
Aku berkali kali dibentak tetapi rasanya kali ini dia benar benar serius.Rasanya menyakitkan terlebih orang yang biasanya membelaku hanya menatapku dan mengacuhkanku.Astaga aku benar benar berada di neraka.Aku membenarkan ucapan ketiga pria di restoran semalam.Mereka benar,Angkasa sangat memperhatikan strata.
"Apa dia mengganggumu lagi Angkasa?" tanya Davina yang baru saja turun dari mobil yang mengantar jemputnya.Davina dengan lancang bergelatut di lengan Angkasa.
"LEPASKAN SIALAN! kau sama saja dengan dia,pengganggu" bentak Angkasa kepada Davina.
Angkasa berjalan mendahului kami setelah menepis tangan Davina.Aku menatap kepergiannya dengan tatapan kosong.Angkasa benar benar kembali kepada dirinya dulu.
"Gara gara kamu,aku jadi kena marah Angkasa" ujar Davina tajam lalu berjalan memasuki sekolahan.
Aku mencibirnya dan berjalam menuju kelas X-01.Aku meletakan tas Angkasa dimejanya lalu pergi.Dia tidak berkata apapun dan juga tidak mengalihkan perhatiannya dari ponsel sama sekali.Aku sampai di kelas dan hatiku kembali muram melihat Selena sedang duduk dimejaku.
"Dasar kau! turun atau kupatahkan kakimu" maki Errin.
"Kenapa? dia tidak keberatan tuh" Selena mengedikkan dagunya kearahku.
"Dinda" ujar Aiko.
"Turun dari bangkuku" desisku.
"Uh kenapa kau mendesis seperti ular?" ejek Selena.
"Seharusnya kau kukeluarkan dari sekolah waktu itu"
"Sayangnya tidak bisa,hubunganmu dengan Tuan Muda sedang tidak baik bukan?" tanya Selena mengejekku.
"SELENA" teriakku.
"Apa?"
"Jika aku sedang bermasalah dengan Angkasa kenapa? bukankah sudah sejak lama aku bermasalah dengannya?"
"Yah kurasa akhirnya Angkasa kembali ke dirinya sendiri"
Selena pergi dari bangkuku dengan senyuman liciknya.Benar benar anak itu! lain kali jika dia membully orang aku akan menangkap basah dirinya dan mengeluarkannya dari Na Elvarett.
Pelajaran berlangsung seperti biasa.Aku mengikuti pelajaran dengan baik tanpa ada gangguan apapun sanpai pada saat bel istirahat mataku tak sengaja melihat ke arah jendela.Ditengah lapangan seorang siswa memukuli dua orang siswa yang sudah babak belur.Astaga Angkasa kau berulah lagi? aku menunggu sampai guru yang mengajarku mengizinkan kami istirahat.Aku langsung berlari secepat kilat dan aku masih mendengar temanku menyerukan namaku.Aku langsung menuju lapangan dan disana sudah banyak orang.Aku menyibak kerumunan dan mendapat banyak umpatan.Dua siswa itu sudah terkapar dengan lebam di wajahnya.Angkasa tak menunjukkan tanda tanda akan berhenti memukul mereka.Tak seorang pun ada yang melerai mereka.
Baru saja aku melangkah,pikiranku melayang kepada kejadian pertama kali bertemu Angkasa dimana dia memukul orang dan dia membenciku seperti melihat koloni bakteri dan menyengsarakanku.Tapi mereka jauh membutuhkan pertolonganku.Aku segera maju dan menggenggam tangan Angkasa yang terkepal.Angkasa menatapku nanar lalu segera menepis tanganku.Perhatiannya teralih kepadaku.
__ADS_1
"KAU MAU APA LAGI HAH?" Angkasa meneriakiku.
"Sudah" hanya satu kata itu yang keluar dari bibirku.
"ARGH TUTUP MULUTMU"
Baiklah aku sekarang takut.Aku benar benar takut melihat Angkasa yang mengerikan saat marah.Angkasa kembali menendang kedua orang itu.Aku segera memegang bahunya.Anggap saja aku cati mati.Angkasa mendorongku sampai aku terjatuh tapi badanku ditahan seseorang.Kak Kelvin? Yang benar saja huh? dia selalu mendukung sesuatu yang membuatku celaka kenapa dia menahanku? ah dipikir pikir sudah dua kali dia menahan tubuhku saat hendak terjatuh.
"Iblismu telah kembali huh setelah berpuasa berminggu minggu?" Tanya Kak Kelvin yang kini memeluk pinggangku posesif.Aku mendorongnya tapi dia malah mengeratkan tangannya di pinggangku.
"Well,jika kau membuang ini.Aku ambil" Kak Kelvin menyeringai dan merangkulku menjauh dari kerumunan.
"SIALAN KAU KELVIN" raung Angkasa.
