
Sesuai janjiku,aku datang ke caffe di hari sabtu pagi hari.Aku sudah menyiapkan mental untuk menghadapi Kak Zen yang bisa meledak kapan saja.Caffe baru buka dan belum ada pelanggan sama sekali.Aku tidak terlalu akrab dengan pegawai shift pagi jadi aku diam saja memainkan buku pesanan.Lonceng berbunyi,seorang wanita cantik masuk kedalam caffe.Dia duduk didekat jendela lalu melepas kacamata hitamnya.Aku berjalan ke arahnya seperti yang seharusnya.
"Mau pesan apa?" tanyaku dengan ramah seperti biasa.
"Strawberry latte dan latte machiato" ujar wanita itu.
Aku tersenyum lalu berjalan menuju meja barista.Aku sempat kagum dengan wanita itu.Dari usianya mungkin dia berusia 30 tahun tapi tetap cantik dan dia terlihat seperti wanita karir.Aku menghampiri Kak Zen dan memberikan catatanku.Kak Zen meracik minuman dengan ahli seperti Kak Rakha,bedanya pada raut wajahnya.Kalau Kak Rakha ceria kalau Kak Zen datar.Kakak yang kuketahui bernama Risa itu mengantarkan minuman ke wanita tadi.Wajahnya tidak asing,seperti mirip seseorang.
Aku mencatat pesanan pelanggan yang terus berdatangan memenuhi caffe ini.Aku berjalan kesana kemari.Ternyata caffe saat siang jauh lebih ramai daripada saat malam ditambah lagi ini akhir pekan.Lonceng berbunyi,aku menoleh untuk menghampiri pelanggan tapi yang kutemukan adalah sebuah kejutan.Angkasa berjalan menuju meja wanita cantik tadi.Wanita itu tersenyum lebar,berbanding terbalik dengan Angkasa yang menampilkan wajah ketidak sukaannya.
"Apa?" tanya Angkasa datar ke arah wanita tadi.
"Duduk dulu jangan dingin seperti itu kepada Bunda" jawab wanita itu.
Wait...jadi itu Ibunya Angkasa? she damn so hot!
Aku tidak pernah menduga hal ini.Nona besar Elvarett datang ke caffe kecil ini beserta putranya.Dan juga paras wanita paruh baya itu terlihat masih muda.Aku diam mengawasi mereka.Keluarga Elvarett benar benar kaya dan rupawan.Lihat saja para wartawan yang berada di luar caffe berbondong bondong untuk masuk ke caffe.Seperti superstar saja.
"Kak,itu ada apa ya?" tanya perempuan yang sedang kulayani.
"Oh,itu keluarga Elvarett.Nona Besar dan Tuan Muda" jawabku.
"Benarkah? MEREKA ELVARETT?" Jerit perempuan itu.
Sontak semua orang menoleh ke arah kami lalu menatap ke meja Angkasa.Angkasa menatapku tajam seolah mengatakan kau-melakukan-kesalahan-yang-sama-bung dan itu membuatku bergetar ketakutan.Aku segera berlari menghampiri Kak Zen.Kak Zen menatapku bingung karena aku berlari seperti orang kesetanan.
"Kamu kenapa Din?" tanya Kak Zen.
"Aku takut dimakan macan Kak" jawabku ngawur.Kak Zen menatapku datar lalu kembali berkutat dengan mesin kopinya.
Kalau barista yang ada didepanku ini Kak Rakha,tidak diragukan lagi aku pasti dibully habis habisan.Aku mengintip ke meja Angkasa.Mereka berdua mengobrolkan sesuatu.Dilihat dari raut keduanya,aku yakin mereka membicarakan hal penting bahkan mereka mengabaikan sorotan kamera dan sorotan mata para pelanggan.Orang berseragam hitam tengah menjauhkan wartawan dari Han Caffe.Apa mereka pengawal keluarga Elvarett?
"JANGAN MENYULITKAN HIDUPKU" Teriak Bunda Angkasa.
__ADS_1
"Siapa yang menyulitkan siapa" balas Angkasa tak acuh.
"Hei kau anak kecil jangan melawan.Kau harus cepat cepat mendapatkan pacar kalau tidak aku akan membakar koleksi sketboard milikmu,playstasion,macbook air,mobil dan juga ruangan pribadimu" ancam Bunda Angkasa.
"Jangan mengancamku,aku tidak takut" ujar Angkasa enteng padahal harta bendanya akan digilia habis oleh Bundanya.
"Bagaimana dengan patung Dewa Yunani yang kau miliki?" tanya Bunda Angkasa dengan senyuman licik di wajahnya yang cantik.
"Baiklah aku akan memperlihatkannya kepadamu.Jangan menyentuh patung Poseidonku" ketus Angkasa.
Angkasaberjalan keluar dari caffe lalu masuk ke mobil sport miliknya.Kami termangu melihat percakapan dua orang itu.
