
Suasana caffe begitu hangat sore ini.Banyak muda mudi datang untuk berbagi cerita dengan yang lainnya.Tak sedikit orang dewasa datang menikmati kopi untuk melepas penat.Akhir akhir ini caffe dikunjungi banyak orang bahkan Pak Han berinisiatif untuk memperluas caffe agar bisa menampung banyak pengunjung.Diantara banyak orang disana,laki laki yang duduk di dekat jendela dan pot besar tengah melambaikan tangannya kearahku dengan senyuman cerahnya yang mengalahkan cakrawala senja.Aku menghampiri pelanggan tersebut dengan senyuman ramahku seperti biasa.
"Caramel Machiatto?" tebakku.
"Sudah hafal saja kau" dia tertawa.
"Itu yang selalu kau pesan,tidak pernah berubah"
"Ya,caramel maciato dan juga latte machiato" ralatnya.
"Apa dia datang?" tanyaku kesal.
"Sebentar lagi,kau tidak boleh pilih pilih pelanggan" guraunya.
Aku tertawa lalu menuju meja dan memberikannya ke Kak Rakha.Kak Rakha menatapku penuh selidik lalu tersenyum mengerikan.Lonceng caffe dibuka dan itu dia berdiri di ambang pintu mencibirku lalu berjalan ke meja Arga.Angkasa membuka laptopnya dan menonton anime.Dasar laki laki,apa mereka tidak memiliki ketertarikan kepada drakor dan sinetron?
"Berkat temanmu,caffe ini jadi laris manis" bisik Kak Rakha.
"Maksudnya?" tanyaku bingung.
"Jika putra konglomerat sering singgah disini,citra caffe kita naik pesat.Banyak orang orang kaya datang dan minuman yang mereka pesan bukan main harganya" jelas Kak Rakha.
"Aku harus berterimakasih kepadanya"
"Ide bagus" cetus Kak Rakha dengan menjentikan jarinya.
"Jangan sampai si Latte Machiato tau hal ini" kataku kepada Kak Rakha.
"Siapa Latte Maciato?" tanya Kak Rakha bingung.
Aku menyeringai ke arah Angkasa yang berkutat dengan laptopnya.Kami meneruskan pekerjaan kami hingga waktunya tutup.Arga dan Angkasa telah pergi 30 menit sebelum caffe tutup.Lumayan lama mereka disini.Aku membereskan caffe lalu ikut kebelakang bersama yang lainnya untuk makan makan.Setelah selesai makan kami semua bergegas pulang.Kak Sinta mencekal tanganku ketika aku hendak melangkah pergi.
"Ada apa Kak?" tanyaku bingung.
"Besok lusa Renna minta ganti shift,lusa kamu libur kan? apa kamu bisa menggantikannya sehari saja?" tanya Kak Sinta.
"Ummmmm..." aku tampak berfikir lebih dulu.
"Oke" aku lupa bahwa kegiatanku di hari libur hanya rebahan di kost hehe.
"Lusa datang jam 8 pagi ya"
"SIP" Teriakku seraya mengacungkan jempol lalu berjalan pulang.
Aku menendangi batu batu yang menghalangi jalanku.Malam ini tidak terlalu dingin dan juga tidak terlalu ramai padahal biasanya jam segini banyak anak anak muda nongkrong di taman.Aku menendang batu berukuran sedang dan batu itu melayang ke semak semak.Setelah batu itu hilang disemak semak,aku mendengar suara orang mengaduh.Aku menyibak semak semak dan menemukan Angkasa tengah duduk beralaskan batu dengan beberapa kaleng makanan kucing.Dia juga memakai pakaian aneh.
"Apa yang sedang kau lakukan disitu?" tanyaku bingung.
"Kau pelakunya?" tanya Angkasa dengan mengangkat sebuah batu berukuran sedang.
"Itu....iya" lirihku.
__ADS_1
"Sialan,kamu bisa merusak wajahku yang sempurna tau"
Aku berdecih lalu melihat beberapa anak kucing dan induknya sedang emnikmati makanannya.
"Huuuu kamu juga punya hati rupanya" ejekku.
"Diam kau" ketusnya.
Aku mendengus lalu mengelus beberapa dari mereka.Mataku melirik ke arah dahi Angkasa yang lecet dan mengeluarkan darah.Aku ingin kabur sebelum Angkasa menyadari hal itu tapi aku masih mau bertanggung jawab.
"Hei,lukamu..biar kubantu mengobati" ujarku takut takut.
"Apa?...HEEEIIII" Teriaknya ketika menyentuh dahinya yang berdarah.
Aku menutup telinga dan menatapnya takut setengah menyesal.Lagi lagi aku berurusan dengan Angkasa.Dia mengoceh tentang wajahnya yang terluka dan aku hanya duduk dalam diam mendengarkan ocehan panjangnya.Aku mengecek tasku,biasanya aku membawa P3K karena aku ceroboh dan sering terluka di tempat kerja.Benar saja,aku membawa kotak itu.Angkasa menatapku bingung.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya penasaran.
"Mengobati lukamu apa lagi" jawabku jengah.
