
Aku berada di caffe saat ini.Kak Zen menjadi bertingkat tingkat lebih menyebalkan daripada biasanya.Dia menyuruhku melakukan segala sesuatu yang seharusnya dilakukan olehnya.Setelah selesai mengemas minuman yang dipesan pelanggan,aku mengistirahatkan ragaku sejenak.Lonceng pintu berbunyi,seorang laki laki yang selalu mengisi hari hariku berdiri diambang pintu.Menatapku sejenak lalu duduk ditempat biasanya.
"Latte machiato" kataku kepada Kak Zen.
"Untuk siapa?" tanya Kak Zen.
"Dia lah siapa lagi?" tanyaku jengkel.
"Bagaimana kau bisa tau dia memesan latte machiato? siapa tau dia memesan iced americano atau lemonade" oceh Kak Zen membuat telingaku panas.
"Dia pelanggan disini dan selalu memesan itu" ujarku setengah membentak.
Kak Zen tidak berkomentar lagi dan bergegas membuat kopi.Aku menatap Angkasa yang juga menatapku.Sepertinya ada yang ingin dibicarakan denganku.Kak Nia mengantar pesanan Angkasa tapi dengan cepat kurebut.
"Aku saja Kak"
Tanpa menunggu respon dari Kak Nia aku langsung berjalan menghampiri Angkasa.Angkasa menyuruhku duduk tapi aku tidak menurutinya karena tepat dibelakang mesin kopi ada serigala yang siap menerjangku kapan saja.
"Aku perlu bicara denganmu" ujar Angkasa.
"Aku masih bekerja"
"Baiklah aku akan menunggumu"
"Ya sudah,lagipula caffe akan segera tutup"
Aku kembali bekerja tanpa rasa kantuk sedikitpun tidak seperti tadi.Kak Zen menatapku penuh selidik dan itu sangat menggangguku.
"Kakak mau bicara apa?" tanyaku langsung pada intinya.
"Dia pelanggan atau lebih dari sekedar pelanggan?" tanya Kak Zen.
"Teman sekolah" jawabku asal.
"Sampai menunggumu pulang seperti itu?" Kak Zen sedikit menarik salah satu ujung bibirnya.
"Memangnya kenapa kalau dia menungguku? dia temanku" kataku kesal.Kenapa dia menjadi rewel tentang urusanku padahal dia sama sekali tidak peduli dengan apapun yang menyangkut aku.
"Dia laki laki" sentak Kak Zen membuatku sedikit terkejut.
__ADS_1
"Kau juga laki laki! ada apa denganmu?" balasku yang tak kalah membentak.Untung saja tidak ada yang fokus dengan kami.
"Kembalilah bekerja" ujarnya datar lalu menyibukkan diri dengan mesin kopi.
"Ada apa dengannya?" aku menggerutu saat Kak Nia mendekatiku.
"Jangan pedulikan dia,terkadang dia bisa menjadi orang menyebalkan disaat saat tertentu" bisik Kak Nia.Aku hanya menganggukan kepala.
Aku kembali bekerja dan tidak berbicara dengan Kak Zen sama sekali.Dia mendiamkanku atau dia tidak memiliki ide untuk menggangguku? intinya dia berbeda 180 derajat dan aku seperti mengenal Kak Zen untuk pertama kalinya.Dingin dan datar,tidak peduli lingkungan sekitar.Aku membereskan caffe bersama yang lainnya.Pak Han yang biasanya datang mengunci caffe tidak datang selama dua hari terakhir.Ah aku melupakan bahwa putranya ada disini dan tentu saja Kak Zen yang membawa kuncinya.Aku mengganti pakaian dia ruang karyawan lalu bergegas pergi.Saat diambang pintu aku tidak sengaja menabrak Kak Zen dan dia marah marah.
"Kau punya mata atau tidak?" bentaknya.
"Maaf Kak aku tidak sengaja" aku membungkukan badanku.
"Argh kau benar benar mengacaukan malamku.Kau membuatku terlihat seperti laki laki garang dengan memancing emosiku setiap hati" Kak Zen mengacak acak rambutnya frustasi.
"Hei kau memang garang" tukasku.
"Kau! PULANG CEPAT" Teriaknya tepat didepan wajahku.
Aku segera berlari sambil meneriakan kata "hantu" membuat Kak Zen melongo.Biar saja,dia memang seperti hantu.Aku menghampiri Angkasa yang tengah berdiri didepan mobilnya.
"Ayo cari makan,aku yakin kau belum kenyang" ujar Angkasa hendak membuka pintu menggunakan remote atau apalah itu yang tergantung di kuncinya yang unik.
