
Setelah mendengarkan ayahnya bercerita, kini Serin sedikit tau tentang dirinya meski belum sepenuhnya. hingga ayahnya itu menceritakan tentang hubungannya dengan Seo Minna yang tak pernah Serin setujui.
Mendengar hal itu, Serin lantas berfikir sejenak. Ia merasa ayahnya memang seharusnya masih pantas memiliki pendamping.
"jika begini aku jadi merasa kasihan pada ayah. sepertinya bibi Minna seorang wanita yang baik dan penyayang. sekejam itukah aku ?" batinnya dalam hati.
Hingga terdengar suara Minna yang tengah memasuki kamarnya dengan membawa nampan berisi makanan.
" makanan sudah siaaap!" ucap Minna seraya meletakkan nampan itu di dekat Serin.
"emmh... aromanya sangat menggugah selera bi" sahut Serin.
" benarkah .. ? kalau begitu ayo cicipi"
pinta Minna seraya menyendok makanan itu dan menyuapkan pada Serin.
Serin pun mengunyah dan merasakannya.
" bagaimana,...?
Serin belum menjawab.
apa tidak enak? kalau kau tidak suka bibi akan memasakkan yang lain untukmu" ucap Minna yang terlihat sedikit takut itu.
Namun Serin kemudian tersenyum.
" tidak usah bi... ini enak sekali,! aku menyukainya" balas Serin yang langsung meraih sendoknya lalu memakannya dengan lahap.
Melihat hal itu membuat Minna merasa bahagia.
" Bibi dan ayah tidak makan?" tanya Serin.
" kami akan makan nanti" jawab Jongsun.
" Kenapa....? ini sudah jam makan malam, kalian cepatlah makan. aku tidak apa apa disini sendiri,sungguh"
Balasnya sambil mengunyah makanan.
" benar kau tidak apa apa?" tanya Minna.
Serin menjawabnya dengan anggukan.
" baiklah kalau begitu kami akan turun dulu, jika kau butuh sesuatu segera panggil aku. kau mengerti"
ucap Minna.
Dan Serin kembali menjawabnya dengan anggukan seraya tersenyum.
Lantas mereka berdua meninggalkan kamar Serin dan menuju meja makan.
sementara Serin masih terus menikmati makanannya, baru saja ia selesai, tiba tiba terbersit sekilas ingatan dalam benaknya.
sebuah ingatan saat ia berada di meja makan lain. " ibu... sering seringlah masak makanan enak untukku"
ucapnya dalam ingatan. hingga kemudian kepalanya merasa sakit.
__ADS_1
yang sontak membuatnya memejamkan mata sambil memegang kepalanya.
" ingatan yang mana ini ?" gumam Serin.
Kemudian ia mencoba menenangkan fikiran dan berbaring diranjang.
**
Hari hari kini telah berlalu,
Minna yang masih dengan setia merawat Serin dengan penuh kesabaran. hingga kakinya yang cidera itu kini telah pulih, ia sudah bisa berjalan kembali dengan normal.
Serin juga sudah mulai kembali menikmati hidupnya, meski inagatan yang sesungguhnya tak kunjung ia dapatkan. namun justru ingatan tentang Yunna lah yang selalu terlintas dalam fikiran serta mimpinya, walaupun ia belum bisa memahami semua itu. Namun ada satu hal yang membuatnya bisa menjadi sangat ketakutan, yaitu suara tembakan.
Meski hanya ia dengar suara itu melalui sebuah acara televisi, ia sontak menjadi gemetar dan ketakutan.
Ia sendiri yang tak tau pasti tentang fobianya itu. namun Jongsun yang pernah menyaksikan Serin sangat takut terhadap suara tembakan itu lantas mengatakan jika sebelumnya Serin tak punya ketakutan semacam itu.
Mereka pun merasa aneh, lantas mereka hanya berfikir mungkin karena efek dari kecelakaan yang pernah Serin alami. Penasaran akan hal itu , Serin semula selalu memaksakan ingatannya dan memahami mimpi mimpi tersebut. Serta hal apa yang membuat dia bisa sangat takut dengan sebuah suara tembakan tersebut, seperti seseorang yang mengalami trauma.
namun lambat laun ia mulai berusaha tenang dan menjalani hidupnya kini apa adanya.
Malam ini,.
Serin, ayahnya serta Minna telah berada di meja makan untuk menikmati makan malam mereka. susasana yang nampak hangat, Serin yang melihat kedekatan antara Ayah dan Minna itu akhirnya memikirkan hal yang mungkin adalah yang terbaik untuk mereka.
" Tidak perlu berterima kasih, aku sangat senang bisa melakukannya. apa lagi mendengarmu menyukainya, itu membuat aku selalu bersemangat untuk memasak" balas Minna yang adalah pemilik sebuah kedai makanan dengan berbagai menu yang terkenal enak.
" em... kalau begitu, bibi tinggallah disini saja. agar bisa selalu memasakkannya untukku dan ayah" sambung Serin kembali.
Mendengar ucapan putrinya itu, membuat Songjun dan Minna tertegun sesaat.
