
"Tapi gapapa. Aku pengen dengar apa yang akan keluar dari mulut sampah milikmu itu"
"Jaga mulutmu kalau bicara!"
"Heyyy ....kau gak lihat apa sedari tadi mulutku ini diam saja gak jalan kemana-mana?" Aku menaik turunkan alis.
"Aku kesini mau bicara serius bukan bercanda Yasmin" dia menggebrak meja.
"Bah... siapa pulak yang mau bercandah heh. Kau yang sedari tadi mau bicara tapi entah apa yang mau kau bicarakan" aku menyilangkan kedua tangan didepan dada.
"Oke aku akan bicara sekarang" dia berdehem lalu memasang wajah serius. "Aku ingin kau mengembalikan Agarish padaku"
What? Mengembalikan Agarish katanya?
"Emang kau siapanya Agarish sampai-samapai mau aku kembalikan padamu? Emaknya enggak, bapaknya juga enggak. Terus kau siapa heh!" Aku tersenyum meremehkan padanya.
"Agarish itu milikku. Kalau kau tidak datang dia akan tetap bersamaku sekarang" aku makin tertawa mendengar pengakuan Bram.
"Bram... Bram. Kau itu bodoh apa idiot sih? Kau itu cuma pelampiasan. Kau itu cuma tempat pelarian sementara Agarish lelah, dan setelah lelahnya hilang dia akan meninggalkanmu. Paham?"
"Jangan sembarangan kalau bicara!" Wajah Bram makin mengeras pandangan matanya kini menajam, seakan bersiap mengoyak apa saja yang ia lihat.
"Kau itu hanya pengganggu! Kalau kau tidak menggoda Agarish dia tidak akan pernah meninggalkan aku" ucapnya kemudian.
"Lucu sekali anda. Harusnya kau sadar Bram. Berarti selama ini Agarish tidak serius denganmu bodoh! Kalau memang dia serius, dia tidak akan tergoda walau sekeras apapun aku berusaha menggodanya. Ayolah otak yang dikasih Tuhan itu dipergunakan dengan baik"
Bram yang kesal kini mencengkram daguku dengan kuat.
"Wanita jalang sepertimu tidak pantas berbicara soal Agarish padaku. Aku yang lebih tau soal dia dibanding kau"
Cih masih saja keras kepala
Aku makin mengangkat dagu, mengabaikan rasa sakit dari cengkraman tangannya. Tanganku bergerak untuk menggaruk kepala yang tiba-tiba saja gatal.
"Kalau aku kau sebut jalang, terus panggilan untuk kau itu apa? Juling, jeleng? Ahhh aku tau Jelong yang cocok" aku tersenyum puas melihat wajahnya yang semakin memerah.
Sumpah sakit bangat wajahku sekarang shh
Bram mencampakkan wajahku hingga aku terdorong kebelakang. Aku kesakitan namun mencoba tetap terlihat tenang.
Aku berdiri dari dudukku lalu bersedekap dada dihadapannya.
__ADS_1
"Sudah kubilang kan kau itu hanya pelampiasan. Kau lah dulu kutanya, sudah sejauh mana rupanya hubungan kalian?" Bram hanya diam sambil memandangku dengan tajam. "Bertahun-tahun kau berhubungan dengannya. Sudah pernah merasakan berkeringat bersama dengannya diatas ranjang? Tentu saja jawabannya tidak" aku tertawa sangat keras.
Ini serius kawan-kawan. Kalau menurut penuturan Agarish, hubungan mereka belum sejauh itu. Mereka belum pernah melakukan hubungan intim selain berciuman bibir saja.
"Sadar Bram, Agarish itu tidak tertarik dengan kau. Dia hanya bosan lalu kau datang kepadanya, menawarkan ini itu sehingga ia berbelok dari jalur yang sebenarnya. Lihat? " aku memusungkan dan mengelus perut buncit milikku padanya.
"Agarish itu sekarang suamiku dan sebentar lagi kami bakalan punya anak" mata Bram semakin melotot. "Jadi berhentilah mengejar suamiku. Kau cari saja yang lain, tapi kalau bisa kau pun carilah wanita. Jangan bermain dengan laki-laki. Aku yakin kau tidak akan puas kalau hanya lewat lobang pembuangan saja" aku terseyum meremekan.
Bram kini bangkit dari duduknya lalu
Plaakk
Aku merasakan panas sekaligus sakit menjalar di pipi kananku. Bukan hanya itu, ada rasa asin juga diujung bibirku. Aku yakin sekarang ujung bibirku sudah koyak dan berdarah pastinya.
Bukk bukk
Tiba-tiba seseorang menyerang Bram dengan tiba-tiba. Aku bisa melihat badan Bram yang terjungkal kebelakang karena belum siap menerima penyerangan barusan.
"Berani sekali kau menampar istriku. Mau kubunuh kau sekarang juga!?" tubuh Bram membeku mendengar suara datar dan juga dingin milik Agarish.
Awalnya Bram masih diam hingga akhirnya dia tertawa. Tawa yang sangat hambar ditelinga. Tawa yang tersirat kekecewaan yang mendalam. Aku saja meringis mendengar tawanya saat ini.