"Aku sudah makan tadi di caffe" sergahku.
"Makan denganku" ujar Angkasa penuh penekanan.
"Oke"
Akhirnya aku mengalah.Jika berhadapan dengan laki laki ini entah mengapa aku selalu menjadi pihak yang dijajah meskipun aku selalu memberontak.Angkasa menepikan mobilnya disebuah restoran bertingkat bintang lima.Angkasa mengajakku masuk tapi aku bergeming ditempat.Akhirnya Angkasa menyeretku seperti anak kecil masuk menuju restoran itu.
Astaga restoran ini benar benar indah.Apa kata teman teman kost ku jika mengetahui aku masuk ke dalam restoran yang mereka dambakan.Kata Kak Niken,seorang mahasiswi di fakultas terbaik yang juga merupakan mahasiswa dengan beasiswa sepertiku pernah bercerita tentang restoran ini.Dia ditraktir temannya disini dan katanya harga sepiring makanan disini adalah sebanyak gajinya dalam satu bulan disebuah toko.Saat sampai didepan pintu,aku dan Angkasa disambut baik oleh wanita yang merupakan karyawan restoran itu.
"Tuan muda Elvarett,selamat datan" katanya seraya membungkukkan badan.Cih,kalau aku jadi dia akan kutendang tulang kering anak ini.
"Hmmm" Angkasa hanya menjawabnya dengan gumanan.
"Apa ini pacar anda Tuan Muda?" tanya pelayan itu sedikit ada keraguan dari nada bicaranya.Matanya menelisik penampilanku dari atas sampai bawah.
__ADS_1
Bayangkan saja aku yang paling mencolok disini.Aku memakai pakaian santai bergambar squidward dengan celana jeans lusuh sangat kontras dengan orang orang disini yang memakai pakaian bermerk seperti Angkasa sendiri yang sangat necis.
"Kau berisik" ujar Angkasa tajam lalu pergi.
Aku bersumpah pelayan tadi mencibir kearahku.Angkasa membawaku naik ke lantai 2 ah bukan,lantai 3.
"Terlalu berisik" komentar Angkasa lalu menariku lagi menyusuri tangga hingga ke lantai 5.
Aku menarik ujung baju Angkasa saat dia bergegas mencari tempat duduk.Angkasa menatapku dengan raut wajah bingungnya.
"Aku tidak punya cukup uang" ujarku.
Suara tawa pecah diruangan ini.Aku terkejut mereka mendengar kata kataku yang aku yakin sudah sangat lirih.Angkasa menatap semua orang disana.Kebanyakan dari mereka berusia sekitar 25 tahunan ke atas.
"APA YANG KALIAN TERTAWAKAN?" raung Angkasa dengan wajah marahnya.
Semua orang mendadak diam seribu bahasa dan kembali ke makanannya.Kurasa mereka tau siapa Angkasa sampai sampai mereka diam seribu bahasa ketika Angkasa meraung marah.Angkasa pamit ke toilet sebentar dam aku ditinggal sendirian.Aku mengamati kota Jakarta yang terlihat dari sini.
"Hei,kau lihat anak kecil itu? dia membentak kita" bisik seseorang dibelakangku.
"Oh dia putra Tuan Hamdanico Elvarett" jawab orang lainnya.
"Dia pikir dia siapa? hanya bergelar nama Elvarett membuatnya merasa lebih terhormat daripada kita.Kita adalah pejabat dan dia hanya anak SMA.Dia seharusnya tau posisinya"
"Ah kalau bisa aku akan memukulinya" desah seorang laki laki yang paling muda.
"Kau bisa satu lawan satu dengannya?" tanya temannya dengan nada mencela.
"Itu agak sulit" dia terkekeh.
"Dia dulu berandalan.Dia sering tawuran,tukang pukul,balapan liar dan masih banyak lagi"
"Semenjak dia masuk SMA tidak ada isu tentangnya lagi" orang itu menatap kearah Angkasa menghilang.Mungkin mengawasi jika Angkasa kembali mereka berhenti bergosip.Oh ayolah kalian ini pria kenapa begitu suka bergosip?
"Mungkin keluarganya menutupi aibnya.Siapa yang tidak tau kekuatan Elvarett? dia bahkan bisa menghilangkan jejak putranya jika membunuh seseorang" mereka tertawa.
"Aku yakin dia pernah memakai narkoba atau juga pernah memakai wanita ****** untuk menghabiskan malamnya" mereka tertawa lagi.
BRAKKK
__ADS_1