Secepat 24 Jam

Secepat 24 Jam
19


__ADS_3

Aku baru sampai di caffe pada pukul 03.50 dan aku terlambat 30 menit.Yang lebih mencengangkan adalah barista yang berdiri di belakang mesin kopi bukanlah Kak Rakha.Kalian pasti sudah tau siapa orangnya.Ya,Kak Zen.Dia menatapku tajam membuat nyaliku ciut.Aku berjalam pelan pelan menuju ke ruang karyawan menghindari tatapan tajam Kak Zen.Selesai berganti baju aku segera men-chat Kak Rakha menanyakan alasan Kak Zen berdiri disini menggantikannya saat ini.


Me : KAK RAKHA


Me : Kak Rakha kau kemana? kenapa Kak Zen disini? JELASKAN!


Kak Rakha : Maaf aku izin ke Bali untuk 3 hari,temanku menikah


Me : Oh bagus sekali_-


Kak Rakha : Nikmati waktu kebersamaanmu dengan Zoenoel.Siapa tau kalian menjadi pasangan wkwkwk


Me : RIP


Setelah itu aku bergegas menuju ke depan sebelum Kak Zen mengamuk.Aku masih terbayang dengan sikap konyolku.Pantas saja mereka semua takut,ternyata Kak Zen anak dari Pak Han.Huh kenapa hidupku menjadi rumit seperti ini?


"Bocah,kenapa kau telat?" tanya Kak Zen tajam.Masih saja dia memanggilku bocah.


"Aku tadi ada urusan sedikit di sekolah" lirihku.


Benar,gara gara Angkasa aku dihukum menyapu kelas sepulang sekolah.Angkasa enak tidak dihukum karena membolos jam pelajaran.Aku?


"Kau pikir bisa seenaknya seperti itu? apa kau selalu telat hmm?" tanya Kak Zen.


"Aku tidak pernah telat,temanku tadi memaksaku memboloa dan yah dia tidak terkena hukuman tapi aku kena"


"Sekolah sungguh sungguh jangan membolos" ketus Kak Zen.


"Yah Kak Zen telat ngomongnya" lirihku yang tidak didengar oleh Kak Zen.


Aku mengambil catatanku dan segera melayani para pelanggan.Aku menatap sendu bangku didekat jendela yang biasanya diduduki oleh Arga.Ah sudahlah aku harus fokus bekerja.Malam ini sungguh melelahkan,mereka semua berdatangan pulang lalu datang yang lain lagi.Aku harus bolak balik kesana kemari.Jika Kak Rakha ada disini,aku bisa santai santai tapi nyatanya dia yang disitu membuatku bekerja ekstra.


"Huh pelanggan terakhir sudah pergi" desahku lelah.


Aku merapikan caffe lalu duduk bersama karyawan lainnya.Aku merenggangkan otot lalu minum air mineral.Aku melirik ke arah Kak Zen,dia sedang menatapku.Aku kembali fokus minum air dan lagi lagi melirik Kak Zen,dia masih menatapku.Aku membanting botol itu ke meja dan menatap Kak Zen.Kak Sinta dan Kak Nia sampai terkejut.


"Kenapa Kakak menatapku terus?" tanyaku kepada Kak Zen.


"Memangnya kenapa? kau pikir aku menyukaimu?" tanya Kak Zen sinis.


"Pertanyaan macam apa itu?" protesku.


Kak Zen menatapku datar lalu pergi.Kak Sinta dan Kak Nia yang tidak paham dengan keadaanpun memilih tidak ikut campur.Aku berjalan mendahului Kak Zen bahkan dengan sengaja menyenggol bahunya tapi aku yang terpental dan dia tidak terusik sedikitpun.Kak Zen menertawaiku habis habisan.Kak Zen tertawa? aku tidak sedang halusinasi kan?


"Kak Zen tertawa?" tanyaku cengo.


"Aku manusia kenapa tidak boleh tertawa?" tanya Kak Zen datar.


"Aku tidak pernah melihatmu tertawa"

__ADS_1


"Karena kau tidak pernah dekat denganku"


Kak Zen menyentil dahiku lalu pergi dengan motor besarnya.Aku menatap kepergiannya dengan sedikit senyuman lalu berjalan pulang.Entah mengapa aku bahagia melihat Kak Zen tertawa dan suasana diantara kami menjadi tidak terlalu dingin.


Silahkan maki aku yang membuat Arga tersakiti,silahkan maki aku yang selalu berurusan dengan Angkasa,silahkan maki aku yang diam diam senang melihat Kak Zen tertawa.Kalian perlu tau,aku tidak pernah menarik mereka kedalam kehidupanku.Aku nahkan memilih menjadi gadis biasa yang berakhir dengan laki laki yang biasa bukan menjadi gadis biasa yang berakhir dengan banyak laki laki luar biasa.Aku tidak tau caranya mengakhiri ini semua.


***


Aku menatap kosong ke arah Arga yang baru saja turun dari mobilnya.Di bagian pintu penumpang ada seorang gadis yang tak asing bagiku.Selena.


"Sejak kapan mereka menjadi dekat?" aku bermonolog.


"Sejak kau menyakiti Arga" bisik Davina di telingaku.


"Aishhh...apa ini? kau mengejutkanku" kataku kaget.


"Dan yah aku sudah berbaikan dengan Selena.Kaminsudah melupakan perselisihan saat itu.Dia tertarik dengan Angkasa dan aku menawarkan kerja sama menggulingkanmu dari Angkasa dan Arga.Kurasa tidak buruk jika aku melakukan kesalahan lagi" Davina menjeda ucapannya.


"Manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan adalah manusia yang tidak pernah belajar dari kehidupan bukan?" Davina menyeringai kearahku.


"Kenapa harus repot repot menyingkirkanku? bukankah kalian beratus ratus derajat lebih tinggi dariku? kurasa kedua lelaki itu tidak akan mengabaikan kalian.Tapi bisa saja mereka memiliki mata yang bagus dan bisa memilih antara yang benar benar tulus dan bukan melihat dari luarnya" aku balas menyeringai.


"Plastik silikon" bisikku ke telinga Davina lalu pergi.


"DASAR KAU ****** KECIL AKU AKAN MENGHANCURKAN MULUT KOTORMU ITU" Teriak Davina.


"Hai" sapaku kepada Errin dan Aiko yang tengah berebut catok rambut.


"Kenapa kau senyum senyum begitu?" tanya Aiko bingung.


"Aku baru saja membalas seaeorang yang menyulitkan hidupku dan yah dia meneriakiku ****** tapi sudahlah aku cukup puas bisa membalasnya" aku menyeringai.


"Kau mengerikan" sindir Errin lalu merebut catok dari tangan Aiko.


"Kenapa kalian memakai alat perusak rambut itu?" komentarku.


"INI BUKAN ALAT PERUSAK RAMBUT" bentak Errin dan Aiko bersamaan membuatku terlonjak kaget.


"Aku pernah memakai itu,rambutku menjadi kasar,kering dan bercabang" jelasku.


"Kau tidak memakai ini?" tanya Aiko seraya menunjukan sebuah benda bulat yang ada didalam kemasan.


"Apa itu?" tanyaku bingung.


"Astaga naga kau tidak tau? kau ini perempuan atau bukan? ini vitamin rambut" Errin mencecarku.


"Kau tau,pagi aku sekolah,selesai sekolah aku bekerja,setelah bekerja aku langsung istirahat dan aku hanya memiliki waktu libur dihari Minggu.Hari Minggu aku mencuci baju,belanja kebutuhan dan bersih bersih lalu istirahat.Aku tidak memiliki waktu untuk memanjakan diri.Apa yang kalian ketahui orang kaya?" aku mendengus sebal.Errin dan Aiko menutup telinganya dan menunduk.


"Ya ya ya terserah kau saja" ujar mereka lalu mencatok rambut.

__ADS_1


"Kau tidak akan mengambil alih posisimu di kehidupan Arga Renalva Dirgantara" ujar seseorang dibelakangku.Selena.


"Apa maksudmu?" tanyaku pura pura tidak tau padahal aku tau apa yang ia maksud.


"Arga akan kujadikan milikku" tegas Selena.


"Gadis tidak tau terimakasih.Beginikah perlakuanmu setelah dia menyelamatkanmu dari cengkraman Tuan Muda?" tanya Aiko sinis.


"Aku yakin aku sudah berterimakasih waktu itu" ujar Selena lalu kembali ke tempat duduknya.


Mr.Dion hadir di kelas membicarakan ulangan pertengahan semester.Rasanya baru kemarin aku masuk kesini tapi sudah UTS saja.Setelah Mr.Dion pergi aku dan kedua temanku menuju kantin untuk makan siang karena bel sudah berdering.


"Kemarin kau terlibat masalah lagu?" tanya Rio.


"Begitulah bahkan aku tidak sempat makan siang bersama kalian"


"Tapi kau makan siang bersama Angkasa bukan?" tanya Rio mencoba menggodaku.


"Kau tau dari mana?" tanyaku frustasi.


"Tentu saja daei forum sekolahan.Mereka membicarakan tentang kau yang memasakkan Angkasa makan siang didapaur" jelas Rio.


"Padahal kemarin kelas sudah dimulai.Darimana mereka mendapat berita ini?" tanyaku lelah.


Arga berjalan melewati mejaku dengan Selena yang menggandeng tangannya.Aku segera bersiri dan meraih tangan Arga.


"Tunggu" aku berkata dengan lantang.


"Apa kau dan aku masih memiliki urusan?" tanyanya dingin.


"Aku akan menjelaskan tentang hubunganku dan Angkasa"


"Tentang kalian yang menjalin hubungan dibelakangku? atau tentang kau yang membohongiku bahwa kau tidk memiliki perasaan apapun kepadanya?" Arga mengangkat sebelah alisnya.


Aku terdiam mencerna kata katanya.Apa yang didepanku ini Sungguh Arga?.Dalam waktu sehari dia langsung berubah drastis.


"See? kau tidak bisa menjawab" Arga menyeringai.


"Aku.." ucapanku terpotong oleh Angkasa yang tiba tiba berdiri didekatku.


"Kenapa harus repot repot menjelaskan kalau dia tidak mau mendengar?" tanya Angkasa dengan santainya.


"Bukan begitu sayang?" Angkasa menekankan kata 'sayang' diakhir kalimatnya.Aku memelototinya.


"Maaf aku harus makan dengan gadisku di sana.Sebaiknya kau cari tempat yang lain Dirgantara" ujar Angkasa sinis lalu menarikku menuju meja yang lebih tinggi itu.


"Selamat atas kebahagiaan kalian kalau begitu" ujar Arga setengah berteriak.


Secepat itu kau berubah Arga? Bukankah kemarin kau yang mengajakku bersahabat denganmu?

__ADS_1


__ADS_2