Secepat 24 Jam

Secepat 24 Jam
29


__ADS_3

Sepulang sekolah aku dan Angkasa mengunjungi sebuah tempat yang menurutku agak aneh.Untuk apa coba Angkasa membawaku ke tempat yang hanya ada batu batu kerikilnya dan sebuah pohon besar.Menurutku tempat ini agak seram.


"Apa apaan ini?" tanyaku tidak senang.


"Ini tempat favoritku yang lain"


"Hah?"


"Memang tidak sebagus gedung yang malam itu..." Angkasa menjeda kalimatnya.Aku menerka dia mengingat tentang ciuman kami.Huh memalukan.


"Ekheemm..Memang tidak sebagus gedung itu tapi disini sepi dan sejuk.Aku selalu menyukai tempat sepi" ralat Angkasa.


"Kenapa?" tanyaku.


"Masih saja bertanya.Tentu saja hanya disini aku menemukan kedamaian" jawab Angkasa kesal.


Aku duduk diakar akar pohon yang mencuat keluar.Angkasa juga duduk disampingku dan membuatku gugup.Sebenarnya aku takut,bukan karena takut hantu tapi takut kepada makhluk disebelahku ini.Disini hanya ada kami berdua.Dia laki laki yang sehat jadi apapun bisa terjadi sekarang.Astaga kenapa pikiranku menjorok kesana?


"Apa kau tidak takut hantu?" tanyaku untuk memecah keheningan.


"HANTU?" teriak Angkasa lalu tertawa terbahak bahak.


"Hahaha aku tidak takut seperti itu hahaha mereka hanya makhluk yang tidak menyenangkan hahaha aku jauh lebih sempurna dari mereka jadi aku yang harus ditakuti hahaha" ujar Angkasa dengan tertawa ria.


"Aissssh ternyata sifat angkuh mu juga berlaku untuk hantu" sindirku.


"Apa kau takut dengan bangsa mereka?" tanya Angkasa mulai serius dan tidak ada tanda tanda dia akan tertawa.


"Tidak.Kau lebih menyeramkan daripada mereka" jawabku jujur.


Tiba tiba saja Angkasa mendekatkan wajahnya ke wajahku.Refleks aku mundur menjauh dari wajahnya hingga kepalaku membentur batang pohon.Angkasa masih mendekatkan wajahnya ke arahku lalu memiringkan kepalanya.Ada apa dengan tubuhku? kenapa aku menutup mata.Aku menunggu bibirnya menempel di bibirku tapi tak ada tanda tanda seperti itu.Sebagai gantinya sebuah bisikan menyebalkan menyapa telingaku.


"Kau pikir aku mau apa nona?"

__ADS_1


Aku membuka mataku lebar lebat dan mendorong wajahnya sampai dia terhuyung kebelakang.Angkasa tertawa terbahak bahak sementara aku menutupi wajahku dengan telapak tangan.Aku tidak bisa membayangkan semerah apa wajahku saat ini.Aku masih mendengar Angkasa tertawa bahkan dia sudah berguling guling diatas bebatuan.Apa tubuhnya tidak sakit?


"SUDAHLAH" jeritku kesal.


"Wow kau ini kecil tapi pikiranmu sungguh sangat dewasa" Angkasa menekankan nadanya di akhir kalimat.


"Omong kosong! aku tidak pernah memikirkan hal menjijikan seperti itu dasar otak mesum!" makiku kesal.


"Aku tidak pernah menyebutkan tentang itu Dinda" ujar Angkasa tersenyum licik.Jantungku berdebar ketika dia menyebut namaku.


"Kau menjebakku" aku mendelik ke arahnya.


Angkasa terus saja membuatku kesal tapi menyenangkan juga melihat dia tertawa seperti itu.Rasanya aku mengenal Angkasa dari sisi baiknya.Masih ada 20 menit untukku mencapai caffe sebelum ganti shift.Jika Angkasa tidak bertanggung jawab mengantarku kesana,mungkin saat ini aku masih berjalan ditengah hutan itu dan hanya ditemani pepohonan.Aku turun dari mobil Angkasa yang tadi sempat kebut kebutan karena aku tidak mau memasang sabuk pengaman.Meskipun mobil ini sangat mewah tetap saja mrmbuatku mual.Bagaimana tidak? dia menginjak pedal gasnya dengan keras lalu mobil ini berdecit dan berjalan dengan liar.Untung saja saat itu kami di jalanan sepi.Kalau di tengah kota aku berani bertaruh mobil merah ini sudah diderek oleh polisi.


"Kau sangat gila" makiku ketika hampir mencapai pintu caffe.


Angkasa menghembuskan nafas kasar setengah ingin mendampratku karena mengatainya gila.Aku masuk ke dalam caffe,mengganti baju dan memulai pekerjaanku seperti biasa.Terlihat Angkasa duduk ditempat favoritnya melambaikan tangan kearahku.Aku sebagai pelayan di tempat ini pun menjalankan tugasnya.


