" Angkasa menekankan tiga kata itu.Wajahnya terlihat berantakan.
"WHOOOAAHHHH"
__ADS_1