Secepat 24 Jam

Secepat 24 Jam
4


__ADS_3

"Wah apa maksudnya?"


"Miliknya? Apa Angkasa menjadikannya kekasih?"


"Apa ada skandal antara tuan dan pelayan?


"Ini berita besar"


Aku melongo saat mendengar komentar komentar yabg dilontarkan oleh murid murid.Mereka benar benar tidak tau apa yang dimaksud Angkasa.Aku harus meluruskannya.


"Kurasa mulutmu yang harus disekolahkan.Bicara apa kau tadi? milikmu? maksudmu pelayanmu? bedakan antara 2 hal itu jangan sembarangan berkata di tempat umum" ujarku sebisa mungkin tidak marah.


"Bagaimana mungkin kalian bisa menilai dia kekasih Angkasa? Tentu saja mereka tidak sejalan" protes Davina.


Arga menarikku pela pelan membawaku keluar dari kantin.Kami tertawa saat sampai di pertengahan tangga.


"Thank Ga" ujarku sela sela tawaku.


"No problem"


"Kamu kelas apa ya?" tanyaku.


"X-01"


"Woah hebat.Kamu bisa masuk kesitu waaah" aku mebgacungkan jempol didepan wajahnya.


Bel berbunyi,aku dan Arga kembali ke kelas masing masing.Pelajaran hari ini adalah musik.Aku tidak tau kalau sekolah ini ada pelajaran semacam itu.Jika di sekolah lain,kegiatan ini hanya sebuah ekskul saja.Kami digabung dengan kelas X-01.Kebetulan yang menyebalkan.


Dibagian panggung mini ada Angkasa yang duduk di hadapan piano.Kami disuruh mengenal nots nots piano.Kelas X-01 mendapat giliran pertama dan Angkasa lah absen 1.Sekarang dia menunggu instruksi dari Mrs.Annie.


"Dimulai dari do re mi dan seterusnya.Susun menjadi nada yang indah"


Angkasa mulai menekan do lalu dia berhenti sejenak.Nada do kembali terdengar disusul nada nada yang lebih tinggi.Setelah mencapai yang paling tinggi,Angkasa menatap Mr.Annie dan Mrs.Annie mengangguk.Nada nada yang indah terdengar sampai ke penjuru ruangan.Para gadis menjerit histeris.


"Tidak kusangka dia berbakat" gumanku.


"Jangan remehkan Tuan Muda Elvarett" bisik Errin.


"Bisakah kau tidak menyebutnya tuan muda? itu menggelikan" gerutuku.


"Kalau memang dia Tuan Muda kenapa?" tanya Errin mengejek.


Aku tidak membalas Errin karena Mrs.Annie sedang memelototiku.Aku tidak sadar kalau Angkasa telah selesai memainkan musiknya.


"Nah ada yang tau nama musik yang baru saja dimainkan oleh Angkasa?" tanya Mrs.Annie.


"TRISTE COEUR (SAD HEART)" Jawab semua anak kecuali aku dan Rio.


Aku tidak menjawab,sebenarnya aku pernah dengar lagunya tapi aku ini tipe yang tau nadanya tapi tidak tau apa judulnya apalagi penciptanya.Sementara Rio tidak menjawab karena dia tertidur pulas dibelakangku.


"Karya siapa Dinda?" tanya Mrs.Annie kepadaku.Celaka !


"Eh..ummm"


"Sttt..sttt" bisik seseorang yang duduk disebrangku.


Aku menoleh dan mendapati Arga disana.Dia membisikan nama pencipta musik itu dan aku langsung menjawabnya.


"Richard Clayderman" jawabku dengan sangat cepat.


"Wah kamu tidak tau pencipta musik ini ya? sebelumnya sudah saya bilang loh"

__ADS_1


"Saya sudah menjawab Mrs."


"Dengan bantuan dari Arga?"


"Eh..hehe" aku terkekeh.


Mrs.Annie menggelengkan kepalanya.Aku berusaha untuk fokus saat ia menjelaskan tentang dunia musik.Aku disuruh maju kedepan untuk memainkan sebuah musik pengantar tidur.Aku menekan tuts piano dan memainkannya dengan baik.Aku bukannya handal tapi musik ini sudah mendarah daging padaku.Musik yang menjadi kenangan terakhir dengan ayah ibuku saat aku masih kecil.


"Lullaby,and good night,in the skies star and bright" aku refleks menyanyikan lagu ini.Entah mengapa setiap mendengar alunan musik ini aku selalu menyanyi kapanpun dimanapun.


"Sleep through the night" aku menuyanyikan bagian terakhir.


Aku mengusap air mataku lalu berjalan menuju tempat duduku.Teman teman sekelasku mengacungkan jempol kepadaku dan terus memujiku bahkan sampai kelas bubar.Kami kembali menuju kelas.Sesampainya didepan pintu kelas musik,Arga mengiringi jalanku.


"Kenapa kau menangis?" tanya Arga.


"Itu mengingatkanku dengan orang tuaku" jawabku sambil tersenyum.


"Kemana mereka?" tanya Arga lagi.Aku enggan menjawab.


"Kau tuli nada" ejek Angkasa.


Mendadak aktivitas disekitar kami berhenti.Suasana menjadi hening dan canggung.Aku menatap nanar kearahnya.Dia balas menatapku lalu berjalan mendahuluiku.


"Jangan pedulikan dia" kata Arga.


"Siapa peduli"


Aku masuk ke dalam kelas dan semua menyuraki namaku dengan jempol yang terangkat.


