
Pagi ini, Serin yang tengah kembali melanjutkan pekerjaannya, juga tengah menyalin semua file yang telah ia perbaiki dan merubah strategi pemasaran itu dalam folder lain. setelah sebelumnya ia mendapati Nana mencuri dan mengkopi file tersebut.
Ia tau jika Nana akan mengklaim strategi itu untuk mendahului dan mempermalukannya di depan Yihan juga para staf , serta didepan Direktur utama yang adalah ayah Serin sendiri.
Saat ini Serin masih tetap terlihat tenang seakan tak tau apa apa didepan Nana tentang perbuatanya semalam. proposal yang baru akan dibahas minggu depan itu sudah ia siapkan secara matang.
" Selamat siang ibu Manager personalia Jang Nana." ucap Serin saat tengah masuk ke ruangan Nana dengan membawa sebuah laporan catatan pemasaran minggu lalu yang ia pagi ini.
Mendengar nada bicara Serin yang membuat telinga Nana tergelitik itu, ia lantas menatapnya dengan tatapan angkuh.
" mana laporan yang aku minta ? apa kau sudah menyiapkannya nona muda Serin ? "
"tentu saja Bu manager, semuanya telah siap dengan sangat rapi" balasnya tersenyum seraya menyerahkan laporan tersebut.
melihat Senyum dari gadis yang tak ia sukai itu membuat Nana semakin muak. lalu kemudian ia melihat laporan itu dan memeriksanya.
dan kembali lagi hal itu membuatnya bertambah kesal, bukan karena laporannya yang kacau, tapi justru karna laporan yang memang benar benar rapi dan jelas.
Namun ia tak kehabisan akal untuk beralasan dan mencari cari kesalahan Serin .
"siapa yang membantumu ? aku ingin kau bekerja atas kemampuanmu sendiri, bukan karena bantuan orang lain"
Serin pun tertawa kecil.
" Apa maksudmu Nona Jang.?
jika kau iri dengan kinerjaku maka bersainglah secara sehat denganku.
buat dirimu lebih unggul dariku dengan kemampuanmu, bukan malah mengutarakan alasan alasan konyol dan mencari cari kesalahanku" balas Serin santai namun menusuk tepat sasaran.
" kau....! jangan karena kau anak dari Dirut Lee kau jadi sombong dan angkuh. "
Nana mulai terpancing .
" Aku bahkan melupakan statusku sebagai putri direktur utama di perusahaan ini saat aku tengah bekerja. saat di meja kerjaku, aku hanya ingat aku ini hanyalah seorang staf di perusahaan ini. itulah sebabnya aku hanya duduk di kursi manager pemasaran, bukan kursi presdir ."
ucapannya itu membuat Nana meradang.
" Apa masih ada lagi yang kau perlukan Nona Jang Nana? jika tidak ada aku permisi dulu"
Serin membungkukkan badannya lalu keluar dari ruangan itu.
dan … " Brakk !" Nana menggebrak meja dengan kepalan tangannya.
"gadis licik… menyebalkan !"
gumamnya.
Serin terus melangkahkan kakinya sambil tersenyum hambar. Sejak hari ini, ia mulai waspada pada siapapun, namun tetap menunjukkan sikapnya yang biasa biasa saja serta selalu ramah dalam bergaul dengan para staf kantor.
**
Beberapa hari kemudian, di lain tempat terdengar sebuah nada dering ponsel dari dalam saku jas seorang pria yang tengah mengemudi,
yaitu Jihyun.
tertera nomor ponsel milik sekretaris sekaligus asisten pribadi ibunya.
",hallo... ada apa menelfone?"
[Tuan Kim, ibu anda sedang dirawat dirumah sakit]
" ciiiit..." Jihyun tiba tiba menginjak rem mobilnya.
"apa..?"
tak menunggu lama, ia memutar arah tujuannya untuk menuju rumah sakit.
Ibu Jihyun, yaitu Nyonya Yoon Sihe, yang adalah seorang pengusaha wanita sukses berusia 60 tahun itu kini telah jatuh sakit.
Sesampainya dirumah sakit, Jihyun menghampiri ibunya di dalam sebuah kamar rawat VIP yang ditemani sang asisten.
" Tuan muda kim,..!" sapa sang asisten itu sambil membungkukkan badannya.
__ADS_1
" bagaimana keadaannya? " tanya Jihyun berbisik.
" Nyonya, tidak mau makan ataupun minum obat "
Jihyun menghela nafasnya kasar.
" ibu... kau sakit lagi?" tanya Jihyun pada ibunya yang tengah berbaring miring tersebut.
" untuk apa kau kemari?" balas Ny.Sihe
" Tentu saja aku khawatir, kenapa pertanyaan ibu aneh sekali…?"
Ny.Sihe lantas bangun dari tidurnya dengan gesit.
" kalau kau khawatir pada ibumu seharusnya kau tinggal dirumah dan merawatku!
aku ini sudah tua Jihyun, aku ingin putra semata wayangku ada disisi ibu.
bukankah ibu sudah tidak keberatan kau menjadi seorang polisi, tapi kenapa kau masih tidak mau tinggal bersama ibu , hahhh? bagaimana kalau ibumu ini tiba tiba saja mati tanpa melihat putranya disaat saat terakhir "
"ibu... aku tau, jangan bicara seperti itu. aku minta maaf ya?"
" Aku bosan mendengarmu meminta maaf, pergilah! tidak ada gunanya kau kemari."
" Ibu... jangan marah !"
Ny.Sihe diam dan acuh.
"baiklah, kalau begitu aku harus bagaimana agar ibu tidak marah lagi?"
Mendengar pertanyaan putranya, Ny.Sihe menyunggingkan senyum.
