SEHANGAT KOPI SUSU

SEHANGAT KOPI SUSU
Dua puluh dua


__ADS_3

"Bego!" Itu kata-kata yang pertama kali aku keluarkan setelah Agarish berhenti bercerita.


"Maksudnya?" Agarish menatapku, meminta penjelasan.


"Iya lo bego bangat anjirr! Lo termakan hasutan si Bram? Lemah bangat lo jadi cowok! Gue potong juga lu punya burung biar mampus sekalian"


Sumpah emosi bangat aku mendengar ceritanya barusan. Bisa-bisanya dia termakan omongan si Bram? Aku gak habis pikir sumpah.


"Yasmin kamu ngomong apa? Terus bego itu apa?" Hiihh pengen tak tampol kepalanya pake linggis.


"Iya kamu itu bodoh banget sumpah! Kamu berhenti menyukai perempuan karena takut bakalan mengulangi kejadian yang sama aku masih bisa memaklumi, tapi ini... kamu kemakan omongan Bram, Agarish"


Saking gemesnya aku menggigit lengannya. Harusnya sih tadi mau mukul pake linggis cuman yah kasian kan nanti dia mati aku bakalan jadi janda, mana lagi bunting lagi.


Agarish mengatupkan mulutnya agar tidak berteriak. Hmmm lumayan bisa diacungi jempol.


"Bodoh banget aku yah" ucapnya kemudian.


"Bukan bodoh lagi Ga, tapi udah termasuk ke kategori idiot" Agarish terkekeh melihat aku yang emosi.


"Kenapa kamu ketawa?"


"Aku kira kamu bakalan bersimpati sama aku kalau udah cerita masalah ini, atau setidaknya nangis mengetahui betapa tidak berdayanya Sona saat itu"


Aku mengatupkan mulut. Bukan, bukan aku tak bersimpati. Bahkan tadi ketika dia bercerita aku sempat nangis cuman dia gak lihat, dia kan cerita sambil nunduk.


"Sona wanita yang kuat. Buktinya ia bisa menahan sakitnya sendirian tanpa harus membebani kamu. Walaupun pada akhirnya ia memutuskan sesuatu yang tidak masuk akal. Tapi aku yakin dia wanita yang kuat. Hanya saja dia salah bertemu laki-laki bejat kayak kamu"


Aku geram sendiri mendengar kalau Sona dulu hamil karena Agarish mabuk dan hal itu terjadi juga denganku.


"Iya aku memang laki-laki bejat Yas. Bahkan kamu juga pernah hampir mati karena aku juga"


Agarish mengambil kedua tanganku lalu menggenggamnya erat. "Aku sepertinya memang tidak pantas untuk siapa pun wanita didunia ini" dia menangis sambil menciumi tanganku.


"Jadi maksudmu kamu lebih pantas dengan Bram iya?" Agarish dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Tidak Yas. Aku bersumpah tidak akan berhubungan lagi dengan dia. Aku janji" ucapnya sungguh-sungguh.


"Oke aku terima janjimu. Tapi kalau kamu kedapatan berhubungan kembali dengannya, maka saat itu juga aku bakalan pergi dan tidak akan kembali lagi. Bahkan anakku kelak lebih baik tidak mengenal siapa ayahnya"


Agarish menggeleng cepat. "Tidak, itu tidak akan terjadi. Sudah cukup aku kehilangan wanita dan calon anakku dahulu. Aku tidak mau kehilangan yang kedua kalinya. Aku mohon Yas jangan pergi" tangannya makin erat menggenggam tanganku.

__ADS_1


Aku tersenyum didalam hati. Lalu menganggukkan kepala. Tidak ada salahnya memberikan dia kesempatan kedua, toh waktu itu aku yang kabur tanpa mendengar penjelasannya dulu.


"Makasih Yas makasih.." dia hendak memeluk namun aku tolak.


"Jangan peluk-peluk" aku menyilangkan tangan didepan dada.


"Kenapa?" Tanya dia bingung. Aku diam saja. Aku sudah punya rencana sendiri untuk membalas kelakuan Agarish.


"Gapapa. Udah sana kamu siap-siap, gak kerja emang?" Agarish mengeleng.


"Malas kerja. Diluar lagi hujan, mending disini aja sama kamu" dia tersenyum. Aku bahkan bergidik melihat senyumnya kali ini.


"Dih gak usah mikir macam-macam kamu Aga" aku melotot garang pada Agarish.


"Macam-macam gimana maksud kamu?" Aku diam saja sambil menatap was-was padanya. "Oh atau kamu berpikiran yang iya iya barusan" Agarish menggerling nakal kali.


