SECOND LIFE (Kehidupan Ke Dua)

SECOND LIFE (Kehidupan Ke Dua)
Bab32.Gelang benang merah


__ADS_3

" Ini dia...! makananmu sudah siap.


ini adalah resep masakanku yang baru, selamat menikmati..." ucap Yejin yang menyajikan sebuah menu untuk Jihyun.


" waaah,  kelihatannya sangat lezat bi..!" balas Jihyun sambil menyendoknya.


   " Hei ! kau masih memakai gelang itu Jihyun ?" tanya Yejin yang melihat gelang benang merah milik Yunna, yang dia berikan pada Jihyun sesaat setelah hari jenazah Yunna dikremasi.


" tentu bi, aku selalu mamakainya sejak dulu bi. entah mengapa aku tidak ingin melepaskannya , aku rasa aku sangat menyukai gelang ini"


" benarkah...? kalau begitu syukurlah jika kau suka . tapi memang gelang itu terlihat cocok sekali kau kenakan,


tidak mengurangi penampilanmu yang selalu terlihat keren dan tampan !" puji Yejin.


   Jihyun mendengus senyum


mendengarnya. " Pujian Bibi membuatku tersanjung "


" ini bukan pujian, tapi memang kau ini sangat tampan. pantas saja Yunna sangat menyukaimu" balas Yejin, hingga ucapannya itu tiba tiba membuat matanya berkaca kaca.


  Tak berbeda jauh, Jihyun juga seketika terdiam dan tertunduk, jantungnya serasa perih mendengar kenangan itu.


  " aaah,  kenapa aku jadi membicarakan itu. ? huffft... " celetuk Yejin seraya mengipas ngipas matanya yang hampir mengeluarkan buliran air mata.


~~


  Sementara di sudut lain,  Serin telah sampai di restoran itu .


    Ia berdiri dipintu masuk sambil melihat lihat ke segala arah. karena tak ada meja kosong,


lalu ia berinisiatif untuk menemui Yejin dibelakang, akan tetapi ia juga takut kalau akan mengganggu pekerjaan Yejin.


    Lantas Serin memutuskan akan menunggu saja diluar sebentar.


Namun saat baru saja melangkahkan kakinya, tiba tiba terdengar suara seorang wanita.


" Serin...!" panggil Yejin seraya menghampirinya.


"o... Bibi Yejin "


" Kau kemari... kenapa berbalik arah ?"


" Aku fikir aku akan masuk nanti setelah ada meja kosong bi. karena restoran kalian sangat ramai, ! tapi aku senang melihatnya"


" Aku juga senang dan menjadi lebih bersemangat. ayo masuk saja, akan aku carikan tampat untukmu"


ajak Yejin.


" baik kalau begitu bi" balas Serin.


  lalu Serin mengikutnya ,


saat telah sampai tepat dibelakang Jihyun yang hanya sendirian di meja yang terdapat empat kursi , akhirnya Yejin menawarinya untuk semeja dengan Jihyun.


  " Eh,... Serin, bagaimana kalau kau duduk disini bersama Jihyun? mejanya cukup lebar. tidak apa apa kan?"


" em... tidak apa bi!. tapi apa tuan itu tidak akan keberatan?" Serin sedikit tak enak hati.


" tidak apa, dia biasa makan di kedai dan satu meja bersama orang orang yang tak dikenal.   ayo..!"


" Jihyun, ! dia boleh duduk disini kan?" tanya Yejin.


" Oh, tentu bi, silahkan!" jawab Jihyun yang sambil fokus mengunyah makanannya.


  Lantas Serin pun menarik kursi tersebut untuk dia duduki.


" Degg...!" belum sempat ia duduk, tubuhnya sudah terpaku karena terkejut melihat sosok pria dihadapannya itu, begitu juga dengan Jihyun.


    Mereka saling tatap dalam diam.


" Pria ini lagi...!"  batin Serin.


