Secepat 24 Jam

Secepat 24 Jam
6


__ADS_3

Aku duduk di depan Kepala Sekolah dan beberapa guru disini.Mereka memanggilku saat hampir makan siang.Aku menatap mereka satu per satu.


"Ada apa Mr.?" tanyaku yang tidak tau kenapa dipanggil kemari.


"Apa kamu melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan?" tanya Mr.Andri.


"Saya tidak melanggar aturan sekolah"


"Kamu tau aturan utama di sekolah ini?" tanya Mrs.Maria.


"Saya sudah membaca semua peraturannya.Datang tepat waktu,memakai seragam rapi,mengikuti semua mata pelajaran dengan baik,tidak boleh pergi ke rooftop kalau tidak istirahat,tidak boleh berlarian di koridor dan banyak lagi" jawabku panjang lebar.


"Kamu tidak tau aturan yang tidak dicatat didalamnya? Itu aturan utama yang berlangsung 3 tahun kedepan" ujar Mr.Andri.


"Peraturan apa?"


"Jangan membuat Tuan Muda Elvarett kesal" jawab semua orang disini dengan sangat kompak.


"Kenapa ada pwraturan seperti itu?" protesku.


"Peraturan itu dibuat langsung oleh Angkasa dan orang tuanya menyetujui hal itu" jawab Mr.Andri.


"Kamu tau kan Angkasa adalah putra tunggal dari Elvarett.Sebisa mungkin mereka tidak akan membuat Angkasa kecewa.Angkasa memiliki wewenang disini.Kalau kamu tidak merubah sikapmu,kami tidak bisa membantumu bertahan di Na Elvarett" ujar Mrs.Maria.


"Kenapa seperti itu? ini sekolahan bukan ajanh pamer kekuasaan" protesku lagi.


"Jangan banyak bicara.Keluar dari sini,jam makan siang hampir habis dan jangan membuat perkara dengan Angkasa" ujar Mr.Andri.


"Ya" dengusku.


Aku bangkit dan berjalan keluat.Tidak bisa dipercaya! guru guru itu tunduk kepada Angkasa hanya karena dia menyandang marga Elvarett.Harusnya aku tidak memasuki sekolah konyol ini.Aku berharap ada uang jatuh dari langit dan bisa kugunakan untuk makan seumur hidup hingga aku tidak perlu susah payah bersekolah untu mendapat pekerjaan yang layak dikemudian hari.Aku sudah tidak nafsu makan dan aku memutuskan untuk masuk ke dalam kelas.Tapi sebelum aku mencapai pintu kelas,aku dihujani oleh air dan kertas kecil kecil.


"Kau lihat wajahnya? kau lihat?"


"Murid beasiswa tidak akan mendapat perlakuan yang sama"


"Jangan mengusik tuan muda kami"

__ADS_1


"Mati saja kau"


"Iya mati saja daeipada menjadi debu disini"


Setelah memakiku,mereka melemparkan alat pel ke arahku dan menendang ember berisi air.Serendah itukah aku? bukankan kita sama? kita sama sama pelajar disini? kenapa kalian memandangku seperti pembantu hanya karena aku mendapat beasiswa dari kepintaranku?


"Tidak ada yang gratis disini,jika kau tidak bisa membayar dengan uang maka bayar dengan ini"


Gadis yang tidak kukenal menunjuk pel pel an ditanganku.Mereka tertawa lalu menuju ke kelas masing masing.Aku ditindas untuk kesekian kalinya.Aku mengambil kertas kertas yang menempel ditubuhku.Aku menghela nafas panjang.Sekali lagi,aku menyesal sudah masuk ke Na Elvarett.Aku membersihkan aur ait di lantai dengan pel pel an itu hingga bel masuk berbunyi.Aku tetap membersihkan lantai ini.


"DINDA" Teriak Errin nyaring.


"Kamu kenapa?" tanyanya dengan mimik khawatir.


"Apa yang terjadi padamu?" tanya Aiko.


"Aku dirundung fans laki laki gila itu dan beginilah" jelasku menertawakan diriku sendiri.


"Maksud kamu Angkasa?" tanya Aiko.


"Siapa lagi?" aku memutar bola mataku jengah.


"Kenapa bisa sampai basah seperti ini?" tanya Arga.


"Ini semua gara gara dia" aku menunjuk wajah Angkasa taoi segera ditarik oleh kedua temanku.Errin dan Aiko.


"Kenapa aku?" tanya Angkasa dengan wajah datar membuatku lebih kesal.


