
Sementara di lain tempat, tampak seorang pria paruh baya itu pun mengamuk dan mengobrak abrik mejanya, Komisaris Oh Namgil yang juga adalah paman dari Oh Yunmi. "Dasar semuanya b*d*h....!
rencana yang sudah aku susun secara matang pun semuanya kacau!
dan kalian, ! menangkap seorang Kim Yunna pun kalian tidak bisa …!" pekik pria itu dihadapan anak buahnya, hingga tiba tiba seorang tangan kanannya pun masuk.
" ketua...!" panggil pria itu .
" Apa kau dapat kabar dari Yunmi?" tanya Komisaris Oh.
" Belum ketua ! tetapi aku dapat kabar lain, Kim Yunna tewas " jawab pria.
" Apa... kau yakin ?"
" Ya ketua, kabarnya ia ditemukan tewas dengan luka tembak di lokasi, tepatnya disebuah gedung tua tak jauh dari klinik herbal. tapi belum diketahui siapa pelakunya, namun aku yakin itu dokter Oh Yunmi" jawab pria itu, yang disusul sebuah panggilan telephone yang berbunyi di ponsel Komisaris Oh.
" Hallo... ?"
[Hallo paman, ini aku Yunmi]
" Kau baik baik saja, dimana kau sekarang ?"
[ Aku sedang bersembunyi di suatu tempat, saat ini aku tidak berani sembarangan keluar. bagaimana jika mereka yang tertangkap akan buka suara mengenai kita paman ?]
" Kau tidak perlu khawatir soal itu, aku sudah mengatur semuanya , aku pastikan mereka tidak akan buka mulut"
[ Apa paman yakin? bagaimana dengan rekan dokterku itu. aku tidak terlalu yakin dengannya.]
" kau tidak perlu khawatir tentang dokter itu , aku akan segera mengurusnya. percayalah pada paman.
dan tentang Park Yunna, apa kau yang melakukannya?"
[ ya paman, aku terpaksa]
" Tidak apa, kau melakukan hal yang benar. sekarang yang terpenting adalah memastikan tidak ada satu pun diantara Tim Letnan Kim Jihyun yang mencurigaimu. aku khawatir jika sebelum meninggal Kim Yunna mungkin pernah mengatakan sesuatu.
[ lalu aku harus bagaimana paman?]
" Untuk sementara pergilah ke luar negri ke tempat orang tuamu, akan aku urus keberangkatanmu ."
jangan kembali ke negara ini sebelum aku mengizinkanmu."
[ baik paman]
dan penggilan pun di akhiri.
Komisaris Oh pun menghela panjang nafasnya, sepertinya kali ini ia harus memutar otaknya untuk menutupi semua kasus ini, dan kembali memikirkan rencana selanjutnya untuk mengembalikan kerugian besar yang ia alami karena gagalnya kedua transaksi tersebut.
__ADS_1
Hari ini di sebuah Jangraeshikjang ( rumah duka) dikawasan Rumah sakit Yesang, tempat disemayamkannya jenazah Yunna selama dua hari sebelum kemudian jenazah akan dikremasi atau dikuburkan di hari berikutnya yaitu hari ke 3. Terlihat tamu tamu pun berdatangan dengan pakaian berkabung serba hitam, untuk memberikan doa serta penghormatan terakhir pada mendiang Kim yunna.
Tampak beberapa karangan bunga yang berjejer disepanjang lobi menuju ruang persemayaman jenazah, serta disebuah ruangan yang terpampang foto mendiang Kim Yunna dikelilingi tumpukan bunga lily serta bunga crissan putih.
Wajah Ibunya yang hari ini terlihat sembab dan pucat, berusaha untuk tegar atas kematian putrinya.
Air matanya pun kini sudah tak terlihat, namun kesedihan yang mendalam masih sangat jelas di matanya.
Ia pun menyapa serta memberi hormat pada tamu tamu yang berdatangan. tak terkecuali Jihyun dan rekan rekannya yang semua telah hadir.
Jihyun yang selesai memberikan doa serta penghormatan terakhirnya untuk Yunna pun tak jauh beda dengan ibu Yunna. kesedihan yang mendalam masih terlihat sekali, apa lagi mengingat di saat saat terakhir Yunna, dia lah yang berada di sisinya.
Yunna yang meregang nyawa dalam dekapannya membuat Jihyun masih merasakannya dengan jelas.
lantas ia pun menghampiri ibu Yunna.
" Bibi...!" ucap Jihyun seraya memegang tangan Ibu Yunna sambil menundukkan kepalanya karena tak sanggup menatap mata seorang ibu yang kehilangan putri kesayangannya, sekaligus wanita yang mencintai dirinya hingga akhir hidup.
"Terimakasih Letnan Kim,, aku baik baik saja" ucapnya dengan berusaha tersenyum dan menahan air matanya.
Lantas Jihyun pun menuju tempat duduk yang disediakan untuk sekedar minum atau pun makan bersama rekan rekan seTimnya, yang juga bersama beberapa tamu yang datang.
Jihyun terlihat murung tanpa berkata kata sambil beberapa kali menenggak soju. " Letnan Kim... kau sudah lebih baik?" tanya Isnpektur Ahn.
" Bukan hanya kau yang merasa kehilangan Yunna, kami pun semua merasakannya. " sahut salah seorang lagi.
" Aku mengerti…!" balas Jihyun.
