
Sudah Satu bulan sejak kecelakaan itu terjadi, keadaan Serin yang masih tetap sama.
Kali ini tak ada siapa siapa dikamar rawatnya yang berkelas VIP tersebut.
hanya seorang perawat yang memantau kondisinya secara berkala.
Lee Jongsun yang harus berkerja pun kini tak bisa setiap saat menemani putrinya, namun ia selalu menyempatkan diri setiap pagi dan malam hari untuk menjenguknya.
Hari ini saat seorang perawat masuk untuk memeriksa kondisi Serin, tiba tiba saja ia melihat Jemari Serin yang bergerak. perawat itu lantas segera beranjak keluar untuk memanggil dokter.
saat itu, sebuah mimpi pun kembali muncul dalam tidur Serin. "Yunnaaaaa....!"
suara seorang pria yang memanggil nama itu pun terdengar menggema di mana mana dan berkali kali.
Suara tembakan, wanita bersimbah darah, ungkapan cinta seseorang, serta sosok wanita paruh baya yang terlihat menangis terisak isak.
Dan secara perlahan lahan Serin pun mulai membuka matanya.
hingga seorang dokter pun memeriksanya. mulai dari penglihatan, paru paru, tekanan darah serta detak jantung yang semuanya normal.
Namun ada sedikit hal yang dikhawatirkan dokter menjadi kenyataan, yaitu ingatan.
" Kau sudah bangun Serin?" tanya dokter tersebut. seorang dokter spesialis neurologi atau spesialis bedah saraf yang akan melakukan wawancara secara mendalam , pemeriksaaan fisik menilai kesadaran
dan lainnya.
" Siapa namaku tadi? Seeerin?" tanyanya pada dokter itu.
" benar, namamu Serin, Lee... Serin!
Apa kau tidak mengingatnya?" balas dokter itu.
" Jadi namaku Serin, bukan Yunna?
lalu kenapa di mimpiku aku mendengar panggilanbYunna?, bahkan bukan hanya sekali, tapi berkali kali "
batinnya dalam hati.
Serin pun terlihat bingung sambil memegang kepalanya yang masih terasa berat dan sedikit sakit
" dimana aku....?" tanya Serin sambil melihat ke segala arah dalam kamar rawat itu.
"saat ini kau sedang berada di rumah sakit karena kecelakaan yang terjadi satu bulan lalu" balas sang dokter.
" Kecelakaan?" celetuknya sambil mengingat ingat lagi beberapa saat.
__ADS_1
" houh... aku tidak apapun...!" gumam Serin panik.
" tenanglah Serin, jangan memaksakan ingatanmu. saat ini kau masih dalam masa pemulihan karena cidera pada otakmu. kau harus menenangkan fikiranmu, rileks saja, jangan terburu buru dan panik "
ucap dokter itu menenangkannya.
Disisi lain, Lee Jongsun yang tengah disibukkan dengan pekerjaan kantornya itu pun tiba tiba mendapat sebuah kabar gembira dari rumah sakit.
" Apa...? dia sudah sadar? " ucap Jongsung yang terlihat sangat bahagia mendengar putrinya telah kembali sadar. ia pun meninggalkan semua pekerjaannya dan bergegas menuju Rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, sebelum menemui Serin, dokter lebih dulu memberikan penjelasan tentang kondisi terkini putrinya itu.
" secara fisik ,keadaannya sangat baik sekarang, namun seperti yang pernah kami katakan sebelumnya pada anda, bahwa kemungkinan ia akan kehilangan ingatannya itu benar terjadi.
Dan juga cidera dikakinya yang mungkin akan butuh sedikit waktu untuk pulih, namun anda tidak perlu terlalu khawatis akan kakinya. dengan terapi dan latihan rutin akan mempercepat kesembuhannya." tutur sang dokter menjelaskan.
mendengar hal itu, sempat membuat Jongsung bersedih. namun itu lebih baik dari pada putrinya tidak sadar sama sekali.
"kira kira, apa ingatannya akan pulih seperti sedia kala dokter ?" tanya Jongsun.
"Kami tidak bisa memastikan, tapi dari beberapa kasus yang sama , lambat laun ingatan mereka akan kembali. namun butuh waktu yang tidak sebentar, bisa saja bertahum tahun atau bahkan tidak akan pernah kembali.
Tapi anda jangan berkecil hati tuan, semua itu memang diluar dugaan kami. namun jika Tuhan berkehendak, segala yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. anda harus tetap memberinya dukungan dan semangat.
mulai sekarang tugas anda adalah menceritakan satu persatu secara perlahan peristiwa yang akan membuatnya terpancing secara spontan untuk mengambalikan ingatanya.
namun perlu diperhatikan, jangan memaksanya mengingat. hal itu bisa membuatnya sakit kepala karena suatu dorongan emosional" tutur dokter itu.
Lantas Ia pun mendekati putrinya yang kini duduk bersandar setengah berbaring diatas ranjangnya.
