Secepat 24 Jam

Secepat 24 Jam
32


__ADS_3

Angin berhembus lembut membelai rambutku.Hari ini cuacanya mendung tapi tak kunjung hujan.Sudah seminggu ini sejak kejadian aku dan Bella di kantin tempo hari,aku agak menjaga jarak dari Angkasa.Aku tidak menjauh dari Angkasa hanya saja aku tidak membiarkanku larut dalam pesona Angkasa.Pagi ini aku memilih duduk di kursi kursi yang ada di halaman sekolah.Hari ini aku datang terlalu pagi,mobil mobil beserta sepeda motor yang biasanya berjajaran kini belum menampakan wujudnya.Aku menggigit buah apel yang kutemukan dibawah pohon apel didekat gerbang sekolahan.Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 6.40 ketika sekolah mulai ramai.Aku mengamati beberapa mobil yang dipakai murid untuk sekolah atau yang dipakai untuk mengantar murid sekolah.


Suara klakson menggema,aku menarik kedua ujung bibirku.Siapa lagi yang bernai mengklakson tidak sabaran selain Tuan Muda Elvarett.Aku segera berdiri,ada hal yang ingin kutanyakan kepadanya.Pandanganku agak terganggu dengan banyak perempuan yang mengelilingi mobilnya.Sosok tinggi dan gagah keluar dari mobilnya.Angkasa menyibakkan rambutnya dan memicingkan matanya keatas menatap langit pucat.Astaga apa Angkasa bisa setampan itu? aku rasa otakku mulai gila.


"ANGKASA" seru ku berlari ke arahnya.Baru beberapa langkah aku sudah keduluan oleh Bella.


"Pagi" sapa Bella berseri seri.


"Jangan menyentuhku" ujar Angkasa penuh peringatan.


"Apa kau sudah sarapan? aku membawakan sandwich kesukaanmu" Bella sibuk mengobok obok tasnya sementara Angkasa mendekatiku.


"Kau baru datang?" tanya Angkasa dengan tangan yang membelai rambutku.


"Apa yang..." kata kataku terpotong oleh suara jahil Angkasa.


"Aku hanya mengambil ini" Angkasa memperlihatkan daun yang tersangkut di rambutku.


"Oh"


"Apa kau mengira aku membelai rambutmu seperti ini?" Angkasa mengelus rambutku membuat ratusan pasang mata membulat sempurna.


"Hentikan! kau bukan tipe ku" aku menepis pelan tangannya.Suaraku terdengar menyebalkan pastinya.


Angkasa melongo menatapku begitupun yang lainnya.Beberapa saat hening tercipta sebelum akhirnya suara tawa keras memecahkan semuanya.Aku menatap Arga yang berada beberapa meter dari kami.Dia tertawa puas sampai dia memegangi perutnya.Aku menatap Angkasa yang sedang menatap Arga kesal.


"Wajah tertawamu itu membuatku tersinggung" sindir Angkasa ketika Arga berhenti tertawa.


"Astaga akhirnya ada yang mengatakan ini kepadamu hahaha" tawa Arga pecah lagi.


"Lalu seperti apa tipemu?" tanya Angkasa tajam kearahku membuatku sedikit gugup.


"Baik,rendah hati,ramah,semua kata kata yang keluar dari bibirnya bisa membuat orang lain bahagia" jawabku agak ragu.


"Pria macam apa itu?" desis Angkasa.


"Pria yang tak akan kujumpai di dunia ini barangkali" jawabku.


"Kau sedang berada didunia nona,dan aku adalah pria yang sangat sempurna.Aku adalah paket lengkap dari seorang pria" Anglasa merentangkan tangannya dengan bangga.


"A...Apa ini?" tanyaku ke Arga yang juga syok dengan tindakan Angkasa.


"Bagaimana bisa kau memuji dirimu sendiri dengan begitu lancar?" tanyaku tak percaya.


"Sudah kukatakan.Aku adalah paket lengkap dari seorang pria.Aku bisa melakukan sesuatu yang mustahil dilakukan" jawab Angkasa mantap lalu berjalan menuju pintu utama.


"Hah? paket lengkap? kenapa dia bertindak seolah olah dia lah pusat dunia" cibirku.


"SAAAA" teriakku lagi ketika ingat tujuan awalku menungguinya.


Angkasa pura pura tidak mendnegarku dan semakin menegapkan tubuhnya berjalan dengan sok menuju kelasnya.Aku terpaksa berlari mengikuti kaki panjangnya.Tangannya berhasil kuraih ketika sampai didekat patung kuda terbang yabg berada diujung tangga.

__ADS_1


"Kau membuatku kesulitan" aku terengah.


"Ada apa?" tanyanya datar.


"Aku ingin tau kabar Bunda"


"Oh dia baik baik saja"


"Syukurlah..aku merindukannya"


"Pulang sekolah ikut denganku" ujar Angkasa seenaknya.


"Aku bekerja"


"Bolos saja" Angkasa menjentikan jarinya kaki menjauh.


"ITU TIDAK BOLEH" teriakku kesal.


"Aku akan mengatakan langsung ke Zoenoel"


"APA KAU MAU AKU MATI?"


***


Angkasa sedang mengutak atik ponselku ketika kita berada dibawah pohon dihalaman sekolahan.Hari ini tidak ada pelajaran sampai beberapa hari kedepan karena guru guru sibuk menyiapkan ujian semesteran.


"Kau pria tua menyebalkan itu?" kata Angkasa tiba tiba.Aku membelalakan mata ketika dia benar benar menghubungi Kak Zen.


"Tidak punya sopan santun.Aku tidak setua itu bocah tengik" maki Kak Zen di seberang telepon.


