
Astaga bagaimana ini. Aku tidak bisa memejamkan mata setelah mendapat senyum mematikan dari Agarish si pria kelainan.
Mati aja kau Tania, bisa-bisanya kau baper ketika dikasih senyum.
Murahan sekali!.
Malam semakin larut tapi mataku tetap tidak bisa diajak kompromi. Jantungku masih deg-degan.
Gila gila gila...
Aku berkali-kali memukulkan kepala pada bantal yang aku pegang.
Tidak bisa, aku harus mencari udara segar biar bisa cepat mengantuk.
Aku mengambil jaket lalu keluar dari dalam kamar. Tujuanku sekarang adalah taman belakang rumah. Sepetinya menghirup udara menjelang pagi ini lumayan juga.
Aku duduk dikursi taman sambil memejamkan mata. Menikmati hembusan angin yang menyapu wajah juga rambutku.
Ahh nikmat sekali
"Kenapa tidak tidur?" Suara berat itu membuatku membuka mata.
"Karena belum ngantuk" ucapku sekilas. Kemudian kembali memejamkan mata.
Bisa aku dengar Agarish berdecak pelan. Dia ikut duduk disampingku.
"Kembali kekamar sana!. Sebentar lagi pagi akan datang"
"Ck, mengapa kau menyebalkan sekali sih. Mau aku tidak tidur sekalipun itu juga bukan urusanmu" ketusku.
Enak sekali dia datang-datang mengusik waktu tenangku.
"Urusanku. Jangan lupakan aku ini suami kamu"
Aku menghembuskan napas kasar. Kubuka mataku lalu menatap tajam kearahnya.
"Suami hanya sebatas status saja. Nyatanya kau tidak pernah menjadi suami sungguhan bagiku"
"Apa maksudmu" ucapannya datar, sedatar wajahnya saat ini.
Menyebalkan.
"Anda pikir sendiri saja tuan" aku bangkit dari dudukku lalu menjauh dari area taman. "Ah yah, aku ingatkan sekali lagi. Aku juga bisa mencari laki-laki lain untuk memenuhi keinginan biologisku"
"Yasmin!"
Aku berbalik lalu mengacungkan jari tengah. Wajahnya menjadi merah padam.
Bodo amat. Siapa suruh dia menggatal pada sekretaris sialan itu.
Saking kesalnya aku menendang batu berukuran bola kasti dan.
"Aduhhhh"
Aku menjerit saking sakitnya.
Sialan kuku kaki aku lepas , mana darahnya langsung mengucur lagi.
Aku buru-buru masuk kedalam rumah, mencari P3K. Kaki ku benar-benar sakit saat ini.
Tak sempat lagi duduk disopa, aku mendaratkan pantat dilantai. Mengusap darah yang masih saja keluar. Bahkan air mataku kini ikutan mengalir saking sakitnya.
"Sialan" umpatku.
"Bodoh" sebuah tangan merampas kapas yang aku pegang dengan kasar.
Pelakunya adalah Agarish. Dia mengambil alih untuk mengobati luka di jariku.
"Makanya gak usah sok jagoan!. Batu pake ditendang segala, dikira bola apa" dia terus-terusan mengomel sepanjang mengobati kaki ku.
"Aku mana tau kalau itu tadi batu" ucapku sambil terisak.
"Makanya kalau punya mata itu dipake jangan cuman jadi pajangan aja"
"Pelan-pelan sakit tau" rengekku.
Matilah kau Tania. Kenapa pula kau sok bermanja-manja pada pria ini.
🍀
Karena kejadian tadi malam, aku akhirnya bangun kesiangan pagi ini. Aku terbangun setelah jam menunjukkan pukul 10 pagi.
Kalau dipikir-pikir lagi kenapa tuh pria makin hari makin aneh yah?.
Biasanya cuek, tapi ko sekarang mulai cerewet yah?. Apa jangan-jangan udah tumbuh benih-benih cinta dihatinya itu?.
