Secepat 24 Jam

Secepat 24 Jam
24


__ADS_3

Angin dingin selepas hujan menerpa wajahku.Aku dan Arga berada depan sekolahan atau lebih tepatnya dibawah pohon akasia yang rindang.Aku dan Arga saling beradu tatap ada yang berniat membuka suara.Sebenarnya aku benci suasana canggung seperti ini.


"Jelaskan semuanya" lirih Arga pada akhirnya.


"Semua?" tanyaku bingung.


"Semua.Semua tentang kau dan juga Arkian Angkasa" ujar Arga mantap.


Aku menarik nafas dalam dalam karena ini akan menjadi cerita yabg panjang.Aku menghembuskannya secara perlahan dan akhirnya dengan cerita itu sahabatku kembali kepadaku.


"Angkasa datang ke derah tempatku tinggal.Angkasa membawaku ke rumahnya dan memperkenalkanku dengan orang tuanya.Aku dikenalkan sebagai kekasih bohongannya.Angkasa juga mengancamku agar tutup mulut dan tidak membocorkan ini kepada siapapun.Didepan keluarganya,aku dikenal sebagai kekasihnya dan dibelakang mereka,kami adapah musuh bebuyutan.Awalnya aku menolak diajak bersandiwara konyol ini tapi mau bagaimana lagi,aku sudah berada di kediaman Elvarett.Dan pada hari dimana Bunda datang,terbonglarlah rahasia kami.Bunda mengatakan bahwa aku adalah milik Angkasa dan dengan terpaksa kami bersandiwara didepan anak anak dan juga Bunda.Aku tidak enak kepadamu karena sebelumnya aku sudah bilang bahwa aku dan Angkasa tidak ada apa apa.Saat aku mencoba menjelaskannya kepadamu,kau menyuruhku pergi dari hidupmu" ujarku panjang lebar.


"Maaf..Seharusnya aku tidak bersikap kekanak kanakan seperti saat itu.Aku menghiraukanmu disaat kamu sedang berada di dalam masalah yang serius dan malah berjalan dengan model itu" Arga tertunduk lesu.


"Tunggu,apa kau jadian dengan Selena?" tanyaku terkejut.


"Tidak tapi aku terikat hubungan yang tak pernah bisa aku langgar.Aku ditunangkan dengan dia sejak lulus SMP" Arga memperlihatkan jarinya yang memakai cincin.


"Wah selamat! Selena cantik hanya saja hatinya kurang cantik.Aku yakin kau bisa mempercantik hatinya" aku menepuk bahu Arga.


"Haha kau benar benar kawan yang baik sobat" Arga tertawa renyah.


"Angkasa juga dijodohkan dengan gadis yang bernama Arabella" ujarku.


"Arabella Fears?" tebak Arga.Aku mengangguk karena nama depannya sama persis tapi aku tidak tau menahu soal nama keluarganya.


"Aku mendukung kau dengan Angkasa,kau akan menyesal telah melepas Angkasa dengan wanita itu"


"Kenapa begitu?"


"Fears adalah keluarga yang licik yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang mereka inginkan.Aku mendengar kabar dari Ayah kalau keluarga Fears sedang ada dalam masalah serius.Mungkin saja mereka menggunakan putri mereka untuk meraup keuntungan dengan menggali kekayaan Elvarett"


"Darimana kau tau itu?" tanyaku curiga.


"Keluargaku selalu membicarakan mereka.Lagipula,siapa yang tidak tau tentang mereka" jawab Arga santai.


"Begini,aku setuju jika kau dan Angkasa pacaran.Aku tidak tau bagaimana nasibnya nanti jika bersama dengan Fears" tambahnya.


"Siapa yang mau pacaran dengan iblis tidak berperasaan itu" cibirku.


"Kasar sekali" Arga tertawa.

__ADS_1


Kami tertawa lepas.Arga-ku telah kembali.Sahabatku telah kembali.Tidak ada hal yang lebih baik daripada semua ini.Bel berbunyi dan kami kembali ke kelas bersama sama.Didepan pintu utama,Selena berdiri dengan tangan yang berkacak pinggang.


"Darimana kalian?" desisnya.


"Bukan urusanmu" ketus Arga.


Lah?


"Hei...Ayo" aku mencondongkan wajahku ke arah Selena.


"Bersikap baiklah" aku menyenggol Arga lalu pergi.


Kenapa Arga bersikap seperti itu? padahal kemarin kemarin dia dan Selena sangat serasi.Ah sudahlah itu terserah mereka.Aku tidak berhak memutuskan auatu hal yang terjadi diantara mereka.Aku juga tidak berhak menentukan siapa gadis baik yang harus bersanding dengan sosok Arga Dirgantara.


