
Pagi ini, tepat pukul 10 pagi, dan hari ini juga dalah hari libur.
sejak semalam Serin memikirkan cara untuk mencari tahu tentang semua hal yang selalu mengganggu fikirannya selama ini. maka dari itu, hari ini ia memutuskan untuk menemui seorang psikiater untuk berkonsultasi. namun tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya.
Mengenakan dress seatas lutut berwarna coklat muda dengan serut dada, serta rambutnya yang hitam panjang ia ikat tinggi. membuat penampilannya sungguh sangat cantik serta tampak imut.
Saat tepat ia tengah keluar dari pintu rumahnya, sudah tampak pula sosok seorang pria yang melempar senyum manisnya pada Serin.
" Hai Serin.... kau sudah sangat rapi dan cantik. apa kau mau pergi?"
tanya Yihan yang baru saja turun dari mobilnya .
" oh oppa...! iya, aku ada sedikit urusan "
" Apa perlu aku antar?" imbuh Yihan.
" tidak perlu oppa, sebenarnya aku ada janji dengan temanku" balas Serin beralasan.
"oooh, baiklah"
"apa kau ingin bertemu dengan ayah? dia ada didalam !"
"em... iya !" sahut kembali Yihan yang sedikit kecewa itu. karena sebenarnya ia sengaja datang kemari hanya untuk menemui Serin.
" Aku pergi dulu oppa, bye!" ucap Serin beranjak pergi.
" apa mungkin dia punya pacar?"
tanya Yihan dalam hati. lalu ia memutuskan untuk masuk karena sudah terlanjur datang kemari.
Dengan mengendarai mobilnya, Serin menuju salah satu rumah sakit besar dikota ini.
Lalu sampailah ia di tempat tujuan, yaitu Rumah sakit Yesang.
sebelumnya ia sudah membuat temu janji dengan dokter tersebut, yaitu Dr.Han Jieun, wanita berusia 45 tahun.
" Selamat datang Nona, apa anda sudah membuat janji dengan dokter?" tanya Asisten dokter Han.
" Ya Suster, namaku Lee Serin " balasnya.
Setelah menunggu beberapa saat,kemudian Serin dipersilahkan masuk. ia mulai menceritakan banyak hal yang ia alami satu persatu pada dokter Han. setelah memahami keluhan yang dialami Serin, lantas dokter itu melakukan sebuah tes.
Dengan cara menghipnotis Serin hingga tertidur, kemudian mulai membiarkan Serin berada dialam bawah sadarnya.
Dalam kondisi Serin yang tengah terpejam, dokter itu memberikan sebuah sugesti terkait keluhan Serin.
" Nama siapa yang paling mendominasi fikiranmu ?" tanya Dr.Han
" Yunna" jawab Serin dalam ketidaksadaran dirinya.
" kalau begitu jadilah Yunna, untuk mengetahui siapa itu Yunna.
Dengar,! saat ini , dirimu adalah Yunna " ucap kembali Dr.Han memberikan sugestinya.
Hingga sebuah peristiwa peristiwa itu satu persatu mulai muncul, bahkan kali ini bukan lagi seperti mimpi. ia seperti melihat dan merasakannya nyata, termasuk nama yang selalu ia dengar, yaitu Yunna.
__ADS_1
ia pun merasa bahwa dirinya adalah Yunna. wajah lain juga bisa ia lihat dengan jelas, Choi Yejin ( teman ibunya), serta Jihyun.
namun ada satu sosok wajah lagi yang membuatnya perasaannya berkecamuk, yaitu wanita yang menembakkan sebuah peluru tepat kedadanya.
" Duarrrr…!" suara tembakan itu sontak membuatnya terbangun dan tersadar.
Dengan nafas memburu ,serta keringat yang bercucuran membasahi wajahnya.
" apa kau melihat sesuatu?" tanya Dr.Han.
" aku melihatnya, sangat jelas.
tembakan itu, aku juga merasakan sakit sekali di dadaku " sahut Serin dengan suara yang terengah engah sambil meraba dadanya.
" bagus...! apa ada yang mulai kau mengerti dari semua peristiwa itu?"
" tidak dokter, aku masih belum mengerti . aku harus bagaiman?"
" tidak apa apa, tidak perlu terburu buru. segala sesuatu butuh waktu dan proses, maka kau harus sedikit bersabar" tutur sang dokter.
Setelah mendengar kembali cerita Serin, dan sebelum menyimpulkan sesuatu , Dr.Han bertanya satu hal padanya.
" bagaimana wajah Yunna?
atau mungkin penampilannya "
" apa...? wajahnya?" Serin berfikir sesaat.
" aku tidak melihatnya, tapi di awal peristiwa itu aku justru melihat diriku mengulurkan sebuah benda. kain berwarna putih, seperti sebuah kain mantilia.
apa ini dokter?. apa aku ini mengalami gangguan jiwa setelah kecelakaan itu" tanya Serin yang terlihat sangat bingung itu.
