
Saat pulang sekolah,anak anak kelasku mengerumuniku.Mereia menanyakan kenapa aku berani melawan Tuan Muda Elvarett.Aku menenggelamkan wajahku di bangku.
"Kenapa kau nekat sekali?"
"Dia bilang dia tidak akan melepaskanmu.Tamatlah riwayatmu"
"Lebih baik kamu pindah sekolah saja"
"Mulai sekarang kamu harus waspada"
"LALU AKU HARUS BAGAIMANA?" Teriakku frustasi.
"Kalau saja tadi kamu tidak melawannya pasti tidak seperti ini" kata Errin.
"Kenapa kamu tidak bilang dari awal kalu dia anak pemilik sekolah ini?" tuntutku.
"Kau tidak bertanya ingat?" protes Errin.
"Ah sudahlah,cepat atau lambat beasiswaku akan dicabut dan aku akan segera dikeluarkan dari sekolah ini" ujarku putus asa.
Aku pulang dengan kepala tertunduk.Aku tidak mau melihat orang orang yang menatapku dengan tatapan aneh.Aku keluar dari pintu utama dan mengamati bangunan sekolah ini secara menyeluruh.Ini hari pertamaku dan aku akan segera pergi.Aku berjalan menuju gerbang tanpa ada rasa semangat lagi berbanding terbalik saat pagi tadi semangatku berkobar.
Aku terlonjak ketika ada mobil Lamborghini merah tua yang menghadang jalanku.Dari informasi yang ku dapat tadi pagi,pemilik mobil ini adalah dia.Tamatlah riwayatku.
"Hei idiot" dia mencekal tanganku kuat kuat.Pura pura tidak tau adalah jalan yang terbaik.
"Ah...siapa ya?" tanyaku mengalihkan pandangan darinya.
"Rupanya kau sangat ingin amnesia,bagaimana kalau kubantu membenturkan kepalamu ke batu atau melindasnya dengan mobilku?"
"Haaaah Psikopat" aku menutup mulutku.
"Berhenti membicarakan omong kosong" bentaknya.
Tunggu dulu,untuk apa aku takut kepadanya? melawan atau tidak aku pasti tetap ditendang dari Na Elvarett.Aku tidak mau ditindas.
"MEMANGNYA KENAPA HAH?" Aku balas membentak.
Dia terlonjak kaget,aku ingin menertawainya kalau saja suasana tidak sedang serius.Aku sudah menghiraukan peringatan teman temanku yang artinya aku cari mati.Orang orang disekitar kami merekam kejadian ini.
"Kau membentakku?" Tanyanya dengan mata yang nyaris keluar.
"Menurutmu?"
"Tidak bisa dipercaya"
"Terserah.Aku tidak peduli kau anak pemilik sekolah atau bukan.Jangan harap aku takut padamu"
Aku menarik lenganku dari cengkramanya.Dia menatapku tajam,jantungku sudah berdebar tak karuan.Ini bukan berarti aku jatuh cinta kepada ******** ini.Aku sebenarnya takut kepada dia tapi aku juga membencinya.
"Kamu perempuan pertama yang melakukan ini kepadaku" serunya.Aku berbalik ke arahnya.
"Lalu kenapa? kau mau mengeluarkanku?" tantangku.Aku benar benar sudah gila.
"Tidak semudah itu"
Dia menyeringai lalu masuk ke mobilnya.Dia nyaris menabrakku dan aku mengumpat kepadanya.Aku berjalan menuju caffe yang cukup terkenal.Jangan berfikir aku nongkrong disini.Aku kemari untuk kerja paruh waktu.
__ADS_1
Aku membersihkan diri terlebih dahulu lalu berganti baju pegawai disini.Di caffe ini memiliki 2 barista,Kak Zen dan Kak Rakha.Karena mereka lah caffe ini sukses besar.Aku mulai kerja disini sejak liburan kelulusan jadi aku sudah akrab debgan kakak kakak disini.Yang satu shift denganku adalah Kak Rakha dan 2 pelayan lainnya yaitu Kak Sinta dan Kak Nia.
"Hai Kak Rakha" sapaku.
"Yooo.Bagaimana sekolahmu?" tanyanya.
"Buruk" jawabku terkesan mengenaskan.
"Maksudnya?"
"Aku mendapat masalah besar"
"Kenapa? kau memecahkan koleksi patung seni disana?" tanyanya bergurau.Kak Rakha alumni SMA Na Elvarett.
"Lebih buruk"
"Kau menghancurkan pahatan Mr.Evan?"
"Aku menampar putra pemilik sekolah"
"Oh iya dia seumuranmu.Kenapa kau menamparnya? Apa dia mau menciummu" tanya Kak Rakha bergurau lagi.