"Ha ha ha..., lihatlah kau lebih membela wanita sialan itu sekarang" dia menatap Agarish dengan tataoan terluka
Waahhh aku bahkan tidak percaya kalau yang bicara didepanku saat ini adalah seorang Agarish Moracco. Laki-laki yang dulunya memandang seorang Bram dengan tatapan memuja.
Tapi heyy... lihat! Saat ini yang ada hanya tatapan dingin dan juga mengintimidasi, tidak ada lagi tatapan memuja atau kasihan yang terpancar dari matanya.
"Bahkan kau sudah bisa menyebut dia sebagai istri kamu. Lucu sekali Agarish" ucapnya tertawa remeh.
Agarish makin mengeratkan cengkramannya pada kerah Bram. Dadanya naik turun menahan emosi.
"Gak usah banyak omong kosong, pergi dari rumahku sekarang!" Perintah Agarish dengan penuh penekanan.
Dia melepas kerah baju Bram lalu mendekat kearahku. "Kamu gapapa?" tanya dia khawatir. Tangannya megelus pipi bekas tamparan Bram.
"Lihatlah... kau menjadi lemah hanya karena jalang itu!" Bram menunjuk wajahku. Hal itu membuat emosi Agarish kembali naik.
Dia menyerang Bram kembali, namun kali ini Bram ikut membalas. Kekuatan keduanya seimbang, aku bingung harus apa, bahkan tidak ada para pelaya yang berani mendekat kesini.
"Heyy kalian! Cepat panggil kedua satpam sialan itu dari depan. Cepat!" Bentakku pada mereka yang hanya berani menatap dari jauh.
__ADS_1
Aku tidak tahan melihat wajah Agarish yang kini terluka. Aku mendekat dan mencoba melerai.
"Udah Ga udah !. Cukup, hentikan. Aku mohon..." ucapku lirih. Jujur aku gak sanggup melihat wajahnya yang sudah terluka.
Aku mencoba meraih tangannya. Dan berhasil. Aku menahan tangannya yang hendak memukul Bram kembali. "Udah yah..." kali ini aku memohon dengan mata berkaca-kaca.
Agarish menghentikan serangannya, namun berbeda dengan Bram yang masih diliputi emosi. Dia bersiap untuk memukul Agarish kembali.
"CUKUP BRAM HENTIKAN!" Aku berdiri ditengah-tengah keduanya.
"Sekarang pergi dari rumahku. Jangan datang lagi apalagi ada niatan untuk menghancurkan rumah tanggaku. Sadar Bram, apa yang kau lakukan saat ini salah"
Aku mencoba bernegosiasi dengan Bram. Namun diluar dugaan, dia malah berlalri lalu mendorong badanku hingga limbung kebelakang.
Tapi untunglah Agarish datang menangkap badanku. "KALAU KALIAN MASIH TETAP DIAM DISITU DAN TIDAK BERGERAK MAKA AKAN SAYA PECAT KALIAN SEKARANG JUGA! "
Kedua satpam itu langsung berlari dan menarik Bram keluar dari rumah.
"Kamu gapapa kan?" Tanya dia kembali padaku.
"Harusnya aku yang bertanya begitu bodoh!" Aku mendengus lalu menarik tangan Agarish agar duduk di sofa.
"Kepala pelayan, cepat bawakan kotak obat kesini!
Tak berapa lama kepala pelayan datang dengan kotak obat. Aku merampas kota tersebut lalu mengobati Agarish.
"Kalau tidak kuhentikan kurasa salah satu dari kalian sudah mati saat ini" omelku padanya.
"A-ahh pelan-pelan Yas sshhh" Agarish meringis kala aku membersihkan lukanya.
"Tadi aja pas berantam gak merasakan sakit, sekarang sok meringis" aku dengan telaten mengurus wajah tampannya yang sedikit mengerikan.
"Sudah hentikan" dia memegang tanganku lalu mengambil alih kapas dari tanganku. "Kau juga terluka. Sekarang biarkan aku yang mengobati mu"
Aku hanya membiarkan dia mengobati luka dibibir dan mengompres wajahku yang sudah membengkak juga merah lebam.
"Lain kali jangan nekat begini Yas. Kamu gak tau gimana khawatirnya aku pas satpam bilang kamu mempersilahkan Bram masuk kedalam rumah ini? Aku hampir saja mati dijalan gara-gara mengejar kesini"
"Maaf.." ucapku tulus.
"Sudahlah jangan dibahas. Kamu bilang maaf sekarang besoknya pasti bakalan kau ulangi lagi" aku terkekeh geli mendengar penuturan Agarish.
__ADS_1
"Setidaknya lebih berhati-hatilah demi anak kita Yas. Aku tidak mau kamu dan juga dia terluka. Jadi aku mohon sesekali menurutlah, yah?" Aku terpaku pada mata beriris kelabu yang kini menatap intens padaku.
Hatiku berdesir hangat melihat tatapan lembut dari Agarish.