Secepat 24 Jam

Secepat 24 Jam
16


__ADS_3

Aku berdiri dihadapan Angkasa saat jam istirahat kedua.Matahari sedang terik teriknya dan itu membuat mood Angkasa buruk dan dia menjadi sangat menyebalkan.


"Apa benar kau hampir terjatuh dari tangga?" tanyanya tajam.


"Itu tidak sengaja" jawabku.


"Siapa yang menjegal kakimu?" tanya Angkasa lagi.Aku tidak bisa lama lama menatap mata tajamnya.


"Angkasa aku tidak apa apa,kau jangan berlebihan" gerutuku.


"Saaaa" aku memohon kepada Anglasa kwtika kedua tangannya ditekan di tembok mengunci kedua sisi kepalaku.


"Katakan" desisnya.


Aku melihat kanan kiri yang sudah ramai orang.Bukan ramai mengantri makanan,melainkan ramai melihat aku dan Angkasa.Diantara ratusan orang,aku melihat Devi yang gemetaran.Aku kasihan melihat dia,Davina dan Selena berdiri dikedua sisi tubuhnya.


"Aku lupa" jawabku berbohong.


"Jangan berbohong"


"Aku tidak melihat wajahnya"


"Jangan berbohong"


"Aku..aku..aku tidak tau namanya"


"Jangan berbohong"


Bagaimana dia bisa tau kalau aku sedang berbohong.Aku berdecak kesal.Angkasa memalingkan wajahnya ke arah Devi yang tadinya gemetar semakin tak terkendali.


"Dia kan yang mencelakaimu" skakmat.


"Bukan,jangan sok tau.Aku bahkan tidak kenal dia" aku berdalih.


"Lalu kenapa matamu lari kesana kemari?" Angkasa tersenyum penuh kemenangan.Aku mengangkat alisku.Apa?


"Salah satu ciri orang yang berbohong adalah mata yang tidak fokus terhadap lawannya" tambahnya.


Angkasa melepas kunciannya dan berjalan menyeret Devi ke arahku.Sebelum itu aku sudah menangkap sebuah isyarat dari Selena untuk Devi dengan menaruh jari telunjuknya di bibirnya sendiri.Pasti ada sesuatu diantara mereka.


"Jelaskan apa maksudmu melakukan itu ke Dinda" perintah Angkasa yang tak terbantahkan.


"Ma..maaf..maaf..aku..aku..aku tidak sengaja" ujar Devi tergagap.Wajahnya nyaris membiru.


"Angkasa jangan menekannya" bentakku.


"Diam" serga Angkasa dengan nada dinginnya.


"Devi,bangun" aku membantu Devi berdiri.


"Apa ada seseorang dibelakangmu?" tanyaku sedikit melirik kearah Davina dan Selena.


"Tidak.Aku tidak sengaja melakukannya" lirihku.


"Katakan yang sebenarnya.Kau tak perlu takut,jika kau jujur dia tidak akan memarahimu" aku seperti mengajari kejujuran kepada anak kecil saja.


"Sungguh! Aku mohon maafkan aku"


"Dev,apa kau yakin tidak ada hubungannya dengan kedua model itu?" sindirku.


"JANGAN MELIBATKAN KAMI" teriak Selena.Kena kau!


"Bodoh" desis Davina.

__ADS_1


"Kenapa kalian tersindir? disini ada banyak siswa siswi yang menjadi model kenapa hanya kalian yang berteriak?" aku menyeringai.


"Kalian? maksudmu hanya dia ? aku tidak berteriak" Davina mendorong Selena kebelakang.


"SELENA! KAU!" raung Angkasa.


"Aku akan menendangmu dari sekolahan" tambahnya.


"Kenapa hanya aku? wanita ini juga terlibat" Selena menunjuk Davina.


"Jadi?" Angkasa menaikan sebelah alisnya.Keren.


"Dia mendatangiku dan mejanjikan sebuah kontrak kerja dengan perusahaan baju ternama" jelas Selena.


"Lalu?" tanya Angkasa datar.


"Dia ingin aku memaksa anak bernama Devi yang merupakan korban bully ku di masa SMP untuk mencelakai Dinda.." kalimat Selena terjeda oleh jeritan Davina.


"TUTUP MULUTMU"


"DIAM" bentak Angkasa.


"Dinda bisa saja patah tulang atau lumpuh permanen dan tak ada lagi yang menghalangi jalannya"


Angkasa melotot dan semua anak menutup mulutnya.Seorang model mau melakukan hal seperti itu demi laki laki? dimana kehormatannya?


"Kau dan juga kau jangan datang lagi ke sekolah" bentak Angkasa kepada mereka berdua.


"Angkasa,biarkan mereka disini.Lagipula aku tidak apa apa berkat Kak Kelvin.Jadi.." kalimatku terpotong oleh sentakan dari Angkasa.


"Kenapa dengan pecundang itu?" hardik Angkasa.


"Kalau tidak ada dia,aku sudah jatuh sekarang" lanjutku.


"Kau harus berterimakasih karena aku menyelamatkan gadismu bodoh" teriak seseorang dari belakang kerumunan.Kelvin.


"Kalian berdua,lupakan saja yang tadi.Dia memaafkanmu jadi lupakan saja.Arghhh kepalaku pening" Angkasa memijat pelipisnya dan berjalan keluar dari kantin.


"Meski kau memaafkanku,aku tidak peduli.Jauhi Angkasa" ujar Davina tidak tau diri lalu pergi dan sengaja menyenggol bahu Selena.


"Terimakasih.Aku tidak akan mengganggumu lagi" Selena menjabat tanganku lalu pergi.


Aku berjalan menuju meja kantin.Suasana kembali seperti biasa yang diselimuti gosip tentang aku dan Angkasa.Errin dan Aiko menatapku kagum.Apa yang mereka kagumkan?