Semoga aja yekan. Mana tau nanti dia bisa balik normal lagi.
__ADS_1
Sudahlah, mending sekarang aku beres-beres. Habis ini aku ada niatan mau masak soto.
🍀
Sembari memotong-motong bahan, aku bernyanyi. Tau lah di duniaku dulu aku punya pekerjaan yaitu menyanyi. Jadi mau tak mau, mulut ini suka sekali bersenandung.
Kali ini aku memilih lagu Westlife yang berjudul LOVE
An empty street, an empty house A hole inside my heart
I'm all alone, the rooms are getting smaller
I wonder how, I wonder why
I wonder where they are
The days we had, the songs we sang together
Oh, yeah
And oh, my love
I'm holding on forever
Reaching for the love that seems so far
So, I say a little prayer
And hope my dreams will take me there
Where the skies are blue
To see you once again, my love Overseas from coast to coast
To find a place I love the most Where the fields are green
To see you once again
My love
I try to read, I go to work
I'm laughing with my friends
But I can't stop to keep myself from thinking, oh, no
I wonder how, I wonder why
I wonder where they are
And oh my...
Aku tidak jadi melanjutkan lirik lantaran mataku tak sengaja menangkap siluet Agarish yang berdiri bersandarkan dinding di pintu pembatas antara dapur dengan ruang makan.
"Ehehehehe ada tuan suami. Tumben pulang cepat"
Jujur saja aku salah tingkah disini. Aku sampai menggaruk pelipis yang tidak gatal sama sekali.
"Kenapa berhenti nyanyi nya?" Dia mendekat kearahku. Aku makin salah tingkah tentu saja.
"Ko kamu udah pulang sih?, biasanya juga pulang malam kan yah" ucapku mengalihkan.
"Suka hati lah, kan aku bosnya"
Dih sombong sekali
"Yah walaupun kamu bos nya gak boleh gitu juga dong. Harusnya kamu tuh kasih contoh yang baik sama karyawan kamu" dia melirikku dengan mengangkat sebelah alisnya.
Aku buru-buru menundukkan kepala, malu sekali rasanya kedapatan menyanyi sesuatu yang asing ditelinga orang.
Padahal aku sudah sengaja mengeluarkan seluruh pekerja rumah ini dari area dapur agar aku bebas melakukan apapun.
Aku tidak mau lagi di ganggu oleh koki sialan yang banyak bacot itu. Dan lagi aku mau konser tunggal disini meski tak ada penonton.
"Suara kamu bagus tadi, tapi aku gak tau kamu nyanyi apa" ucapnya sambil memegang daun bawang.
"Kamu keluar sana!, ngapain didapur coba?, ganggu orang kerja aja"
Aku merampas daun bawang dari tangannya.
"Kali ini kamu mau masak apa?"
"Masak Soto" ketusku.
"Apaan tuh Soto?" Bingungnya.
"Yah makananlah mana mungkin minuman" aku melirik tajam kearahnya.
__ADS_1
"Hahahaha lucu kamu" dia mengacak rambutku. Lagi-lagi aku terpaku akan kelakuan dia yang spontan.
"Gak usah buat orang berharap kalau ujung-ujung nya cuma kamu jadikan candaan"
Aku menepis kasar tangannya dari kepalaku. Enak saja dia buat anak orang baper sementara ia punya kekasih sejenis yang lebih menggoda dimatanya.
Agarish terdiam lama, setelah itu ia beranjak dari dapur tanpa mengatakan sepatah kata lagi.
Aku sih bodo amat yah. Dia itu harus dikerasin biar sadar diri. Aturannya itu dulu dia gak usah nikahin Yasmin kalau gak tertarik sama sekali.
Menyebalkan.
Malamnya dengan dibantu para pelayan, aku menyiapkan makan malam.
"Nih kamu harus cobain dulu, aku jamin ini gak kalah enak sama masakan yang tadi malam"
Aku menyendokkan soto dalam mangkok lalu mengambilkan nasi untuknya. Jangan lupakan senyumku yang tidak pernah luntur kala melihat hasil kerjaanku sempurna.