"WOOOHOHOHOOO KAU TADI KEREN TEMAN" Teriak Rio dan disetujui yang lainnya.


"Terimakasih.Tapi ada yang bilang suaraku jelek dan mungkin merusak gendang telinganya" jawabku dengan sedikit candaan.


"Dia" aku menunjuk Angkasa yang baru saja melintas.


"Ah lupakan apa yang kukatakan" ucap Dicky berdalih.


***


Hari ini Kak Nia tidak masuk kerja.Aku sangat kesusahan mengantarkan minuman minuman ini.Kak Sinta sibuk membersihkan perabotan yang baru dipakai pelanggan.Aku harus bolak balik kesana kemari mencatat dan mengantarkan pesanan pelanggan.Aku baru bisa santai saat jam 21.00 karena pengunjungnya tidak sebanyak yang tadi.


"Ah Kak Nia berhutang kepadaku" keluhku ke Kak Rakha.


"Jangan mengeluh.Ada lihat ada pelanggan yang baru datang.Cepat layani mereka" ujar Kak Rakha.


Aku magambil kertas note beserta pulpenku dan berjalan menuju ke pelanggan yang baru saja datang.Ternyata pelanggan itu adalah Arga dengan temannya yang tak kuketahui karena dia duduk membelakangiku.


"Mau pesan apa?" tanyaku kepada Arga.


"Caramel Machiato" jawab Arga.


"Kalau anda tuan?" aku beralih menatapnya.


Mata menyebalkan itu menatapku datar.Dia memandangiku dari atas sampai bawah.


"Kerja disini?" tanya Angkasa.


"Ya" jawabku datar.


"Pesan apa?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Latte Machiato"


Aku berjalan menuju ke meja barista.Aku melihat cara membuat kopi Kak Rakha yang unik,tidak diragukan lagi kalau dia benar benar alumni Na Elvarett.Kak Rakha juga sudah bersekolah di sekolah khusus dan juga mendapat sertifikat barista.Benar benar hebat.Aku mengantar pesanan ini ke meja nomor 4.Aku melrtakannya dengan hati hatinsupaya tidak tumpah setetespun.


"Selamat menikmati" kataku dengan sopan.


"Hei kenapa kamu hanya menatap dia?" protes Angkasa.Aku mengucapkan 2 kata itu ke arah Arga dan tidak menatapnya menjadi masalah?


"Kenapa kau mempeributkan hal itu? sama saja bukan?" ketusku.


"Kau juga tidak sopan ke pelanggan.Dasar tidak tau diri" maki Angkasa.


"Selamat menikmati Tuan Muda Elvarett yang terhormat" ujarku penuh penekanan.


Bukankah aku sudah berperilaku baik? tapi kenapa dia malah menatapku horror?


"Kenapa lagi?" bisiku.


"Jangan menyebutkan nama terakhirku di sembarang tempat idiot" ketusnya.


Aku mengedarkan pandangan dan benar semua orang disini menatap ke arah kami dengan tatapan lapar.Para wanita mengambil ancang ancang untuk berlari dan memeluk Angkasa.Angkasa berdiri dan dia langsung lari menuju pintu.Mereka semua langsung keluar mengikuti Angkasa dengan jeritan jeritannya.


"HEI KEMBALI KALIAN BELUM BAYAR" Seru Kak Rakha.


"Oh my god.Dia benar benar pembuat masalah" aku bermonolog.


Aku yakin Kak Rakha akan membunuhku jika mereka tidak kembali.Aku berjalan menunduk menuju meja barista menghindari tatapan tajam darinya.


"Wah tidak bisa dipercaya" katanya.


"Itu bukan salahku sepenuhnya.Aku hanya melayaninya" kilahku.


"Kalau kau tidak menyebut nama keluarganya tidak akan seperti ini"


"Mana ku tau"


"Kau ini gadis kecil menyebalkan.Siapa yang akan bertanggung jawab?"


"Ya Angkasa lag.Bagi dia semua ini tidak ada apa apanya"


"Kau berani minta pertanggung jawaban kepadanya?" tantang Kak Rakha.


"Tidak" lirihku.


"Ah biar aku saja yang mengganti semua ini" ujar Arga menengahi perdebatan kami.


"Arga" tegurku.


Arga mengacuhkanku dan mengeluarkan lebaran seratus ribu sebanyak 20 lembar.Bagaimana bisa anak SMA mengantongi uang sebanyak itu?


"Ini terlalu banyak" Kak Rakha mengembalikan sebagian besar lembarannya.


"Tidak apa apa ini untuk Dinda saja"


Kak Rakha menyodorkannya ke arahku.Aku menolaknya tapi Arga terus memaksaku menyimpannya.Arga langsung keluar dari caffe setelah meninggalkan uangnya ditanganku.Aku akan mengembalikannya besok.


"Kenapa tidak kau pacarai saja dia?" tanya Kak Rakha tertawa keras.


"Lihat ini...kau tadi mengoceh seperti nenek nenek kenapa sekarang menjadi seperti anak anak?" gerutuku.


"Lupakan yang tadi.Temanmu sudah membayar.Apa kalian terlibat cinta segitiga?"

__ADS_1


"Kau bergurau? tentu saja tidak.Mereka sosialita dan aku jelata.Bagaimana bisa kami bersatu lagipula aku tidak pernah suka ke Arga apalagi Angkasa"


"Itu menurutmu.Kalau menurut laki laki tadi?"


__ADS_2