Dengan cepat aku memukul kepala Agarish dengan bantal, dia cuman terbahak.


"Lagian kan udah pernah Yas" godanya kembali.


"Itu bukan aku yang mau, tapi kamu yang maksa. Aku gak mau yah dibayangin seperti Bram, gak sudi aku" kali ini aku sedikit emosi, bayangan malam itu kembali diotakku.


What, apa aku gak salah dengar?


"Ini serius Yasmin. Waktu itu aku sengaja menjauh dari kamu untuk menenangkan diri. Bram selalu mengancam akan membeberkan hubungan kami ke publik karena aku lebih memilih kamu dinanding dia"


fakta apalagi ini? Aku benar-benar tidak tau cerita ini.


"Saat aku kasih tau mau mencoba menerima kamu dia ngamuk padaku. Dia tidak terima, karena selama masa keterpurukan aku dulu, dia yang selalu ada menemani aku kapan pun. Dia mengancam akan mencelakai kamu kalau aku berani menjauh darinya"


Sumpah yah pengen gue penggal tuh kepala manusia homo.


"Aku jadi lebih memilih pulang malam agar kamu tidak bisa mengobrol denganku, aku takut kalau kita makin dekat Bram malah makin nekat sama kamu. Aku memilih ke club dan mabuk agar bisa lupa sama semua masalahku. Tapi ternyata aku malah melukai kamu malam itu. Ini kedua kalinya aku melukai wanita saat mabuk"


Aku makin menggeram kesal. Lagi-lagi manusia satu ini kalah sama keadaan, dia lemah dalam membuat keputusan.


Memangya apa yang bakalan si Bram itu lakukan padaku heh? Bahkan aku yang harusnya Bram takutkan.


"Pagi itu saat aku sadar dan melihat kekacauan dikamar, aku kaget bukan main. Apalagi ketika kamu gak ada, aku makin kalut dan hampir saja membunuh diri aku sendiri karena terlalu bodoh"


Baru sadar kalau lu itu bodoh? Cihh

__ADS_1


"Terus sekarang gimana sama Bram?" Aku lebih memilih memotong ceritanya, karena aku udah tau endingnya gimana. Iya dia masuk rumah sakit karena kebodohannya sendiri.


"Aku sudah tidak peduli lagi dengan dia. Terserah dia mau kasih tau semua orang tentang hubungan kami dulu, aku udah gak peduli lagi. Yang penting sekarang kamu udah disini Yas, itu juga mengapa aku melarang kamu untuk keluar rumah. Aku takut Bram mencelakai kamu, dia itu orangnya nekat"


Gue lebih nekat anjirr


"Tenang aja, aku gak bakal kenapa-kenapa kalau ketemu sama dia" jawabku sambil tersenyum sinis.


"Tidak! Aku tidak mau mengambil resiko Yas. Bram itu gila, jadi tolong menurut saja samaku yah" pintanya dengan sedikit memohon.


"Aku bahkan lebih gila Ga, asal kamu tau" aku menyeringai kala mengingat wajah Bram.


"Jangan nekat Yasmin" ucapnya datar.


"Iya iya!. Terus sekarang dia masih kerja sama kamu?" Tanyaku penuh selidik.


"Tidak. Aku sudah memecat dia semenjak kamu menghilang" senyumku makin mengembang ketika mendengar kawaban Agarish.


Mari bermain-main sebentar. Dan tolong jangan mengulah yah baby. Aku mengelus perutku


"Terus dia terima?" Agarish menggeleng.


"Bahkan dia sudah menyebarkan rumor soal hubungan kami dikantor sebelum ia benar-benar keluar" jelas Agarish sambil mendesah kasar.


"Jangan khawatir, aku akan membantumu membersihkan nama di kantor nanti" jawabku tersenyum tulus.


"Caranya?" Aku berdecak pelan melihat kebodohan alami milik Agarish.


"Tentu saja dengan bayi milikku. Iya kan nak?" Aku bisa merasakan pergerakan diperutku. Sepertinya my baby setuju denganku.


"Aku gak mau kamu dalam bahaya Yas, biarkan saja rumor itu beredar. Toh memang benar ko"


Plakk


Aku menampar lengan Agarish dengan kuat.


"Enak saja mulutmu kalau bicara Yah? Benar-benar minta ditampar pake linggis kayaknya ntu mulut" Agarish mendesis memegangi tangannya. Aku yakin itu pasti sakit sekali. Wong aku namparnya pake tenaga dalam.


"Tapi..."


"Gak ada tapi-tapian! Pokoknya kamu nurut aja" Agarish mendesah pasrah. Siapa yang berani melawan ibu hamil heh?

__ADS_1


__ADS_2