
"Jangan berfikiran aneh aneh,Arga ity memang dasarnya orang baik dan dia baik ke semua orang.Sementara laki laki ******** itu aku tidak tertarik kepadanya.Kau tau,di hari pertama sekolah aku menolong orang yang sedang ditindasnya dan sejak hari itu dia terus mencari masalah denganku.Dia terus mengancam akan menendangku dari Na Elvarett" jelasku panjang lebar.
"Sudah diancam seperti itu kenapa kamu tetap melawannya?" tanya Kak Rakha dengan mata yang mendelik ke arahku.
"Kenapa aku harus takut kalau nyawaku sudah diujung tanduk? aku akan melakukan yang seharusnya kulakukan.Orang orang sepertu dia jika dibiarkan akan melunjak" jawabku.
Tapi tunggu dulu,darimana Kak Rakha tau aku melawan Angkasa?
"Kakak tau dari mana?" tanyaku curiga.
"Gadis bodoh,kau menjadi perbincangan hangat di forum sekolah.Aku yakin kamu tidak lupa kalau aku masih alumni Na Elvarett"
"Benarkah? kenapa tidak ada yang memberitahuku sebelumnya?" tanyaku pada diriku sendiri.
"Apa kau tidak punya ponsel?" sindir Kak Rakha geram.
"Aku jarang membuka ponsel.Nanti akan kulihat"
"Terserah yang penting ayo bereskan ini semua dulu.Sudah waktunya tutup,nanti Sinta ngamuk lagi" bisik Kak Rakha.
Kami tertawa kecil lalu merapikan bangku bangku caffe.Kak Sinta itu lebih menyeramkan dari Pak Bos.Telat 5 menit saja bisa dikuliti habis habisan.Untung saja barista yang satu shift dengan kami adalah Kak Rakha.Kalau sampai Kak Zen,bisa bisa aku pulang tinggal tulang belulang.Dia lebih garang dari Kak Sinta dan akan menjadi 2x libat lebih garang ketika ada pelanggan genit yang menghodanya atau meminta nomor teleponnya.Kak Zen tidak marah ke pelanggan,sebagai gantinya Kak Zen marah ke teman teman yang lainnya seperti mengkritik perabotan yang belum bersih padahal benda itu sudah mengkilap dannsangat licin.Jadi intinya,jangan sampai membuat Kak Zen dan Kak Sinta marah.
Aku beejalan pulang setelah caffe ditutup.Aky berhenti di sebuah jembatan panjang yang ramai oleh kendaraan.Aku menatap lurus ke arah sungai yang mengalir.Sungai ini menjadi tempat nafas terakhir orangtuanya.Aku masih ingat jelas bagaimana kecelakaan itu.
Saat itu,umurku baru 10 tahun.Aku dan ibu menjemput ayah di stasiun naik taxi.Aku senang bisa melihat ayah lagi setelah 6 bulan dia bekerja du luar pulau menjadi tukang bangunan.Di perjalanan pulang,taxi yang kami tumpangi ditabrak dari belakang dan akhirnya kami beserta truk itu jatuh ke sungai.Kasus itu menjadi besar dan banyak konspirasi konspirasi bermunculan.Ada yang mengatakan ini adalah rencana bunuh diri dari sopir truk yang sayangnya ikut menarik kami kedalamnya.Ada yang mengatakan ini ada hubungannya dengan pembunuhan berencana.Teori yang satu ini akhirnya terbukti.
Polisi berhasil menemukan pelakunya.Setelah diintrogasi dan diselidiki lebih lanjut,polisi menangkap bahwa ayahku lah targetnya.Pelaku itu merupakan anggota geng mafia Barclays.Truk itu sengaja ditembak ban depannya sehingga truk oleng dan akhirnya mencelakai kami.Polisi tidak bisa melacak keberadaan mafia itu dan kasus ini ditutup dengan tewasnya pelaku karena mencoba kabur dab tertabrak kereta.
Uang asuransi jiwa kedua orangtuaku jatuh kepadaku san karena aku masih kecil,aku dititipkan di rumah nenek satu satunya keluargaku yang tersisa.Nenek menyekolahkanku dengan uang asuransi yang jumlahnya tidak sedikit.Sampai pada usiaku yang ke 13,nenek meninggal dunua.Rumah kami hangus terbakar.Aku ditampung di pa ti asuhan karena tidak lagi memiliki sanak saudara.Ibu dan ayahku anak tunggal.Aku memutuskan keluar dari panti di usia 14 tahun dan menggunakan sisa uang asuransi dari nenek untuk sekolah serta menyewa kamar kost yang kutempati hingga sampai saat ini.
Setelah lulus SMP aku mendapat pekerjaan paruh waktu di caffe itu.Begitulah kilasan kelam masa laluku.Aku susah merelakan kepergian mereka.Aku menghembuskan nafas lalu melempar 5 tangkai bunga mawar putih untuk mengenang jasa kedua orangtuaku dan juga sebagai permintaan maaf untuk 3 orang korban lainnya.Aku berjalan meninggalkan jembatan.Sesampainya di sebuah gang kecil ysng ditumbuhi semak belukar,ada sesuatu yang bergerak gerak di semak itu.Sebenarnya aku terlalu lelah untuk ikut campur tapi aku juga penasaran.Aku menyibak semak semak itu dan seseorang didalambya berteriak marah.
