
"Kau"
Jantungku berpacu 5x lebih cepat.Hatiku berdebar kencang.Seluruh organ tubuhku mendadak berhenti hanya karena kata kata itu.Tubuhku benar benar membeku dan mulutku bergetar.Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku saat ini.
"Terlambat" dengus Angkasa.
"Apa?" tanyaku bingung.Mendadak ada suara kaset rusak di kepalaku.
"Kau terlambat" ulang Angkasa.
"Terlambat apa?"
"Kau terlambat kerja bodoh"
Mobil Angkasa langsung berjalan setelah pemiliknya mengatakan itu.Arghhhhh ini memalukan.Apa dia mempermainkanku? Rasanya aku ingin menjambaknya sekarang.Tapi kenapa aku kesal ?
Tak terasa mobil Angkasa sudah behenti didepan parkiran caffe.Aku langsung keluar dari mobilnya tak lupa untuk membanting pintunya.Aku mnedengar Angkasa mengumpat tapi kuhiraukan dan langsung masuk ke caffe.Aku yakin Angkasa sadar tentang kesalahpahamanku.Benar benar menyebalkan!
"Din" sapa Kak Rakha.Aku langsung menghentikan langkahku dan menatap Kak Rakha.Aku menendang tulang keringnya pelan tapi dia berlagak seolah kakinya barusaja patah.
"Kenapa baru masuk?" gerutuku.
"Aku tau kamu merindukanku tapi jangan menganiyaya diriku dong haha" Kak Rakha tertawa dengan gaya khas nya.
Aku mencibirnya lalu masuk ke ruang karyawan.Selesai mengganti baju aku melakukan pekerjaanku seperti biasa.Berkali kali aku melirik Angkasa yang kebetulan melirikku dan entah mengapa hal itu membuat pipiku panas.Lonceng caffe berbunyi,seseorang masuk.Sebuah kejutan,Kak Zen datang dengan memakai jeans dan hoodie.Dia duduk tepat di belakang Angkasa.
"Dia juga dilayani?" tanyaku ke Kak Rakha.
"Kelihatannya datang sebagai pelanggan.Kamu hampiri saja" jawab Kak Rakha.
Aku menghampiri Kak Zen.Saat melewati Angkasa,bulu kudukku merinding.Kak Zen menatapku datar lalu menunjuk gambar ice americano.Aku langsung pergi tapi tanganku ditahan seseorang dan dengan sangat terpaksa aku berhenti.
"Aku mau bicara" ujar Angkasa.
"Apa?" tanyaku seraya duduk didepannya yang artinya menghadap Kak Zen.
"Apa kau marah karena aku membuatmu salah paham?" tanya Angkasa.
"S..salah paham apanya?" tanyaku gugup sekaligus malu.
"Kau menanyakan aku mencintai siapa.Alih alih menjawab pertanyaanmu aku mengatakan kau terlambat tapi kau mengira aku mencintaimu.Kau tau,aku tidak bermaksud membuatmu salah paham.Aku baru saja bilang 'kau' lalu terhenti melihat ekspresi kagetmu lalu aku segera meneruskan 'terlambat' dan akhirnya kau marah sampai membanting pintu mobilku" jawab Angkasa panjang lebar yang membuatku pusing dengan kata katanya yang memusingkan kepala.
"Jadi..Jadi kau tidak terima aku membanting pintumu?" tanyaku agak nyolot untuk mengatasi kegugupanku.
"Tentu saja,aku tidak suka barang kesayanganku dirusak tangan tangan tidak berguna" jawab Angkasa santai lalu menyesap minumannya.
"Apa maksudnya tidak berguna?" protesku.
__ADS_1
"Hei,tidak boleh mengobrol di jam kerja" sela Kak Zen berjalan ke arahku.
"Kau siapa? jangan ikut campur" tukas Angkasa.
"Aku putra pemilik caffe ini" jawab Kak Zen tak kalah angkuhnya.
"Oh jadi ini milikmu" Angkasa mencibir Kak Zen.
"Dengarkan aku,kau hanyalah bocah dan bersikap baiklah kepadaku mengerti?" Kak Zen menepuk kepala Angkasa pelan.
Angkasa langsung menampik tangannya dengan kasar dan berdiri menjulang melebihi Kak Zen.Jangan mrlupakan fakta bahwa Angkasa masih memiliki darah orang Barat yang memiliki postur tubuh tinggi tinggi.
"Kau bilang apa? bocah? jangan asal bicara! aku ini Elvarett.Kau tak pantas mengusikku apalagi menasehatiku.Diamlah atau kau rasakan akibatnya" ancam Angkasa.
"Lalu apa peduliku kalau kau anak keluarga konglomerat? disini aku lebih tua jadi kau harus menghormatiku"
"Menghormatimu? Apa kau mau mati?"
"Sudah sudah tidak baik bertengkar didepan umum" aku menengahi.Bagaimana jadinya jika batu diadu dengan batu.
