Secepat 24 Jam

Secepat 24 Jam
26


__ADS_3

Suasana mendadak hening.Bukan hanya di bangku kami tetapi semua orang dikantin termasuk para kakak kelas yang tidak terlalu peduli dengan masalahku.Aku melirik ke Aiko dan Errin untuk meminta bantuan tapi sepertinya mereka juga dilanda pusing.Aku melirik ke Arga termasuk Angkasa yang juga terdiam.


"Aku..." kalimatku terpotong oleh suara Angkasa.


"Bukan urusanmu Bella,apa untungnya jika kau tau kami dekat atau tidak di masa lalu" ujar Angkasa sinis.


"Aku hanya bertanya" Bella menaikan sedikit suaranya.


"Kalau aku memang pernah dekat dengan dia memangnya kenapa?" tanya Angkasa menantang dengan wajah santainya.


"Jadi kalian peenah dekat?" tanya Bella tidak percaya.


"Tidak Bell,hanya saja gadis ini yang selalu menempel di Angkasa" tukas Davina.


"Hei kau yang selalu menemprl kepadanya ingat?" ketus Errin geram.


"Jangan ikut campur" sentak Davina.


"Kau juga ikut campur ke dalam masalah ini" balas Errin.Kurasa dia sudah lebih berani menghadapi orang orang kaya itu.


"Aku meluruskan masalah"


"Meluruskan katamu? kau malah membuatnya hancur berantakan dasar ****** kecil" umpat Errin.


Errin tidak membantuku sama sekali,dia malah berdebat dengan Davina dan melupakan bahwa disini akulah yang memiliki masalah.Davina berdiri menggebrak meja dan menunjuk nunjuk wajah Errin.Dan Errin berdiri dengan menodongkan garpu.


"Dasar tidak tau diri! kau tidak tau siapa ayahku?" desis Davina.


"Siapapun dia aku tidak peduli lebih baik tutup mulutmu gadis sialan"


"Kenapa aku harus tutup mulut jika aku tau kebenarannya?" ceplos Errin.


"Lalu apa itu kebenarannya?" tanya Bella penasaran.


Aku menatap Errin was was sementara dia hanya melambaikan tangan tak peduli.Dia menarik tangan Davina dan Bella pergi dari bangku kami.


"Pergi dari sini jangan kembali" usir Errin.


"*Hei bukankah kau terlalu jahat?"


"Kasihan anak baru itu mendapat perlakuan buruk darimu"


"Dasar temannya Dinda perilakunya seperti Dinda"


"Ya,mereka tidak ada bedanya*"


Anak anak mulai membicarakan Errin dan menyamakannya denganku.Errin tampak tidak menggubris komentar pedas yang mereka lontarkan.Aku merasa bersalah,gara gara aku Errin jadi terkena imbasnya.


"KALIAN TIDAK PERLU MEMOJOKKAN ERRIN" teriakku lantang.


"Apa yang kalian ketahui? berani sekali menlontarkan kalimat kalimat jahat itu" tambahku.


"Hei...apa kau tidak sadar kalian berdua menjadi duri didalam daging disekolah ini? Saat ini hanya kalian berdua mungkin besok kau juga kena imbasnya" ujar Selena menyenggol Aiko saat berjalan melewatinya.Selena membantu Bella dan Davina berdiri.


"Duri didalam daging seperti apa yang kau bilang? jelaskan! aku ingin mendengarnya" tantangku.


"Kau mendekati 2 Tuan Muda hanya untuk keuntunganmu sendiri.Kau selalu mencari masalah denganku dan Davina.Kau juga menunjukkan perilaku tidak mengenakan didepan anak baru.Kau menurunkan citra sekolah ini Dinda" oceh Selena.


"Hanya kalian yang merasa dirugikan dan mereka semua..." aku menunjuk ke segala arah.


"Hanya terhasut olehmu.Aku disini sama sekali tidak berniat mendekati Arga dan Angkasa.Aku juga tidak mencari masalah denganmu dan temanmu.Kau sendiri yang mencari cari masalah denganku.Aku tanya apa keuntunganku mendekati mereka berdua.." aku menunjuk ke meja Angkasa.


"Dan apa kalian rugi karena sikapku? aku disini hanya ingin mencari ilmu.Aku tidak akan menggunakan beasiswaku untuk hal yang tidak berguna seperti ini" lanjutku.Aiko dan Errin mengacungkan jempol.


"Jangan membual Selena! jangan membuatku seolah olah yang bersalah disini" aku menatapnya tajam lalu meninggalkan kantin.


Aku mengambil nafas sebanyak banyaknya.Berbicara didepan umum seperti tadi sangat menguras energiku.Seulas senyuman tercetak jelas diwajah Angkasa ketika aku pergi meninggalkan kantin.Sadar atau tidak dia sudah menenangkan jiwaku.Sebuah tangan merangkul bahuku dengan akrab.


