Secepat 24 Jam

Secepat 24 Jam
13


__ADS_3

Aku membuka pintu caffe dengan kasar lalu berjalan menuju ruang karyawan untuk ganti baju.Aku membelalakan mata ketika mendapati Kak Zen duduk diambang pintu.


"KAK ZEN?" Jeritku.Untung saja disini tidak ada pelanggan karena kami sedang break time.


"Kenapa?" tanya Kak Zen datar.


Aku berbalik dan sok sibuk mencuci gelas gelas kotor yang menumpuk.Aku mendengar langkah Kak Zen mendekat kearahku.


"Kenapa?" tanyanya lagi.


"T..tidak" jawabku tergagap.


"Bukankah ini kerjaan Nia?" tanya Kak Zen.


"Oh aku hanya membantunya sedikit.Kak Zen,aku permisi"


Aku cepat cepat mengganti pakaianku dengan pakaian karyawan dan kembali ke depan.Kak Zen minum kopi dengan tangan yang bertumpu pada meja.He damn so hot


Tunggu! Apa? Apa yang barusan kukatakan? Kak Zen itu jelek tua jahat kejam sadis.Dia adalah o


penjahat yang menjelma sebagai barista aku yakin itu.


"Kenapa Kak Zen belum pulang?" tanyaku bingung.


"Rakha belum datang,kalau ada pelanggan siapa yang akan meracik minumannya? Kamu? Bocah mana bisa" maki Kak Zen.


"Iya" lirihku.


"Ngomong ngomomg,Kak Nia dan Kak Sinta mana?" tanyaku bingung.


"Beli ayam disebrang" tunjuk Kak Zen dengan dagunya.


Lonceng berbunyi dan Kak Rakha sedang mengibaskan rambutnya.Apa Kak Rakha hujan hujanan? Ini masih gerimis.


"Kak Rakha kok basah?" tanyaku heran.


"Shutttt shuuuttt" Kak Rakha menyuruhku diam dengan suara yang keras.


"Lah?"


Aku menatap kearah Kak Zen,dia hanya mengedikkan bahunya dan berlalu.Aku duduk didepan meja barista mengemasi note yang menempel didepan meja Kak Rakha.Setelah tiba waktunya buka,Kak Rakha baru kembali dengan pakaian yang sama denganku hanya saja lengannya panjang digulung sampai siku.


"Tadi kenapa Kak?" tanyaku masih bingung.


"Jangan menggangguku.Aku sedang sibuk" jawab Kak Rakha kesal seraya mencuci strawberry.


"Kak Rakha kenapa?" tanyaku lagi dan dihiraukannya.


"Kak Rakha"


"Kak"


Prangg

__ADS_1


Kak Rakha membanting pisaunya di talenan meja dan berkacak pinggang menatapku tajam.


"Bisakah kau diam? Apa tidak ada yang membiarkanku tenang setelah disiram soda oleh gadis yang kucinta HA?" Raungnya.


"Menurut Kak Rakha hanya Kakak saja yang frustasi? aku juga frustasi karena kemarin aku nyaris dicium Kak Zen" balasku.


UPSSS


Aku menutup mulutku,mataku terbelalak.Kak Rakha yang tadinya kesal kini cengengesan tidak jelas.Ah harusnya aku tidak mengusiknya tadi.


"Ooooo jadi ada apa dengan kalian berdua hmm? terjadi sesuatu kemarin?" tanya Kak Rakha dengan tatapan nakalnya.


"Tidak tidak tidak.Aku hanya kepeleset lidah" aku berdalih.


"Katakan saja padaku.Aman" dia memperagakan mengunci mulutnya seperti resleting.


"Audah basah lebih baik ditenggelamkan sekalian.Kemarin aku memarahi Kak Zen,aku tau itu tindakan bodoh tapi kata kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.Aku ditarik menuju belakang caffe dan dimarahi disana.Wajahnya semakin dekat..semakin dekat...dan aku menutup mata"


"JADI KALIAN BERCIUMAN?" tanya Kak Rakha heboh.


"KAK RAKHA PELANKAN SUARAMU.AKU TIDAK BERCIUMAN DENGAN PENJAHAT IT" Bentakku mati matian.Untung saja dari tadi belum ada yang mampir ke caffe.


"Lalu?" tanya Kak Rakha yang tidak puas dengan penjelasanku.


"Apa lagi? Aku tertangkap basah,diejek dan disebut bocah oleh dia.Ah hari sial ku"


"Hehe kau tidak tau siapa Zen itu?" tanya Kak Rakha.


"Kau tau bocah cilik yang ada disana?" tanya Kak Rakha menunjuk foto anak kecil di atas pintu caffe.


"Siapa?" tanyaku bingung.


