
Sesampainya Jihyun di tempat, upacara tersebut sudah dimulai sejak beberapa saat lalu. sebuah penghargaan serta kenaikan pangkat para anggota polisi lain dari berbagai jajaran juga telah diberikan kepada masing masing penerima pangkat.
Dan kini terakhir adalah giliran Jihyun, Sebuah tanda lambang pangkat baru telah disematkan pada seragamnya didada.
Mulai hari ini Jihyun telah resmi menjabat sebagai Komisaris Besar Polisi. panggilan Letnan Kim kini telah berubah menjadi Komisaris Kim atau juga Superintendent Kim.
Sebuah tepuk tangan meriah oleh para anggota kepolisian dari semua jajaran yang hadir.
Salam hormat Jihyun tunjukkan untuk mereka semua, dengan ekspresi wajah datar namun tegas, meski tanpa segurat senyum di wajahnya.
Di sudut lain, Irjen Oh Namgil yang saat ini juga tengah berdiri di barisan paling depan bersama perwira tinggi lainnya itu nampak memandang Jihyun dengan tatapan nenelisik.
Sepertinya dia juga sudah merasakan suatu firasat tentang Jihyun, walaupun selama ini hubungan mereka terlihat baik baik saja. akan tetapi sorot mata Jihyun tak bisa berbohong bahwa ada suatu tujuan di baliknya.
" Selamat untuk keberhasilanmu Komisaris Kim. aku harap kita tetap bisa bekerja sama dengan baik " Ucap Oh Namgil
" Siap jendral" balas Jihyun seraya memberi hormat dengan pandangan lurus ke depan.
Tak ketinggalan Inspektur Ahn Sojay sekaligus sahabatnya yang selalu setia satu Tim dengannya.
" Salamaaat Komisaris Kim Jihyun.!"
soraknya seraya memberikan karangan bunga bersama rekan rekan yang lain.
" terimakasih semuanyaaa..!
dan selamat juga untukmu atas kenaikan pangkatmu. kau pasti akan semakin sombong setelah ini"
balasnya meledek.
" no... no... no...! yang jelas aku tidak akan segalak dirimu" sahut Ahn Sojay penyeriangai.
Kemudian gelak tawa mereka semua terdengar hangat.
" Oh iya, bagaimana kondisi ibumu ? apa sakitnya sangat serius" sambung Sojay kembali.
" biasaaa, sakit menua !"
" hooh... meski begitu tetap saja itu mengkhawatirkan. diusiaya seperti sekarang ini seharusnya ibumu sudah istirahat sambil menimang cucu "
Sahut Ahn Sojay.
" hei...! kau menyindirku?"
" tidaaaak, aku bicara yang seharusnya ! " sambil mencibir.
Tapi hari ini beliau pasti akan sangat senang dan bangga atas kenaikan pangkatmu.
kini putranya bukan hanya seorang Inspektur biasa, tapi kini sudah menjadi seorang komisaris"
" mana mungkin...! dia tidak akan peduli apapun pangkat serta jabatanku dikepolisian. dia akan bangga padaku jika aku menjabat diperusahaannya!"
" kalau begitu itu lebih bagus...! kau bisa menjabatnya setelah kau pensiun atau bosan jadi polisi" sahut Ahn Sojay.
" heisst , kau ini sembarangan!"
sambil memukul kepala Sojay dengan karangan bunga.
" Aku hanya memberi saran untukmu sebagai alternatif karirmu kelak "
bantah kembali Ahn Sojay.
**
Kini waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Jihyun kemudian memutuskan untuk kembali ke rumah sakit menemani ibunya.
Sebelum itu, tak lupa ia menyempatkan diri mampir terlebih dahulu ke sebuah restoran yang baru saja buka beberapa hari lalu karena undangan dari Choi Yejin, ibu Yunna.
" Selamat datang...!" sambutan dari salah seorang pelayan.
seperti hari hari sebelumnya, tempat itu dipenuhi banyak pengunjung.
Namun Jihyun yang sudah memberitahu Yejin bahwa ia akan mampir malam ini, maka Yejin sengaja menyiapkan meja untuknya.
" Apa anda Tuan Kim Jihyun?" tanya sang pelayan.
__ADS_1
" Ya, benar !"
" Oh, kalau begitu silahkan duduk di meja nomor sembilan, nyonya Choi Yejin sudah memerankan untuk anda" ucap pelayan itu yang sebelumnya sudah di beritahu Yejin.
" Terimakasih" balas Jihyun seraya menuju mejanya.
Tak selang berapa lama,
"Jihyun...!" panggil Yejin.
Jihyun menoleh pada sumber suara yang memanggil namanya.
" oh... bibi Yejin. apa kabar ?" ucapnya
seraya memberi hormat.
" Aku baik baik saja, bagaimana denganmu?"
" Aku juga baik bi,..! sudah lumayan lama kita tidak berjumpa. aku pernah datang mengunjungimu tapi kau tidak ada dirumah dan ponselmu juga tidak aktif. aku kira bibi pindah keluar kota tanpa mengabariku" .
" maaf, saat itu aku hanya sedang pergi ke sebuah kegiatan sosial ke luar kota selama beberapa bulan saja."
" ooh, begitu rupanya !
aku senang bisa melihat bibi kembali.
dan restoran ini, sepertinya cukup ramai bi ...!"
" Yaaah, seperti yang kau lihat!
oh ya, kau mau makan apa?"
sambil mengulurkan daftar menu.
