
Pagi ini aku memilih ikut dengan Agarish ke kantornya. Jangan kalian kira dia langsung setuju, tidak! Aku musti ngancam manjat pohon lagi kalau dia gak ngasih ijin ikut ke kantor. Bosan banget tau didalam rumah. Tau gini mending aku nolak pas dia jemput ke kampung. Disana aku bisa bebas mau ngapain aja.
"Ga.."
"Mmm"
"Aga.."
"Mmm"
"Agarish..."
"Mmm"
"AGARISH MORACCO"
"Apa sih Yasmin, astagaaa..." Agarish mengusap kasar wajahnya, lalu meletakkan tab yang ia pegang. Salah sendiri dia nyuekin aku.
"Apa? mau ngomong apa?" Agarish mengalah.
"Gak mau ngomong apa-apa. Pengen manggil doang" Agarish melongo kali ini.
"Kamu teriak-teriak didalam mobil manggil aku terus gak ada maksud apa-apa?" Aku menganggukkan kepala. "Demi Tuhan, aku pengen nurunin kamu ditengah jalan sekarang Yas"
"Oww... begitu" aku mengambil tas sandang. "Pak berhenti.." suruhku pada sopir.
"Eh tapi non?" Bingung sang sopir.
"Gak dengar kamu barusan tuan kamu bilang apa hmm? Dia nyuruh aku turun ditengah jalan" sopir menatap Agarish meminta persetujuan.
"Lanjut aja pak gak usah pedulikan dia" perintah Agarish.
Dukkk
Aku yang kesal langsung menimpuk kepala Agarish dengan tas sandang milikku.
Agarish mendesis dan menarik napas seperti mau bicara. Namun keburu aku potong " apa? Mau marah kamu?" Pelototku padanya. Agarish menghela napas lalu menggeleng.
Aku tertawa didalam hati.
Siapkan hatimu Agarish, sepertinya aku bakalan lebih sering membuat kamu emosi.
Sesampainya dikantor, para karyawan menatap kami, dan jangan lupakan mulut mereka yang berbisik-bisik. Apalagi hari ini aku memakai dress selutut berwarna soft pink polos, ditambah perutku yang sedikit membuncit.
__ADS_1
Agarish mengeratkan genggemannya dijariku. Mungkin dia pikir aku gak nyaman sama mulut para karyawannya. Tenang saja, bahkan aku lebih para diduniaku dulu. Netizen diduniaku dulu sangat mengerikan, julidnya melebihi para jin.
Sesampainya di lift khusus milik Agarish, aku akhirnya bisa bernapas lega. Aku gak tau yah apa mungkin karena sedang hamil jiwa bar-barku hampir saja mencuat kala mendengar ghibahan mereka tadi.
"Kamu gapapa kan?" Khawatir Agarish.
"Gapapa ko" jawabku mencoba tersenyum. "Lagian kamu ko diam aja sih sama mereka?"
"Yah mau bagaimana lagi" jawabnya acuh. Aku berdecak sebal mendengar jawaban pasrah dari mulutnya.
Tepat didepan ruangan milik Agarish aku melirik meja yang biasa Bram tempati, dan ternyata benar kalau disana sudah beda orang. Kini yang menjadi sekretarisnya perempuan. Udah gitu cantik pula.
"Kamu mau ngapain disini coba Yas. Aku aja bosan di kantor terus" Agarish duduk dikursi kebesarannya.
"Yah gapapa, aku malah lebih bosan dirumah tau" aku duduk diatas sopa ruangan miliknya.
Tak berapa lama sang sekretaris datang memberitahukan jadwal Agarish hari ini. Untunglah setengah jam lagi dia bakalan ada rapat, jadi aku bisa keliling kantor tanpa sepengetahuannya.
"Eh kamu lihat gak tadi perutnya istri si boss?"
"Iya aku liat. Besar kayak hamil yakan. Padahal kata si Bram si boss kan penyuka sesama jenis"
Aku yang hendak masuk ke kamar mandi terhenti kala mendengar bisik-bisik dari dalam.
"Iya bener, aku jadi curiga deh, jangan-jangan itu bukan anaknya pak boss lagi"
"Lagian mustahil dia bakalan hamil yakan?"
Aku membanting pintu kamar mandi lalu masuk kedalam.
"Tau dari mana kalian kalau saya bukan hamil anak Agarish? " dua karyawan tadi tersentak melihat aku yang masuk dengan tiba-tiba.
