Secepat 24 Jam

Secepat 24 Jam
10


__ADS_3

Kacau! Kacau! Kacau!


Kenapa aku kepikiran Kak Zen sejak tadi? berkali kali aku memejamkan mata berharap bisa tertidur tapi nihil.Arggghhhhh kenapa juga aku menyahut ucapan Kak Zen.Menyebalkan memang,kalau sampai aku mendapatkan shift siang,aku akan mogok kerja.Ponselku berbunyi,ada pesan dari whatsapp.


(unknown) : keluar,cepat** !


Me : siapa?


(unknown) : Angkasa,jangan banyak tanya !


Me : Ada perlu apa ha?


(unknown) : CEPAT ATAU KUGILING KAU DENGAN MOBILKU**!!!!


Aku segera mengambil jaket dan berjalan menuju gang sebelum Angkasa menggilingku dengan mobil mewahnya.Aku bisa melihat Angkasa dari kejauhan.Dia sedang bersandar dibagian depan mobilnya dengan pakaian santai.Entah mengapa walau dengan pakaian santai dia tampak seperti model.Jeans selutut dan kaos putih bertuliskan Blood Sweat and Tears yang kuketahui sebagai judul lagu dari salah satu group idol ternama yaitu BTS.Apa dia tidak sadar kalau dengan memakai pakaian seperti itu bisa menarik perhatian banyak wanita?.Maksudku lihatlah mereka yang cekikian saat melintas didepan Angkasa.Tapi kenapa aku kesal?


"Oi" sapa Angkasa ketika aku sampai didepannya.


"Kenapa?" tanyaku langsung pada intinya.


"Ikut aku kerumah sebentar"


Angkasa memasukanku secara paksa kedalam mobilnya.Selalu saja seperti ini.Dalam perjalanan yang tak kuketahui kemana tujuannya,kami hanya ditemani oleh hening.Dia seolah menganggapku tidak ada disampingnya dan fokus menyetir.Sementara aku pusing memikirkan cara untuk memulai obrolan.Kami memasuki sebuah gerbang besar yang terdapat tulisan nomor 21.Aku terpana melihat pohon pohon rindang yang jumlahnya tidak sedikit.Sekitar 10 meter dari pepohonan ini ada air mancur besar berbentuk panglima perang.Air yang menyembur di air mancur itu juga unik.Mereka seperti air yang menari diudara.Angkasa memasuki sebuah ruangan yang terang dan memarkirkan mobilnya disana.Ada sekitar 10 ah 20 mobil terbagus dari beberapa merk mobil kelas dunia termasuk milik Angkasa.


"Milikmu semua?" tanyaku kagum.


"Bukam juga,sebagiam milik bunda dan ayah" jawab Angkasa tanpa memperhatikan kearahku.Aku keluar dari ruangan itu dan menatap bangunan super besar yang dikelilingi lampu lampu berwarna putih.Ini seperti stadion tapi berbentuk rumah.Benar benar luas.


"Ini dimana?" tanyaku lagi.


"Rumahku" jawab Angkasa datar seolah tak terjadi apa apa.


"APA? RUMAHMU?" Jeritku tak percaya.


"Didepan orang tuaku,kamu harus beelagak seolah kamu ini pacarku mengerti?"


"Pacar? menurutmu aku suka sama kamu?" aku berdecih.


"Kamu tidak suka?" tanya Angkasa tidak percaya.


"Tidak sama sekali" jawabku acuh.


"Kau ini tidak waras atau bagaimana?" bentak Anglasa saat kami mencapai tangga terakhir.


"ARGGGGHHH KATAKAN SAJA APA TUJUANMU MEMBAWAKU KEMARI?" Jeritku tepat didepan wajah Angkasa.


"Angkasa siapa dia?"


Aku menoleh dan mendapati wanita paruh baya yang sangat cantik di caffe tadi siang.Wanita yang menjadi bunda dari seorang Angkasa.


"Eh Tante,saya Dinda" jawabku ramah.


