Secepat 24 Jam

Secepat 24 Jam
8


__ADS_3

Angkasa menghentikan mobilnya didepan gang menuju kost ku.Aku masih setia duduk dimobilnya meminta penjelasan atas apa yang dia lakukan tadi.


"Hei apa kamu tidak merasa berhutang kepadaku?" sindirku karena dia diam saja.


"Hutang apa?" tanyanya datar.


"Tentu saja yang tadi saat kau mengatakan bahwa aku kekasihmu" bentakku jengkel.


"Oh aku hanya tidak suka melihat laki laki memukul perempuan"


"Lihat siapa yang bicara ini..Setiap hari kau melukaiku,mendorongku,mencengkramku dan dengan mudahnya kau bilang seperti itu? ck ck ck" aku berdecak.


"Aku hanya menekanmu tidak memukulmu dasar tidak tau terimakasih"


"Ah sudahlah aku mau pulang"


Aku membuka mobilnya tapi terkunci.Aku menatapnya tajam dan dia hanya tersenyum mengejek.Aku mendengus dan melompat dari mobilnya yang terbuka.Aku menoleh dan tertawa mengejeknya.Angkasa menatapku cengo.


"Kurang ajar"


"Maaf tuan muda lain kali kau harus membuka pintu jika tidak mau jok mobilmu kotor" aku tertawa lalu berjalan menuju kost.


Mobil Angkasa melesat dan aku masih menertawainya.Bagaimanapun dia sudah berbuat baik kepadaku.Kalian lihat wajah Gina dan Verry tadi setelah mengetahui bahwa laki laki yang bersamaku berasal dari keluarga konglomerat.Aku cekikikan mendengar Gina menjerit saat aku naik supercar itu,jika kita masih berteman dia pasti sudah minta nomor Angkasa karena dia penggila uang,aku tau itu.


***


Sinar matahari menyinari halaman sekolah yang teramat luas ini.Kicauan burung beradu dengan ocehan siswa siswi yang bercanda ria.Aku menghirup udara dalam dalam menikmati pagi yang hangat ini.Ditengah ketenanganku,suara klakson mobil mengagetkanku dan mau tidak mau aku menoleh ke belakang.Mobil merah tua berjalan kearahku lalu menghadang jalanku.Siapa lagi kalau bukan Angkasa.


"Masuk" tegasnya.


"Apa kita saling kenal?" sindirku.


"MASUK" Bentaknya.


"Oke" lirihku.


Aku terpaksa masuk kedalam mobilnya.Aku kembali menjadi perhatian mata mata yang mentapku tajam.Mobil Angkasa berhenti di parkiran khusus.Aku membuka pintunya tapi tidak bisa dibuka.


"Kalau kau tidak membuka ini,aku akan lompat" ancamku.


Dia tidak menghiraukanku malah melempar kotak P3K kepangkuanku.Aku menatapnya penuh tanda tanya.


"Tunggu apa lagi? cepat ganti ini" tunjjuknya ke luka semalam.


"Kau bisa menggantinya sendiri kan? kenapa menyuruhlu segala,menyulitkan saja"

__ADS_1


"Cepat ganti,kau akan bertanggung jawab katamu semalam dan lakukan mulai hari ini"


"Hei aku sudah bertanggung jawab dengan mengobatinya semalam"


"Tanggung jawab sampai sembuh.Luka ini bisa..." aku buru buru memotong ucapannya.


"Ah iya iya aku tau"


Aku buru buru mengobatinya sebelum dia mengoceh tidak jelas.Aku membuka kapasnya yang kemarin dan membersihkannya,lukanya hanya seperti cakaran kucing kenapa dia melebih lebihkan seolah seperti tersayat pisau.Menyebalkan.Aku meniup lukanya lalu membalutnya dengan hansaplast.


"Kenapa tidak diberi kapas?" protesnya.


"Nanti sudah sembuh jangan rewel" ketusku.


"Haaa? apa kau memberiku ini semalam? hansaplast motif gajah?" tanya Angkasa tidak percaya.Wajahnya nyaris membiru.


"Itu lucu hehe" aku terkekeh.


"Lucu?" tuntutnya.


"Tentu saja"


"Menggelikan"


Angkasa keluar dari mobil dan aku mengikutinya.Dia melempar tas nya kearahku nyaris menimpuk wajahku.Aku memelototinya.


"Tidak,aku kelilipan"


"Mana ada kelilipan seperti itu?" tanyanya tidak terima.


Aku menghiraukannya dan memilih untuk diam daripada memperpanjang masalah.Aku menaiki tangga terakhir sampai tiba di kelasnya yang tidak jauh dari aula.Aku meletakan tasnya di lantai lalu pergi begitu saja.Aku masih bisa mendengar Angkasa mengumpatiku tapi kuabaikan.Aku berjalan menuju kelasku nyaris berlari.Bel berbunyi tapi kelasku masih jauh.Aku melewati kelas koridor koridor yang banyak orang dan terpaksa berjalan kaki lalu berlari lagi.Semua ini gara gara Angkasa.Aku sampai di ambang pintu dengan nafas yang tersenggal senggal.Semua anak menatapku keheranan.


"Kenapa?" tanya Errin mewakili wajah wajah yang penuh tanda tanya.


"Ini..gara gara..gara gara Angkasa.BERANDAL ITU" jeritku.