Dr.Han diam sesaat dan menatap Serin. " Sebenarnya , beberapa orang yang mengalami amnesia sepertimu ada juga yang selalu mengalami mimpi mimpi masa lalunya. dan lambat laun seiring berjalannya waktu mereka akan ingat kembali meski tak semuanya.
akan tetapi ada juga yang ingatannya tak kembali untuk selamanya. setiap orang berbeda beda termasuk yang terjadi pada dirimu.
jika memang begitu, maka bisa disimpulkan sementara bahwa Yunna adalah Serin, Serin adalah Yunna. tapi ini belum bisa dipastikan, nanti pada pertemuan kita selanjutnya akan kembali kita lakukan tes, okay ?" ucap dokter Han.
Serin tertegun karena tak mengerti maksud dokter Han tersebut.
"Yunna adalah aku,? siapa sebenarnya aku dan Yunna?
jadi yang pertama harus aku cari tahu adalah, siapa Yunna" gumamnya dalam hati.
Ia terus saja memutar otaknya, disepanjang perjalanannya menuju lantai B1F. yaitu lantai bawah tanah tempat ia memarkirkan mobilnya, hingga ia tak terlalu fokus memperhatikannya jalannya. Kemudian tiba tiba saja,
"Bruukk..."
tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seorang wanita di depan pintu area parkir yang terlihat sedang terburu buru. keduanya terjatuh ke lantai.
" auw, ! maaf nona, aku tidak sengaja " ucap Serin.
" hei,! apa kau tidak punya mata? "
balas wanita itu.
mendengar suara wanita itu membuat Serin sontak mengangkat kepalanya dan menatap separuh wajah wanita itu yang tertutup oleh masker .
__ADS_1
" Suaranya ?
suaranya tidak asing ditelingaku!" gumam Serin dalam hati.
"kenapa kau menatapku seperti itu? apa kau kesal karena aku tidak minta maaf padamu?" tanya wanita itu, namun serin tetap diam terpaku sambil mengingat ingat suara itu.
" Dasar gadis aneh!" imbuh wanita itu, seraya beranjak dan masuk kedalam lift.
Serin yang masih dengan konsentrasinya mengingat itu, tak kunjung berdiri dan hanya tetap dalam posisi terduduk dilantai.
Setelah beberapa saat, ia berdiri dan segera masuk kedalam mobilnya.
masih didalam mobilnya yang tak kunjung ia nyalakan , sambil memikirkan wanita barusan. ia kembali beralih dengan tujuan semula. harus mulai dari mana ia mencari tahu siapa Yunna.
" Aku mendengar panggilan Inspektur Park Yunna , kalau begitu, kemungkinan berarti dia adalah seorang anggota polisi." gumamnya menebak .
lantas ia membuka laptopnya dan mencari tahu tentang Inspektur Yunna pada beberapa website kantor polisi di kota ini.
Serin melihat beberapa kantor polisi yang terdapat pada masing masing distrik diSeoul. setelah melihat beberapa diantaranya, akhirnya ia menemukan daftar nama inspektur Park Yunna disebuah markas polisi di daerah Distrik Gangnam.
" Ini dia ! Inspektur Park Yunna," celetuknya saat melihat foto setengah badan mengenakan seragam kepolisian.
" meninggal lima tahun lalu dalam sebuah tugas . jadi dia sudah meninggal ? sayang sekali, dia terlihat masih sangat muda " ucapnya membaca ringkasan riwayat Yunna.
Namun kembali ia ingat sesuatu,
" Yunna tertembak, ! bukan, tapi itu aku yang tertembak. " gumamnya terus menerus.
"Aku harus kesana dan mencari informasi lebih detail lagi"
kemudian ia menyalakan mobilnya dan pergi dari rumah sakit itu, untuk menuju markas polisi tersebut.
menurut keterangan melalui google map, tempatnya pun tak terlalu jauh dari rumah sakit ini, hanya sekitar 20 menit jika di tempuh dengan kendaraan roda empat.
Namun ditengah perjalan yang belum sampai 10 menit ia lalui, kepalanya tiba tiba terasa sakit saat teringat suara wanita yang barusaja bertabrakan dengannya itu. suara yang sama sesaat sebelum suara tembakan terdengar dan sebuah peluru menembus dadanya.
Serin mencoba menahan dan tetap menstabilkan laju mobilnya. akan tetapi, rasa sakit dikepalanya itu semakin lama semakin bertambah sakit, hingga suara dengingan panjang ditelinganya membuat Serin semakin kehilangan konsentrasi.
Laju mobilnya menjadi tak beraturan dan tak stabil, yang mengganggu pengendara lain di belakangnya. kakinya serasa kaku, ia bahkan menjadi bingung mana rem dan mana gas, fikirannya seketika buyar begitu saja.
" Ngiiiiiiiing....!" telinga yang Serin rasakan berdenging kencang dan sangat ngilu , bercampur aduk suara klakson mobil dari luar.
saat ia berhasil menginjak rem mobilnya itu, tiba tiba " Duarrrr....! Brakkk" suara tembakan yang berganti menjadi suara sebuah tabrakan pada badan mobilnya dari berlakang.
Seketika Ia menunduk dan menyandarkan keningnya pada tangkai setir, lalu memejamkan mata tanpa bergerak sedikitpun. hanya suara deru nafasnya, serta kedua tangan yang mencengkram erat setir mobil tersebut.
...----------------...
...****************...
__ADS_1