"Han Zoenoel" jawab Kak Rakha mantap.


"Hah siapa? Zaenal?"


"ZOENOEL HAN PUTRA TUNGGAL PAK HAN PEMILIK CAFFE" Teriak Kak Rakha tepat didepan wajahku.


"Aku belum pernah melihatnya"


"Dia adalah orang yang kau cium HAHAHA" Tawa Kak Rakha meledak.


APA? Jadi anak kecil itu Kak Zen? Kak Zen anak Pak Han? Ah berita ini tidak baik untuk jantungku.


"Kenapa tidak memberitahuku?" protesku.


"Aku berencana memberitahumu ketika kau sudah besar" Kak Rakha menjeda bicaranya yang sudah seperti orang tua di dalam film.


"Dan mendengar berita kau hampir berciuman kurasa kau sudah cukup dewasa" Kak Rakha menepuk kepalaku pelan.


Aku memukuli Kak Rakha dengan sendok pengaduk kopi.Kak Rakha berlagak kesakitan.Aku mencari pisau untuk kulempar kerahnya dan dia langsung berhenti berakting.


"Menyeramkan" sindirnya.

__ADS_1


"Jangan ungkit ungkit Kak Zen lagi" ancamku.


Lonceng berbunyi dan pelanggan mulai berdatangan.Kak Sinta dan Kak Nia sudah kembali.Setelah mengelilingi meja meja untuk mencatat pesanan pelanggan,aku membantu Kak Zen memotong strawberry yang masih belum selesai karena kejadian tadi.Aku memotong hampir sekeranjang penuh Strawberry sampai tanganku merah.Aku mencuci tangan dan kembali menanyai pelanggan pelanggan yang baru datang.Lonceng berbunyi,aku menoleh dan langsung tersenyum lebar.


"Carramel Machiato panas satu Kak" pintaku kepada Kak Rakha.


"Tumben tidak memakai note" komentar Kak Rakha.


"Ini spesial.Biar aku saja yang antar"


Aku merebut kopi itu dari tangan Kak Rakha.Aku menaruhnya di meja lalu duduk dihadapannya.


"Hai" sapaku.


"Apa kau tidak merasa berhutang penjelasan kepadaku?" tanya Arga.


"Apa?"


"Tentang kau dan Angkasa"


"Hei kami tidak ada apa apa,dia tetap kejam kepadaku" aku melambaikan tanganku didepan wajah Arga.


"Lalu dia menyelamatkannu di beberapa kejadian,kau sering naik mobilnya bahkan dia mengganti mobil kesayangannya" ujar Arga.


"Kami tidak ada hubungan apa apa,kau tau sendiri kan dia masih menindasku"


"Hmmm..baiklah" Arga tersenyum lebar.


Aku kembali bekerja karena Kak Sinta meneriaki namaku.Ada yang aneh dengan Arga.Memangnya kenapa kalau Angkasa membelaku dan memberiku tumpangan? bukankah itu bagus.Kenapa dia tidak suka?


"Aishhh kau ini kenapa mentigakan Zen?" tanya Kak Rakha.


"Mentigakan apanya?" gerutuku.


"Kau bersama laki laki itu,belum lagi temannya"


"Aku tidak ada hubungan dengan mereka.Ada apa denganmu? berhenti mengacaukanku"


"KALIAN MAU BEKERJA APA BERCANDA?" Bentak Kak Sinta.


"iya" lirihku dan Kak Rakha lalu kami cekikian.


"Lihat saja kalau kau mengungkit ini lagi" aku mengacungkan pisau ke lehernya.


Kami kembali bekerja.Kak Rakha tidak menggodaku lagi.Kak Rakha juga mengizinkanku membantunya memotong buah,membuat strawberry latte,dan minuman lainnya yang tidak menggunakan mesin kopi.Aku hanya ingin sedikit membantu Kak Rakha yang hatinya sedang bersedih.


Selesai bekerja aku langsung pulang seperti biasanya.Kata kata Arga terngiang dikepalaku tentang perubahan yang terjadi pada Angkasa.Setelah kupikir pikir memang betul sih.Angkasa yang biasanya tidak pesuli dengan masalahku dan terus terusan menggangguku kini membantuku keluar dari masalah,memberiku tumpangan,membelaku didepan guru.Arghh semuanya membuat kepalaku pusing.Ah aku kembali teringat dengan kakak kelas yang bernama Kelvin.


Apa sebaiknya aku bertanya kepada Angkasa tentang Kelvin?


Ada hubungan apa mereka sampai Kelvin menganggapku sebagai kelemahan Angkasa?


Dan pertanyaan terbesarnya adalah kenapa semua ini keluar dari lubang yang seharusnya tak pernah ku gali.

__ADS_1


__ADS_2