***


Hari ini aku bahagia.Arga audah kembali dan hari ini juga adalah hari terakhir Kak Zen menggantikan Kak Rakha.Aku susah sangat merindukan kebawelan Kak Rakha.Aku bersenandung ria seraya berjalan kesana kemari mencatat pesanan pelanggan.


"Hei apakah kita seumuran?" tanya seorang remaja berseragam SMA.Jujur saja ini pertanyaan yang sering mereka lontarkan kepadaku.


"Iya" aku menjawabnya dengan tersenyum.


"Na Elvarett" jawabku dan semuanya menatap kearahku.


"Benarkah? Na Elvarett? lalu apa yang kau lakukan disini?" tanya nya lagi.Astaga kenapa dia cerewet sekali.


"Tentu saja aku bekerja" jawabku agak geram.


"Bukankah yang sekolah disana orang orang kaya?" tanya temannya.


"Ya,mereka orang kaya kecuali aku yang masuk dengan beasiswa" jawabku sebelum akhirnya pergi.


Berbicara dengan mereka tidak ada habisnya.Aku segera melanjutkan pekerjaanku karena aku barusaja melihat sepasang mata mendelik kearahku.Siapa lagi kalau bukan Kak Zen.Aku menyerahkan semua note ku kepadanya.


"Kenapa kau begitu antusias hari ini? biasanya kau tidak memiliki semangat sama sekali" sindir Kak Zen.


"Tentu saja karena kawan baikku telah kembali" Aku membusungkan dada dengan perasaan bangga.


"Darimana dia?" tanya Kak Zen penasaran.


"Tidak darimana mana,hanya saja beberapa saat lali dia merajuk kepadaku"

__ADS_1


"Cih,hanya itu? dasar remaja" Kak Zen mencibirku.


"Hei apa kau tak pernah remaja?" tuntutku.


"Tentu saja pernah,hanya saja aku menghabiskan waktu untuk hal yang berguna bukan untuk hal yang alay seperti itu bocah"


"BERHENTI MEMANGGILKU BOCAH" akus menjerit keras lupa bahwa kami sedang berada di caffe yang sedang ramai pelanggan.


"Maaf maaf" Kak Zen meminta maaf dengan wajah merahnya,entah merah karena malu atau menahan amarah.Jangan lupakan sifat Kak Zen yang itu.


"Kau!! ikut aku" Kak Zen menatapku tajam setajam nadanya.


Aku terpaksa mengikuti Kak Zen ke ruang karyawan.Disana aku duduk di bangku dan dia berdiri.Kak Zen mengusap wajahnya kasar dan mengacak acak rambutnya.Astaga dia tampan dengan rambut seperti itu.Badboy.


"Ada apa denganmu HAH?" bentaknya.


"Kelepasan" lirihku.


"Untung mereka semua tidak mencercamu" desis Kak Zen lalu keluar dari ruangan.


Huh! Aku butuh oksigen sebanyak mungkin! Aku sudah berulang kali mendapat jatah kemarahan Kak Zen tapi rasanya tetap saja menyeramkan.Aku kembali ke depan dengan perasaan malu yang membuncah.Bagaimana tidak? semua orang menatapku aneh,walau sebentar tapi tetap saja membuatku risih.Kak Zen mendiamkanku dan memilih tidak berbicara denganku.


"Ayolah aku tidak melakukan kesalahan besar,aku tidak membuat berantakan barang barang di sini bukan?" aku mencoba mencairkan suasana.


"Tidak membuat berantakan? ini sangat berantakan.Aku tidak tahu bagaimana Rakha bisa menghadapi bocah sepertimu"


"Hei aku tidak seburuk itu.Lagipula Kak Rakha tipe orang yang menyenangkan" aku mendelik kearahnya.


"Terserah apa katamu" Kak Zen berkutat dengan mesin kopi padahal belum ada pelanggan yang datang hehe.


Lonceng pintu berbunyi,aku menatap kearahnya dan senyuman terpancar di wajahku.Arga melambaikan tangannya lalu duduk di tempat biasanya.Tadinya tempat itu diduduki oleh pengunjung tapi begitu melihat Arga berjalan kearah mereka,mereka langsung kabur ke meja lain.Aku memaklumi hal itu,seperti kata anak zaman sekarang "sultan bebas" hahaha.


"Caramel Machiato" kataku ke Kak Zen.


"Siapa yang memesan?" tanya Kak Zen bingung.


"Pelanggan yang baru saja datang"


"Aku belum melihatmu menghampirinya"


"Buatkan saja apa susahnya?" teriakku kesal.

__ADS_1


__ADS_2