Aku menuju ke bangku lalu mengistirahatkan kepalaku sejenak.Selang 5 menit guru masuk dan pelajaran dimulai.Aku mengikuti pelajaran dengan setengah hati karena aku masih lelah berlarian mengelilingi sekolah.Setelah sekian lama akhirnya bel istirahat berbunyi.Matematika membuat otakku jungkir balik.Errin dan Aiko membawaku ke kantin.Mereka bahkan susah memblok satu meja untuk satu kelas.Setelah menunggu antrian panjang akhirnya kami kebagian makanan.Kami menikmati makanan dengan topik pembicaraan kakak kelas yang menembak sahabatnya sendiri di halaman sekolah beberapa waktu lalu.


"Ambilkan makananku nona yang bertanggung jawab" ujar Angkasa sengaja menendang kaki meja kami.


"Dimana sopan santunmu? lagipula yang terluka dahimu bukan kaki dan tanganmu" komentarku.


"Siapa peduli? makanan hampir habis,kalau kau belum berangkat sekarang juga,kubunuh kau" ancamnya.


Aku bergidik ngeri dan langsung berlari menabraki senior seniorku yang sedang mengantri.Mereka mengumpatiku,mendorongku dan mengoceh tidak jelas karena aku menyrobot antrian pertama.Setelah mendapatkan makanan,aku aegera berbalik dan tersenyum.

__ADS_1


"Maaf Kakak Kakak,makanan ini untuk Tuan Muda Elvarett" ujarku penuh kesabaran.


Mereka langsung bungkam begitu mendengar nama Elvarett diucapkan.Aku berjalan menuju ke meja yang dibuat khusus untuk murid penguasa seperti Angkasa dan Arga.Walau masih kelas 10 tapi mereka sudah bisa menakhlukan kelas kelas yang lebih tinggi bahkan Gio kakak kelas yang terkenal kenakalannya bisa tunduk dihadapan Angkasa.Aku meletakan piring dihadapan Angkasa.


"Bagus" ucap Angkasa dengan nada angkuhnya.


Aku berjalan menuju mejaku dan memakan makananku.Kami bercanda ria dengan kucing warteg sebagai bahan pembicaraan.Kami bercerita adegan adegan lucu kucing warteg yang pernah kami alami.


"Tetanggaku punya kucing,sangat kotor dan jorok.Dia berak dihalaman rumahku sambil jalan" ujar Rio membuat tawa kami meledak.Untung saja kami sudah selesai makan,kalau tidak kami tidak akan menyentuh makanan kami karena kucing berak.


"Kalau dikost ku ada kucing milik ibu kos.Mati gaya dia,mau melompat dari balkon rumahnya menuju rumah tetangga eh malah terjatuh terus tersangkut di jemuran" ujarku yang memang benar kenyataannya.


"Sepertinya kucing itu bisa menggambarkan sifat Rio" sahut Errin.


"Aku terlalu manis untuk digambarkan menjadi hewan" sahut Rio dengan penuh percaya diri.


"Dirumahku jarang ada kucing,tapi dulu waktu aku SMP ada kucing menyelinap kedalam rumah terus mencuri ikan yang dibungkus plastik.Diangkut sekalian dengan plastiknya.Nah kan plastiknya udah dibedah sama bibi jadi berceceran dimana mana ikannya.Sesampainya di gerbang,kucing itu melepas gigitannya plastik itu eh tinggal kemasannya saja.Isinya sudah raib" ujar Errin.


"Dirumah aku punya kucing betina.Dia melahirkan anaknya 4.Dia selalu memindah mindahkan anak anaknya ke berbagai tempat.Waktu pagi dia berisik mengeong karena lupa naruh anaknya" ujar Dicky.


Kami kembali diguncang tawa.Walau baru beberapa hari kami bertemu,kami sudah seperti saudara.Tiba tiba ada yang menarik lenganku sampai aku berdiri.Davina.


"Kau apakan Angkasa?" bentaknya.


"Bisa bicara baik baik?" bentakku.


"Aku rasa aku sudah terlalu baik membiarkanmu berkeliaran dengan tenang selama ini" desis Davina.


"Baiklah,apa maumu?" tanyaku pada akhirnya.


"Apa yang kau lakukan kepada Angkasa? Kenapa dahinya terluka?"


"Oh kemarin malam aku tidak sengaja menendang batu dan mengenai wajahnya.Sayangnya itu bukan batu yang besar" jawabku apa adanya.


"Kau" Davina melayangkan tangannya hendak menamparku tapi ada tangan yang mencekalnya.


"Angkasa?" tanya Davina tidak percaya.


"Sudah berapa kali kukatakan jangan MENCAMPURI URUSANKU LAGI" Raung Angkasa.


"Enyahlah" ujar Angkasa tajam.


Davina menatap Angkasa berkaca kaca lalu berbalik menuju pintu keluar.Kini giliran Angkasa menatapku tajam.Aku mengacuhkannya dan duduk kembali bersama teman temanku.


"Ada apa dengan kalian semalam?" tanya Arga tiba tiba.

__ADS_1


"Bukan apa apa" jawab Angkasa lalu dia pergi.


Anak anak di kantin menggosipkan kami dan entah bagaimana ceritanya mereka merangkai kata kata menjadi sebuah kalimat yang tidak masuk akal.


__ADS_2