"Kau pacarnya? kalau begitu ayo ke meja makan dulu"

__ADS_1


Bunda Angkasa merangkulku menuju ke suatu tempat yang kuyakini sebagai tempat makan.Aku mengacungkat jari tengah ke Angkasa diam diam dan pasti dia tengah mengumpatiku.Aku terkekeh pelan.Bagaimana bisa orang tua sebaik dan selembut ini memiliki putra yang begitu keras kepada dan suka seenaknya.Bunda Angkasa membawaku duduk didekatnya dan berhadapn langaung dengan Angkasa dan pria paruh baya yang masih terlihat muda dan tampan yaitu ayahnya.Kami makan dalam diam dan jujur saja aku tidak bisa mengoperasikan alat alat makan seperti pisau yang terdiei dari macam macam bentuk dan ukuran.Memakai sumpit pun aku masih amatiran.Akhirnya aku makan daging yang susah dipotong kecil kecil.Selesi makan,kedua orang tua Angkasa menatapku serius membuatku gugup.


"Apa yang kamu suka dari anak nakal ini?" tanya Ayahnya langsung.


"Dia baik,ramah,emmmm..tampan?" jawabku tidak meyakinkan.Mereka diam saja menatapku datar.


"Ah sebenarnya dia gila,pemaksa,penindas dan menyebalkan" jawabku jujur terang terangan.Angkasa menggenggam pisaunya erat dan memelototiku.


Aku mendengar suara tawa pecah di meja makan.Ayah dan Bundanya Angkasa tengah tertawa renyah kecuali Angkasa yang terlihat geram.


"Apa kau pernah diganggunya nak?" tanya Bunda Angkasa disela sela tawanya.


"Setiap hari" jawabku mantap.


"Pukul saja dia haha" ujar Ayah Angkasa


"Lalu bagaimana ceritanya kalian bisa saling mencintai?" tanya Bunda Angkasa.


Saling mencintai? Euuhh ini mengerikan.Aku bahkan tidak pernah mengharapkan Angkasa jatuh cinta kepadaku.Aku menatap Angkasa dan Angkasa langsung menangkap kode dariku.


"Memang awalnya kami seperti kucing dan anjing tapi lama kelamaan kami seperti sepasang burung dara" jawab Angkasa.


APA APAAN INI? Kenapa kata katanya menggelikan seperti itu? Arghhh apa kau benar benar Angkasa ha? Apa kau kerasukan di jalan? Oh ayolah aku ingin muntah sekarang juga.


"Benar begitu?" tanya Ayah Angkasa.


"Iya Tuan...?"


"Ayah?" tanyaku tak percaya.


"Iya sayang dan kau bisa memanggilku Bunda" ujar Bunda seraya mengelus rambutku.


Rasanya sudah ribuan tahun aku tidak menyebutkan nama itu.Aku menghela nafas untuk meredam air mataku yang terus menerus mencoba keluar.Aku menatap mereka berkaca kaca.


"Terimakasih,kalian membuatku merasakan kehangatan keluarga" ujarku bersamaan dengan air mataku yang lolos.Aku segera mengambil tisu untuk menghapusnya.


"Hei kenapa kau menangis? apa selama ini kau ditinggal kerja orangtuamu? dan mereka tidak memperhatikanmu sejak kecil?" tanya Bunda bertubi tubi.


"Siapa nama panjangmu? kamu berasal dari keluarga mana?" tanya Ayah.


"Namaku Dinda Eeverinal dan aku bukan berasal dari keluarga manapun Ayah,orang tuaku meninggal sejak aku kecil"


"Benarkah?" tanya mereka tidak percaya termasuk Angkasa.


Aku menatap mereka sendu.Mungkin mereka akan menendangku setelah mengetahui aku bukan dari keluarga kaya seperti kebanyakan orang kaya yang lainnya.Baru saja aku merasakan kehangatan keluarga.Bunda memelukku tiba tiba membuatku sedikit terkejut.


"Ceritakan tentang kehidupanmu kepada kami nak" ujar Bunda berurai air mata.Apa? Sungguh? Mereka tidak menendangku?.