"Kenapa mendadak sekali? tidak bisa! dia bekerja bukan untuk main main" teriak Kak Zen kesal.Saat ini aku tengah menempelkan telingaku ke ponsel yang berada ditelinga Angkasa.


"Siapa peduli? dia akan mengunjungi Bundaku,Nona Besar Diany Elvarett dan kau jangan menghalanginya"


"Aku yang memiliki caffe itu dan dia karyawatiku jadi terserah kepadaku"


"Sayangnya karyawatimu sedang bersamaku.Baiklah selamat tinggal"


Angkasa mematikan ponselnya dengan raut wajah puas.Aku masih setia menaruh kepalaku di pundak Angkasa.Angkasa menoleh dan wajah kami sangat dekat.Aku menelan salivaku ketika menatap sepasang mata indah Angkasa.Kini aku tau apa yang dikagumkan gadis gadis itu.Alis tegas dan rapi,bulu mata panjang,mata tajam,hidung mancung dan runcing,bibir tipis.Aku menatap bibirnya mengingat rasa dari bibir itu.Aku kembali menelan salivaku.Wajah kami kembali berdekatan dengan sendirinya.Angkasa sudah memiringkan wajahnya lalu menyeringai.Tunggu! apa? menyeringai?


"Jangan disini" bisik Angkasa.


Aku segera mendorong wajahnya menjauh dariku.Kulihat dia tertawa,dia menertawaiku habis habisan.Aku segera menutupi wajahku yang kelewat panas lalu berlari meninggalkannya.Saat sampai di dekat tangga,tanganku ditarik kasar seseorang dna dibawa menuju toilet.


"APA KAU TIDAK MENGERTI BAHASA MANUSIA?" teriak Bella marah.


"Aku tidak yakin dia ini manusia" cibir Davina yang diangguki oleh Selena.


"Apa yang kau maksud?" tanyaku bingung.


"Benar kan dia tidak paham bahasa manusia" Selena menyeringai.

__ADS_1


"Aku menyuruhmu menjauh dari Angkasa! kenapa kau begitu tak tau malu mendekatinya HA?"


"Kenapa aku harus menjauh? aku sudah berusaha menjaga jarak darinya"


"Jangan dengarkan dia" Davina membisikkan itu di telinga Bella.


"Aku melihat sendiri kau menggoda Angkasa dan kalian hampir saja berciuman" Bella memukul kepalaku.


"Iya! kau menggodanya" dukung Selena.


"Berarti aku gadis yang teramat cantik sampai sampai kalian cemburu dan berburuk sangka kepadaku"


Bella dan yang lainnya tertawa.Bella menarik rambutku menuju ke westafel yang ada cerminnya.Dia mendorongku ke dekat cermin.


"Kau harus berkaca! apa yang menarik dari dirimu?" mereka tertawa ria.


"Aku memang tak secantik kalian tapi setidaknya aku tidak pernah memaksakan seseorang untuk jatuh cinta kepadaku" aku tersenyum.


"Kalian hanya mengejar kedudukan Angkasa bukan?" tanyaku sinis.


"Dasar ******" Davina menamparku.


"Apa kau takut kepada Arabella? kau takut kepada orangnya atau kedudukannya?" tanyaku ke Davina.


"Berhenti berbicara omong kosong" bentak Davina.


Davina dan Selena menarikku keluar dari kamar mandi.Sesampainya diluar aku terkejut karena banyak orang yang berada disini sedang melihat penindasan ini.


"Tanya kepada mereka apa dia pernah menggoda Angkasa!" seru Selena.


Aku menatap mereka tapi mereka menggeleng.Kenapa harus takut mengungkapkan kejujuran? ini benar benar memalukan!


"Kenapa kalian menutupi kebenaran?" tanyaku parau.


"Mereka tidak menutupi apa apa Dinda" ujar Davina tertawa sinis.


"Lagi lagi tentang harta" gumanku tapi mereka masih bisa mendengarnya.


"Apa yang kalian agungkan dari Angkasa?" tanyaku kepada semua orang bukan hanya kepada Davina ataupun Bella.


"Angkasa hebat dan tampan" jawab semua orang.


"Apa kalian mengincar hartanya?" pancingku.


"Tentu saja tidak.Apa yang kau katakan?" tanya mereka lagi.


"Kak Dimas juga hebat dan tampan tapi kalian mencaci makinya.Apa kalian akan tetap mengagungkan Angkasa walau dia menjadi pria biasa tanpa menyandang marga Elvarett?"


Semua bungkam termasuk ketiga gadis yang membuat keributan ini.Aku tertawa sinis dan menatap mereka satu per satu.


"Aku memang orang miskin tapi tak pernah sedikitpun terlintas di benakku untuk melirik harta Angkasa.Aku membencinya,dia menyebalkan sampai aku ingin membunuhnya,aku selalu ingin menindasnya jika dia mulai bersikap arogan dan angkuh tapi aku juga menyimpan rasa kagum kepadanya.Aku kagum karena kini dia bisa menjadi diri yang lebih baik.Aku kagum dengan egonya yang bisa tersurut dalam waktu yang singkat.Angkasa bilang kepadaku bahwa dia paket lengkap dari seorang laki laki dan aku mengakui kebenaran itu" jelasku panjang lebar.Aku menarik nafas lalu melanjutkan celotehanku yang mungkin kalian anggap berlebihan.

__ADS_1


"Dan aku bersyukur Angkasa tidak terjerat ke dalam sebuah lingkaran yang membatasinya untuk bergerak.Aku bersyukur Angkasa tidak menjadi salah satu dari kalian.Aku bersyukur Angkasa tumbuh dalam didikan orang tuanya yang sangat bersahaja"


"OH SAYANG"


__ADS_2