Angkasa membalikkan badan Kak Kelvin dan meninjunya.Kak Kelvin yang mendapat serangan tiba tiba pun terdorong kebelakang.Angkasa menarik baju Kak Kelvin hendak meninju wajahnya lagi tapi Kak Kelvin berhasil menendang Angkasa lebih dulu.Mereka benar benar mengundang perhatian.Lihat sjaa semakin banyak anak yang berkumpul disini.Aku bahkan tidak bisa melihat bagaimana keadaan kedua anak yang dipukul Angkasa tadi.
Kak Kelvin terhuyung dan mengeluarkan dara dari hidubgnya ketika Angkasa melayangkan tinjunya dan meninjunya keras keras.Astaga ini sangat membahayakan.Wajah Kak Kelvin tidak lebam tapi hidungnya berdarah sementara Angkasa mengeluarkan darah di sudut bibirnya.Aku berusaha sekuat mungkin menahan mereka tetapi aku malah terkena pukulan dari Kak Kelvin dan itu membuat keseimbanganku kacau dan akhirnya terjatuh.Aku melihat ada yang menarik Angkasa,siapa lagi kalau bukan Arga.
"HENTIKAN!" bentak Arga kepada mereka.
"JANGAN MENGGANGGUKU" Angkasa balas membentak.
Angkasa menatapku sendu lalu berubah menjadi tatapan kesal.
"Siapa peduli? urusi urusanmu! itukan yang kau mau!" ketus Angkasa.
"Dan kau,lain kali aku akan membunuhmu" ujar Angkasa kepada Kak Kelvin lalu melenggang pergi.
Kak Kelvin meludah tepat ditempat Angkasa tadi berdiri lalu pergi.Kini hanya tersisa aku dan Arga.Arga menatapku sebentar sebelum akhirnya pergi menghilang dibalik kerumunan siswa siswi Na Elvarett.Aku kehilangan keduanya.
"DINDA" Jerit Errin dan Aiko ketika aku memasuki kantin.
"Kenapa?" tanyaku santai.
"KENAPA?" jerit mereka berdua sekali lagi.
"KALAU KALIAN BERTERIAK LAGI,AKAN KUPASTIKAN KUAH INI MENGGUYUR KALIAN BERDUA" bentak Dicky geram.Mereka terkekeh pelan lalu minta maaf.
"Jadi,kenapa Kak Kelvin dan Angkasa berkelahi?" tanya Errin mengintimidasi.
__ADS_1
"Mana kutahu" aku memilih untuk mengacuhkan mereka.
"Kudengar mereka berkelahi karenamu" celetuk Rio.
"Itu tidak benar" ujarku santai.
"Karena Kak Kelvin merangkulmu dia dihajar sama Angkasa" lanjut Rio.
"Rio kau!" desisku tajam.
Aku bukannya sombong tidak mau berbagi cerita dengan mereka tapi lihatlah ini,seisi kantin menyimak pembicaraan kami.Mereka bahkan tidak peduli dengan lingkungan sekitar.
"Awalnya Angkasa memukul dua orang yang menabrak dirinya di koridor.Mereka berdua kelas XI-20 yang membolos.Dan aku membenarkan ucapan Rio soal Angkasa yang menghajar Kak Kelvin karena Dinda" jelas Dicky.
"Darimana kau tau semua itu?" tanya kami bingung tak terkecuali aku.
"Aku melihatnya sendiri saat izin ke toilet tadi" jawab Dicky santai.
"Astaga kau benar benar menelan maghnet penarik masalah" dengus Aiko.
"Terserah.Aku tidak peduli.Aku tidak mau berurusan dengan laki laki itu" Aku meneguk minumanku lalu beranjak pergi.
Sampai di persimpangan menuju lorong kelas,aku melihat Arga sedang mengobrol dengan laki laki bule.Aku memilih mengabaikan mereka dan berjalan lurus saja.
"Dinda"
Satu kata yang menghentikan seluruh organ tubuhku.Aku menoleh dan mendapati Arga sedang berjalan kearahku.Aku tidak tau langkahnya itu sebuah kedamaian atau mengibarkan genderang perang.
"Aku ingin berbicara denganmu"
Tunggu,kenapa dengan diriku? bukankah biasanya bila aku diajak bicara Arga jantungku berpacu hebat? kenapa semua menjadi biasa saja?
"Apa?" tanyaku.
"Tidak disini"
Arga menarikku menuju ke tempat yang aku tidak tau.Tangan yang biasanya menggandengku kenapa terasa biasa? kenapa semua berubah?
Aku sempat menyukai Arga,bisa dilihat dari respon tubuhku saat berdekatan dengannya.Mungkin beberapa saat aku tidak berdekatan dengannya aku menjadi terbiasa? sudahlah aku menganggapnya sahabatku sendiri.Biar aku yang memendam perasaan ini.Aku takut jika aku melangkah,semua nampak berbeda.Tapi hatiku tetap kepada Arga bukan? tapi kenapa semua terasa asing? kenapa rasa ini tak bersahabat?
__ADS_1