
Seorang wanita cantik yang kurindukan berjalan kearahku dengan mata berkaca kaca.Siapa lagi kalau bukan Bunda.
"Aku tak pernah tau hatimu semulia itu Nak,kemarilah aku merindukanmu"
Aku hanya bisa bungkam.Banyak pertanyaan pertanyaan muncul dibenakku.
Apa mereka bubar atau sedang menatapku?
Apa Bunda belum tahu tentang hubunganku dan Angkasa yang sebenarnya?
Apa Bunda benar benar tidak menyukai Bella yang nyaris tanpa cela?
Apa Bunda tidak dengar aku sempat menghujat Angkasa?
"Bunda" lirihku.
"Kau...Kau benar benar pantas menjadi gadisnya Angkasa" ujar Bunda setelah melepas pelukannya dariku.
"Apa maksud Nyonya?" tanya Bella tercengang.
"Dia ini pacar Angkasa" jawab Bunda sinis.
"APA? Bagaimana bisa?" tanya Bella terguncang.
"Tentu saja bisa.Dinda menjadi pacar Angkasa jauh sebelum kau muncul dikehidupannya" ujar Bunda sinis.
"Tapi Nyonya,putramu akan menjadi milikku.Ayah sudah merencanakan semuanya matang matang.Bukankah keluarga Elvarett sangat membutuhkan sebuah hubungan kerjasama untuk perusahaan obat obatan baru di Sweedia?" tanya Bella tersenyum licik.Aku tidak tau maksud dia berkata seperti itu dan ku rasa usianya terlalu belia untuk membicarakan soal perusahaan.Ah sudahlah aku tidak tau cara berfikir orang kaya.
"Kami sangat membutuhkan itu Bella"
Bunda tersenyum lalu menarikku keluar dari kerumunan.Aku yang tak tau apa apa hanya melongo.Kenapa semuanya menjadi rumit seperti ini?
"Bunda kenapa bisa berada di toilet murid?" tanyaku ketika sudah sampai di lorong yang lenggang.
"Bunda tidak sengaja mendengar anak anak berbicara Arabella membully Dinda jadi aku langsung kesana.Haha apa jadinya kalau aku salah orang"
"Maaf Bunda aku sempat mengejek Angkasa tadi"
"Tak apa apa,kenyataannya memang seperti itu" aku menahan tawa Bunda menyetujui putranya dihujat.
"Tidak hanya itu,dia dulu sering menyuruhku ini itu membuatku geram dan ingin menggunting bibirnya yang cerewet itu" aku mengompori.
"Hah kau tidak tau saja dia pernah mendiamkanku selama beberapa hari hanya karena aku menyuruh dia membersihkan kura kura besarnya yang seperti batu itu"
"Angkasa suka hewan?" tanyaku tak percaya.
"Ya dia menyukai hewan kecuali anjing,serangga,hewan yang lunak dan tidak memiliki tulang belakang" jawab Bunda antusias.
"Haha apa dia juga membenci kupu kupu?" tanyaku lagi.
"Yang satu itu aku tidak tau,terkadang dia menangkapi mereka dan mengurungnya didalam toples.Terkadang juga dia menyemprot mereka dengan air jika mereka terbang disekelilingnya.Mungkin dia masih jengkel dengan kupu kupu besar yang pernah membuatnya gatal gatal"
"Haha Angkasa tidak bisa ditebak.Oh ya ngomong ngomong kenapa Bunda ada disini?"
"Ah hampir saja lupa.Aku ada rapat dengan guru guru.Mereka pasti marah karena aku terlambat.Baiklah sayang sampai jumpa dan jangan lupa main ke rumah nanti ya"
Bunda mengecup keningku,melambaikan tangan lalu berlari kecil menuju ke ruang guru.Aku tertawa kecil melihat tingkah heboh Bunda yang tak jauh berbeda dengan kebanyakan ibu ibu.Aku membalikkan badan.
"ASTAGA KAU MEMBUATKU TERKEJUT" bentakku kepada Angkasa yang berada di belakangku.
__ADS_1
"Sudah puas bergosip tentangku?" tanya Angkasa datar.
"Ah..itu..." aku memegang leher belakangku salah tingkah.