Yejin yang melihat sikap mereka berdua lantas bertanya.


" ei… ada apa? apa kalian keberatan duduk bersama ? "

__ADS_1


   Hingga aksi saling tatap itu terbuyarkan.


" oh, sama sekali tidak bi !


silahkan duduk nona." ucap Jihyun.


" Terimakasih tuan,!" balas Serin.


" O iya... Jihyun ! perkenalkan, dia adalah Lee Serin. Putri temanku yang membuka restoran ini.


   Serin, dia adalah Kim Jihyun, atasan mendiang putriku dulu!"  Yejin memperkenalkan mereka berdua.


" senang bertemu denganmu tuan Kim." ucap Serin sambil menunduk memberi salam hormat.


" Begitu juga denganku Nona Lee,kita bertemu lagi" balas Jihyun yang masih mengingat wajah Serin saat di bandara.


" oh, anda masih ingat denganku tuan?" tanyan Serin.


" Ya!"


" Ternyata kalian sudah pernah bertemu sebelumnya? " Tanya Yejin.


" iya bi, kami tidak sengaja bertemu di bandara. saat itu tuan Kim., em... maksudku inspektur Kim telah  membantuku."


   "Oh , begitu rupanya! baiklah kalau begitu aku tinggal dulu, aku akan menyiapkan makanan untukmu serin. Kalian bisa mengobrol ngobrol dulu " timpal Yejin.


   Serin merasa sedikit gugup, ia bahkan tidak berani menatap Jihyun.


" Apa kau, hanya sendiri nona Serin?"


Tanya Jihyun memulai obrolan ringan.


" iya tuan, ! anda juga sendiri !" balas Serin yang bingung harus berkata apa.


   " Ya, begitulah. !


e... waktu itu, kau baik baik saja hingga sampai dirumah kan?"


" iya... aku baik baik saja. saat itu aku hanya kaget dan mungkin bercampur lelah karena perjalanan "


    Dan perbincangan mereka tetap berlanjut meski masih sedikit canggung. saat mereka berdua tertawa ringan ,  tiba tiba saja terlintas sebuah peristiwa di benak Serin. sebuah kecupan dibibir Jihyun, yang membuatnya sontak terperanjat dan melongo menatap Jihyun .


" Apa ada yang aneh dengan wajahku? kenapa kau menatapku begitu ?"


" Ooh tidak tidak... bukan begitu tuan.


maaf, ... em... aku hanya tiba tiba saja teringat barang pentingku yang sepertinya tertinggal di kantor, ya.. begitu !" jawabnya berbohong ditambah salah tingkah.


" huuuh ....! kenapa aku ini...? kenapa tiba tiba muncul fikiran itu. aku menciumnya…? kenapa bisa, ?  apa jangan jangan otakku sudah kotor, atau rusak....!" gumam Serin dalam hati terus menerus dengan sebuah tanda tanya besar.


    Melihat tingkah aneh Serin, Jihyun juga tak kalah bingung.


"benarkah tidak ada yang aneh pada wajahku?" tanyanya dalam hati.


   Tak lama kemudian,  Yejin telah kembali dengan membawa menu makanan Serin.


" Serin, makananmu juga telah siap.


ayo cepat makan."


"Terimakasih bibi,.. !" balas Serin.


    saat Serin menyingsingkan lengan pakaiannya sebelah kanan karena akan mulai menyendok makanan,


tak sengaja Yejin juga melihat gelang yang sama ditangan Serin, gelang benang merah. bentuk dan warnanya pun sama persis seperti yang ia berikan untuk Jihyun.


   " Serin, ! kau juga punya gelang seperti itu ?"


" Gelang...?


oh... maksud bibi ini? aku baru saja mendapatkannya barusan bi . seorang nenek telah menghadiahkanya padaku, memang kenapa bi? apa ada yang aneh dengan gelang ini? "


" yaa... ! aku rasa... sama persis dengan milik Jihyun."