"HOE JANGAN DIBUKA *****" teriak Angkasa.
__ADS_1
"Kenapa kau disitu?" tanyaku bingung.
"Kenapa kenapa,semua ini gara gara kamu.Kalau kami tidak menyebut Elvarett,mereka tidak akan mengejarku.Dasar sekelompok serangga tidak berguna" cibir Angkasa kesal.
"Kenapa tidak pulang?"
"Bagaimana bisa pulang kalau si bodoh itu meninggalkanku"
"Kami semua punya nama" tegasku.Ada apa dengan laki laki ini? semua dipanggil bodoh,idiot dan sejenisnya.
Angkasa berdecih lalu masuk ke mobil Ferrari biru tua.Kaca jendela diturunkan lalu terlihatlah seseorang yang disebut bodoh oleh Angkasa.Arga melambaikan tabgannya lalu melajukan mobilnya.Aku balas melambai lalu pulang.
***
Kelakuan Angkasa semakin hari semakin menjadi.Dia tidak segan segan mendorongku sampai terjatuh atau melukai fisikku.Aku yakin peelakuannya ini sebagai bentuk balas dendam karena dia kesal aoal beberapa hari yang lalu di caffe.Hei ayolah ini bukan salahku sepenuhnya.Kalau dia tidak mengajukan protes karena aku tidak mengucapkan kalimat itu kepadanya,kejadiannya tidak akan seperti ini.
Kalau bukan karena beasiswa,aku sudah meninggalkan sekolah ini dulu sekali.Tapi aku selalu teringat ucapan Kak Rakha :
"Kalau kamu keluar dari sekolah,kamu mau jadi apa? apa kamu mau menghabiskan waktumu di caffe ini seumur hidup sebagai pelayan?"
"IDIOT" seru Angkasa menggema di kantin.
Aku yang baru saja duduk pura pura tidak tau.Semua orang disekolah ini sudah tau bahwa idiot adalah nama yanh diberikan Angkasa untukku.Errin menendang kakiku.Dia mengatakan kalimat tanpa suara kamu-pergi-saja-jangan-membuatnya-marah.
"Memangnya siapa dia aku harus tunduk patuh kepadanya" ejekku.
"Lakukan saja apa yang dia minta daripada kau mendapat masalah" bisik Rio.
"HEI IDIOT KEMARI KERJAKAN TUGASKU" Seru Angkasa.Aku geram mendengar permintaanya seolah aku ini budaknya.
"AAAAH TUTUP MULUTMU"
Suasana di kantin yang tadinya riuh menjadi hening bahkan tidak ada suara dentingan sendok dan garpu yang beradu.Aku membelalak dan langsung duduk sampai menimbulkan suara decitan di kursiku.
__ADS_1
"Dasar bodoh" bisik Errin.
"Kelepasan" bisikku.
"Hei,kau bilang apa?" tanya Angkasa tajam dengan berjalan kearahku.
Aku menundukan kepala tapi tatapanku tertuju kepada Errin.Aku melirik ke teman teman kelasku yang duduk dibangku yang sama denganku.Mereka sama diamnya denganku.Benar benar bodoh,padahal aku sudah berjanji untuk sabar dan mengalah.
"Ikut denganku"
Angkasa menyeretku habis habisan.Tubuhku dibanting di tembok.Kedua tangannya berada di sisi kepalaku dan wajahnya hanya beberapa senti dari wajahku.Nafasnya menyapu wajahku.Aku gemetaran,apa yang akan dia lakukan ditempat seramai ini?
"Kenapa kau selalu menyulitkanku?" tanya Angkasa tajam.
"S..si..siapa menyulitkan siapa?" tanyaku dengan berani tapi tetap saja gugup.
"Kenapa kau selalu mencari perhatian ke aku? apa kau kurang perhatian HAA?" Bentak Angkasa diwajahku.
"A..aa..aku..aku tidak pernah mencari perhatian darimu"
"Kalau kau tidak mencari perhatian kenapa tidak melakukan apa yang kuperintah?"
"Apa ada alasan aku mematuhimu?" aku kembali menemukan keberanianku.
"Wah tidak bisa dipercaya kau mengatakan itu didepanku" Angkasa melepaskan tangannya dari sisi kepalaku membuat diriku bisa bernafas.
"Disini kau belajar di sekolah keluargaku dan mendapat dana pendidikan dari keluargaku" Angkasa menarik nafas.
"Bisa bisanya kau berkata seperti itu didepanku"
Angkasa kembali mengunci kepalaku.Dia menatapku dengan kepala miring dan wajah yang menyeramkan.Aku menutup mata,aku mendengar dia terkekeh pelan.Aku merasakan hembusan nafas Angkasa tepat didepan hidungku.Kami bernafas dalam oksigen yang sama.Aku tidak mau membuka mata untuk melihat seberapa dekatnya jarak kami.
"Jika kau mencari gara gara denganku,habis riwayatmu" ancamnya lalu pergi dari hadapanku.
__ADS_1
Aku membuka mata dan melihat punggungnya yang sudah jauh dariku.Tubuhku merosot ke lantai,aku kehabisan nafas dan jantungku berdebar kencang.Kenapa tidak ada yang menolongku sama sekali? kalian ini jumlahnya banyak sementara dia sendirian.