" menangkap pelaku yang menembak Yunna. bahkan aku akan menembaknya juga tepat dijantungnya jika memang perlu " ucap Jihyun disusul setanggak minuman dan menatap foto Yunna dari kejauhan.
Para rekannya pun saling menatap satu sama lain.
sementara jiwa Yunna yang saat ini tengah berada di sebuah Unit Gawat Daruta (UGD), entah mengapa ia ingin sekali datang ke tempat itu, ia melihat banyak sekali pasien diruangan itu dengan berbagai macam masalah kesehatan yang mengancam jiwa mereka.
seperti kecelakaan, komplikasi penyakit kronis yang fatal, keracunan, bahkan ia pun melihat pasien dengan sebuah luka tembak dibagian perutnya. ia menatap sejenak pasien tersebut, dan mengingat peristiwa penembakan yang ia alami.
" disini, peluru itu bersarang tepat disini" gumam Yunna sambil menyentuh dadanya.
" Kau lihat apa...?" tanya malaikat bersayap yang tiba tiba sudah berada di belakang Yunna.
" Ya ampunn! kau mengagetkanku! . aku hanya ingin melihat lihat tempat ini. Oh iya...! apa kau tau penyebab kematianku ?" tanya Yunna.
" kenapa masih bertanya lagi, jelas jelas kau tau bahwa kau ini tertembak…!" jawab sang malaikat sambil meninggikan nadanya.
" bukan begitu maksudku, mungkin kan karena kehilangan darah ,atau apalah " tutur Yunna.
" peluru itu menembus dada hingga jantungmu! itu kan jawaban yang kau ingin ketahui ?" .
" Ommoo...! benarkah? pantas saja aku bisa mati.…! tapi bahkan jantungku pun masih sempat berdetak terakhir kalinya untuk Letnan Kim, padahal dulu aku sering berharap jantungku berhenti berdegup kencang saat dihadapan Letnan Kim.
__ADS_1
aku tidak ingin menyia nyiakan kesehatan jantungku demi pria yang tidak mencintaiku, namun tidak kusangka justru kini jantungku berhenti selamanya.…! aaaaah ibuuu....!"rengek Yunna sambil meneteskan kembali air matanya.
Malaikat itu pun menepuk nepuk pundaknya.
hingga Yunna pun melihat kedatangan pasien darurat yang baru saja diturunkan dari mobil ambulance. terlihat seorang perempuan dengan kondisinya yang cukup parah. kepala dan wajah berlumuran darah, serta kaki yang juga terdapat cidera cukup parah.
" apa yang terjadi padanya?" tanya seorang dokter.
" dia mengalami sebuah kecelakaan tunggal semalam," jawab seorang tim regu penyelamatan yang turut mengantarkannya ke mari.
" sudah dari semalam? kenapa baru sampai sekarang ?" tanya lagi dokter itu.
" karena medan yang terjal dan curam, serta posisi jatuhnya kendaraan tepat di pinggir tebing. membuat proses evakuasi korban memakan banyak waktu . " ungkap Tim penyelamat itu.
Lantas para tim dokter itu pun mulai memeriksa kondisinya. saat seorang perawat menyeka darah dari wajahnya, Yunna yang melihatnya wajah itu seperti pernah bertemu dengannya. " dimana aku pernah melihatnya ?" fikir Yunna mengingat ingat hingga beberapa saat.
" aah... aku ingat ! gadis digereja itu. dia yang memberikan tudung mantilianya padaku ! , ouh Ya Tuhaan,. apa yang terjadi padanya?" ucap Yunna yang terlihat cemas sambil mendekatinya di antara kerumunan tim medis yang merawatnya.
" cidera kepalanya sangat parah,! kita harus melakukan CTscan. apa anggota keluarganya sudah dihubungi?" tanya dokter itu.
" mereka bilang sudah dokter , mungkin sebentar lagi akan tiba " jawab seorang perawat.
Yunna yang mendengar apa kata dokter itu pun semakin khawatir.
" Ya Tuhaan, selamatkan dia" gumamnya sambil menautkan kedua telapak tangannya.
" Apa menurutmu gadis ini akan selamat?" tanya Yunna pada malaikat yang masih berada di dekatnya.
" entahlah...! kondisinya cukup parah " jawabnya sambil mengangkat kedua bahunya.
" Kau kan seorang malaikat, aku fikir kau pasti tau sesuatu" gerutu Yunna.
" meskipun aku tau sesuatu, lantas kau mau apa? apa kau bisa berbuat sesuatu untuknya?.
ingat sekali lagi, semua manusia sudah punya garis hidupnya masing masing. " jawab sang malaikat.
" Kau benar, ! aku tidak bisa berbuat apa apa.
tapi aku kasihan padanya,.. dia terlihat masih sangat muda sekali, masa depannya juga masih panjang. "
ucap Yunna.
" untuk apa kasihan padanya, kasihani saja dirimu sendiri. kau juga masih muda" sahut malaikat.
"itu berbeda,..! setidaknya aku sudah menjadi wanita dewasa." balas Yunna sambil beranjak pergi meninggalkan ruang UGD.
Malaikat bersayap itu pun mengangkat kedua alis serta bibirnya yang melihat Yunna berjalan keluar, ia juga menatap sejenak gadis tersebut lalu tatapannya berganti pada sosok jiwa Yunna.
...----------------...
__ADS_1
...****************...