
"Ohh kalian membully ku lagi" ujar Rio bersandiwara.
"Jangan berlebihan" ujar Aiko dan Errin bersamaan.
Kami sedang makam di kantin dan kami masih menertawakan lukisan Rio tadi.Lukisannya benar benar hancur.Kepala yang kelewat besar,hidung terlalu panjang,mata menonjol sebelah dan parahnya lagi warna squidward nya adalah hijau bukan abu abu.Davina datang dan meletakkan piringnya yang masih berisi makanan dihadapanku.Aku menatapnya bingung.
"Aku yakin kau kekurangan makanan.Makanlah sebanyak banyaknya sampai kau kenyang.Disini gratis loh,tidak mudah mendapatkan gratisan diluar sana" ejek Davina.
"Apa maksudnya ini?" tanyaku tajam.
"Aku kemari membawakanmu makanan lebih kenapa kau bersikap seperti itu kepadaku?" tanya Davina bersandiwara.
"Karena setiap kau datang pasti akan ada masalah" sahut Errin.
"Diam kau,tidak ada yang mengizinkanmu berbicara" sergah Davina kesal.
"Mau berbicara atau tidak memangnya harus meminta izin kepadamu dulu?" tanyaku tertawa kecil.
"Kurang ajar"
Davina menjambak rambutku dan mengantukan kepalaku ke meja.Suasana kantin menjadi riuh melihat kami berdua.Aku ingin membalas Davina tapi nantinya akan menjadi masalah jadi kubiarkam saja sampai guru datang.Kepalaku sakit,rambutku seakan tercabut dari akarnya.
"HENTIKAN..HEI HENTIKAN INI" Teriak Mr.Andri yang datang tiba tiba.
"Dia yang mulai duluan Pak" adu Davina.
"Aku bahkan tidak menyentuhmu" protesku.
"SUDAH CUKUP! KALIAN BERDUA IKUT SAYA"
Aku berjalan mengikuti Kepala Sekolah.Penampilanku? jangan ditanyakan lagi.Aku seperti singa yang baru saja keluar dari kebun binatang.Aku dan Davina duduk di depan Kepala Sekolah.
"Saya harus menyelesaikan ini dihadapan komite sekolah dan juga wali kalian" ujar Mr.Andri.
"Tapi,saya tidak punya orang tua" lirihku.
"Anak haram" cela Davina.
"JAGA BICARAMU DAVINA" Bentakku.
"SHUUUTTTT...Kalau tidak ada wali,kamu sendiri saja.Tunggu sebentar aku akan menghubungi mereka"
"Ibuku komite sekolah,berhati hatilah" ujar Davina santai.
"Haha aku tidak peduli" balasku.
"Lihat saja apa kau masih berani berbicara dengan mulut besarmu" desis Davina.
"BAIKLAH KALIAN BERDUA IKUT KE RUANG SIDANG SEKARANG" Teriak Mr.Andri.
"Ruang Sidang?" tanyaku bingung.
"Ruangan untuk anak anak bermasalah seperti kamu" jawab Mr.Andri lalu pergi menuji ruang sidang.
Setelah 30 menit menunggu,pintu terbuka dan banyak ibu ibu berdatangan.Gaya mereka modis dan mencerminkan kehidupan orang kaya.Mereka duduk dan menatap kearahku sinis.Hanya kearahku bukan ke arah Davina.
"Pada saat jam istirahat tadi,seorang siswa yang melapor ada keributan di kantin.Saya selaku Kepala Sekolah langsung turun tangan dan mendapati mereka bersua saling menjambak dan mengatukkan kepala di meja" jelas Mr.Andri.
__ADS_1
"Saya mengundang anda sekalian untuk memusyawarahkan masalah ini.Jangan sampai citra aekolah tercinta ini buruk hanya karena ada kekerasan disekolah" lanjutnya.
"Bisa kalian jelaskan?" tanya Mr.Andri kepada kami.
"Dia yang mulai duluan" ujar Davina tenang.
"Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu hmm?" tanyaku yang tak kalah tenangnya.
"Aku hanya memberinya makan siang lebih dan dia mencecarku bersama temannya lalu menamparku.Aku menjambak sebagai bentuk bela diri" dusta Davina.
ARGHHHH DAVINA! KAU!
"Tidak seperti itu,dia memberiku makanan lebih dan menghinaku karena aku miskin.Dia..." kalimatku terpotong oleh suara dari ibu ibu yang duduk di sebelah kiri Kepala Sekolah.
"CUKUP.Tidak mungkin putriku mengatakan hal itu.Dia ini anak yang baik.Jangan mengada ada" bentaknya.
Aku menatap Ibu Davina itu dengan tatapan tidak percaya.Aku menoleh kearah Davina yang tersenyum tipis.Dan yang menyebalkan adalah semua mengangguk setuju dengan Ibu Davina.
"Saya setuju dengan Nona Riana" ujar swmua orang diruangan itu.
"Kenapa tidla ada yang mendengarkanku?" keluhku.
"Sudahlah,kami sudah memutuskan kau yang memulai perkara ini.Kau siswa beasiswa kan?" tanya Nona Riana ibu Davina.