"Kenapa? sudah jelas kan ini ulah wanita wanitamu.Kenapa kau menyimpan dendam seperti itu hanya karena kejadian waktu itu? kenapa kau selalu membuat masalah dihidupku? Ah pertemuan kita adalah takdir.DASAR PEMBAWA SIAL" jeritku dan aku langsung berjalan menuju kelas dengan menghentakkan kakiku.


"Apa uang dia bicarakan?" tanya Angkasa kepada Arga.


"Kau punya banyak wanita,pendendam,berandal dan pembawa sial" jawab Arga yang masih bisa kudengar.


"Apa? BERANINYA KAU" Raung Angkasa kepadaku.


Aku menghiraukannya dan tetap berjalan menuju kelas.Hari ini ada kelas memasak dan aku tidak sabar menantinya.Hei,ini membuat moodku membaik.Mrs.Catherine masuk dengan baju kokinya.Kami menuju ke kelas memasak setelah memakai pakaian yang sama.Sejak kejadian Angkasa tadi membuatku menjadi dekat dengan gadis Jepang itu,Aiko.Aku,Errin dan Aiko menjadi satu kelompok ditambah lagi dengan Rio si pentolan kelas.

__ADS_1


"Mrs!!! Kenapa perempuan semua?" tuntut Rio kepada Mrs.Catherine.


"Ada masalah?" tanya Mrs.Catherine dengan senyumannya tapi matanya mengisyaratkan sebaliknya.Tajam.


"Hehe tidak,aku hanya merasa beruntung aku bisa bersama perempuan perempuan cantik ini" Rio terkekeh.


Setelah Rio duduk,kami mendengarkan cara memasak pasta.Setelah mendengar dan memperhatikan Mrs.Catherine mempraktekan didepan kelas,kami mulai mencatat kemudian memasak.Aku menemukan sesuatu yang unik di sekolah ini yang tidak akan bisa kutemui di sekolah sekolah lain.Selain murid murid dari berbagai bangsa di belahan dunia,pelajarannya juga menarik.Mereka tidak hanya mendidik kami dengan pelajaran pelajaran umum.Mereka mengajarkan beberapa hal yang mungkin diterapkan di kehidupan sehari hari.Selain ingin menjadikan murid menjadi cerdas dan pintar,Na Elvarett juga ingin membuat murid muridnya menjadi orang yang terampil dan berbakat.


Pasta yang kami masak telah selesai.Aku bagian memasak sementara Errin menyiapkan segala keperluan dan membuat laporan dan Aiko yang menyajikannya.Rio? dia hanya menjadi pengamat yang membosankan.Rio mengambil garpu hendak memakan pasta yang sudah ditata apik oleh Aiko.Aku memukul tangannya dan dia langsung cemberut.


"Untuk apa membuat kalau tidak dinikmati?" gerutunya.


"Tutup mulutmu sebelum aku menyuruhmu mencuci semua barang kotor disini" ancam Errin.


Rio menutup mulutnya dan seakan memilih diam sampai ajal menjemputnya daripada mencuci alat dapur yang sudah pasti tidak pernah disentuhnya.Errin membawa kedepan lalu duduk.Kami menatap Mrs.Catherine dengan suasana mencekam terlebih saat dia mengambil garpu siap mencicipi satu persatu dari kami.Piring pertama sudah dicicipinya dan langsung melontarkan komentar pedas.


"Hambar" komentarnya.


Semua dicicipi dan dikomentarinya sampai tiba saat dimana Mra.Catherine mengambil garpu di piringku.Kami merasa seakan akan ditembak mati jika rasa pasta itu memuakkan.


"Ini milik siapa?" tanya Mrs.Catherine.


"Kelompok kami" jawabku.


"Siapa yang memasak?"


"S..saya" jawabku gugup.


Aku tentu saja yang paling resah diantara kami berempat karena enak tidaknya tergantung kepadaku yang memasaknya.Aku menelan ludahku sendiri menanti kalimat pedas yang siap menamparku detik ini juga.


"Sangat enak.Kamu belajar dimana?"


Heee?


Seisi kelas menatap kearah meja kami dengan wajah penasaran.Jantungku serasa merosot dari dada menuju kaki.Rasanya menyenangkan mendapat pujian.


"Tenang tenang ini semua dibawah bimibinganku" ujar Rio membusungkan dada.

__ADS_1


Laki laki itu mendapat leparan kertas kertas dan sisa sayuran.Kelas menjadi gaduh,aku bangga dengan hasil masakanku dan tentu saja dibantu oleh partnerku yang istimewa ini.Walaupun Rio tidak banyak membantu setidaknya dia bisa menghangatkan suasana.Aku tersenyum dan bersyukur bisa masuk ke kelas ini yang solidaritasnya sangat kuat.


__ADS_2