"Yakin ini gak ada racunnya?"
"Oww begitu?" Aku menjauhkan kembali soto yang aku kasih. Senyumku yang tadinya mengembang kini luntur.
"Tolong buang aja ini ketempat sampah" perintahku pada kepala pelayan.
Sakit kali hatiku kala masakan yang sudah capek-capek aku buat malah dibilang ada racunnya.
"Tapi nyonya.." kepala pelayan itu hendak protes.
"AKU BILANG BUANG YAH BUANG!"
Kepala pelayan itu tersentak, lalu tergopoh menuju dapur.
Aku menatap Agarish dengan tatapan kecewa, lalu buru-buru menaiki tangga. Cukup. Moodku kini sekarang sudah hancur berantakan.
Aku rasa siapa pun orang yang merasakan keadaan seperti yang aku alami barusan pasti akan kesal. Aku kan tadi cuman mau nyuruh dia nyicipin bukan ada maksud lain, apalagi menaruh racun didalam sana.
Sial!
Air mataku malah turun, udah gitu gak mau berenti lagi. Aku udah mencoba menghapusnya namun tetap tidak mau berhenti.
Kenapa harus sesesak ini coba?. Harusnya aku tadi gak usah terlalu berekspestasi tinggi pada Agarish. Aku pikir dia akan berubah, ternyata aku salah. Aku salah mengartikan cerewet dia beberapa hari ini.
Aku memutuskan untuk berendam air hangat, walaupun aku sudah sempat mandi tadi sore. Gapapa, aku lagi butuh relaxasi malam ini.
Cukup lama aku berendam, hingga air yang tadinya hangat berubah menjadi dingin. Entahlah aku malas beranjak.
Karena kejadian ini aku teringat akan keluargaku yang jauh disana. Bagaimana keadaan mereka?, apa Yasmin sekarang sudah sadar dengan tubuh milikku?.
Kalau sudah, bagaimana dengan karirku?. Apa Yasmin bisa melanjutkan propesiku sebagi penyanyi?.
Ahhhhhh sialan sialan sialan!
Mengapa aku menyetujui pertukaran jiwa ini?. Harusnya kubiarkan saja Yasmin menderita, aku gak betah disini.
Aku tergugu. Merutuki kebodohanku hari itu. Harusnya aku gak terlantar disini dan bertemu Agarish si pria kelainan sialan itu.
Arrgghhhh
Aku menjambak rambut, rasanya kepalaku sakit sekali.
Brak brak brak
"Yasmin buka pintunya Yasmin" gedor Agarish dari luar kamar mandi.
"NGAPAIN KAU KEMARI SIALAN, MATI AJA KAU SANA. JANGAN TEMUI AKU!"
Tapi bukannya nyerah si Agarish malah mendobrak pintu hingga pintu kamar mandi terbanting dilantai.
Gila kuat sekali lengannya. Lupakan. Aku menatap garang pada Agarish. Namun tanpa kata-kata ia mengangkatku dari bathup.
"LEPASKAN!" Jelas saja aku teriak. Aku belum memakai baju sehelai pun.
Aku berontak didalam gendongannya, namun tak membuat ia melepaskan aku sedikitpun.
"Kalau kau mati karena kedinginan gimana?" ucapnya dingin. Dia meletakkan aku diatas tempat tidur lalu menyelimutiku dengan selimut tebal.
"Biarkan saja aku mati" aku tidur menyamping, malas melihat wajahnya.
"Ini bajumu, pake! nanti masuk angin" aku tidak menoleh sedikitpun. Lalu ia keluar dari kamar.
Bodo amat dengan baju, aku hanya melapisi badanku dengan selimut. Aku lelah sekarang ingin tidur.
Holaaa gimana gimana?
Jangan lupa tinggalin jejak berupa komen atau vote yah
Terima kasih :)
__ADS_1
NurDyh