
BRAK
Sudahlah! aku muak dengan mereka.Aku menggebrak meja ku dan berjalan kearahnya dengan angkuh.Aku pasti terlihat seperti Angkasa,huh aku benci terlihat seperti dia dari sisi sombongnya.Mereka bertiga menatapku dengan kerutan dikeningnya.
"Kenapa kalian membicarakan temanku seperti itu Kakak?" tanyaku yang masih terbesit rasa sopan dihatiku.Bagaimanapun mereka lebih tua daripada aku.
"Kau? temannya Elvarett?" tanya yang berambut abu abu setengah menahan tawanya.
"Memangnya kenapa?" tanyaku jengah.
"Setahuku putranya Elvarett sangat memperhatikan kasta nya" jawab pria satunya.
"Lantas?" tanyaku menantang.
"Kau pasti jongosnya.Lihatlah dirimu,kalau aku jadi kamu,aku berfikir dua kali untuk berdekatan dengan putra Elvarett" mereka tertawa.
"Kau mau menangis?" tanya pria yang kedua menahan tawanya.
"Hah? menangis? karena kalian? cih lebih baik aku mati keracunan daripada menangis karena mulut tidak berguna kalian itu" jawabku berdecih.Mereka menggebrak meja dan mengundang perhatian.
"Dengarkan aku Kakak,aku memang orang miskin yang tidak pantas berada disini.Dan kenapa aku menangis karena ocehanmu yang tak berfaedah itu? aku melewati masa sulit sejak kecil dan hinaan dari kalian itu aku sudah menelannya mentah mentah jauh sebelum bertemu dengan kalian.Lagipula siapa peduli dengan kasta? Kalian hanya belum mengenal Anglasa taoi sudah mendefinisikan dia dengan macam macam hal buruk.Bercerminlah!"
Aku meninggalkan mereka yang melongo menatapku.Semua orang diruangan ini pun hening sampai ada suara tapak kaki yang menormalkan kembali suasana.Aku melihat Angkasa sedang berjalan kearahku dengan wajahnya yang cemberut.Sesuatu pasti terjadi dengannya.
"Aku hanya ingin mencuci wajahku tapi orang idiot itu malah menumpahkan minumannya di hoodie ku.Apa masalahnya denganku?" ocehnya tidak jelas.
"Kau menghajarnya?" tanyaku datar.
"Tentu saja,dia benar benar membuatku darah tinggi" ketusku.
__ADS_1
"Semua hal membuatmu darah tinggi" gerutuku.
Makanan kami datang dan kami menyantapnya dalam diam.Aku melihat ketiga pria itu pergi dari sana dengan wajah tegangnya.Aku ingin tertawa sudah memaki lelaki kaya tapi kutahan.Jika Angkasa mengetahui hal ini bisa bisa dia menghancurkan restoran mewah ini.
"Aku tidak tau kalau ternyata kamu tipe orang yang sangat memandang kasta" celetukku di sela makan malam kami.
"Aku ini Elvarett tau,dan mereka itu hanya berasal dari keluarga yang lebih rendah dariku" Angkasa menunjuk orang orang disini dengan garpunya.Aku segera minta maaf bagi mereka yang menoleh tersinggung.
"Kau memalukan" desisku tajam.
"Aku curiga kau dulu pernah hidup di zaman penjajahan Belanda.Aku yakin 100% jika kau hidup di zaman itu kau pasti menjadi orang Netherland yang sangat membedakan kasta antara sebangsa dan penduduk pribumi"
"Turup mulutmu.Kau pikir aku seperti itu?" tanya Angkasa kesal.
"Kau bahkan lebih parah dari mereka" aku mencibirnya.
"Kau pernah hidup dizaman itu?" tanyaku terkejut.Bodohnya aku.
"Tentu saja tidak bodoh,aku memang keturunan Belanda.Kakekku adalah orang Netherland yang menjajah negri ini dulu.Namanya Alfred Van Elvarett,Kakekku menikah dengan penduduk pribumi dari kalangan bangsawan.Ayahku itu blasteran dan menikah dengan orang Indonesia biasa lalu aku,entahlah aku tidak bisa mendefinisikan itu.Mungkin saja aku asli Indonesia tapi ayahku setengah Belanda.Aku tidak pernah melihat Kakek Nenek karena mereka berada di Belanda.Kata Ayah aku mewarisi ketampanan Kakek dan pawakanku ini adalah warisan dari Kakek.Intinya aku seperti Kakek,mereka bahkan menyebutku reinkarnasi dari Kakek Alfred" ujar Angkasa panjang lebar.