"Hei kalian cepat bekerja,banyak pesanan ini" tegur Kak Sinta yang galak.
Aku menanyai satu per satu pesanan mereka dan menyerahkan ke akak Rakha.Memang itu tugasku,mencatat pesanan sementara yang mengantarkan Kak Nia dan yang memberesinya Kak Sinta.Lonceng pintu caffe berbunyi.Aku segeram mebghampiri pelanggan yang .... Ya Tuhan dia benar benar tampan.
"Caramel Machiato" pesannya.Aku segera mencatat dan memberikannya ke Kak Rakha.
Sesekali aku menoleh ke arah laki laki tadi yang kebetulan juga menatapku.Aku mengalihkan pandanganku ke sisi lain lalu menatapnya lagi dan dia masih menatapku.
Aku tertangkap basah.Aku berjalan menuju ke meja pemuda itu.Aku berdiri didepannya.
"Maaf saya tadi hanya menatap anda sebentar.Bukan ada maksud lain" Aku salah tingkah.Dia menatapku datar lalu tertawa cukup keras.
"Maaf?" tanyaku bingung.
"Kau ini kenapa? duduk dulu" Aku pun duduk.
"Maaf ada perlu apa anda memanggil saya?"
"Jangan formal.Kita satu sekolah dan juga satu angkatan" jawabnya.Aku membelalak.
"Benarkah?" tanyaku tak percaya.
""Ya,namaku Arga Dirgantara.Kamu Dinda kan?"
"Iya,kok tau?" tanyaku curiga.
"Semua orang juga tau" jawabnya diiringi tawa.Benar,sudah pasti namaku terpampang nyata didepan mata karena kejadian tadi.
"Kau apakan dia tadi?"
"Aku menamparnya"
"WOW"
"Hei aku tidak tahan dengan sikapnya.Dia menindas yang lebih lemah.Dia pikir dia siapa? Dia hanya bagian dari anggota keluarga Elvarett.Sekolahan itu,perusahaan itu,harta itu milik orang tuanya bukan miliknya.Menyebalkan" gerutuku.
__ADS_1
"Ya dia memang menyebalkan.Lain kali lempar dia dari lantai 6 hahaha"
"Kelihatannya kau akrab dengannya"
"Dia sahabatku sejak kecil" Akunya.Aku sempat terkejut tapi dengan cepat aku mengatasi keterkejutanku.
"Kamu sahabatnya?"
"Ya"
"DINDA" Seru Kak Sinta.Sebelum dia mengamuk aku bergegas kesana.
"Kau pekerja ingat? Jangan menghabiskan waktumu untuk mengobrol" gerutunya.
Setelah Kak Sinta pergi,Kak Rakha menertawaiku habis habisan.Aku memukul kepalanya dan kembali bekerja.
Hari sudah larut malam,kami membereskan caffe sebelum Tuan Han menutupnya.Aku pulang ke kos kosanku.Walau sangat kecil aku betah disini Tetangga tetanggaku merupakan anak SMA dan sebagian mahasiswi.Aku membersihkan diri lalu tidur.
***
Aku membulatkan nata ketika melihat rombongan siswi dihadapanku sedang menghalangi jalanku.Mereka semua menatapku sinis.
"Permisi aku mau lewat" ujarku dengan sopan karena diantaranya ada kakak kelasku.
Mereka mendorongku sampai aku terjatuh ke lantai.
"Kalian ini kenapa?" tanyaku kesal sambil berdiri.
"Jangan berbicara dengan nada seperti itu kepadaku" ujar orang yang barus datang.Mereka membuka jalan lebar lebar.
"Aku mendendengar kemarin kamu menampar Angkasa.Apa itu benar?" tanyanya ke arahku.
"Hah? siapa Angkasa?" tanyaku bingung.
"Aku"
Aku menoleh dan mendapati laki laki kejam itu berdiri menjulang dibelakangku.Oh jadi namanya Angkasa.
"Ada masalah dengan milikku?" tanyanya ke arah gadis yang baru saja menanyaiku.Tunggu dulu,milikku? yang artinya miliknya? aku menendang tulang keringnya.Dia mengaduh kesakitan.
"Sejak kapan aku menjadi milikmu?" protesku tidak terima.
"Jangan besar kepala.Kamu milikku sebagai pelayanku bukan sebagai gadisku" jelanya.
"Pelayanmu? mimpi kau"
Aku berjalan meninggalkan mereka tetapi seruan Angkasa membuatku memutar badan.Entah mengapa tubuhku patuh dengannya.
"HEI"
"Apa lagi?"
"Kau masih mau tinggal di sekolahan ini kan?"
"Ummm..Ya" lirihku.Sangat lirih.
"Kalau masih mau,jadilah pelayanku"
__ADS_1