Angkasa menarikku samapi kami keluar dari pintu utama.Angkasa mengajakku ke bawah pohon apel yang berada di ujung jalan dekat gerbang.Aku menatapnya bingung saat dia memanjat pohon.
"Bunda bilang kau membenci hewan lunak.Bagaimana di pohon itu ada ulat nya?" tanyaku dari bawah.
Angkasa mendadak berhenti dan membeku.Dia menatapku horror.
"Jangan menakutiku atau kugiling..." sebelum Angkasa melanjutkan ancamannya aku segera memotong.
"Yayaya aku hanya bercanda"
Aku mendengar nafas lega keluar dari hidung Angkasa.Aku memilih duduk di bawah pohon menungguinya melakukan hal yang mungkin saja bisa membuatnya tampak konyol.
*Dugh
Dugh
Dugh..Dugh..Dugh*..
Lima buah apel terjatuh dan mengenai kepalaku.Aku mendengar suara tawa yang menyebalkan berasal dari seseorang yang kini tengah menuruni pohon Apel.Aku menggerutu kesal saat dia berhenti tertawa.
"Pohon ini tidak terlalu tinggi,buahnya matang matang tapi kenapa anak anak tidak ada yang memetiknya?" tanyaku ke Angkasa.
"Siapa yang mau repot repot memanjat pohon jika kau bisa membelinya" jawab Angkasa dengan menggigit sebuah apel.
"Kau" ujarku polos membuat Angkasa tersedak.
"Aku kan memetik ini demi kamu apa begini caramu berterimakasih?" tanyanya marah marah.
"Kenapa kau memetik ini demi aku?" tanyaku lagi.
"AH SUDAHLAH DIAM SAJA DAN MAKAN ITU"
***
Suasana di caffe sangat tenang.Hanya ada sepasang mahasiswa duduk di pojok caffe.Aku mengetukkan jariku ke meja bosan.Sebenarnya hari ini aku ada janji pergi ke rumah Bunda tapi karena Kak Zen mengancam akan memecatku jadi aku tidak bisa membolos.Lagipula sepulang dari sekolahan Bunda mengatakan dia akan menemani Ayah ke Belanda selama beberapa hari kedepan.Bunda sempat menyuruhku menginap di rumah tapi langsung ku tolak mentah mentah.
"*Setelah ini Bunda langsung ke Belanda.Kamu bisa menginap di rumah menemani Angkasa Din" ujar Bunda membuatku membelalakan mata.
"Tidak bisa.Bagaimana mungkin seorang perempuan serumah dengan laki laki yang bukan saudaranya" tolakku langsung.
"Lagipula aku sering ditinggal kenapa harus berlagak ditemani?" gerutu Angkasa.
"Kau harus menginap.Kalian tidak sendiri di rumah.Ada 30 maid dan 20 penjaga jadi jangan berharap bisa berbuat macam macam" Bunda menyeringai.
"Tidak bisa Bunda aku harus bekerja..." belum selesai berbicara sudah dipotong.
"Lakukan setelah selesai bekerja.Daah aku akan marah jika kau tidak menginap.Dan kau!" Bunda menunjuk wajah Angkasa yang lebih tinggi darinya.
"Jangan berbuat macam macam atau Ayahmu akan memenggal kepalamu MENGERTI?" ancam Bunda dan diangguki Angkasa*.
Dan aku berakhir di situasi yang tak terduga.Aku berharap waktu bergerak lambat tapi sialnya waktu berjalan cepat.Lihatlah hari sudah berganti malam.Pelanggan pelanggan di caffe mulai berdatangan membuatku melupakan persoalan Angkasa sejenak.Aku sekarang diizinkan membantu Kak Rakha lagi setelah luka dijariku sembuh.Sekarang aku sedang memarut coklat batangan yang jumlahnya 2 batang besar besar untuk mengisi toples besar itu.Lonceng terbuka,aku melepas sarung tangan plastik dan segera menghampiri pelanggan itu dengan note di tanganku.
"Lah Kak Zen?" tanyaku begitu melihat siapa pelanggan itu.
"Aku mampir sebentar untuk menikmati brownis coklat keju.Aku minta sepiring penuh dan aku juga minta segelas soda tanpa campuran apapun" Setelah mengatakan itu aku langsung pergi dari hadapannya.