" Benarkah ....?" sahut Jihyun seraya melihat kedua gelang tersebut.

__ADS_1


" o...! benar ! ini sama.


kenapa bisa kebetulan sekali?" timpal Serin, yang disusul dengan batinnya ,


" sepertinya tadi kata nenek itu hanya ada dua gelang seperti ini. mungkinkah memang milik tuan Jihyun salah satunya ? "


Hali ini juga membuat Serin semakin tambah merasa aneh. wajah Jihyun yang sering muncul difikirannya bahkan sebelum mereka benar benar bertemu nyata, serta sebuah ciuman, hingga gelang yang sama.


entah hanya suatu kebetulan belaka atau memang ada sesuatu dibalik semua ini, masih menjadi misteri bagi Serin.


Setelah beberapa saat, Jihyun yang telah menyelesaikan makan malamnya itu lantas memutuskan untuk beranjak karena ibunya sudah menunggu.


Kini hanya tinggal Serin. rasa penasaran pada Yejin dan juga kini ditambah kehadiran Jihyun yang semakin menambah rasa penasarannya itu, membuatnya memberanikan diri untuk bertanya sesuatu pada Yejin.


" Bibi., apa mungkin sebelumnya kita pernah bertemu?"


Lantas Yejin mulai mengingat ingat,


" em... sepertinya belum ! aku baru melihatmu untuk pertama kalinya saat kau kemari dihari pertama restoran ini . atau mungkin ditempat lain...! em, tapi aku tidak ingat . memangnya ada apa Serin? " tanya Yejin.


" tidak ada apa apa bi ! tapi entah mengapa aku merasa pernah melihat bibi.


eh, bukan…! tapi lebih tepatnya pernah bersama dan sangat dekat. tapi dimana ?


begitu juga dengan pria barusan bi,!"


" maksudmu Jihyun ?" sahut Yejin.


Serin mengangguk sembari terus berfikir. ia memejamkan matanya dan memaksa mengingat, karena sejujurnya rasa penasaran itu sangat menyiksanya. namun tiba tiba saja,


" Auw... !" pekik Serin memegang kepalanya dengan kedua tangan.


" kau kenapa Serin? apa kau sakit ?" tanya Yejin panik lalu memegang pundaknya.


" ouhh, kepalaku tiba tiba sakit sekali bi..." rintih Serin.


" bagaimana ini... kita ke dokter saja ya?"


" tidak bi, tidak perlu! apa bibi punya obat pereda nyeri ? berikan saja aku itu bi " pinta Serin.


" baiklah , akan aku ambilkan. tunggu sebentar". dengan segera Yejin beranjak.


Setelah meminumnya, beberapa menit saja sakit kepala itu perlahan reda.



" bagaimana Serin? apa masih sakit ? sebaiknya kita ke dokter, aku takut terjadi sesuatu ! atau aku hubungi saja ayah dan ibumu untuk menjemputmu kemari ?"


" Tidak perlu bi... kepalaku sudah lebih baik sekarang .


Terimakasih atas bantuan bibi, maaf jika aku merepotkanmu!"


" kenapa bicara seperti itu.... kau sama sekali tidak merepotkanku !"


" Kalau begitu aku pulang dulu bi !"


" apa kau yakin kau bisa pulang sendiri ? " tanya Yejin yang merasa khawatir itu.


" Aku yakin bi..., sampai jumpa"


balas Serin seraya pamit dan meninggalkan tempat itu.


Yejin pun mengantarkannya sampai Serin masuk ke dalam mobil,


ia terus mengarahkan pandangannya hingga mobil Serin benar benar melaju jauh tak terlihat.


" gadis itu,... ! saat melihatnya aku menjadi rindu dengan Yunna." gumam Yejin.


...----------------...


...****************...


\*Serin\*


__ADS_1


    


   


__ADS_2