Secepat 24 Jam

Secepat 24 Jam
3


__ADS_3

"Menjadi pelayanmu?" tanyaku dengan garang.


"Kamu hanya perlu membawakan tas ku,membawa makananku dan patuh setiap aku memberi perintah kepadamu" jawabnya dengan senyuman yang menjengkelkan.


Menjadi budaknya? yang benar saja.Aku ke sekolah untuk menjadi pelajar bukan pelayan.Aku yakin 100% kalau dia tidak punya wewenang mengeluarkanku dari sekolah.Aku menendang tulang keringnya lagi.


"Dasar ******** penindas" umpatku.


"HEI" Gadis yang tadi mendorongku sampai aku terjatuh.


"Jangan berani melawan Angkasa" ancamnya.


"Memangnya kenapa? kamu suka?" tanyaku bergurau.


"Kalau iya kenapa?"


Astaga,aku tidak pernah tau kalau ******** ini ada yang suka.Aku melirik kebelakang gadis itu.Ah aku yakin semua itu fans Angkasa.Benar benar menggelikan.Mereka mengejar Angkasa dicari apanya? Gantheng? Iya Kaya? Iya Populer? Iya.Ah akhirnya aku tau yang mereka incar.Benar benar memalukan.


Ada tangan yang terulur kepadaku.Aku menatapnya lalu beralih ke sang pemiliknya.ARGA,pekikku dalam hati.Selain teman teman sekelasku,mungkin hanya dia yang baik kepadaku.


"Kenapa duduk dibawah?" tanya Arga disertai tawanya.


"Kamu kenal idiot?" tanya Angkasa.


"Aku punya nama" sergahku tapi diacuhkannya.


"Ya,kami berteman" jawab Arga.Sejak kapan?


"Sejak kapan?" tanyaku datar.


"Hei sejak kemarin di caffe kau lupa?" tanya Arga.


Aku hanya ber oh ria.Senang rasanya memiliki teman dan ternyata dia rendah hati.Aku harus meralat pikiranku tentang orang kaya selalu sombong.Arga merangkul bahuku dan mengajaku berjalanan beriringan dengannya.Tapi setelah dipikir pikir ini bukan ide bagus.Lihat saja wajah wajah gadis itu seolah ingin menelanku mentah mentah.Orang kaya itu menakutkan.


"Kamu kelas apa?" tanya Arga.


"X-20" aku terkekeh.Aku menertawai diriku sendiri.


"Okeeeee"


Dia benar benar mengantarku sampai di depan kelas.Aku melambaikan tangan kearahnya lalu masuk ke dalam kelas.


"DINDA" Jerit Errin.


"Apa?" tanyaku polos.Tapi memang aku tidak tau apa apa.

__ADS_1


"Jangan bikin masalah lagi please.Ini demi keselamatan lo" jawab Errin jengah.


"Kenapa sih?" tanyaku bingung.


"Kamu diantar siapa tadi? siapa?"


"Arga"


"Nah kan"


"Lantas?"


"Kamu sungguh tidak tau siapa dia?" tanya Errin tidak percaya.Aku menggeleng.


"Dia putra dari pemilik Dirgantara airline" ujar Errin gemas.


Pemilik dari Dirgantara Airline? Aku tidak salah dengar kan? Sekolah ini benar benar hebat.Aku mengacungkan dua jempolku ke arah Errin dan kemudian ditepis olehnya.


"Kalau masalah ini sampai ketahuan Davina,lo bisa abis"


"Siapa Davina?" tanyaku bingung.


"Orang yang mendorongmu tadi Din" jawab Rio anak nakal dikelasku.


"Kamu sudah berurusan dengan Davina? apa kau menelan maghnet penarik masalah?" tanya Errin frustasi.


"Karena aku satu sekolahan dengan mereka dulu" jawab Errin.


Pantas saja.Seorang laki lak yang kuketahui bernaha Mr.Mike pengajar astronomi masuk ke dalam kelas.Dia menjelaskan kepada kami tentang tata surya,mempelajari macam macam bintang dan yang lebih unik lagi ketika Mr.Mike masuk adalah ruang kelaaku menjadi gelap.Hanya ada cahaya dari bintik bintik kecil.Kelasku menjadi seperti angkasa.Angkasa itu indah tapi orang yang bernama Angkasa itu sama sekali tidak indah.