"Terus tau dari mana juga kalian kalau suami saya itu bukan pria normal?" Aku bersedekap dada dihadapan keduanya. "Pernah kalian lihat dia berhubungan intim dengan laki-laki makanya kalian berani bicara seperti tadi?" Aku menatap tajam mereka.
"Kenapa diam? Oh apa kalian hanya menggosip saja tanpa tau kebenarannya hmm?" Keduanya kini terdiam tak berani bicara. Bahkan kini keduanya menunduk letakutan.
"Yang aku tau karyawan disini itu semuanya berpendidikan tinggi, tapi kenapa mulut kalian sangat rendah sekali membicarakan orang yang memeberikan kalian gaji tiap bulannya?" Aku makin memojokkan keduanya dengan kata-kataku.
"Kenapa kalian berdua diam heh!"
"Ma-maaf bu. Kami yang salah" cicit keduanya hampir bersamaan.
Aku menarik napas, sebenarnya apa yang mereka katakan adalah semuanya benar, cuman aku tidak mungkin kan membuka aib suamiku sendiri. Bukan karena aku terlalu bucin, tapi ini itu juga termasuk sebuah harga diri. Kalau nama Agarish tercemar maka aku kena imbasnya juga.
__ADS_1
"Sudahlah. Lain kali jangan bicara atau menjelekkan orang kalau kalian belum tau fakta yang sebenarnya" keduanya lagi-lagi mengangguk. "Oh yah saya tidak akan meminta maaf atas kelakuan saya barusan. Ini peringatan agar kalian lebih berhati-hati lagi dalam menyebarluaskan aib orang tanpa ada bukti yang falid"
"Baik bu, akan kami ingat"
"Sudah kalian pergilah.." aku mengibaskan tangan, agar mereka berdua enyah dari pandanganku saat ini.
Kejadian di kamar mandi tadi sedikit mengacaukan moodku hari ini, tapi gapapa masih bisa aku kontrol dengan baik. Tapi sebuah ide muncul diotakku yang cerdik ini kala melihat Agarish yang baru saja keluar dari ruang rapat beserta petinggi lainnya.
Aku berlari kecil kearahnya lalu menggelayut manja dilengannya. Sumpah aku sebenarnya gak selebay ini, tapi demi nama baik Agarish aku berani memacu udrenalind.
"Udah beres?" Awalnya Agarish tersentak kaget kala ada yang tiba-tiba begelayut manja ditangannya, apalagi ini dihadapan para kolega bisnisnya, namun raut wajahnya berubah ketika melihat bahwa aku adalah pelakunya.
"Iya kenapa, kamu butuh sesuatu?" Agarish mengacak rambutku.
"Hehehe enggak, kebetulan aja tadi habis dari kamar mandi terus lihat kamu udah keluar dari ruang rapat" aku tersenyum manis.
"Owww gitu" dia mengangguk mengerti "Ah iya kenalin ini istri saya, maaf sebelum-sebelumnya belum sempat berkenalan" Agarish mengenalkanku pada mereka semua.
Reaksi dari mereka berbeda-beda. Ada yang terkejut, ada juga raut bahagia.
"Ah begitu ternyata?" Seseorang dari mereka mendesah lega "Saya sudah sempat khawatir akan kabar yang beredar akhir-akhir ini. Baguslah kalau itu semua bohong" ucapnya lagi. Agarish hanya diam lalu tersenyum canggung.
Ingin sekali aku menggetok kepalanya. Bisa-bisanya dia diam saja, tidak ada pembantahan atau aca membela diri.
"Itu hanya cerita yang dibuat oleh orang yang membenci suami saya. Sedari awal suami saya normal, buktinya kami sebentar lagi akan mempunyai anak" ucapku sambil mengelus perut.
"Selamat pak Agarish dan juga bu Yasmin, kami ikut senang dengan kabar ini"
"Iya terima kasih banyak semuanya. Kalau begitu kami duluan" Agarish pamitan sambil menjabat tangan mereka satu persatu.
Sesampainya diruangan Agarish, aku mencubit perutnya dengan kuat.
"Aduuhhh ko aku dicubit sih" dia mengusap perutnya.
"Siapa suruh kamu diam saja tadi heh? Kalau kamu diam begitu sama artinya kamu membenarkan berita yang beredar Agarish" aku geram sendiri akan kelakuannya.
"Kan emang benar" ucapnya berguman, dan aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Dasar suami bego!" Aku kembali memberikan cubitan maut diperutnya.
"Adududuh Yas ampun.." bukannya berhenti aku malah makin menggila.
Kemana sikap dingin Agarish yang selama ini heh?
__ADS_1