Secepat 24 Jam

Secepat 24 Jam
28


__ADS_3

Aku berdiri canggung didepan Angkasa.Caffe sudah tutup dan aku diajak ke tempat yang menarik ini.Di rooftop sebuah gedung pencakar langit.Entah darimana anak ini tau akses masuk ke sini.Diatas kami ada tebaran bintang yang berserakan indah di angkasa.


"Indah ya" pujiku.


"Angkasa selalu indah.Kalau gue indah nggak? gue kan juga Angkasa" tanya Angkasa dengan sangat percaya diri.


"Nggak sih" aku menahan tawaku saat Angkasa menekuk wajahnya.


"Kamu lebih dari indah Angkasa.Kamu mulia jika kamu menghilangkan sifatmu yang menyebalkan itu"


Angkasa melongo mendengar ucapanku tapi sesegera mungkin wajah menyebalkannya kembali.Angkasa membusungkan dada dan menaikkan dagunya.


"Aku ini memang baik,tapi tidak ada yang tau saja" ujar Angkasa dengan nada menyebalkan selaras dengan wajahnya saat ini.


Aku mencibirnya lalu duduk di kursi panjang.Angkasa mengoceh panjang lebar tentang gedung ini yang ternyata adalah gedung milik keluarganya.Angkasa juga menceritakan kesulitannya menghadapi wanita wanita yang mengejarnya sejak SMP.Memang masih SMP tapi ketampanan Angkasa sudah terlihat dan tentu saja tinggi badannya menarik perhatian walau tak setinggi yang saat ini.Darimana aku tau? dari ponselnya yang baru saja dipamerkan tepat didepan wajahku.


"Kalau kau,sebutkan apa saja kesulitanmu" perintah Angkasa seenaknya.Apa dia tidak bisa menggunakan kata kata yang halus?


"Kau mau aku bercerita tentang masa laluku dulu?" tanyaku setengah mengoreksi kata katanya.


"Terserah" ujar Angkasa malas.


"Kenapa aku harus bercerita kepadamu?" protesku.


"Kenapa memangnya? tidak mau? kau harus mau menuruti perintahku"


"Iya iya" ujarku malas.


"Dulu aku tinggal di panti asuhan tapi kelas 8 aku pindah ke kontrakan sendiri.Aku mulai mendapatkan pekerjaan pada waktu liburan kenaikan kelas.Ya pekerjaan itu menjadi pelayan caffe.Gajinya tidak banyak tapi bisa mencukupi kehidupanku dan beruntung ibu kost ku sangat baik hati dan memahami keadaanku.Beliau menyuruhku membayar setengah dari harga seharusnya.Aku sudah tidak bisa membiayai sekolahku karena uang asuransi jiwa dari nenekku sudah habis untuk belajar di SMP.Aku mengikuti jalur beasiswa pintar dan akhirnya sekolahmu dengan baik hati menerimaku" aku mengambil nafas panjang.Aku melihat Angkasa hanyut dalam ceritaku.Rupanya dia tau caranya menjadi pendengar yang baik.


"Aku tidak pintar Angkasa,orang jelata sepertiku harus bekerja keras demi kehidupan yang layak.Aku selalu memaksa diri belajar semalaman bahkan sampai dini hari.Aku harus pintar Angkasa,jika aku tidak punya harta maka aku harus punya otak yang berharga.Dengan begitu aku bisa mencapai masa depanku dan lihat sekarang aku berhasil memasuki salah satu sekolahan terbaik di negri ini" jelasku dengan bangga.


Angkasa menatapku sendu.Aku balas menatapnya seolah mengatakan semua baik baik saja.Tatapannya berubah menjadi lebih dalam dan senyumanku berubah menjadi senyuman yang canggung.Wajah kami berdekatan dengan sendirinya.Bibir kami menyatu bersamaan dengan tangan kami yang saling berpelukan.Aku takut tapi aku tidak bisa melepaskan bibirku dari bibirnya.Perlahan lahan lidah Angkasa memaksa masuk dan entah kerasukan apa aku mempersilahkannya.Cukup lama kami berciuman sampai akhirnya dia menjauh dan membiarkanku bernafas.Aku membelakanginya,sungguh aku tidak tau harus bersikap bagaimana.Rasanya malu sekali untuk bertatap muka dengan Angkasa.

__ADS_1


"Ayo pulang" ajak Angkasa.


Suaranya sangat lebut berbeda dengan hari hari biasanya yang hanya bisa berucap ketus dan datar.Aku membalikkan badan dan segera mengikuti Angkasa.Ada rasa kecewa Angkasa tidak menjelaskan maksud dari ciuman tadi.Aku terus memegangi bibirku dengan tangan yang gemetaran.Itu ciuman pertamaku.