"Orang tuaku menjadi korban pembunuhan sekaligus korban kecelakaan.Aku hidup bersama nenek,setelah nenek meninggal aku dititipkan di panti asuhan.Aku bukan dari keluarga seperti kalian.Aku bekerja paruh waktu saat liburan kelulusan sampai sekarang menjadi pelayan di caffe kecil kecilan.Gajinya cukup untuk menghudupiku selama 1 bulan serta untuk membayar sewa kost.Aku bisa bersekolah di Na Elvarett berkat beasiswa dari keluarga kalian"


"Hei tidak asing" ujar Bunda tiba tiba.


"AHA!!! KAU PELAYAN CAFFE TADI PAGI YA? DAN KAU PEMENANG BEASISWA TAHUN INI?" Teriak Bunda membuat kami terlonjak termasuk para maid maid di rumah Angkasa.

__ADS_1


"Iya Bun,aku pelayan tadi" jawabku.


"Minuman di caffemu sangat enak" puji Bunda.


"Ternyata kamu Dinda anak pintar yang berhasil memenangkan beasiswa itu" ujar Ayah.


Ayah dan Bunda tepuk tangan membuatku tersipu malu.Ayah menghela nafas panjang.


"Kamu bisa tinggal disini kalau kau mau,kamu tidak perlu bekerja lagi" ujar Ayah.


"APA? TIDAK BISA!" Teriak Angkasa.


"Tidak ada yang bertanya pendapatmu" ketus Bunda menatap Angkasa sinis.


"Terimakasih Bun tapi lebih baik aku tinggal di kost saja.Lagipula aku tidak mau merepotkan kalian" tolakku halus.


"Heii bicara apa kau,kami ini keluargamu.Orang tua Angkasa orang tuamu juga" ujar Bunda.


"Kenapa Bunda memaksanya? kalau dia tidak mau biarkan saja" gerutu Angkasa.


"Ayo ku antar pulang sudah malam" lanjutnya.


Ayah dan Bunda mengantarku sampai kedepan pintu.Aku baru sadar Angkasa benar benar kaya raya,tidak bohongan.Banyak koleksi karya seni yang kuyakin berharga ratusan juta.Bunda memelukku dan menatapku lembut.


"Kenapa tidak tinggal disini saja? aku bisa memiliki teman jika kau tinggal disini.Kau tau aku sangat kesepian ketika mereka berdua tidak ada dirumah" kata Bunda.


"Aku akan sering membawanya kesini" ketus Angkasa lalu berjalan menuruni tangga teras.


"Iya Bunda aku akan sering kesini"


Aku mencium tangan Ayah dan Bunda lalu berjalan menuju Angkasa yang sudah berdiri dengan mobilnya didepan rumah.


"Diantara banyaknya mobil yang kau punya kenapa kau selalu memakai ini?" gerutuku.


"Memangnya kenapa? ini keren dan juga jagoanku" Angkasa mengecup kaca mobil yang terbuka atapnya itu.


"Bisakah kau mengantarku dengan mobil biasa? itu terlalu mencolok" pintaku.


"ANGKASA TURUTI KEMAUANNYA" Teriak Bunda yang mendengar pembicaraan kami.


"PAKAI MILIK AYAH" Teriak Ayah.


Angkasa menatapku tajam lalu mendengus.Angkasa memasukan mobilnya ke garasi lalu keluar lagi dengan mobil berwarna hitam mengkilat bermerk BMW.Astaga ini sama saja mencolok.Aku tidak enak jika berkomentar lagi.Aku sebera berjalan menuju kurai penumpang.Aku melambaikan tangan lalu masuk ke dalam mobil.Angkasa melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumahnya.


"Orang tuamu menyenangkan,sayangnya mereka memiliki anak yang tidak menyenangkan" ujarku memecah keheningan.


"Aku tidak tau mereka akan menyukaimu.Dan asal kau tau,kau wanita pertama yang masuk ke rumahku"


"Kenapa nada suaramu meninggi? kau yang mengajakku masuk kesana ingat?"


"Terserah.Jika didepan orang tuaku kau harus menjadi pacar bohonganku dan jika tidak ada mereka,kembalilah menjadi pelayan Tuan Muda Elvarett mengerti?" tanya Angkasa sedikit membentak.


Aku hanya diam saja tidak menanggapinya.Aku harus berpura pura menjadi pacar Angkasa itu mengerikan.Aku tidak enak jika membohongi orangtuanya terus menerus.

__ADS_1


__ADS_2