__ADS_1
"Kenapa lagi dia?" tanya Kak Rakha.
"Sepiring penuh brownis coklat keju dan segelas soda" kataku tanpa menatap Kak Rakha.
"Apa laki lakimu berniat kesini nanti?" tanya Kak Rakha.
"Tidak tau,sebaiknya jangan karena mereka bisa saja membuat kegaduhan" jawabku.
"TUNGGU DULU...Apa maksud dari laki lakiku?" tanyaku penuh penekanan.
"Haha putra tunggal konglomerat itu siapa lagi kalau bukan laki lakimu? seumur umur aku tidak pernah melihat ada konglomerat mampir kesini.Berkat kau,sudah ada 3 konglomerat menginjakkan kaki di caffe ini"
"Dia bukan laki lakiku"
Aku kembali berkutat dengan coklat parut sampai selesai dan memarut varian coklat lainnya.Aku menyelesaikan semuanya selama berjam jam dan kulihat caffe segera tutup.Aku menatap pelanggan pelanggan yang tersisa dan aku nyaris memarut jari jariku sendiri saat melihat Kak Zen dan Angkasa duduk berseberangan.
"Kapan anak itu datang?" gumanku bingung.
"Baru saja" bisik Kak Rakha membuatku terlonjak.
Caffe sudah sepi pelanggan.Aku menyapu lantai caffe lalu menata bangku bersama yang lainnya.
"Caffe sudah tutup.Apa kau mau menginap disini?" tanya Kak Zen sinis.
"Aku menunggu anak itu jangan ikut campur" desis Angkasa seraya menunjuk diriku.
Selesai berganti baju aku segera menghampiri Angkasa dan menariknya keluar dari caffe.Angkasa tidak berkata apa apa sampai aku menanyainya.
"Mau apa kau?" tanyaku.
"Mematuhi Bunda.Kau tidak mau membuatku menjadi anak durhaka bukan?"
"Sial" umpatku.
"Aku akan menciummu jika kau mengumpat lagi" ancam Angkasa.
"Siiiii...aaaaalll" aku memainkan nadaku.
Cup
"APA YANG KAU LAKUKAN?" jeritku ketika Angkasa mencium keningku.
"Aku tidak main main nona" jawab Angkasa enteng lalu berjalan ke kursi kemudi.
"KAU!"
Aku menjambak rambut Angkasa kencang sampai dia tertunduk.Aku menulikan telinga ketika dia menjerit jerit kesakitan.Aku baru melepaskan dia setelah kurasa cukup untuk membalas perbuatannya.Angkasa berjalan terhuyung lalu segera membuka pintunya.Kepalanya terantuk pintu mobil yang terbuka keatas.Aku terkikik geli dan dia mendengus kesal.
Aku benar benar dibawa ke rumah Angkasa.Mulutku ternganga saat dia menyeretku menuju kamar yang berada di lantai 1.Ini pasti kamar tamu.
"Kau bisa memakai piama di sana dan itu pintu menuju kamar mandi.Sebaiknya kau membersihkan diri dan makan malam.Aku belum makan" ujar Angkasa lalu pergi.
Aku segera mandi dan memakai piama sesuai instruksi dari Angkasa.Aku menggulung rambutku lalu berjalan menuju meja makan yang sudah ku ketahui tempatnya.Angkasa sudah berada disana terduduk dengan makanan yang sangat banyak seperti biasanya.Aku duduk dengan canggung lalu mulai makan.Setelah makan Angkasa menarikku menuju rooftop rumah.Ribuan bintang bertebaran yang kali ini dilengkapi oleh sinar rembulan membuatku menggigil kedinginan.Aku merasakan hangat ketika sebuah selimut tersampir di pundaku.
"Dari mana kau mendapatkan ini?" tanyaku bingung.Angkasa menunjuk kursi yang dipenuhi oleh selimut.
Berbicara soal rooftop ingatanku kembali ke rooftop gedung waktu itu.Pipiku memanas dan aku segera memalingkan wajah.
"Apa kau mau berciuman lagi?" tanya Angkasa parau.
__ADS_1