"Sparkling Lemon" ujarnya dengan suara yang...sexy?


"Lakukan saja tugasmu" sentak Angkasa.


Aku langsung menutup note ku dan berjalan ke Kak Rakha.Angkasa masih saja memandangiku seolah olah dia bos yang menilai kinerja seorang karyawannya.Kak Rakha sibuk dengan mesin kopi hingga tak sempat untuk mengobrol denganku.Aku duduk termenung di kursi ya g biasanya dipakai Kak Rakha.


"Tolong potongkan strawberry dan juga markisa nya Din.Aku sangat sibuk" ujar Kak Rakha.


Dengan senang hati aku memotongi straberry yang jumlahnya tak sedikit.Sejujurnya aku agak tidak enak hati jika hanya berdiam diri menunggu pelanggan datang.Saat mengiris perhatianku tertuju kepada Angkasa lalu tanpa kusadari tanganku teriris.Tidak terlalu dalam tapi sangat perih.Aku segera menjauhkan tanganku agar darahnya tidak bercampur dengan strawberry.Kalian pasti mual mendengar hal ini.Akupun juga begitu hehe.


"Kak apa kau punya hansaplast? aku membutuhkannya" tanyaku ke Kak Rakha.


"WEEE...KENAPA DENGAN TANGANMU?" tanya Kak Rakha terkejut membuatku sedikit malu karena teriakannya.


Aku bekum sempat menjawab pertanyaan Kak Rakha tapi tanganku sudah ditarik duluan oleh seseorang.Angkasa memasukan jariku kedalam mulutnya.Rasa hangat menjalari jemariku yang tengah disesap Angkasa.

__ADS_1


"Ceroboh sekali" gerutu Angkasa.


"Kau tidak perlu seperti ini kihatlah semua menatap kita" bisikku.


"Lantas? kau harus terbiasa menjadi pusat perhatian karena kau akan selalu berada didekatku"


"Apa?"


***


Aku memasuki kelas begitu sampai di sekolah.Jariku dibalut oleh plaster kecil berwarna coklat yang diberi Angkasa kemarin.Aiko dan Errin sudah duduk ditempatnya masing masing tapi menghadap ke bangkuku dan mulai berbicara tentang hal hal yang tidak terlalu penting.Saat kami membicarakan anak yang bernama Dimas kelas XI-13 yang merupakan siswa beasiswa sepertiku,Aiko tersenyum malu malu.Hal itu tertangkap oleh mata Errin dan langsung membuat keributan.


"Ada apa antara kamu dan Kak Dimas?" tanya Errin dengan wajah yang sangat licik.


"A..aku...aku tidak ada hubungan apa apa Errin" jawab Aiko gugup.


"Lalu kenapa kau gugup?" tanya Errin datar dengan alis yang terangkat sebelah.


Kak Dimas adalah anak yang berasal dari keluarga kurang mampu.Memiliki rumah sederhana dan juga pekerja paruh waktu di sebuah minimarket.Kak Dimas memiliki paras yang teramat tampan nyaris sempurna.Jika boleh berpendapat,ketampanan Kak Dimas bisa menyaingi ketampanan Angkasa.Kak Dimas memiliki wajah Indo-China.Banyak yang bilang bahwa Kak Dimas adalah anak haram hasil hubungan gelap ibunya dengan majikannya di China.Aku tidak menghiraukan kata kasar yang dilontarkan anak anak ketika Kak Dimas lewat.Jujur saja banyak murid perempuan yang terlena dengan ketampanannya tapi mereka menutupi semua itu dengan cibiran dan kata kata kasar.


Jam istirahat tiba,aku teman temanku langsung menuju kantin tanpa melewati antrian panjang karena kami istirahat lebih awal.Kantin mulai ramai saat kami semua duduk di meja kami seperti biasa.


"Ai Kak Dimas tuh" goda Errin saat seorang laki laki duduk dibelakang Aiko.Wajah Aiko memerah.


"APA? AIKO MENYUKAI KAK DIMAS?" seru Rio dengan lantang benar benar menarik perhatian.


"HAHAHA DENGAR INI KAK DIMAS! ADA ANAK JEPANG YANG MENYUKAIMU HAHAHA" lanjutnya.Aiko menenggelamkan wajahnya karena malu.


"Rio" tegurku tapi dihiraukannya.


"Seleramu rendah sekali.Keluargamu kaya tapi sepertinya mereka kurang beruntung karena putrinya telah menyukai orang yang tidak berguna seperti rongsokan" cibir Selena.


"Tentu saja merela akan kecewa.Kuharap kau tidak ditendang dari rumah" ujar Davina.

__ADS_1


"Aku akan memberikan tumpangan gratis kepadamu tapi kau harus mengerjakan seluruh PR ku" ujar Bella sembari tertawa ria.


"TUTUP MULUTMU GADIS GADIS ANGKUH!" teriak Aiko membuat kami terkejut.Pasalnya,Aiko yang kami kenal adalah gadis yang ramah dan baik hati.


__ADS_2