"Saya memang anak beasiswa tapi apa kalian todak bisa memberi keadilan untuk saya?" tanyaku kesal.
"Kami ausah memutuskan untuk mencabut beasiswamu.Kamu melakukan kekerasan yang bisa membahayakan orang lain.Masih baik kamu tidak dikeluarkan" ujar Mr.Andri.
Menyebalkan! mereka berada di pihak Davina.Kenapa orang kaya bisa berbuat seenaknya.Aku menggenggam tanganku kuat kuat menahan air mata yang siap terjatuh.Kalau beasiswaku dicabut,otomatis aku akan keluar dari sekolah ini karena aku tak sanggup membayar biaya sekolah disini yang harganya selangit.
BRAKK
"Ada perlu apa?" tanya Mr.Andri.
"Saya keberatan jika beasiswanya dicabut" ujar Angkasa dengan suara yang mengerikan.
"Semua sudah jelas Angkasa" ujar Mr.Andri.
"Kami punya rekamannya" sahut Arga.
Aku menyeringai kearah Davina.Wajah Davina pucat dan mengeluarkan keringat dingin.Arga maju dan memberikan ponselnya kepada Mr.Andri.Mereka semua melihat isi dari rekaman itu.
***
"*Aku yakin kau kekurangan makanan.Makanlah sebanyak banyaknya sampai kau kenyang.Disini gratis loh,tidak mudah mendapatkan gratisan diluar sana"
"Apa maksudnya ini?"
"Aku kemari membawakanmu makanan lebih kenapa kau bersikap seperti itu kepadaku?"
"Karena setiap kau datang pasti akan ada masalah"
"Diam kau,tidak ada yang mengizinkanmu berbicara"
"Mau berbicara atau tidak memangnya harus meminta izin kepadamu dulu?"
"Kurang ajar*"
__ADS_1
***
"Disini jelas jelas Davina yang menjambak lebih dulu" kata Angkasa.
"Tapi di video ini Davina benar benar memberikan makanan dan mereka malah menanggapinya dengan emosi yang berlebih.Davina terpancing dan menjambak rambut gadis itu" Nona Riana membantah.
"Kebohongannya tidak bisa ditoleransi kan?" tanya Angkasa tajam.
"Baiklah bagaimana kalau berdamai saja?" tanya Mr.Andri yang bingung menghadapi semua ini.
"TIDAK BISA.DIA HARUS DIKELUARKAN SEKARANG" Jerit Davina.
"Davina,kita mengalah saja.Mr.Andri,kami menyetujui untuk berdamai" ujar Nona Riana tenang.
Davina duduk dengan kasar sambil melipat tangan didepan dada.Aku menatap Angkasa dan Arga sambil tersenyum.Aku nyaris saja ditendang dari sekolahan ini tapi berkat Yang Maha Kuasa yang menghadirkan mereka,aku bisa bertahan disekolah ini.
***
Pulang sekolah aku diseret Angkasa.Kali ini Anglasa datang ke kelasku dan langsung menyeretku tanpa berkata apapun.Aku meneriakinya dan menendangnya tapi dia tak menggubrisku sama sekali.Kami menjadi bahan tontonan orang orang.
"Bunda menyuruhku membawamu ke rumah" ujar Angkasa setelah masuk ke dalam mobil.
"Tidak bisa,aku harus ke bekerja" tolakku.
"Argh tidak bisakah membolos sehari saja? ibu ibu itu akan mengomeliku semalaman"
"Sampaikan salamku saja.Aku benar benar harua bekerja Angkasa"
"Oke.Kau harus membuat rekaman di ponselku"
"Apa harus seperti itu?" tuntutku.
"Tentu saja.Apa kau pikir dia akan percaya kepadaku begitu saja?"
"Ah baiklah baiklah"
Aku menatap kamera belakang Angkasa yang flash nya sudah menyala.Aku membenahi dandananku terlebih dulu dan tersenyum.
"Bunda maaf aku tidak bisa bekerja,aku harus pergi ke Caffe untuk bekerja.Kalau ada waktu aku akan mampir.Aku ini orang sibuk haha.Sudah ya Bunda aku akan ke Caffe...." aku menatap Angkasa bingung karena tangannya menunjuk ke arah dirinya sendiri.
bersama denganku...Isyaratnya.
"Diantar Angkasa" lanjutku cepat cepat.
Angkasa menarik ponselnya lagi lalu menyuruhku turun dari mobil.Aku menatapnya bingung.
"Apa lagi? turun!" perintahnya.
"Dasar penipu! tidak bertanggung jawab!" teriakku.
Angkasa menyeringai lalu melajukan mobilnya dengan kencang menuju ke gerbang yang jaraknya jauh dari sekolahan.Aku menghentakkan kakiku menuju gerbang.Suara klakson menghentikan langkahku.
"Masuklah aku akan mengantarmu" ujar Arga.
"Kau terlalu baik Arga" aku masuk kedalam mobilnya.
"Kenapa akhir akhir ini kau dekat dengan Angkasa?"
__ADS_1
Dekat dengan...Angkasa?