"Sudahlah,bertengkar dengan anak kecil tidak ada gunanya,lebih baik aku bersantai" ujar Kak Zen.
"Hei Zoenoel,mau bertaruh? ayo berlomba membuat coffie art disini" ujar Angkasa menantang Kak Zen.
"Darimana kau tau namanya?" bisikku.
"Darimana kau tauuuuu?" tanyaku jengkel.
"Aku putra tuan tanah disini.Aku tentu saja tau" jawab Angkasa menyobongkan diri.
"Baiklah.Aku akan menerima tantanganmu.Jika kau menang,kau boleh membawa pulang paket spesial kami dengan gratis dan jika kau kalah,bayari semua orang disini" ujar Kak Zen.
"Aku tidak butuh gratisan" desis Angkasa.
"Terserah kau saja.Apa yang kau ketahui tentang kopi orang kaya?" sindir Kak Zen.
Kak Rakha sepertinya sangat mendukung semua ini.Dia sudah datang membawa 2 cangkir kopi yang sudah ada buihnya.Angkasa duduk berhadapan dengan Zen.Semua pengunjung berkumpul di meja ini dan tak tanggung tanggung untuk merekamnya.
Kak Zen mulai membuat gambar seekor rusa dai tengah hutan.Sangat cantik.Sementara orang satunya sedang sibuk menatap kopinya dengan dahi yang mengkerut.Setelah beberapa menit Kak Zen sudah menyelesaikan hasilnya.Semua orang bertepuk tangan.Aku melihat Angkasa mengambil bubuk kokoa dan mengetuknya sebanyak 3 kali.Angkasa mendorong kopinya didekat kopi Kak Zen.Semua orang melongo menatap milik Angkasa.
"Kau ini berniat menantangku apa tidak?" tanya Kak Zen menahan tawanya.
"Jangan memasang tampang menyebalkan didepan karyaku Zoe" sinis Angkasa.
"Kau bilang ini karya?" tawa Kak Zen meledak dan semua orang disini hanya tersenyum canggung.
"Kurang ajar.Ini pemandangan galaksi.Inilah angkasa raya seperti aku sendiri Angkasa" ujar Angkasa bangga.
__ADS_1
"Bagus bukan?" tanya Angkasa ke semua orang.
"BAGUS TUAN MUDA" seru semua orang.Angkasa tersenyum bangga.
"Cih,mereka hanya takut kepadamu" Kak Zen berdecih.
"Apa aku peduli?" tanya Angkasa tertawa.
"KAU! SIAPA PEMENANGNYA?" tanya Angkasa antusias kepada Kak Rakha.
"Eh..kalian..bagaimana ya..impas" jawab Kak Rakha setengah hati.Haha Kak Rakha kenapa takut kepada Angkasa juga?
"Impas" desah Angkasa lega.
Semua orang bertepuk tangan lalu bubar.Sebagian masih menetap dan mengagumi paras keduanya.Aku juga kembali bekerja.Kak Zen masih duduk ditempat Angkasa.Dia menyilangkan tangannya mengamati Angkasa yang memotret kopinya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Kak Zen malas.
"Jangan ikut campur.Aku sedang mempotret karyaku" ketus Angkasa.
"Potret saja punyaku,punyamu sungguh menyedihkan"
"Kau...benar...benar...tidak...tau...seni" ujar Angkasa memanjangkan vokalnya.Astaga anak ini.
Kak Zen dan Angkasa masih saja berdebat.Aku melakukan pekerjaanku hingga malam tiba.Kak Rakha didatangi perempuan waktu itu.Dengan malu malu Kak Rakha membuat kopi didepan wanita itu.Aku menyikuti tangannya saat wanita itu pergi.Kak Rakha menjewet telingaku dan menyuruhku kembali melayani pelanggan pelanggan yang berdatangan.
"Kau harus membuat keputusan Din" ujar Kak Rakha ketika tidak ada pesanan lagi.
"Maksud Kakak?"
"Kau jangan menggantungkan mereka.Tuan Muda dan Barista"
"Jangan bercanda.Aku tidak memiliki hubungan apa apa dengan mereka.Kak Zen teman kerja dan Angkasa teman sekolah" tegasku.
"Cepat atau lambat anak itu akan menyatakan perasaannya"
"Siapa?"
"Tuan Muda itu.Aku melihat ada yang ganjil dengan matanya.Dia melihatmu dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.Apa kau idak sadar?"
"Berbeda bagaimana?" tanyaku termakan omongan Kak Rakha.
"Dia seperti menatap sebuah karya yang indah padahal....apa bagusnya orang ini?" ejek Kak Rakha.Aku memukul lengannya.
"Tapi serius.Dia menatapmu dengan tatapan berbeda.Seperti rasa yang melebihi persahabatan"
"Kau tau Kak? hari ini kau seperti pujangga"
__ADS_1
Aku menjauh dari Kak Rakha yang terus terusan menggodaku.Aku menatap Angkasa yang baru saja membentak Kak Zen.Apa benar dia menatapku seperti laki laki yang menatap perempuan?