
Lima tahun telah berlalu, kini Serin tepat berusia 23 tahun. ia telah tumbuh menjadi sosok gadis muda yang sangat cantik, serta cerdas dan berbakat. dalam dunia balletnya, beberapa kompetisi ballet sering ia ikuti dan selalu meraih jauara antara kedua hingga pertama.
Hari ini dia memegang sebuah formulir pendaftaran kompetisi ballet seAsia, namu sebuah keraguan muncul dalam benaknya.
Jika ia mengikuti kompetisi ini, maka kemungkinan waktunya akan lebih banyak ia prioritaskan untuk kepentingan ballet tersebut.
Sedangkan ia ingin memanfaatkan ilmu pendidikan management bisnisnya yang ia pelajari untuk membantu sang ayah, seperti yang ayahnya inginkan dahulu.
Meski kini Jongsun tak lagi memaksanya, tetapi Serin telah bertekat untuk membuat ayahnya senang dan bangga padanya, karena dialah satu satunya harapan Jongsun.
Maka dari itu, Serin memutuskan untuk mengesampingkan mimpinya menjadi seorang bellerina dunia, dan akan lebih mengedepankan bisnisnya.
Lantas ia hanya melipat kertas itu dan menyimpannya.
**
Sore ini Serin telah tiba di bandara internasional Incheon. di terminal kedatangan, tak nampak seorang pun yang menjemputnya.
Karena ia sengaja tidak mengatakan pada keluarganya bahwa ia akan pulang hari ini. Ia ingin memberi kejutan untuk ayah serta ibu sambungnya.
Namun saat tengah menuju pintu keluar, tiba tiba " Duaarrrr!!" sebuah suara tembakan yang sangat dekat dari tempatnya berada. seketika Serin merasa kaget dan menutup telinga. kakinya terasa menjadi tak bertenaga untuk menopang tubuhnya. Ia lantas terduduk dilantai.
semua orang yang berada di tempat itu panik karena melihat beberapa pria yang terlibat aksi kejar kejaran di halaman bandara tersebut.
Mereka yang tak lain adalah dua anggota polisi yang sedang memburu seseorang.
suara tembakan barusan berasal dari salah seorang anggota polisi itu yang mencoba melumpuhkan lawannya. Kemudian pria yang tertembak tepat di kakinya itu telah berhasil diringkus.
Hingga salah seorang dari meraka menghampiri Serin yang terlihat duduk di lantai dengan ekspresi ketakutan. " nona, apa kau baik baik saja?" tanya polisi itu.
Serin tak menjawabnya dan tetap dengan posisi tangannya yang masih menutup telinganya.
Kemudian pria itu beranjak beberapa saat dan kembali lagi.
" silahkan minum dulu, agar anda merasa lebih baik" ucapnya seraya mengulurkan sebotol air mineral pada Serin.
Serin menerimanya dengan kondisi tangan yang gemetar, bahkan untuk membuka tutup botol itu saja ia tak kunjung berhasil. melihat kondisi gadis yang berada dihadapannya, lantas pria itu membantu membukanya.
Setelah meminumnya setenggak, Serin mencoba mangatur nafas dan berusaha menenangkan fikirannya.
" anda sudah merasa lebih baik?"
tanyanya.
Serin mengangguk.
__ADS_1
" Anda sepertinya sedang tidak enak badan. apa perlu kami antar ke dokter?" imbuhnya kembali.
" tidak perlu tuan, aku hanya takut jika mendengar suara tembakan. maka dari itu aku tiba tiba sedikit lemas, namun tidak apa apa, ini hanya sebentar. terima kasih atas bantuan anda!" balas Serin seraya menatap lawan bicaranya tersebut.
Dan betapa terkejutnya saat ia melihat wajah pria itu. Wajah yang serasa tak asing baginya.
Pria itu adalah Kim Jihyun, yang tengah menjalankan oprasi penangkapan seorang tersangka sebuah kasus yang sedang ia tangani.
Dan wajah Jihyunlah wajah yang selalu hadir dalam mimpi mimpi serta ingatan yang tiba tiba muncul sekilas beberapa kali selama lima tahun terakhir ini.
Tak beda jauh dengannya, Jihyun yang melihat wajah tatapan mata Serin juga sempat merasa aneh. Tatapan mata yang berhasil menusuk jantungnya, sebuah mata yang sama dengan seseorang yang pernah ia kenal.
Mereka berdua sontak mematung dan menjadi saling menatap dengan penuh tanda tanya dalam hati mereka masing masing. Hingga suara panggilan rekan Jihyun telah membuyarkan fikiran mereka.
" baiklah nona, kalau begitu aku pergi duluan" ucap Jihyun yang segera beranjak dari tempat itu.
"tidak salah lagi, dia pria itu. pria yang sering hadir dalam ingatan dan mimpiku ! siapa sebenarnya dia? " batin Serin dalam hati yang masih terus bertanya tanya.
setelah ia merasa jauh lebih baik, ia segera memesan taxi dan menuju ke rumahnya.