" Aku bingung memilihnya, sepertinya semua terlihat lezat.
terserah bibi buatkan apa saja untukku, aku pasti menyukainya seperti yang sering bibi masakan untukku "
balas Jihyun.
" aaah, bibi tidak perlu repot repot.
aku juga sekalian akan membelikan makan malam untuk ibu, dia sedang kurang sehat"
" benarkah...? kalau begitu biar aku buatkan masakan yang sangat enak dan juga sehat untuknya , kau tunggu sebentar "
ucapnya seraya beranjak ke dapur.
Sejak kematian Yunna, Jihyun dan Choi Yejin menjadi semakin akrab. mereka juga selalu marayakan hari peringatan kematian Yunna bersama.
Tak ada lagi rasa canggung diantara mereka.
bahkan saat ada waktu luang, Yejin juga sering mengirimkan makanan ke kantor untuk Jihyun serta para rekan rekannya.
Hubungan itu kini menjadi seperti seorang kerabat .
**
Sementara di lain tempat, Serin yang tengah dalam perjalanan pulang setelah seharian bekerja , tak sengaja hampir menabrak seorang wanita tua yang tiba tiba tengah menyeberang jalan tidak pada zebra cross.
Karena kaget akan suara decitan antara ban mobil yang bergesek tajam dengan permukaan jalan, ia sontak menjatuhkan barang barang yang ia bawa.
Melihat hal itu lantas Serin turun dari mobilnya menghampiri wanita tua itu.
" nenek, apa anda terluka?"
sambil memegang lengannya.
" tidak nona, aku baik baik saja.
maafkan aku ! aku yang lalai karena sembarangan menyebrang" ucap nenek itu lalu berjongkok mengambil barang miliknya yang jatuh ke tanah.
" tidak nek, aku yang harus minta maaf karena tidak memperhatikan jalan"
Kenudian Serin juga ikut membantu memungut barang barang itu.
__ADS_1
" nenek mau kemana?"
" Aku akan pulang kerumah."
balasnya sambil menunjuk kesuatu arah.
" Kalau begitu kita searah , biar aku antar ya?"
" tidak perlu nona, aku sudah terbiasa berjalan kaki"
Karena merasa tidak tega, Serin tetap membujuk agar ia mau di antar.
akhirnya nenek itu menurut, lantas mereka masuk kedalam mobil dan kembali melaju.
Dalam perjalanan, mereka berdua saling berbincang. lalu diketahui bahwa wanita tua itu adalah penjual perhiasan unik dan antik yang biasa menjajakan barang dagangannya berpindah pindah tempat berdasarkan ceritanya pada Serin .
Dan setelah beberapa saat, sampailah mereka pada pintu jalan sebuah gang menuju tempat tinggal nenek itu.
" Apa rumah nenek masih jauh dari sini?"
" tidak, hanya 100 meter juga sudah sampai. terimakasih nona telah mengantarku"
" sama sama nek"
Sebelum turun dari mobil, nenek itu mengambil sebuah benda.
" Aku punya sesuatu untuk anda, mungkin bukan barang mahal. tapi ini bisa jadi kenang kenangan atau koleksi untukmu nona, sebagai ucapan terimakasih dariku " ucap nenek sambil mengulurkan benda itu.
" apa ini nek ?"
" Gelang benang merah,! dari yang aku dengar oleh seorang pengrajin, dia hanya membuatnya dua buah. yang satu ini akan menjadi milikmu dan satu lagi mungkin sudah dimiliki orang lain " jawab nenek.
" ini indah sekali...! " gumamnya terpukau sambil memandanginya.
"nenek sungguh memberikannya untukku ?"
jawab nenek itu mengangguk.
" Terimakasih nek, aku menerimanya dengan senang hati !"
Nenek pun tersenyum lantas turun dari mobil.
" Hati hati nek, sampai jumpa …!" sambil menundukkan kepalanya.
Dan dijawab kembali dengan lambaian tangan wanita tua yang kemudian melangkahkan kakinya.
Kemudian Serin kembali memandangi gelang itu,
sebuah gelang dengan benang merah dilengkapi manik manik berwarna biru bergaris emas.
Memang mungkin benar bukan sebuah barang mewah atau mahal, namun gelang itu berhasil mencuri perhatian Serin.
ada sebuah rasa berdesir di hatinya saat memandangi manik manik pada gelang tersebut.
segera ia pun melingkarkan pada pergelangan tangan kanannya.
Lalu kemudian ia mengarahkan kembali pandangannya pada jalan masuk yang tepat berada di samping mobilnya berhenti.
Namun ia sudah tak melihat sosok wanita tua itu, dengan heran ia mengingat kondisi tubuhnya yang sudah renta serta cara berjalannya yang juga sudah mulai perlahan.
" ei... cepat sekali nenek itu menghilang…! dia bilang rumahnya 100 meter dari sini.! tidak mungkin dia berlari. "
Gumamnya .
Lantas Serin melanjutkan kembali perjalanannya.
Malam ini ia juga akan menuju ke restoran ibu sambungnya untuk makan malam.
sejak awal ia sudah katakan pada Minna , bahwa ia akan makan malam di restoran. namun ada tujuan lain, yaitu Serin ingin kembali bertemu rekan bisnis Minna, yang tak lain adalah Yejin.
Sebuah keinginan yang ia sendiripun tak faham, ia merasa rindu makan makanan yang Yejin masak. akan tetapi di satu sisi entah mengapa ia juga merasa rindu pada wanita yang baru ia jumpai beberapa hari lalu.
...----------------...
...****************...
__ADS_1