
Aku kira setelah makan Agarish akan langsung pulang, ternyata dia memilih menunggu hingga aku selesai kerja.
Aku sekarang bingung sama dia, kalau dia masih cinta sama Bram mengapa harus memberikan perhatian padaku?.
Sudah kubilang bukan kalau aku ini wanita normal?. Bagaimana kalau aku benar-benar termakan pesonanya?, ini saja aku udah ketar-ketir gimana kalau nanti.
Poor you Tania.
Akhirnya aku pamit pulang duluan, kasian juga liat dia nunggu lama.
"Gue duluan yah All, kasian laki gue lama nunggunya"
"Santai aja Tan. Urusin aja tuh laki lo yang ganteng nan seksi tapi gak normal hahahaha"
Aku menimpuk kepala Allen dengan tas sandang milikku. Dia makin tergelak melihat wajah masamku.
"Udah-udah pulang lo sana. Kasian noh dia duduk sendirian"
Aku melirik pada Agarish. Benar saja, sejak tadi dia duduk sendirian di kursi bagian luar.
"Yaudah bubye Allen ku sayang"
"Bye juga. Baek-baek loh ama suami"
Aku tidak menanggapi lagi candaan Allen lalu memilih mendekati Agarish.
"Ayok pulang"
"Loh tapi cafe nya belum tutup Yas" dia melirik sekitar cafe yang masih ada pengunjung walau sudah sepi.
"Gapapa biar Allen aja yang urus. Kita pulang aja. Kasian kamu nunggunya kelamaan"
"Gapapa Yas, kamu tungguin aja si Allen"
Aku berdecak lalu menatap sangar Agarish.
"Banyak bacot kau yah. Udalah ayok pulang!" aku menarik tangannya agar bangkit dari kursi.
"Kita pulang bareng aja" pintanya ketika aku hendak menuju parkiran mobil.
"Loh? terus mobil yang biasa aku pakai siapa yang bawa pulang?" Pasalnya si Agarish kan tadi datangnya naik mobil.
"Biar sopir aja yang bawa. Siniin kuncinya" tanpa banyak tanya aku memberikan kunci mobilku padanya. Lalu dia berjalan kearah mobilnya memberikan kunci pada sopir.
"Ayo naik" aku membeku.
Beneran nih dia bukain pintu padaku?.
"Kenapa bengong?"
"Eh?, enggak, enggak papa kok" aku buru-buru naik kesamping kemudi.
Setelah mobil melaju kami hanya saling diam. Canggung aja sih mau mulai obrolan.
"Emmm Yas...?"
Aku menoleh ke arah Agarish. Aku mengerutkan kening melihat dia sedikit... salah tingkah kah?. Pasalnya dia ngomongnya gak berani natap aku dan malah garuk tengkuk.
"Mau ngomong apa sih?, gak jelas deh kamu" aku masih menatap dia.
"Gak jadi deh.." jawabnya sambil nyengir.
Apa-apaan manusia ini. Bukan cuman nafsunya aja yang mereng ternyata, otaknya juga ikutan.
Melihat dia yang tak ada niatan melanjutkan bicara, aku memutuskan memejamkan mata. Lumayan capek hari ini.
Rupanya aku keterusan tidur, sampai Agarish harus mengangkat badanku hingga ke kamar.
__ADS_1
🐣🐣
"Selamat pagi..." sapaku seperi pagi biasanya. Semua orang yang berada di ruang makan menoleh, termasuk Agarish.
"Ukhuk ukhuk"
Tiba-tiba Agarish terbatuk setelah melihatku.
"Astaga! kamu kalau minum pelan-pelan dong" aku menepuk-nepuk pundangnya.
"Habisnya pakaian kamu seperti itu" tunjuknya kebadanku dengan dagu.
"Emang kenapa?" Aku menatap penampilanku pagi ini.
Perasaan ootd ku hari ini biasa aja deh. Aku menatap Agarish meminta jawaban.
"Ganti, itu terlalu terbuka" ucapnya lalu menyesap kembali kopinya.
"Gak mau ah" aku menarik kursi tepat di depan Agarish. "Masa udah cantik begini disuruh ganti lagi" rengutku.
"Tapi itu terlalu terbuka Yasmin"
Nih anak ngapa yah, masa dia ngomong samaku tapi matanya menatap cangkir yang ia pegang. Gak sopan banget.
Ah iya aku lupa, dia mah mau aku telanjang pun gak bakalan tertarik. Buktinya waktu aku berendam didalam bathub malam itu, dia kan gak merasa apa-apa waktu mengangkat badanku yang tidak memakai apapun. Catat yah, tidak memakai apapun.
"Gak terlalu terbuka kok. Malahan aku nyaman pake yang kaya beginian" aku tetap kekeh sama pendirianku.
"Mau ganti sendiri atau aku yang ganti?" Tanya dia menaik turunkan alis.