Bel istirahat berbunyi.Errin menyeretku menuju kantin.Kami mengacuhkan tatapan tatapan orang orang yang lebih tepatnya menatapku.Aku tidak tau kenapa mereka membenciku padahal disini aku berperan sebagai penyelamat.Dunia benar benar terbalik dimana penjahat yang dipuja dan pembela dihina.Aku tidak tau jalan pikir mereka dan aku juga tidak mau tau apa yang ada didalam kepala mereka.


Aku dan Errin duduk di deretan bangku yang kebayakan orang yang menempatinya adalah teman teman kelasku.Mereka yang bukan teman kelasku langsung berdiri dan menatapku seolah aku ini bangkai yang dilempar tepat di meja hidangan mereka.Errin menyenggol kakiku dan aku tau apa maksudnya,dia ingin aku mengabaikan orang orang tadi.Tanpa dia suruh aku sudah mengabaikannya.


"Din lain kali kamu harus ikut kami makan biar dapat meja" Seru Rio.


Aku dan yang lainnya hanya tertawa lalu kembali ke makanan masing masing sebelum jam istirahat sirna.Ditengah kesibukan kami,ada orang yang menggebrak meja dan orang pertama yang menggebrak balik adalah Rio.Setelah tau siapa pelakunya,Rio duduk dengan mengacungkan 2 jari.


"Peace" dia cengengesan lalu kembali makan.


"Dinda,bukannya kamu harusnya membawakan makananku ke sana?" Tanya Angkasa sembari menujuk 1 meja serta 4 kursi yang letaknya di lantai yang lebih tinggi dari yang lainnya.


"Apa aku peenah menyetujui ide konyolmu?" tanyaku tanpa memperhatikannya.


"Dinda" bisik Errin.

__ADS_1


"Sudah bosan menjadi murid Na Elvarett?"


Aku berdiri dan berjalan perlahan menuju ke arahnya.Semua mata terkunci ke arahku.Aku berdiri didepan Angkasa.Dia tersenyum penuh kemenangan.Aku berkacak pinggang dan meneriakinya.


"HEI ANGKASA" Teriakku dengan lantang.


"Jangan berteriak saat menyebut namaku idiot"


"Jangan menyebutku dengan sebutan idiot,idiot" Aku memanggilnya idiot juga.Siapa peduli,nyawaku sudah berada di ujung tanduk.Aku melakukan sesuatu yang harus kulakukan.


"Beraninya kau" Angkasa geram.


Rahangku dicengramnya kuat kuat.Aku sangat kesakitan.Aku yakin tulangku bisa remuk jika lama lama dicengkram olehnya.


"Angkasa lepas" tegasku kepada dia.Suaraku bahkan tidak beraturan.


"Tarik ucapanmu kembali"


"Lepas bodoh"


"Aku belum mendengar kalimat yang kuinginkan"


"ANGKASA KAU ******** BODOH YANG MEMANFAATKAN KEKUASAAN UNTUK MENINDAS YANG LEBIH LEMAH" Entah setan apa yang sedang merasuki diriku.Yang pasti tindakanku kali ini akan menyulitkanku di masa depan.


Angkasa melepaskan cengkramannya dan beralih mencengkram lenganku.Aku diseret menuju pintu.Aku menoleh meminta bantuan ke teman temanku tapi mereka memberi kode bahwa mereka tidak bisa berbuat apa apa.


"BERHENTI" Seru seseorang.


"Kenapa lagi dia? kenapa kamu menariknya lagi? lihat kamu menjadi tontonan" ujar Arga.Aku ditarik sampai menabrak dada bidangnya.


"Aku harus menyekolahkan bibirnya" jawab Angkasa lalu menarikku dari Arga.


"Tunggu dulu" Arga menarikku ke arahnya.


"Aku yang mengurusnya" lanjutnya.


"Urusi urusanmu sendiri" ujar Angkasa sinis lalu menarikku ke arahnya sangat kencang sampai aku jatuh dan bertumpu padanya.


Angkasa yang tiba tiba terbebani oleh diriku goyah dan dia ikut ambruk.Untuk beberapa saat aku sadar mereka menatap Angkasa tampan dari kedua bola matanya yang dibilang hitam tidak hitam dibilang abu abu tidak abu abu.Aku tidak bisa menghambarkannya sesuai warna.


"DINDA" Jerit Davina.


Aku dan Angkasa bangkit dan kami langsung menjadi pusat perhatian.Davina menamparku secara terang terangan.


"DAVINA" Bentak Arga.

__ADS_1


Angkasa mencengkram tangan Davina sampai memerah.Tatatpan matanya tajam dan menusuk.


"Siapa yang mengizinkanmu menyentuh milikku"


__ADS_2