**
Sementara di kediaman Lee Jongsun, nampak istrinya yaitu Minna sedang menyiapkan beberapa menu masakan di meja makan.
" malam ini tumben kau masak bermacam macam menu istriku? apa akan ada tamu?" tanya Jongsun.
malam ini aku ingin kau dan para asisten rumah tangga kita mencicipinya, ini saaangat enak. " balas Minna.
" benarkah?
sepertinya aromanya sangat lezat." sahut Jongsun.
lantas mereka duduk dan menikmatinya,
"Oh iya, apa semua persiapan restoran kalian sudah selesai ? tanya Jongsun.
" sudah 80 persen, kami akan menyelesaikannya besok." balas Minna.
" waaah, benar ! masakan temanmu sangat enak. kau sungguh tepat mengajakknya berbisnis makanan " celetuk Jongsun saat menikmati makanan tersebut.
"tentu saja, dia sangat pintar memasak.
karena kini ia sebatang kara, dan hari harinya selalui dilalui dengan banyak kegiatan amal. kadang dia membantu mengurus anak anak disebuah panti asuhan. saat aku menyarankan untuk membuka sebuah kedai makanan, ia nampak tidak bersemangat. " tutur Minna.
" memang kenapa? " tanya kembali Jongsun.
" Dia bilang kenapa harus bersusah payah mencari uang di usianya yang sudah 55 tahun , karena putri satu satunya yang ia miliki dan menjadi tujuan hidupnya kini telah pergi untuk selamanya. sekilas ia terlihat baik baik saja, tetapi terkadang aku melihat kesedihan yang mendalam di matanya.
Nasibnya memang sama denganku, namun aku masih beruntung karena masih punya kerabat dekat, dan juga aku kini telah memiliki dirimu serta Serin. sedangkan dia, kini sudah tak ada satupun sanak saudara. kakak perempuannya juga telah meninggal dua tahun lalu." ucap Minna.
__ADS_1
"Apa penyebab putrinya meninggal ?" sahut Jongsun.
" Dia meninggal karena sebuah luka tembak saat bertugas. putrinya adalah seorang Inspektur polisi sama seperti ayahnya " balas Minna, lalu
Kemudia ia menceritakan banyak hal tentang temannya itu.
Selasai dengan cerita itu, Minna mengganti topik pembicaraan.
" oh iya sayang, apa Serin sudah menghubingimu?" celetuk Minna yang tiba tiba teringat Serin.
" Belum, bahkan ia tidak membalas pesanku sejak tadi pagi. apa mungkin dia sibuk ? " balas Songjun.
Setelah beberapa saat, terdengar suara bel pintu yang berbunyi.
Lantas Minna segera beranjak dan membuka pintu.
" Taraaaa... !"celetuk tamu itu yang tangah berdiri di depan pintu.
" Seriiiiin...!" pekik Minna terkejut.
" ibu aku sudah kembali...." ucap Serin seraya menghamburkan dirinya memeluk Minna.
"Kenapa tidak memberitahu kami sebelumnya jika kau akan kembali hari ini? apa kau tau, ayahmu sangat khawatir karena dari semalam kau tidak bisa dihubungi !" ucap Minna yang merasa bahagia dan terharu bercampur jadi satu.
" maaf ibu, aku sengaja melakukannya untuk memberi kejutan pada kalian" balas Serin menyeringai.
" Dasar gadis nakal,!" ucap Minna sambil mencubit pipi Serin.
penasaran tentang siapa tamu yang datang itu, lantas Jongsun menghampiri mereka.
" Sayang... siapa yang datang?" tanyanya. hingga ia tak kalah terkejut melihat gadis yang sudah berdiri di pintu rumahnya itu.
" Suamiku, lihat siapa ini yang datang ...!" Sahut Minna.
" Serin...!" Celetuk Jongsun.
" Ayah.... " balas Serin diikuti dengan langkahnya menghampiri sang ayah dan kemudian memeluknya erat.
" akhirnya kau kembali, putriku!" Ucap Jongsung dengan mata yang berkaca kaca.
" Tentu saja aku harus kembali untuk berkumpul bersama kalian. aku akan menepati janjiku untuk membantu ayah diperusahaan, dan aku juga akan mengalahkan ayah dengan menjadi seorang pengusaha wanita yang sukses" balas Serin dengan nada percaya dirinya untuk menghibur sang ayah.
" Baiklah... dengan senang hati ayah menerima tekatmu !" sahut Songjun dengan memegang kedua pipi putrinya itu.
Setelah lima tahun tidak berada disisinya, membuat kerinduan Jongsun sangat mendalam.
meski mereka setiap hari bisa mengobrol via telephone dan video call, namun rasanya tetap berbeda dengan berada di dekatnya dan memeluk langsung sosok putrinya yang tak terasa kini sudah bukan gadis remaja lagi.
__ADS_1