
"Sampai kapan kita bersandiwara didepan keluargamu Sa?" tanyaku kepada Angkasa saat kami sudah sampai didepan gang.
"Aku tidak bisa menjawab" kata Angkasa.
"Cepat atau lambat Bunda pasti tau,dia sudah mengetahui tentang kita sejak awal" lirihku.
Angkasa memalingkan wajahnya kearahku dengan cepat "Mengetahui apa?" tanya Angkasa dengan wajah syoknya.
"Kau yang menindasku dari awal sekolah"
"Bagaimana dia bisa tau semuanya?" tanya Angkasa bingung.
"Mr.Andri san guru lainnya.Aku yakin mereka mengenal pemilik sekolah"
"Sial.Sudahlah biar kupikir nantinya.Guru guru itu harus ditutup mulutnya" desis Angkasa.
"Aku pergi dulu.Jangan gegabah"
Angkasa mengangguk dan membukakan kuncinya.Aku segera turun dan berjalan menuju kost.Aku mengandalkan Angkasa dalam hal ini.
***
Keesokan harinya Angkasa masih saja menyebalkan.Seharusnya dia lebih waspada karena guru guru disini mengawasinya tapi lihatlah ini.Dia menyuruhku membawakan makanan di kelasnya yang sudah jelas jelas ada peraturan tidak boleh membawa makan siang ke kelas.Aku harus menghindari beberapa guru di koridor dan itu membuatku kerepotan.Aku sedikit membanting piring makan siang itu dihadapan Angkasa.Dia terlonjak.
"Kau ini kenapa?" ketusnya.
"Kenapa?" aku menekankan kata kataku.
"Kau tidak tau aku harus berjuang membawakan makananmu kesini? Dasar tidak berperasaan.Untung saja aku cekatan membawanya kalau tidak bisa tertangkap guru.Yang kulakukan ini bisa disebut penyelundupan tau tidak?" ocehku.
"Sudah?" tanya Angkasa datar.
"Hmm"
"Sekarang salinkan PR ku" Angkasa melempar 2 buah buku tulis kearahku.
"Hahaha kau bodoh juga ternyata" ejekku.
"Aku lupa ada PR dan kau salah jika mengataiku bodoh" gerutu Angkasa.
Aku menyalin PR nya entah dibangku siapa.Soal kelas X-01 dan X-02 sama saja ternyata.Kupikir disini berbeda.Setelah selesai menyalin PR Angkasa,aku berjalan menuju kelas karena sebentar lagi bel.Di tangga ke6 ada kaki yang menyandungku.Aku menutup mata siap terjatuh dari tangga.Bukan lantai keras yang kudapatkan tetapi sesuatu yang seperti tubuh manusia.Aku membuka mata,didepanku ada dada seorang siswa.Aku mendongak dan mendapati Kak Kelvin menatapku bingung.
"Maaf Din" lirih seorang gadis yang ada di tangga atasku.
Aku menatapnya,ada yang aneh.Dia seperti ketakutan dan tangannya gemetaran.Disudut bibirnya juga ada darah.Gadis itu melirik ke tangga lainnya lalu bergetar ketakutan.Aku melihat apa yang gadis itu lihat.Davina dan Selena berdiri disana.Selena adalah teman sekelasku yang merupakan model satu Angensi dengan Davina.Apa mereka teman?
"Sampai kapan kau mau bersandar dibadanku huh?" sindir Kak Kelvin.
"Maaf" aku berdiri tegak.
__ADS_1
Kelvin merapikan bajunya yang sedikit kusut llu berjalan keatas.Aku menatap nanar Davina dan Selena.Mereka menyeringai lalu kembali ke kelas masing masing.Gadis yang menyandungku masih bergeming ditempatnya.
"Siapa namamu? kelas apa?" tanyaku lembut.
"A..aku..aku Devi,Devi kelas X-07" jawab Devi ketakutan.
"Hei jangan gemetaran,aku tak apa apa.Lihat" aku menunjuk diriku sendiri.
Devi mengangguk lalu pergi.Aku berjalan menuju kelas.Ada yang aneh,apa mungkin Davina menyuruh Devi.Apa Devi ketakutan karena menyandungku dan aku menabrak Kak Kelvin?
"Stt..Stt.." bisik seseorang dibelakangku.Aku menoleh.
"Aku duduk dibelakangmu" Rio cekikian.
"Lalu?" aku menatapnya datar.
Rio mencibir lalu mengobrol dengan Dicky.Aku masih memikirkan Devi tadi.Berhubung ini jam kosong aku menyuruh Errin duduk denganku.Errin duduk di meja lalu Aiko meghadap kebelakang.
"Aku tadi hampir terjatuh ditangga" aku mulai bercerita.
"Jatuh?" tanya mereka bersamaan.