" Apa kau bersedia menuruti permintaan ibu?" sahutnya sambil melirik tajam pada Jihyun.
" Ya,.. aku akan melakukan apapun yang ibu minta! " Jihyun sambil memutar bola matanya.
"Benarkaaah....?"
Jihyun membalasnya kembali dengan anggukan.
" kalau begitu, ibu ingin.... kau menikah!"
" lihat ini... lihat....! ekspresimu menunjukkan bahwa kau ini tidak sungguh sungguh bersedia melakukan apa yang ibumu inginkan untuk yang terakhir kalinya."
Ny. Sihe kesal.
" tapi bu... kenapa harus yang ini?
aku akan tinggal bersama ibu, tapi jangan minta aku menikah ya...!"
bujuknya pada sang ibu.
" tiiiiidak!
pokoknya aku ingin kau menikah, titik !! kalau kau menolaknya tidak apa apa, bersiap siaplah untuk mengantarkan ibu ke rumah duka "
"houh, ya Tuhan ibu.....!"
" pilih saja...!
asisten, panggil dokter sekarang juga.! aku ingin dia memberikan suntik mati untukku sekarang. cepaaat!
atau aku akan terjun dari atap rumah sakit ini agar putraku puasss" teriak Ny. Sihe sambil turun dari ranjangnya dan bersiap keluar dari ruangan rawat tersebut.
asistennya pun kebingungan.
lantas Jihyun meraih tangan ibunya,
" baiklah... baiklah... !
aku akan turuti, okay...
sekarang ibu kembali istirahat dan makan lalu minum obat ya.…!
__ADS_1
dengan ekspresi kemenangan ,Ny.Sihe mengedipkan matanya pada sang asisten tanpa diketahui Jihyun.
ia lantas kembali ke ranjangnya dan menikmati makanan yang telah disiapkan oleh pihak rumah sakit dengan lahapnya.
Melihat tingkah ibunya itu membuat Jihyun serta asisten geleng kepala.
" makanan kapan itu...?" tanya Jihyun pada asisten.
" pagi tadi tuan, itu menu sarapan!"
lalu Jihyun melihat waktu pada arloji yang melingkar ditangannya itu.
" ommoo... ini sudah jam satu siang!
kau lihat itu,..? dia bahkan memakan makanan dingin sejak pagi tadi dengan lahapnya. bagian mana yang menunjukkan jika dia sedang sakit? huffft...!"
gumam Jihyun.
Namun Ny Sihe tetap menyantapnya tanpa memikirkan bagaimana rasa makanan tersebut.
" yes..! Aku berhasil...!" celetuknya dalam hati dengan senyum kemenangan.
" Kalau begitu aku pergi dulu bu, aku masih ada urusan . setelah ini ibu harus minum obat ya,…
nanti malam aku akan datang lagi kemari!"
" Baiklah sayangku ! jika kau tidak keberatan, nanti malam bisa tolong belikan makanan yang enak untuk ibu ?"
" siap ibuuuuu! aku pergi dulu hm...!"
" bye bye..." Ny Sihe melambaikan tangannya.
Jihyun kembali dibuat bosan dengan tingkah konyol ibunya, lantas ia pergi meninggalkan rumah sakit itu.
Nada dering ponselnya pun kembali terus berdering, sebuah panggilan masuk dari rekannya. yaitu inspektur Ahn Sojay , rekan satu Timnya dulu yang kebetulan masih berada ditempat yang sama setelah beberapa diantara rekan mereka telah dipindah tugaskan ke tempat yang berbeda.
" Hallo...!"
[kemana saja...? kau sudah ditunggu.
apa kau lupa ini upacara kenaikan pangkat kita?]
" aku tidak lupa, tadi tiba tiba aku mendapat kabar jika ibuku jatuh sakit. jadi aku berbalik arah"
[ ooh, jadi begitu ? baiklah, kalau begitu segera kemari. para petinggi sudah menunggu]
" Aku segera sampai".
balasan Jihyun yang terlihat santai .
Entah mengapa kenaikan pangkat yang selalu di impi impikan oleh setiap anggota polisi termasuk dirinya, kini tak membuatnya bahagia.
Ada suatu beban yang membuat Jihyun merasa demikian, padahal reputasinya selama ini terbilang sangat baik. namun dilain sisi, ada sesuatu yang membuatnya harus menduduki posisi yang kini akan di sematkan pada pangkatnya. Yaitu Komisaris besar polisi atau Superintendent yang adalah pangkat tertinggi pada jajaran perwira menengah ,menggantikan posisis Oh Namgil yang saat ini telah menjabat sebagai Inspektur Jenderal polisi, pangkat ke tiga dari jajaran perwira tinggi.
Sejak lima tahun terakhir ini, secara diam diam dan tanpa diketahui rekan serta atasannya yaitu Oh Namgil sendiri, Jihyun mencari dan mengumpulkan berbagai informasi tentangnya.
misteri kasus pembunuhan Yunna serta transaksi narkoba dan penjualan organ manusia yang belum terpecahkan karena Oh Namgil tiba tiba memerintahkannya untuk menghentikan penyidikan tersebut membuat Jihyun tak merasakan ketenangan dalam hidupnya kini.
Maka dari itu, posisi Komisaris besar mungkin akan lebih mempermudah penyidikannya. mengingat Oh Namgil sendiri kini juga semakin melebarkan sayapnya dan lebih berkuasa lagi karena jabatannya yang semakin tinggi.
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai hai...teman teman ! Terima kasih yang sudah mau baca karyaku ... mohon kritik dan sarannya ya...!
👇
\*Jihyun\*
Kalau Seandainya Letnan Kim Jihyun begini pasti uwuuw ya...? sumpah deh, saya halu sendiri 😁🥰
__ADS_1