"Tidak usah,kau pasti tidak mengetahui dunia medis dan akan mengobatiku asal asalan.Lukaku bisa infeksi dan bagaimana kalau nanti aku dioperasi karena kebodohanmu?" omelnya
"Biasakah kau diam dan membiarkanku bertanggung jawab? luka yang seperti ini aku sering mengalami"
Aku membuka kotak itu dan mengeluarkan kapas serta penjepit.Perlu waktu yang lama untuk membuat Angkasa diam dan menurut.Dia pemberontak yang kejam,orang tuanya paati kewalahan menghadapi anak seperti dia.Setelah membersihkan lukanya,aku meneteskan betadine ke kapas dan menempelkan didahinya lalu dibalut dengan hansplast.Selesai sudah.
"Selesai" bisikku.
"WOE" Teriak orang itu.Refleks aku terlonjak.Aku bangkit dari badan Angkasa dan berdiri di diantara semak semak taman kota.
"Wah wah lihat siapa ini" ujar Gina dengan nada mencemooh.Gina adalah teman yang menusukku dari belakang.
"Kenapa kau disemak semak bersama seorang laki laki?" tanya Verry mantan pacarku yang diserobot oleh Gina.
"Bukan urusanmu" ketusku.
"Kudengar kau masuk SMA Na Elvarett.Berapa biaya yang kau keluarkan? Berapa harga satu malam?" tanya Verry merendahkanku.
"HEI JAGA BICARAMU" Bentakku.
"Yang dikatakan Verry ada benarnya Din,mungkin saja kau menjadi ****** untuk mendapatkan uang haha" ejek Gina.
"Mulutmu itu sangat tajam,sama saja.Kalian pasangan yang cocok" balasku dengan tenang.
"Apa kau merasa bangga hanya karena bisa masuk ke Na Elvarett dengan pekerjaan kotormu?" tanya Verry.
"Apa yang kau ketahui tentangku?" tanyaku menantang.
"Kau tidak tau malu" ketus Gina.
"Lalu bagaimana denganmu yang mengambil milikku? Kau memakai barang bekasku Gina.Menyedihkan"
__ADS_1
Plak
Verry menamparku.Perih,itulah yang kurasakan saat ini.Aku menatap Verry nanar lalu melayangkan tanganku bersiap untu membalas perbuatannya.Tapi Verry telah ditonjok oleh seseorang.Aku menoleh pelakunya,Angkasa.Dia menatap datar Verry yang berusaha berdiri.
"APA MASALAHMU?" Bentak Verry.
"Dia milikku,jangan merendahkannya.Harga diri kalian hanya setinggi tanah kenapa berani sekali merendahkan orang lain" Angkasa tersenyum separo membuatnya tampak kejam.
"Jadi kau sudah punya pacar?" tanya Verry tidak percaya.
"Kau...(Angkasa mengelus rambutku tapi dia mengrenyit) kotor tapi c..cantik" ujar Angkasa seperti ditahan agar tidak keluar dari mulutnya.
"Ya..Kau kotor tapi kau cantik" lanjutnya.
"Apa kalian satu sekolah?" tanya Gina.
"Ya" jawabku jujur.
"Hei kau,aku yakin dia hanya memanfaatkan hartamu" Gina menghasut Angkasa.
Aku memutar bola mataku jengah.Yang seperti ini banyak dijumpai di film film.Dar teman menjadi musuh.Sangat dramatis.
"Sebaiknya kau menjauh dari dia" bisik Gina ke Angkasa.
"Kau meragukan seleraku?" tanya Angkasa galak.
"Bukan begitu,aku hanya kasihan kepadamu.Kau tau restoran itu?" Gina menunjuk restoran di pinggir jalan.
"Itu milik keluargaku" lanjutnya.
"Lalu?" tanya Angkasa datar.
"Aku orang berada jadi kau bisa percaya kepadaku" jawab Gina.Apa hubungannya antara status sosialnya dengan ini semua? Aku bingung.
"Lahan itu sampai....ujung sana,gedung gedung itu semua milik keluargaku termasuk lahan restoranmu yang hanya mengontrak" ujar Angkasa angkuh.
Mataku hampir keluar saat Angkasa dengan mudahnya menunjuk beberapa bangunan dan mengklaim bahwa itu miliknya.Gina menganga lebar sementara Verry menahan tawanya.
"Jangan bercanda" ujar Verry.
"Menurutmu aku sedang bercanda?"
"Kau pikir kau siapa?"
"Angkasa Elvarett" jawab Angkasa dengan mantap lalu menggandengku.
Aku dimasukkan paksa ke dalam mobil Angkasa yang atapnya dibuka.Angkasa masuk ke dalam mobil lalu menoleh ke arah mereka.
"Dan soal malam ini lupakan saja,jangan ada yang tau hubunganku dengan dia atau kalian akan tamat" ancam Angkasa.
Aku melihat raut ketakutan dari Gina dan Verry.Angkasa melajukan mobilnya.Samar samar aku mendengar Gina menjerit kencang.
__ADS_1
"BAGAIMANA KAU BISA MENDAPATKAN DIA DINDA"