"Iya,tapi tidak jadi"
"Kenapa?" tanya Errin.Aiko menggetok kepala Errin.
"Tidak begitu Ai,alasannya dia tidak jatuh itu kenapa?" dengus Errin.
"Aku menubruk Kak Kelvin"
"KELVIN EVVANO?" Jerit mereka histeris.
"Aku menyesal sudah bercerita" gerutuku.
"Lalu?" tanya Aiko.
"Aku sengaja disandung" bisikku.
"Bisakah kita ke perpustakaan saja? aku akan menceritakan semuanya" ajakku.
Aku dan kedua temannku langsung pergi menuju perpustakaan.Kami berpapasan dengan Mrs.Jane yang memarahiku waktu itu.
"Mau kemana kalian?" tanya Mrs.Jane.
"Mau ke perpustakaan Miss" jawab Aiko.
"Oh"
Mrs.Jane mengangguk lalu pergi.Kami memasuki perpusataan yang sangat...sunyi? dan besar.Kami memilih tempat yang jauh dari petugas dan berada di pojokan.Aku memulai ceritaku.
__ADS_1
"Aku menuruni tangga dan tiba tiba ada yang menjegal kakiku.Aku menutup mata siap untuk jatuh.Tapi ternyata tubuhku bertumpu di Kak Kelvin.Anak yang kuketahui namanya Devi itu bergetar ketakutan.Dia tak pernah berhenti melirik ke tangga sebelah.Aku melihat ada Davina dan kau tau model yang jarang masuk kelas itu? Selena" aku menjeda ceritaku untuk mendengar jawaban dari mereka berdua.
"Oh si rambut merah? tau aku" ujar Aiko.
"Selena yang duduknya dipaling belakang itu?" tanya Errin.
"Iya" jawab Aiko.
"Aku rasa ada sesuatu diantara mereka bertiga" lanjutku.
"Maksudmu Kak Kelvin,Davina dan Selena?" tanya Errin.
"Bukan Kak Kelvin.Tapi Devi" koreksiku.
Kami disibukkan dengan pikiran masing masing.Sebenarnya ini bukan masalah besar bagiku tapi kalau sampai kabar ini terdengar di telinga Mr.Andri,aku yakin 100% aku kembali ke ruang sidang.
"Bagaimana kalau Davina dan Selena bekerja sama dan menyuruh Devi melakukan itu kepadamu?" tanya Errin.
"Itu tidak mungkin,kau tau sendiri kan Davina itu selalu menyelesaikan masalahnya sendiri? dia tidak suka ada campur tangan orang lain di masalahnya" protes Aiko.
Memang benar,selama ini Davina tidak pernah membawa orang lain saat menggangguku.Davina bahkan menatap ibunya tidak suka saat ibunya menyuruh dirinya mengalah saat di persidangan sekolah.Aku yakin Davina tidak sebodoh itu untuk mempercayai orang.
"Bukankah Selena dan Davina satu Agensi?" tanyaku.
"Ya mereka satu Agensi" jawab Errin mantap.
"Ai,Rin,apa kalain mendengar isu isu tentang mereka?" tanyaku lagi.
"Bukan rahasia umum lagi mereka bersaing.Dan kau harus melihat wajah penuh kemenangan Davina saat dirinya berhasil ditempatkan di kelas 01 sementara Selena di kelas 20" jelas Errin.
"Apa kau bercanda mereka bekerja sama?" tanya Aiko setengah tertawa.
"Kalau begitu bagaimana dengan Kak Kelvin? bisa saja kan dia yang menyuruh Devi menjegalmu supaya kau bersandar kepadanya? Anglasa akan kebakaran melihat hal itu" ujar Errin dramatis.
"Angkasa tidak akan kebakaran.Dia tidak akan peduli bahkan jika aku sudah berada diujung tebing" gerutuku.
"Bisa saja itu unsur ketidaksengajaan.Bisa saja Devi melirik tangga sebelah karena panik dan kebetulan ada Davina juga Selena" ujar Aiko lebih masuk akal.
"Bocah" panggil seseorang yang tidur dibangku belakang kami.Aku kenal suara ini.
"Kau bilang apa? aku sengaja masuk kedalam fantasi liarmu?" tanya Kak Kelvin sinis.Aku yakin dia disini untuk menumpang tidur bukan untuk belajar.
"Tidak,itu hanya inisiatifku saja" aku berkilah.
"Jaga bicaramu.Seharusnya aku tidak melewati tangga sialan itu dan akan lebih seru melihatmu jatu terjungkal disana" Setelah mengucapkan kalimat itu,Kak Kelvin pergi.
"JAHAT SEKALI KAU" Jeritku kesal.
"JANGAN BERISIK DI PERPUSTAKAAN" tegur penjaga perpus.
__ADS_1