Aha!, lu mau goda gue Aga?, oke kita lihat seberapa jauh lo bakalan tahan.
"Mau dong digantiin sama kamu" aku bangkit dari duduk ku lalu memutar meja. "Ayo" ucapku sedikit manja lalu duduk dipangkuannya.
Para pelayan yabg tadinya berdiri diruang makan memutuskan untuk keluar.
Aku makin nekat. Kukalungkan tanganku ke leher Agarish lalu memusungkan dada agar lebih gimana gitu.
Agarish tidak merespon apa-apa, dia hanya memandangku tanpa kedip.
Kesal akan kediamannya, aku buru-buruk bangkit dan
Plakk
Aku menampar tepat di alat kelamin Agarish.
"Emmmm" Agarish mengerang tertahan.
"Nyebelin!" Aku menghentakkan kaki lalu mengambil tas dikursiku sebelumnya.
"Dasar suami gak peka!" Aku keluar dari ruang makan dengan bersungut-sungut.
Agarish?, dia masih bengong dikursinya. Mungkin kaget akan kelancangan tanganku.
Mampus aja situ, kalau perlu aku potong itu burung biar tau rasa.
Eh btw kalau dipotong nanti aku malah gak sempat nyoba dong?. Ah anjir lah ngapa jadi mesum begini.
🐣🐣
"Ahhh"
Aku membuang napas kasar begitu mendudukkan pantat di ruangan kerjaku sama Allen.
"Ngapa lu?, datang-datang muka udah kusut begitu" Allen menyodorkan sebotol air dingin padaku.
"Biasa, kesel sama suami" aku menegak minuman itu hingga tinggal separo.
__ADS_1
"Lu mah tinggal cere aja ama ntu laki ko susah amat?"
"Cera cere kepala kau!" Aku menoyor kepala Allen.
"Yah ngapain coba lu pertahanin kalau dianya aja kagak tertarik ama lu?. Mending cari yang lain aja udah"
"Iya sih. Cuman kan kalau cere sekarang gua dong yang rugi"
"Rugi gimana maksud lu?. Lu aja masih ting-ting nyet, ruginya dimana?" Allen menyentil jidatku yang mulus tanpa jerawat ini.
"Yah rugilah. Kalau gue cere sekarang yang ada duit gue menipis coy. Lo tau kan duit gue yang banyak itu datangya dari dia"
"Iya juga sih yah" kami berdua terdiam sebentar.
"Ah gimana kalau lu cari cowok lain aja Tan, siapa tau kan ada yang mau sama lu" aku berdecak mendengar usulan Allen.
"Dia aja kagak tertarik ama gue apalagi orang lain All" aku menyandarkan badan disandaran sopa.
"Itu mah karena laki lu aja yang kagak normal bego"
Iya juga sih yah, pan dia yang gak normal. Nah kayaknya rencana Allen ada betulnya juga.
"Dicoba aja kali yah All"
"Emmm mana tau nanti dapat berondong yang lebih sexi dan lebih mapan daripada si homo"
"Homa homo..., gimana pun laki gue tuh" aku kembali menoyor kepala Allen.
"Cieee elah, roman-romannya ada yang lagi jatuh cinta nih" Allen menaik turun kan alisnya. Dan pipi sialan ini juga malah nge blush.
"Anjiirr lu benaran ada rasa sama laki lu Tan?"
"Kayaknya All. Gimana dong ini, masa cinta gue terhalang nafsu kelainan sih" ucapku dramatis.
"Hahahaha udah kaya sinetron ku menangis aja hidup lu Tan" Allen tergelak memikirkan kisah hidupku yang sekarang.
"Mau bagaimana lagi coba. Tadi pagi aja aku udah sengaja ngegoda dia, eh dianya malah gak berkutik sama sekali" ucapku lemas.
"Masa Tan?"
"Ih serius gue. Malah saking kesalnya gue sempetin tuh nimpuk burungnya. Kali aja yakan habis ditimpuk dia bisa langsung bangun"
Allen kini tiduran dilantai sambil ketawa. Teman laknat emang.
Aku memilih meninggalkan Allen yang masih ketawa didalam ruangan. Tujuanku sekarang adalah dapur.
"Gimana hari ini Arthur?" Tanyaku pada salah satu koki.
"Seperti kemaren-kemaren aja Yas. Masih tetap gak percaya kalau aku sekolah memasak namun kerjaannya malah masak makanan yang sama sekali belum pernah aku temui"
Aku terkikik geli melihat wajah lemas Arthur.
"Yah anggap aja pengalaman baru Thur"
"Iya sih"
"Sini biar aku bantuin"
Arthur hanya menganggukkan kepala, lalu memberiku ruang untuk ikut membantu pekerjaannya.
Terima kasih udah baca hingga akhir.
Jangan lupa tinggalin jejak berupa vote atau komen yah
Doain yah, moga pembaca cerita ini lebih banyak lagi 🙏
Salam
__ADS_1