"Harus seperti itu Din.Mereka harus diberi pelajaran" ujar Errin bangga.


"Ini bukan hal yang harus dibanggakan.Aku hanya tidak mau kau terseret kedalam masalahku"


"Lihat ini Aiko,dia pikir kita ini apa? kentang?" tanya Errin sinis tapi aku melihat gurauan didalamnya.


"Din kami ini teman baikmu.Jadi jangan sungkan sungkan saat ada masalah.Kami ada untukmu" ujar Aiko lebih masuk akal.


Aku hanya tersenyum menanggapi mereka.Aku merangkul mereka dan kami tertawa menuju kelas.

__ADS_1




Sepulang sekolah aku menelpon Kak Rakha memastikan dia hari ini masuk apa tidak.Aku menghembuskan nafas lega,Kak Rakha sudah ada di caffe jadi aku tidak perlu lagi bertemu dengan manusia macam Zen disitu.Ponselku tiba tiba melayang ke udara dan nyaris jatuh tapi sebuah kaki menendangnya ke atas dan orang itu menangkapnya dengan sigap.



"Ap.." kata jataku terpotong.Tenggorokanku tercekat.



"Angaksa" lirihku.



"Hari ini aku akan menungguimu di caffe"



Seulas senyuman terukir di wajahku.Aku menatap punggung Angkasa yang menjauh.Aku berlari kecil menyusulnya.



"Apa artinya kau sudah tidak marah kepadaku?" tanyaku dengan wajah girang.



"Aku tidak marah kepadamu.Aku hanya kesal dan malas berbicara denganmu"



"Hei itu sama saja" tuntutku.



Angkasa menghiraukanku dan berjalan menuju mobilnya lalu membukannya.Angkasa juga membuka pintu untukku.Dia masih belum melajukan mobilnya saat aku sudah duduk.Dia malah berkutat dengan ponselku.Raut wajahnya kesal.




"Apa passwordnya?" tanya Angkasa lagi.



"William" jawabku malas.Toh tidak ada apa apa di ponselku.



"Siapa itu William?" protes Angkasa.



"Apa itu juga urusanmu?" tanyaku jengkel.



"Tentu saja,siapa itu William?"



"Apa urusannya denganmu?" tanyaku galak.



"KATALAN SAJA SIAPA ITU WILLIAM?" raung Angkasa membuat rambutku tertiup ke belakang.Beberapa orang menatap kami penasaran.



"Aku tidak kenal siapa itu William aku hanya menyukai nama itu" jawabku jujur.



Aku memang tidak kenal yang namanya William.Aku hanya suka dengan nama itu.Itu bukan masalah yang menentang hukum bukan? Dan kenapa anak ini marah marah tidak jelas?


__ADS_1


"Jawab yang betul" sentak Angkasa.



"Aku bersumpah tidka mengenal William.Aku hanya suka nama itu Sa"



Angkasa mendelik ke arahku lalu membajak ponselku Aku yakin dia sedang berusaha mencari tahu tentang pria bernama William.Haha dasar keras kepala,berapa kali harus kukatakan agar dia percaya?



"Passwordnya kuganti dengan namaku" ujar Angkasa seenaknya.



"Kenapa begitu?"



"Jangan protes.Lebih bagus namaku tau"



Aku mendengus dan mendengus lebih keras ketika Angkasa memasukan hp ku ke kantong seragamnya.Mobil Amgkasa maju tanpa hambatan karena mereka menyingkir dari jalan.Tidak selang beberapa detik Angkasa mengerem mendadak.Bella sedang berdiri menghadang kami sendirian.



"ARRABELLA" bentak Angkasa.



"KAU TUNANGANKU KENAPA KAU JALAN DENGAN GADIS LAIN?" teriak Bella.Ini tidak seperti Bella yang kukenal.



"Apa aku pernah menyetujuinya?" tanya Angkasa sinis dengan senyuman setannya.



"Angkasa,bawa aku bersamamu.Bukan dia,dia hanya salah tempat"



"Kau yang salah tempat.MINGGIR"



"AKU TIDAK AKAN MENYINGKIR SEBELUM DIA TURUN"



Angkasa tidak pernah main main dengan kata katanya.Angkasa menginjak pedal gasnya dan melaju kencang.Bella langsung menyingkir dan mebyumpah serapahi kani dengan mumut manisnya.



"Apa apaan kau ini" protesku.



"Dia menyulitkan" jawab Angkasa asal.



"Dia tunanganmu"



"Aku tidak mencintainya"



"Lalu siapa yang kau cintai?" pancingku.



"Kau"

__ADS_1


__ADS_2