Aku menatap Angkasa dalam.Memang jika dilihat secara teliti dia ini seperti bukan orang Indonesia.Aku baru sadar kami melupakan perseteruan kami beberapa saat lalu.Aku menanggapinya dengan senyuman.Aku tidak tau kalau Angkasa akan menjadi ceriwis saat membahas keluarga Indo nya yang pasti ia bangga banggakan.
"Jadi tujuanmu membawamu kemari apa?" tanyaku setelah kami selesai makan dan tengah berjalan menuju mobil.
Jujur saja aku tadi melotot sempurna melihat struk yang dipegang oleh Angkasa.Hanya dua piring pasta dan 2 gelas lemonade harganya selangit.Gajiku bahkan tidak bisa digunakan untuk membayar disini.
"Makan" jawab Angkasa datar setelah melajukan mobilnya.
"Hanya itu? katamu tadi ada yang ingin kau bicarakan denganku?" tuntutku
__ADS_1
"Ada.Tentang kelanjutan kisah kita"
"Kata kata menggelikan" cibirku.
"Aku tau Arga tidak bisa menerima ini tapi aku juga tidak bisa menuruti kemauannya.Aku juga butuh kamu untuk menghalau perjodohan ini.Dan kenapa akubharu menghargainya jika dia sama sekali tidak mau mendengarku"
"Bukan hanya Arga,aku juga kesusahan.Aku harus memainkan dua peran dan itu berat.Disisi lain aku tidak tega membohongi Bunda.Beliau terlalu baik untuk diperlakukan seperti ini.Aku juga mendapat perlakuan buruk dari penggemarmu.Ku mau apalagi Angkasa?" tanyaku yang mulai tersulut emosi.
"Aku hanya tidak mau dijodohkan dengan Arabella sialan itu" teriak Angkasa.
"Sudahi saja semuanya.Aku dibenci Arga hanya karena sandiwara konyol ini.Aku hampir celaka ganya dari ulah wanita wanita yang tefila gila kepadamu.Aku bahkan harus bersikap seperti kekasihmu dihadapan keluargaku.Diluar sana aku selalu waspada jika saja ada bawahan orang tuamu yang melihat kau menindasku dan itu akan menjadi masalah besar jika sampai di telinga orang tuamu.Satu hal lagi,aku harus menjalani kehidupan yang sangat ruyam.Aku benar benar lelah.Aku tidak bisa bertindak seperti yang kuinginkan.Tujuan utamaku ke sekolah adalah mencari ilmu bukan untuk melayanimu apalagi meladeni setiap kata kata kasar yang mereka lontarkan kepadaku.Aku memang orang miskin tapi bisakah kalian tidak mempermainkanku seperti ini?" ujarku panjang lebar dengan darah yang sudah naik ke ubun ubun.
"YA TUHAN,DINDA.OKE OKE JIKA INI PENTING BAGIMU AKU AKAN MENGAKHIRINYA SAAT INI JUGA"
Ckitt
Mobil Angkasa berhenti mendadak dan ternyata kita sudah sampai didepan gang.Angkasa menekan tombol pembuka pintu untukku.Aku keluar dan mobil Angkasa melaju seperti mobil kesetanan.Rasa bersalah menjalar sampai ke ujung rambutku.Aku menunduk lesu.Apa benar yang kukatakan ini? Apa benar langkah yang kuambil saat ini? Apa benar keputusanku tentang semua ini? Benarkah aku?
***
Pagi yang mendung seperti suasana hatiku saat inu.Aku menatap langit yang pucat lalu menatap kedepan.Halan didekat gerbang memang tanah biasa dan itu membuatnya menjadi lumpur bekaa hujan dini hari.Aku berjalan gontai didekat pohon pohon yang tertanam rapi disepanjang jalan menuju sekolah.
Aku menjerit ketika ada mobil lewat dengan kecepatan ekstra.Mobil itu menginjak genangan air dan akhirnya menyembur kearahku.Rok.dan kakiku terkena lumpur.Aku melihat mobil itu sama sekali tidak berhenti seperti biasanya.Apa Angkasa benar benar serius dalam ucapannya?
Selang beberapa menit berjalan aku langsung dilempari tas yang biasanya juga dilempar kearahku.Bedanya,dia melemparnya secara kasar.
"Bisa pelan pelan?" tanyaku kesal.
"BERSIKAP BAIKLAH KEPADA TUANMU" Bentak Angkasa.
__ADS_1