"Dasar berandal,lihat saja kau membohongiku" gerutu Bunda Angkasa.
Tak lama kemudian Bunda Angkasa membayar pesanannya lalu keluar diikuti riuhnya suara kamera wartawan.Mobil HRV Merah melesat meninggalkan caffe ini.
"Kita tunggu ketenaran caffe kita di televisi dan sosial media huhuuu" sorak gembira dari Kak Anji.
"Kembali bekerja kalau kau tidak mau dimakan Zen" bisik Kak Risa lalu pergi.
"CEPAT LAYANI PELANGGAN PELANGGAN ITU" Bentak Kak Zen.
"Iyaaaaaa" aku berlari menuju ke depan sebelum Kak Zen memperpanjang masalah.
Aku berjalan menuju ke meja barista lalu berjalan lagi menuju meja meja untuk menghampiri pelanggan yang baru datang.Ada sekitar 5 perempuan yang menggoda Kak Zen pada waktu pembayaran.Aku serta karyawan lain pura pura tidak dengar dan meningkatkan kinerja kami daeipada kena oceh Kak Zen.Baru sehari kerja shift siang sudah membuatku tekanan batin.Untung saja aku mendapat shift siang saat saat tertentu saja.Ah aku merindukan Kak Rakha yang penuh canda tawa.Setelah selesai bekerja,kami mengemasi barang bersiap untuk pulang.Aku sudah melihat Kak Nia yang selalu rajin untuk datang lebih awal.
"ANJIIIIII" raung Kak Zen menggema sampai ke sudut ruangan.
"Apa sih?" tanya Kak Anji lesu.
"Kenapa ada air di lantai?" tunjuk Kak Zen di lantai dekat pintu penghubung ruang karyawan dan caffe.
"Mana kutahu tanya ke Risa"
__ADS_1
"Ah? Hei ini tugasmu bukan tugasku" elak Kak Risa.
"SIAPA PEDULI DENGAN TUGAS? JIKA MELIHAT HAL KOTOR CEPAT DIBERSIHKAN JANGAN MEMBUAT KERIBUTAN" Bentak Kak Zen sampai dia kehabisan nafas.
"Hei Kak Zen" ucapku tiba tiba.
"Yang mempeributkan itu kau sendiri kenapa harus menyalahkan yang lain? Bersihkan lantai itu lagipula kau sendiri kan yang bilang tidak peduli tugas siapapun itu" cercaku kepada Kak Zen.
AKU PASTI SUDAH GILA.Kak Anji dan Kak Risa mengacungkan jempol dibelakang tubuh Kak Zen sementara Kak Zen menatapku lapar seolah ingin memakanku saat ini juga.Aku menunduk melihat kakiku yang menginjak injak keset.Tamatlah aku.Dinda kau bodoh!!!
"Bocah,ikut aku"
Kak Zen menarikku menuju belakang caffe.Aku sempat meminta bantuan ke kedua orang itu tapi dengan wajah tanpa dosanya mereka menggelengkan kepala.Kurang ajar!.Tubuhku dibanting ke tembok dan Kak Zen berdiri menjulang didepanku.Kalian bisa membayangkan anjing pelacak yang menindas anak anjing.
"Katakan apa yang barusaja kau katakan" ujar Kak Zen dingin.
"Ah anu itu aku hanya bergurau" aku gugup setengah mati sumpah.
Aku memberanikan diri menatap Kak Zen dan Kak Zen masih menatapku tajam.
"Ahaha aku minta maaf" aku memalingkan wajah.
Kak Zen meraih daguku lalu mendekatkan ke wajahnya.Astaga astaga!!!! apa dia mau menciumku? disini? Kak Zen sadarlah!!!
"Sadarlah" ketus Kak Zen.
Sontak aku membuka mata dan melihat Kak Zen menjauh dariku.Aku kelimpungan sendiri menghadapi rasa malu yang sebesar balon udara dan setinggi Himalaya.Aku menutupi wajahku untuk menghilangkan rasa malu itu tapi wajahku semakin memanas.Aku berfikir keras mencari celah untuk kabur.
"Kau pikir aku mau menciummu ha?" tanya Kak Zen disertai seringaiannya.
"Apa? aku tidak berfikir seperti itu.Hah.Mana mungkin?" protesku.
"Aku harap kau tidak masuk shift siang lagi bocah,kau membuat moodku hancur"
__ADS_1
Kak Zen berlalu meninggalkanku yang nyaris tenggelam oleh malu.Aku masih diam ditempat.Bagaimana mungkin aku bisa berfikiran seperti tadi? hehe tidak mungkin kan?
Tunggu kenapa dia memangilku bocah? Ah betul juga,aku masih 16 tahun dan dia 25 tahun.Maklumlah,intinya sebisa mungkin hindari Kak Zen!