" Akhirnya kau sadar setelah tidur panjangmu Serin. kini ayah merasa lega sangat bahagia" ucap Jongsun sambil memegang tangan Serin.
Melihat sosok pria yang menyebut dirinya Ayah itu, Serin pun masih bingung dan mencoba mengingat ingat.
" Ayah...?" ucap Serin.
" ya... benar! aku ayahmu,,apa kau ingat?" tanya Jongsun.
namun Serin pun hanya menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak mengingatnya.
" tidak apa apa, suatu saat nanti kau akan ingat. sekarang yang terpenting adalah kau harus beristirahat agar kesehatanmu cepat pulih." balas sang ayah.
Namun Serin yang masih penasaran tentang siapa dirinya itu pun masih berusaha mengingatnya. " aku tidak bisa begini, aku seperti orang tersesat .
Aku bahkan tidak tau siapa namaku , ayahku dan semuanya . kenapa aku tidak ingat...?" guman Serin sambil meremas rambutnya.
Sepekan sudah sejak ia mulai sadar dari koma. sore ini, Serin pun sudah diizinkan untuk pulang.
Ia kembali kerumah bersama sang ayah, serta Seo Minna yang selalu berada disamping ayahnya itu.
__ADS_1
saat memasuki rumahnya, Serin pun melihat berbagai sudut rumahnya yang masih terasa asing baginya. Rumah yang luas dan terlihat mewah. lantas Jongsun dan Minna pun membawa Serin yang tengah duduk diatas kursi roda itu menuju kamar miliknya.
" kita sudah dikamarmu Serin,! bagaimana, indah bukan? kemarin aku sengaja menata kamarmu untuk menyambut kedatangannmu." ucap Minna.
sebenarnya ia pun sedikit takut jikalau Serin akan marah, karena mengingat sikapnya selama ini yang tidak pernah menyukai hubungannya dengan sang Ayah.
Namun kali ini berbeda, sikap Serin seakan berubah 180 derajat. ia yang semula tak pernah tersenyum, kini pun ia justru sangat murah senyum serta terlihat ramah dan lebih dewasa.
"Terima kasih bi Minna," ucap serin seraya menyungging senyum pada Minna.
Minna dan Jongsun pun saling menatap dan terlihat lega.
" Kamar yang sangat indah" celetuk Serin.
Sebuah kamar dangan desain ruangan yang memadukan warna beige, yang akan memberikan kenyamanan serta kesejukan bagi si penghuni.
Hingga kemudian ayah serta Minna pun membantunya untuk berbaring di atas tempat tidurnya, karena cidera di kaki Serin belum sepenuhnya pulih. saat ia berjalan harus ada seseorang yang memapahnya, atau menggunakan tongkat untuk sementara waktu sampai kakinya benar benar membaik.
" Sekarang istirahatlah, aku akan menyiapkan makanan enak untukmu" tutur Minna seraya meninggalkan Serin berdua dengan ayahnya.
"bagaimana...? apa kau senang kembali kerumah? " tanya sang ayah.
"Aku senang ayah, disini terasa lebih nyaman dari pada dirumah sakit"
balas Serin.
" Ayah, boleh aku tanya sesutu,?" imbuh Serin.
" tentu saja, katakan hal apa yang ingin kau tanyakan." balas Jongsun.
" Berapa umurku, bagaimana dan seperti apa aku, hal apa yang paling aku sukai dan tidak aku sukai. dan semua yang bisa ayah ceritakan.
Maaf ayah, tapi aku benar benar sulit mengingat. setidaknya aku bisa menjalani hidupku dengan mengetahui bagaimana sebenarnya diriku, jika keburukanku lebih banyak, aku akan berusaha semampuku untuk merubahnya.
" ucap Serin yang membuat ayahnya terdiam sesaat.
Lee Jongsun yang tak menyangka bahwa putrinya akan menjadi sedewasa ini karena kehilangan ingatannya.
namun ia juga merasa bimbang, haruskah ia bahagia ataukah sedih dengan kondisinya saat ini.
Tak dipungkiri, kini bahkan Jongsun merasa seakan ini bukan diri Serin yang sebenarnya, namun ia tak terlalu memikirkannya.
Yang ada dibenaknya saat ini adalah rasa bahagia karena putrinya telah berhasil lolos dari maut. bagaimana pun keadaan Serin kini, ia akan tetap bersyukur karena masih bisa berkumpul bersama putrinya lagi.
" tentu saja, ayah akan beritahu semua padamu sampai kau benar tau siapa dirimu. tak masalah jika tidak ingat, kau tau saja itu sudah lebih dari cukup. Jadi jangan paksakan dirimu untuk mengingatnya." balas Jongsun seraya mengelus rambut Serin.
Serin pun menganggukkan kepalanya. Lantas Lee Jongsun pun mulai menceritakan tentang diri Serin sedikit demi sedikit.
...----------------...
__ADS_1
...****************...