"Kau keren teman" sorak Errin.


"Kalau aku jadi kamu,aku akan menendang anak itu dari sekolah.Ini kesempatan besar bung.Kapan lagi akan mendapat kesempatan seperti itu" ujar Aiko heboh.


"Sudahlah aku melupakan itu semua" leraiku.


"Davina terlalu cantik untuk menjadi penjahat" celetuk Dicky.Errin dan Aiko menatapnya tajam.


"Tidak biasanya Angkasa melepas seseorang semudah itu" ujar Rio sembari memakan ayam kecapnya.


"AH IYA JUGA" Teriak Errin dan Aiko bersamaan.


"Aishhh apa apaan kalian ini" gerutu anak anak kelas.


"Bisa saja dia jatuh hati kepadamu.Kalian menjadi dekat akhir akhir ini" ujar Rio ngawur.


"Kau tau,aku sangat ingin memukulmu dari dulu tapi kutahan dan sekarang aku tidak bisa menahannya"


Aku memukuli Rio dengan sendok yang belum kupakai.Dia mengaduh kesakitan.Kami tertawa bersama.

__ADS_1


***


Sepulang sekolah Arga menawariku tumpangan ke caffe.Aku mengiyakan saja karena pada dasarnya tidak boleh menolak rezeki hehe.


"Din" panggil Arga ketika aku akan turun dari mobilnya.


"Apa kau suka Angkasa?" tanyanya tiba tiba.


"Tentu saja tidak haha apa apaan kau ini" jawabku dalam mantap.


"Akhir akhir ini dia banyak berubah.Dan jika dia sudah memutuskan tidak ada yang bisa menganggu gugat keputusan itu.Tadi hanya kau memaafkan mereka,dia langsung berubah pikiran secepat itu" jelas Arga yang entah mengapa menjadi sendu.


"Aku juga tidak tau" aku mengedikkan bahu.


"Sebelum semuanya terlambat,aku ingin mengungkapkan sesuatu kepadamu Din" ujar Arga dengan mata yang berbinar.


"Aku suka kepadamu.Aku mencintaimu.Apa kau mau membalas perasaanku?"


***


Aku mencoret coret kertas note dengan pulpen.Pandanganku kosong menatap kearah pintu.Sebentar lagi jam pulang,dan aku tidak menyangka waktu berjalan secepat itu.


"Oi" Kak Rakha menjentikkan jarinya didwpan wajahku.Mau tidak mau aku menoleh kearahnya.


"Kau baik baik saja? kenapa kau diam saja dari tadi?" tanya Kak Rakha bingung.


"Aku sedang membuat keputusan yang sangat besar.Lebih besar dari hidup dan mati" jawabku dramatis.


"Kenapa? Zen menolakmu?" tanya Kak Rakha sedikit tertawa.


"Jangan menyebut nama itu didepan wajahku.Semua ini tidak ada hubungannya dengan dia" ujarku sinis.


"Remaja seusiamu yang selalu dijadikan permasalahan adalah penampilan dan cinta.Jika kau minder dengan penampilanmu maka ganti saja apa susahnya? tidak usah pedulikan dengan mulut orang lain.Selama kau nyaman dengan hal itu kenapa harus ragu.Dan jika merenungkan cinta,jangan sampai bodoh dalam bertindak.Jika kau suka dna cinta secara tulus,berjalanlah lurus.Jika tidak suka tolak dengan baik baik.Jangan melukai hati seseorang hanya karena kamu tidak menyukainya.Kau bisa menawarkan sebuah ikatan persaudaraan atau persahabatan agar dia tidak kecewa" ujar Kak Rakha panjang lebar membuat hati nuraniku muncul kepermukaan.


"Terimakasih Kak Rakha kau sangat baik dan tampan.Oh ada pelanggan"


Aku menghampiri seorang wanita manis berusia 23 tahun mungkin.Dia seorang wanita kantoran,lihat saja pakaiannya dan dia pasti pulang dari kerja lembur.


"Apa pesanan anda nona?" tanyaku sopan.


"Bolehkah aku memesan ke baristanya sendiri? sejak dulu aku ingin melihat caranya membuat kopi dengan enak" ujar wanita itu lembut.


"Emmm...boleh,tunggu aku akan tanya dulu"


Aku berlari menuju Kak Rakha dan mengatakan keinginan wanita itu.Kak Rakha mengangguk dan aku menyuruhnya kedepan meja barista.


"Ah kau lagi" ujar Kak Rakha tersenyum.


"Kau kenal?" bisikku.


"Aku pernah bertemu dengannya dulu saat shift siang" bisik Kak Rakha.Aku hanya ber oh ria.


"Buatkan aku kopi susu dengan gambar bunga tulip" ujar wanita itu manis.


Kak Rakha mengoperasikan mesik kopi dan membuat susu kocok.Setelah selesai dia disibukan oleh pesanan wanita itu.Aku melirik ke arah wanita itu yang melihat cara kerja Kak Rakha dengan saksama.


"Kau sangat terampil.Berapa usiamu?" tanya wanita itu.


"24 tahun" jawab Kak Rakha yang juga tersenyum.


"Aku selalu menyukai kopi buatanmu.Lukisannya juga indah" wanita itu menerima kopinya.


"Kau bisa datang kapan saja" ujar Kak Rakha.Wanita ity tersenyum dan berbalik.

__ADS_1


"Tunggu,bolehkah aku menyimpan nomor teleponmu?" tanya Kak Rakha yang terdengar canggung.Wanita itu memberinya nomor telepon dan kembali ke mejanya.


"Uhuk..ada bau bau kasmaran ini" godaku lalu lari sebelum Kak Rakha menarik telingaku.


__ADS_2