***


Semenjak hari itu hubunganku dan Angkasa tak lagi sama.Rasanya lebih menyenangkan dan mendebarkan.Dia bahkan mengajakku makan dimeja yang sama bersama Arga tentunya.Arga yang melihat kami semakin akrab sering melemparkan tatapan curiga kearah kami dan kami pun pura tidak melihatnya.Semakin aku dekat dengan Angkasa,semakin sering aku bersama Arga,semakin sering juga Davina dan dua temannya menggangguku.Arabella juga memusuhiku secara terang terangan.Tak jarang aku melihat dia mencibirku.Davina masih sama saja jahat tapi sekarang tambah jahat.Selena tidak terlalu menggangguku.Mungkin hanya saat Arga berada didekatku dia akan memelototiku.Aiko dan Errin tak kalah penasarannya.


"Jujur.Ada apa antara kamu sama Tuan Muda Elvarett?" tanya Aiko mendelikkan matanya kearahku.


"Nggak ada apa apa" aku tertawa menanggapinya.


"Nggak ada apa apa gimana? Tuan Muda Elvarett tidak lagi memusuhimu dan aku juga tidak pernah melihatmu makan siang bersama kami lagi" sindir Errin.


"Pertanyaan macam apa itu?" tuntutku.


Beruntung hari itu Mrs.Catherine masuk jadi aku tidak perlu menjawab pertanyaan pertanyaan krisis dari mereka berdua.Hari ini kami memasak bebas dan sekarang kami mencari bahan makanan di kebun sekolah.Aku bersama kelompokku memutuskan untuk memasak sayuran.Selama 4 jam akhirnya selesai juga.Seperti biasa Mrs.Catherine memberi kami nilai plus.Aku menuangkan sup sayur ke dalam mangkok untuk kubagi dengan Angkasa dan Arga.Bel istitahat berbunyi,kami segera melepas baju koki kami dan keluar dari kelas memasak.Dengan ekstra hati hati aku membawa sup ini kerja Angkasa.


"Aku membuat sup.Apa kau mau mencobanya?" tanyaku seraya menyuapkan sesendok sup ke mulut Arga.


"Jangan manja! dia bisa makan sendiri.Lebih baik kau berikan kepadaku,aku ingin merasakan kegagalanmu kali ini" ketus Angkasa.


"Wow lama sekali aku tidak mendengar suara itu dari mulut licikmu Tuan Muda" sindirku.


Aku menyuapi Angkasa.Ya aku menyuapi anak ini karena dia begitu rewel melihatku menyuapi temannya.Tapi baru sampai pada suapan pertama dia menatapku tajam.


"Apa ini sayuran?" tanya Angkasa tajam.


"Kau pikir ini apa? tentu saja sayuran namanya juga sup pasti ada sayurnya" gerutuku.


"Ini menjijikan" Angkasa mendorong mangkok ku menjauh darinya.


"Kau ini kenapa? ini kan enak" sahut Arga.

__ADS_1


"Diamlah kau lidah abrasan.Aku benci daun daun itu" cibir Angkasa.


"Kau tidak suka sayur ya?" tuduhku.


"Siapa yang menyukai jenis tumbuhan itu"


"Aku menyukainya" tukas Arga.


"Aku tidak menyuruhmu berbicara" bentak Angkasa geram.


"Haha apa aku perlu izin? kemarikan sup itu Din aku akan memakannya"


Arga memakan sup ku dengan lahap.Angkasa yang ada didepannya menatapnya nanar.Aku yakin jika didepannya itu bukan sahabatnya,dia pasti akan melempar prang itu dari atap sekolahan.Teriakan seorang gadis menggema diseluruh kantin.


"ARGAAAAAAA" siapa lagi kalau bukan Selena.


"Apa?" tanya Arga tidak senang.


"Aku membawakan ini untukmu jadi kau harus memakannya" Selena menyerahkan sepiring mie sayur.


"Aku tidak suka mie" ujar Arga datar membuat senyum di wajah Selena lenyap tapi kemudian kembali lagi.


"Kalau begitu kau bisa memakan sayurnya"


"Aku tidak suka sayur"


"Kau bilang menyukai sayur Ga!" tuntut Angkasa.Arga hanya mendelik ke arahnya.


"Iya,kau juga makan sayur dari anak ini" Selena menunjukku.


"Jangan mendebatku Selena.Enyahlah" ujar Arga malas.


Selena melempar tatapan tajam ke arahku lalu menghentakkan kakinya menjauh dari kami.Arga tersenyum puas lalu memakan sup ku lagi.Kulirik Angkasa yang sempat ikut menanggapi,dia hanya mengedikkan bahu lalu memakan makan siangnya.

__ADS_1


__ADS_2