" Apa... maksudmu Serin?" tanya Minna diikuti saling tatap dengan Songjun.
" maksudku... mungkin lebih baik kalian berdua menikah saja !" balas Serin seraya menyeringai.
Songjun yang tengah mengunyah makanan itu tiba tiba tersedak saat mendengar usul putrinya yang sungguh diluar dugaan.
mengingat dulu betepa bencinya Serin pada Minna, jangankan untuk mengizinkan menikah, bertegur sapa pun sering enggan melakukannya.
Tapi hari ini justru dialah yang menginginkan pernikahan ini.
" Serin.... Apa kau baik baik saja ? kau tidak sedang demam kan ?
sepertinya kau mengigau " tanya Songjun seraya berdiri dan menyentuh kening putrinya itu.
" Ayaaah... aku tidak sedang sakit!
aku sadar atas apa yang aku ucapkan.
menikahlah dengan bibi Minna! " ucap serin mengulangi kata katanya.
__ADS_1
" Bibi Minna,... jadilah ibuku! apa bibi mau?" tanya Serin kembali.
Mendengar permintaan itu membuat mana Minna berlinang air mata hingga tak sanggup berkata kata lagi.
" Serin... terima kasih. kau putri ayah yang paling baik" ucap Songjung seraya menggenggam tangan putrinya.
" Aku yang seharusnya berterima kasih pada kalian, terutama bibi Minna. selama ini bibi telah merawatku dengan sangat baik. aku tidak tau bagaimana aku akan membalasnya.
maaf jika mungkin sebelumnya aku selalu membangkang.
terlepas dari itu, jika suatu saat aku mengingat semua masa laluku dan membenci kalian. aku mohon kalian jangan pedulikan aku, teruslah hidup bahagia ayah ." ucap Serin yang akhirnya membuat ayahnya pun ikut meneteskan air mata.
Songjun seakan melihat kembali malaikat kecilnya itu yang telah menjelma menjadi gadis baik dan periang seperti sebelum terjadi perceraian antara dia dan ibu Serin.
**
Akhirnya pernikahan mereka pun telah dilaksanakan dengan pesta yang dihadiri oleh para sahabat dan kerabat dekat, serta para staf perusahaan Songjun.
kini Minna telah sah menjadi istrinya serta ibu sambung Serin. Minna adalah seorang janda berusia 45 tahun, terpaut lima tahun lebih muda dari ayah Serin yang saat ini tengah memasuki usia 50 tahun.
Minna telah ditinggal pergi untuk selamanya oleh sang suami serta putrinya karena sebuah kecelakaan 10 tahun lalu.
Ia tak punya banyak kerabat, hanya seorang kakak perempuannya yang terlihat hadir bersama putranya.
Senyum kebahagian kini terurai di bibir Songjun , yang melihat putrinya tengah tersenyum tulus seraya mengacungkan tiga jari OK untuknya.
Ia seperti sedang bermimpi, hal yang semula ia khawatirkan bahwa hubungan dengan putrinya akan semakin memburuk, kini hal itu tidak terjadi.
Lantas mulai hari ini, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia juga akan memberikan kebahagiaan untuk Serin apapun itu. ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi memaksakan kehendaknya pada putrinya itu.
Ditengah suasana pesta yang menampakkan banyak senyum serta obrolan para tamu undangan, tiba tiba Serin seperti melihat sosok wanita cantik bergaun putih serta mimiliki sayap.
pandangannya sangat ia fokuskan pada sosok itu.
" Apa dia tamu undangan yang sengaja mengenakan gaun bersayap ?" gumam serin.
Serin yang masih penasaran, kemudi mengikuti kemana sosok itu pergi.
hingga sampailah ia di halaman paling ujung rumahnya. namun ia tidak menemukan keberadaan wanita itu dimanapun.
" Kenapa cepat sekali perginya!
apa ini hanya perasaanku saja?" gumamnya dalam hati. lantas ia pun berusaha mengabaikannya dan kembali menuju kerumunan para tamu tamu undangan.
Kini kehidupan baru telah dimulai. beberapa bulan sejak pernikahan ayahnya, ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negri dan memilih jurusan management bisnis atas kemauannya sendiri.
Sebuah pilihan yang sebelumnya memang paksaan sang ayah dan tidak ia sukai, namun entah mengapa, kini Serin telah mantap menetapkan jurusan tersebut sebagai pilihannya.
Semula Songjun sempat menyarankannya untuk memilih apapaun jurusan yang ia minati, ia takut jikalau Serin ingat akan paksaannnya dulu. namun Serin telah meyakinkannya bahwa itu adalah keputusan dan keinginannya sandiri, bukan atas dasar paksaan atau kepatuhannya terhadap Jongsun.
namun tak lepas dari cita cita Serin yang sangat ingin menjadi seorang bellerina itu tetap menyempatkan diri mengikuti les di sela sela waktu kuliahnya.
Masa masa diluar negri pun ia jalani tetap dengan ditemani beberapa penggal ingatan yang kerap muncul secara tiba tiba, begitu juga dalam setiap mimpinya.
__ADS_1